Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Penolakan Dianggap Penghinaan: Dekonstruksi Hierarki Kuasa dan Kebebasan Perempuan dalam Cerpen “Perempuan Penjual Rembulan” Karya Nono Winarno

  • account_circle Aurelia Keyodia
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 24
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aurelia Keyodia

Penolakan semestinya menjadi bagian dari kebebasan seseorang untuk menentukan hidupnya sendiri. Kenyataannya, dalam relasi sosial tertentu, penolakan dapat ditafsirkan sebagai penghinaan, seolah-olah hak untuk memilih hanya berlaku selama tidak menggagalkan kehendak orang lain. Cerpen berjudul Perempuan Penjual Rembulan mengangkat kisah seorang gadis cantik bernama Rupi’ah yang menjadi daya tarik utama sebuah warung. Banyak pelanggan berbondong-bondong datang bukan semata-mata untuk menjajakan makanan dan minuman yang dijual, melainkan untuk menyaksikan pesona perempuan yang melayani mereka. Kecantikan Rupi’ah tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, melainkan juga membentuk cara masyarakat memandang dan menafsirkan dirinya. Kehadiran para pelanggan, tidak sekadar menjajakan makanan dan minuman yang dijual, tetapi daya tarik sang pemilik warung yang membuat warung menjadi ramai pelanggan.

Sejak awal, kecantikan Rupi’ah hadir dalam dua kedudukan sekaligus sebagai modal yang mendukung keberhasilannya dan dasar bagi orang lain untuk membentuk penilaian terhadap dirinya. Narasi cerpen menyebutkan bahwa cara berbicara dan bercandanya kerap dianggap memberikan harapan kepada laki-laki. Tak heran, banyak orang menafsirkan sikap tersebut secara negatif sebagai tanda bahwa ia menjual diri. Padahal sikap Rupi’ah yang ramah itu dimaksudkan agar pelanggan merasa betah berlama-lama di warungnya, sehingga mendukung keuntungan dan popularitas usahanya. Perbedaan antara maksud tokoh dan penafsiran masyarakat ini memperlihatkan bahwa makna sebuah tindakan tidak selalu tunggal atau sepenuhnya berada dalam kendali orang yang melakukan. Gaya komunikasi  yang ramah dapat dibaca sebagai strategi usaha, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai isyarat ketertarikan atau pemerian janji. Persoalannya bukan sekadar menentukan penafsiran mana yang benar, melainkan menelaah suatu penafsiran memperoleh kedudukan dominan sementara persoalan lain tersisih.

Persoalan tersebut berlanjut ketika Sampurno, laki-laki kaya yang telah memberikan berbagai hadiah seperti perhiasan yang memenuhi lehernya, motor hingga Sampurno rela menjual tempat usahanya demi memenuhi keinginan Rupi’ah. Kala itu Sampurno dan keluarganya datang untuk melamar, mendengar hal itu Rupi’ah tidak memberikan penolakan secara halus, tetapi meminta tenggat waktu lima tahun sebelum menikah. Namun, jawaban tersebut dipahami oleh keluarga Sampurno sebagai penolakan halus yang merendahkan mereka. Paman Sampurno, Suwondo, menyebutnya sebagai penghinaan yang harus dibalas. Sementara Rupi’ah menjelaskan bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga karena takut terikat oleh berbagai aturan dan permasalahan, serta masih ingin menikmati kehidupannya sendiri. Jika ditelisik lebih jauh, persoalan yang dialami Rupi’ah tidak hanya berkaitan dengan penolakan terhadap lamaran Sampurno, tetapi juga dengan keterbatasan ruang yang dimilikinya untuk menentukan kapan dirinya siap untuk menikah. Di satu sisi, Rupi’ah dihadapkan pada harapan ibunya agar ia segera membuka hati dan menerima pinangan laki-laki. Namun ia menyadari bahwa kehidupan rumah tangga tidak semata-mata berkaitan dengan romantisme saja, tetapi melibatkan tanggung jawab dan tuntutan kehidupan sehari-hari.

