Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ibu di Kota

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 347
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang?

Sebelum ke kota

Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu memasak bhabhu mamu.[1] Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek, bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon kopi. Nenek memilih biji-biji kemiri yang jatuh ditiup angin malam. Saya memilih untuk mandi sendiri. Tak perlu memanggil ibu menggosok sabun di punggung sebab tangan saya sudah bisa menggapainya. Sebelum saya masuk Sekolah Dasar, kebiasaan kami adalah dengan membuat tangan membentuk setengah lingkaran di atas kepala dan menyentuh salah satu bagian telinga kiri maupun kanan, tergantung tangan mana yang digunakan. Dengan itu, pertanda bahwa kami bisa masuk Sekolah Dasar. Saya bingun dengan cara demikian, seorang anak bisa masuk Sekolah Dasar ketika bisa berbuat demikian. Namun, dengan hal tersebut bisa mengajarkan saya untuk belajar mandiri dan salah satunya adalah mandi sendiri.

Nenek akan kembali ke dalam rumah jika sudah merasa lapar. Di sawah, bapak hanya membakar pisang setelah memeriksa pengairan ke sawah agar padi yang baru ditanam bisa tumbuh dengan baik. Di sekolah, kami belajar menghitung dan menulis. Seringkali kami diuji oleh ibu guru. Ibu guru meminta kami mneyebut nama presiden Indonesia dan apa nama ibu kota negara ini. Terkadang kami salah menyebut nama presiden. Sebab, nama ayah dan ibu kami sendiri bisa kami lupa. Yang kami tahu hanyalah ini Budi, ini ibu Budi, ini ayah Budi, ini kaka Budi, dan ini adik Budi. Waktu itu yang ada di kepala kami hanyalah nama Budi. Nama ayah, ibu, kakak, dan adik Budi, kami tidak tahu.

Sepulang sekolah dan kepala dipenuhi angka-angka yang menjenukan, membuat saya ingin pergi ke sawah untuk membantu bapak. Atau, membantu ibu menjahit pakaian-pakaian kami yang telah lama robek. Juga termasuk pakaian ayah dan nenek. Ibu sangat teliti menjahitnya. Saya sering memperhatikannya diam-diam. Seperti ada percakapan di antara ibu dengan jahitan yang ada di tangannya.      Mungkin ibu menyampaikan permohonan maaf atas tindakan kami yang tidak berhati-hati pada jahitan yang ada di tangannya. Mungkin juga ibu mewakili kami untuk meminta maaf atas segala luka yang tak mampu sembuh secara utuh. Saya, bapak, dan nenek tidak pernah sadar akan hal itu. Naluri seorang ibu atau perempuan kebanyakkan memang beda dari lelaki. Tetapi kami tidak pernah berdebat akan hal itu. Cara ini dilakukan karena tak ingin ada luka di antara kami. Karena kami hanyalah bertiga dan tidak sampai lima.

Menjelang malam, ibu pasti lebih betah di dapur setelah pulang dari kebun memetik daun singkong, bunga pepaya, dan jantung pisang untuk dijadikan sayur. Sedangkan nenek sudah ada dalam rumah sebelum jam enam. Dari dulu nenek tidak pernah berada di luar rumah jika hari sudah mulai malam apalagi jam enam. Kata nenek, jam enam adalah jamnya hantu-hantu berkeliaran di mana-mana. Mencari anak-anak kecil yang masih bermain di luar rumah. Hal ini yang membuat saya tidak pernah berada di luar rumah jika jam hampir pukul enam. Satu jam sebelum itu, adalah waktu yang tepat untuk mandi.

Tetapi bapak akan tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Jarak antara rumah dan sawah tidaklah dekat. Ditambah tak ada kendaraan pada waktu itu. Kuda sudah dijual oleh bapak sebulan yang lalu demi membeli obat untuk ibu serta membayar dukun tradisional. “Rumah sakit bukanlah rumah kesehatan yang menjanjikan kesembuhan. Rumah dukun adalah rumah tuhan kedua,” kata ibu di suatu hari.

Sesampainya di kota

Saya coba mengingat kembali segala cerita yang pernah diceritakan oleh bapak dan nenek. Ibu pergi ke kota sebelum saya pandai menyebut nama Budi dengan benar. Menjelang terima rapor, ibu pergi ke kota. Saya tidak tahu apa-apa tentang kota. Mungkin, waktu itu, saya berpikir bahwa kota adalah rumah bagi segala duka melepas penat dan tangis. Iya, waktu itu. Waktu di mana saya masih polos. Polosnya saya pada waktu itu adalah sering berjalan telanjang. Karena saya berharap ibu akan datang mengenakan pakaian untuk saya. Ternyata tidak. Tidak sama sekali. Apakah ibu terlalu nyaman di kota? Apakah ada sesuatu yang membuat ibu betah di kota? Di kampung, saya bertanya tentang ibu dan kota. Apakah di kota, ibu bertanya tentang saya dan kampung? Ayah dan nenek, pasti bertanya tentang keadaan ibu. Saya memikirkan apa bentuk pertanyaan yang sering ibu tanyakan. Apakah ibu bertanya tentang orang-orang di kampung ini? Kampung yang pernah menjadikan ibu besar. Kampung yang pernah membuat ibu mengenal apa itu kota. Kampung yang menyimpan segala kenangan masa kecil ibu.

Semakin lama-semakin ke sini, ibu tak ada kabar lagi. Bapak telah tiada. Nenek juga telah tiada jauh sebelum ayah tiada. Ibu sendirian di sana. Di antara orang-orang asing. Orang-orang yang tak pernah ada di masa kecil ibu. Orang yang datang dari masa depan dengan sesuatu yang, saya yakin bisa membuat ibu tak betah di sana. Dan, saya di kampung semakin kesepian.

Di mana letak kota ibu tinggal?

Saya menutup cerita ini dengan pertanyaan itu. Semoga ibu segera mengirim surat untuk saya dan saya segera menemuinya sebelum ibu menemui saya di kampung. Agar saya tahu bagaimana rasanya hidup dengan ibu di kota.

Maumere, 2019

Fian N, lahir di bulan Desember. Menerbitkan beberapa buku puisi sejak tahun 2019 sampai tahun 2025. Buku terbarunya adalah Jangan Baca Buku Ini Jika Sudah Bahagia (Detak Pustaka, 2025). Sejak tahun 2020 sampai sekarang dipercayakan menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

 

 

[1] Bhabhu mamu adalah jenis makanan tradisional khas dari kabupaten Nagekeo yang dibuat dari jagung, kacang, dan ubi-ubian serta ditambah dengan santan kelapa.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Aloysius Wudi
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Opini atas Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Oleh: Aloysius Wudi Ada sebuah pesta yang berlangsung sangat meriah di Papua Selatan. Ratusan alat berat datang beriringan seperti tamu agung. Kapal-kapal besar merapat ke dermaga tanpa basa-basi perkenalan. Aparat berdiri tegak mengawal kedatangan mereka bukan menghalangi, melainkan mempersilakan masuk. Proyek pangan dan energi nasional […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 354
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

expand_less