Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • account_circle Helena Beraf
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 610
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.

Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.

Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.

Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โ€œbekalโ€. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.

Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.

Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย  “๐™‹๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.

Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย  Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.

Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต-๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜” ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ “๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โ€œperempuan baik-baikโ€.

Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.

Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย  Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.

Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย  Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.

Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ ๐™ช๐™ฃ๐™˜๐™ž ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™œ๐™–๐™ฅ ๐™จ๐™š๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ž ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™– ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™—๐™ช๐™™๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ. ๐™†๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.

๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™™๐™– ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™ข๐™ค๐™™๐™š๐™ง๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž ๐™œ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™—๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™ข๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™˜๐™ค๐™ ๐™ค๐™ก ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ข ๐™ข๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™–; ๐™—๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ.

Jakarta, 5 April

  • Penulis: Helena Beraf
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 412
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba,ย Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka photo_camera 2

    Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
    • visibility 95
    • 3Komentar

    Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah. Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK). ย  Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

expand_less