Pernikahan dapat berarti kebahagiaan bagi sebagian orang, tetapi bagi Rupi’ah, pernikahan yang dijalani sebelum dirinya merasa siap justru berpotensi menjadi ikatan yang membatasi kebebasannya. Menelisik dalam perspektif dekonstruksi Jacques Derrida, pertentangan tersebut dapat dibaca dengan membongkar oposisi biner sebagai sesuatu yang ideal, sedangkan penundaan atau penolakan terhadap pernikahan dipandang sebagai penyimpangan dari harapan sosial. Sebagaimana dijelaskan Constantina dan Stitorus (2023), dekonstruksi berupaya mengungkap kontradiksi dalam teks mengubah makna yang selama ini dianggap mapan. Jika pernikahan dipahami sebagai jalan menuju kedewasaan, pengalaman Rupi’ah membuka makna baru bahwa menikah tanpa kesiapan justru dapat menjadi sumber kecemasan dan keterikatan. Sebaliknya, keputusan untuk meminta waktu tidak serta-merta menunjukkan ketidakseriusan atau keinginan mempermainkan perasaan orang lain, tetapi dapat dibaca sebagai upaya mempertimbangkan tanggung jawab yang dihadapinya. pembacaan ini tidak berarti bahwa pernikahan tidak harus dimaknai secara negatif, melainkan menunjukkan bahwa makna pernikahan tidak dapat diseragamkan menjadi  satu bentuk ideal yang berlaku bagi setiap orang.

Kontradiksi serupa tampak dalam cara keluarga Sampurno memaknai permintaan waktu Rupi’ah. Keputusan yang berangkat dari ketidaksiapan ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap keluarga, sehingga kehendak Rupi’ah seolah-olah kehilangan kedudukannya ketika berhadapan dengan kehormatan dan harapan pihak lain. Teori dekonstruksi Jacques Derrida menunjukkan bahwa dekonstruksi dapat membantu mempertanyakan pihak yang memiliki kuasa untuk menetapkan suatu tindakan. Hal yang perlu dipertanyakan, apakah Rupi’ah sebagai orang yang mengambil keputusan, atau keluarga Sampurno sebagai pihak yang merasa dirugikan oleh keputusan tersebut? Penafsiran keluarga Sampurno memang hadir sebagai salah satu makna dalam cerita, tetapi tidak harus diterima sebagai makna yang mutlak. Ketika alasan Rupi’ah turut diperhitungkan, permintaan waktu lima tahun bukan hanya sebagai penolakan terhadap seseorang, melainkan penegasan bahwa keputusan menikah seharusnya melibatkan kesiapan pihak yang akan menjalaninya. Sehingga, makna penghinaan menjadi tidak stabil karena bergantung pada sudut pandang, kepentingan, dan harapan sosial yang melatarbelakanginya.

Ketidakstabilan penafsiran itu mencapai titik penting ketika rumah sekaligus warung Rupi’ah terbakar, Ia bersama Ibunya mengalami luka bakar serius. Pada awalnya rumor masyarakat menghubungkan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan balas dendam keluarga Sampurno karena lamaran yang dianggap penghinaan akibat ditolak. Namun, penyelidikan polisi kemudian menetapkan  lima pemuda yang menjadi pelanggan rutin warung Rupi’ah sebagai tersangka. Perubahan dugaan ini menggoyahkan anggapan awal bahwa keluarga Sampurno menjadi pihak yang bertanggung jawab. Pada pembacaan dekonstruktif, pertentangan antara rumor dan fakta memperlihatkan bahwa makna sebuah peristiwa tidak selalu dapat dipastikan melalui dugaan pertama yang beredar di masyarakat. Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa cerpen berjudul Perempuan Penjual Rembulan tidak hanya menghadirkan persoalan kebebasan perempuan, tetapi juga mempertanyakan perihal makna kecantikan, keramahan, penolakan, pernikahan dan penghinaan dibentuk melalui pandangan sosial.

