๐ฃ๐๐ฅ๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐ก ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ฌ๐๐ก๐-๐๐๐ฌ๐๐ก๐ ๐ฃ๐๐ง๐ฅ๐๐๐ฅ๐๐?
- account_circle Helena Beraf
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- visibility 275
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.
Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.
Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.
Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โbekalโ. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.
Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.
Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย “๐๐๐ง๐๐ข๐ฅ๐ช๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ช๐จ ๐๐๐จ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.
Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.
Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ฎ๐ต-๐ผ๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐ฝ๐๐๐ฎ๐” ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ ๐ป๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ด๐๐ ๐๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ “๐ธ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ๐ป” ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ฏ ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โperempuan baik-baikโ.
Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.
Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.
Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.
Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐ฉ๐ช, ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ฃ ๐๐๐ฃ๐๐๐ง ๐ข๐๐ง๐ช๐ฅ๐๐ ๐๐ฃ ๐จ๐๐ก๐๐ ๐จ๐๐ฉ๐ช ๐ ๐ช๐ฃ๐๐ ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ ๐จ๐๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ง๐๐ก๐๐จ๐ ๐ ๐ช๐๐จ๐ ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ง๐ ๐๐ช๐๐๐ฎ๐ ๐ฅ๐๐ฉ๐ง๐๐๐ง๐ ๐ ๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ช๐ข ๐ฅ๐๐ง๐๐ข๐ฅ๐ช๐๐ฃ. ๐๐๐๐๐๐ก๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ช๐จ ๐๐๐ ๐จ๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐ข ๐ฅ๐๐ ๐๐ง๐๐ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.
๐๐๐ฉ๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐๐๐ ๐๐ ๐๐ง๐ ๐ข๐ค๐๐๐ง๐ฃ ๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ก๐๐๐๐๐ ๐๐๐ช๐ฃ๐ ๐ ๐๐จ๐๐ฉ๐๐ง๐๐๐ฃ ๐๐๐ฃ๐๐๐ง, ๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐จ๐๐๐๐ฉ๐ช๐ก๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ฎ๐๐ฃ๐-๐๐๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฅ๐๐ฉ๐ง๐๐๐ง๐ ๐ ๐ข๐๐จ๐๐ ๐๐๐ง๐๐ค๐ ๐ค๐ก ๐๐๐ก๐๐ข ๐จ๐๐จ๐ฉ๐๐ข ๐ข๐๐จ๐ฎ๐๐ง๐๐ ๐๐ฉ ๐ ๐๐ฉ๐; ๐๐๐๐ ๐๐ฃ ๐จ๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐ข ๐ฅ๐๐ ๐๐ง๐๐ฃ.
Jakarta, 5 April
- Penulis: Helena Beraf
- Editor: Fian N

Saat ini belum ada komentar