Melalui teori dekonstruksi Derrida, makna-makna itu tidak diperlakukan sebagai kebenaran yang sepenuhnya tetap, melainkan diperiksa melalui pertentangan dan kontradiksi yang muncul di dalam cerita. Sosok Rupi’ah dalam cerita tersebut dapat dipandang sebagai sebagai perempuan yang memiliki daya tarik dan kemampuan mengembangkan usaha, tetapi pada saat yang sama Ia juga menjadi sasaran penilaian dan harapan orang lain. Demikian pula, pernikahan yang dipandang sebagai tujuan ideal oleh lingkungan sosialnya justru hadir sebagai keputusan besar yang membutuhkan kesiapan pribadi. Dengan demikian, cerpen ini membuka ruang baru bagi pembaca untuk lebih kritis terhadap anggapan bahwa penolakan selalu berarti penghinaan, keramahan selalu mengandung janji, atau pernikahan selalu menjadi pilihan yang membahagiakan bagi setiap perempuan.

Sumber: 

https://ruangsastra.com/30130/perempuan-penjual-rembulan/

Natasha Constantin, Fitzgerald Kennedy Sitorus, (2023). Dekonstruksi Makna dan Bahasa dalam Perspektif Jacques Derrida. JKOMDIS : Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial, 3(3), 795-801.

https://doi.org/10.47233/jkomdis.v3i3.1315

  • Penulis: Aurelia Keyodia
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ketika Cantik Menjadi Luka

    Sudut Pandang: Ketika Cantik Menjadi Luka

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Yoseph Yapi Taum
    • visibility 159
    • 2Komentar

    Oleh: Yoseph Yapi Taum Kita terlalu lama percaya bahwa yang cantik adalah yang baik, yang hidup lebih nyata daripada yang mati, sejarah lebih benar daripada cerita, dan korban selalu berhadapan dengan penindas. Kita menyukai dunia yang tertib. Ada yang di atas dan ada yang di bawah. Ada pusat dan pinggiran. Ada benar dan salah. Bahkan […]

  • Wajah yang Hilang: Alienasi Marx dalam “Clara Atawa Wanita yang Diperkosa”

    Wajah yang Hilang: Alienasi Marx dalam “Clara Atawa Wanita yang Diperkosa”

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Devi Nur Rahma Wati
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Oleh: Devi Nur Rahma Wati Sastra Indonesia kontemporer kerap kali lahir sebagai bentuk intervensi paling jujur terhadap luka-luka sejarah yang coba disembunyikan oleh kekuasaan. Salah satu karya paling tajam yang merekam ketakutan kolektif dan kekerasan struktural di penghujung Orde Baru adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. Cerpen ini […]

  • Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Yunita
    • visibility 153
    • 4Komentar

    Nama: Drs Felix Japang Tempat Tanggal Lahir: Bekek, 30 Mei 1965 Alamat: Desa tadho, kecamatan riung, kabupaten ngada, nusa tenggara timur Meninggal: Bajawa 16 Februari 2012   Mengenal Sosok Felix Japang Felix Japang adalah seorang putra Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang lahir Pada tanggal 30 mei 1965. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan […]

  • Di Pinggiran Kemajuan: Potret Ketimpangan Kelas dalam Cerpen “Nyanyian Sunyi di Pandan Wangi” Karya Yulizar Lubay

    Di Pinggiran Kemajuan: Potret Ketimpangan Kelas dalam Cerpen “Nyanyian Sunyi di Pandan Wangi” Karya Yulizar Lubay

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Aurelia Keyodia Minangkani
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelia Keyodia Minangkani Kemajuan ekonomi dan industri kerap dipandang sebagai tanda meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Kehadiran industri dianggap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyediakan berbagai kebutuhan hidup. Namun, kemajuan tersebut tidak selalu dirasakan secara merata. Di balik kegiatan produksi dan perputaran ekonomi, terdapat masyarakat yang justru menghadapi persoalan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan keterbatasan dalam memenuhi […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 324
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

expand_less