Breaking News
light_mode
Trending Tags

Memori Kolektif Kerusuhan Mei 1998: Pewarisan Ingatan tentangan Kekerasan terhadap komunitas Tionghoa

  • account_circle Julianti Nainggolan Parhusip
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 35
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Julianti Nainggolan Parhusip

“Melupakan mereka yang telah meninggal sama dengan membunuh mereka untuk kedua kalinya.” -Elie Wiesel

Suatu peristiwa mungkin telah berlalu secara fisik, tetapi dampaknya dapat terus hidup dalam ingatan mereka yang mengalaminya. Kerusuhan Mei 1998 menjadi gambaran bahwa kekerasan tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik & kerugian materi, tetapi juga meninggalkan trauma sosial yang berkepanjangan. Peristiwa ini berlangsung di tengah krisis ekonomi & gejolak politik yang mengiring keruntuhan orde baru. Situasi tersebut diwarnai oleh penjarahan, pembakaran, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Dalam kejadian ini, warga keturunan tionghoa menjadi salah satu kelompok yang mengalami kekerasan bernuansa rasial. Perempuan tionghoa juga menghadapi kerentanan khusus berupa kekerasan seksual. Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menjadi salah satu sumber dokumentasi penting yang menunjukkan bahwa kekerasan tersebut merupakan bagian dari kenyataan sejarah yang perlu dikaji secara serius, bukan sekadar informasi yang muncul di tengah situasi yang tidak terkendali. Akan tetapi, pembahasan mengenai kerusuhan Mei 1998 tidak cukup berhenti pada kronologi peristiwa, tetapi juga perlu memperhatikan cara masyarakat mengingat dan mewariskan pengalaman tersebut kepada generasi selanjutnya.

Dalam konteks ini, memori kolektif merujuk pada ingatan bersama yang terbentuk & dipertahankan melalui penuturan pengalaman, dokumentasi, kegiatan peringatan, serta diskusi di ruang publik. Penyampaian ingatan mengenai kekerasan yang dialami komunitas Tionghoa hendaknya mendorong tumbuhnya empati & pemahaman sejarah, bukan justru mempertahankan rasa takut maupun prasangka antarkelompok. Oleh sebab itu, pembelajaran sejarah yang kritis, penghargaan terhadap pengalaman para penyintas, dan keberadaan ruang publik untuk mengenang peristiwa masa lalu perlu dijaga. Upaya tersebut penting agar pengalaman korban tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif & tidak terabaikan dalam perjalanan sejarah bangsa.

Kekerasan Rasial dan Luka dalam Ingatan Bersama

Untuk memahami kekrasan Mei 1998, krisis ekonomi tidak dapat ditempatkan sebagai satu-satunya penjelasan. Kajian Chandra Linsa Hikmawati menunjukan adanya hubungan antara kekerasan terhadap perempuan tionghoa dengan diskriminasi struktural & prasangka rasial yang sudah terbentuk sebelumnya. Dalam keadaan tersebut, perbedaan identitas digunakan untuk menempatkan komunitas Tionghoa sebagai kelompok yang dianggap berada di luar masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, gejolak ekonomi perlu dipahami sebagai konteks terjadinya kerusuhan, bukan pembenaran bagi penyerangan terhadap kelompok etnis tertentu.

Kerentanan perempuan Tionghoa menjadi lebih kompleks karena kekerasan yang mereka hadapi berkaitan dengan identitas etnis sekaligus gender. Berdasarkan temuan TDPF yang dikutip BBC, sebanyak 85 korban kekerasan seksual berhasil diverifikasi dan sebagian besarnya merupakan perempuan Tionghoa. Jumlah itu mencakup beberapa bentuk kekerasan seksual, sehingga tidak tetap apabila seluruhnya disebut sebagai satu kategori kekerasan yang sama. Selain itu, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah keseluruhan korban karena proses pelaporan & verifikasi mengahdapi berbagai hambatan.

Pengalaman tersebut perlu memperoleh tempat dalam penulisan sejarah Reformasi. Jika Mei 1998 hanya diceritakan sebagai masa pergantian kekuasaan, penderitaan warga sipil berisiko tersisih dari perhatian. Perubahan politik memang penting untuk dipahami, tetapi pemahaman itu belum lengkap tanpa mempertimbangkan keselamatan, martabat, dan kehidupan masyarkat yang menjadi korban. Atas dasar itu, sejarah Reformasi sebaiknya tidak memisahkan pencapaian politik dari hara kemanusiaan yang menyertainya.

Pewarisan Ingatan & Hak Penyitas untuk Memilih

Salah satu tantangan dalam menjaga ingatan tentangan Mei 1998 adalah tidak semua orang mampu / bersedia menceritakan pengalamannya. Komnas perempuan menjelaskan bahwa trauma yang dialami korban dan keluarga turut menyebabkan mereka memilih diam. Keadaan ini kemudian dapat digunakan oleh pihak tertentu untuk menyangkal kekerasan yang telah didokumentasikan. Padahal, keengganan korban untuk tampil di ruang publik tidak membatalkan keberadaaan bukti dan hasil penyelidikan.

Persoalan tersebut menuntut pendekatan yang berhati-hati dalam pewarisan ingatan antargenerasi. Generasi muda membutuhkan pengetahuan tentang masa lalu, tetapi kebutuhan itu tidak boleh menjadi alasan untuk mendesak penyintas mengulang pengalaman yang menyakitkan. Kesediaan bercerita harus muncul dari keputusan penyitas sendiri. sebaliknya, keputusan untuk tidak membagikan pengalaman pribadi perlu dihormati tanpa mengurangu pengakuan terhadap penderitaan yang dialaminya.

Karena itu, pemeliharan ingatan tidak selayaknya menjadi beban keluarga korban semata. Penelitian, arsip, pemberitaan yang bertanggung jawab, dan kegiatan pendidikan dapat menyediakan pengetahuan bagi masyarakat tanpa mengharuskan setiap peyintas memberikan kesaksian terbuka. Pendekatan semacam ini menempatkan kepentingan sejarah berdampingan dengan kebutuhan perlindungan dan pemulihan korban, sebagaimana ditekankan oleh Komnas perempuan.

Pewarisan ingatan juga harus membedakan tanggungjawab pelaku dari identitas kelompok. Mengenang kekerasan terhadap komunitas Tionghoa bukan berarti menuduhkan kesalahan kepada seluruh anggota etnis lain. Pertanggungjawaban harus diarahkan berdasarkan tindakan & antarmasyarakat, bukan sumber permusuhan baru. Generasi berikutnya perlu meminta pengetahuan mengenai ketidakadilan sekaligus kemampuan untuk menolak penghakiman secara kolektif.

Pendidikan Sejarah & Ruang Peringatan

Pendidikan memiliki peran penting untuk membantu generasi muda memahami tragedi Mei 1998. Pembelajarannya sebaiknya tidak dibatasi pada tanggal kejadian, perubahan pemerintahan, atau kerugian material. Pelajar juga perlu diajak menelaah bagaimana prasangka terbentuk & bagaimana kelompok minoritas dapat menjadi sasaran dalam situasi krisis. Kajian mengenai penindasan berlapis terhadap perempuan Tionghoa memebrikan landasan untuk membahas pertemuan antara diskriminasi etnis dan kekerasan berbasis gender.

Pembahasan tersebut dapat dilakukan dengan memperbandingkan laporan resmi, penelitian akademik, dan kesaksian yang diterbitkan dengan memperhatikan kepentingan penyintas. Apabila ditemukan perbedaan data/keterbatasan dokumentasi, persoalan itu perlu dijelaskan melalui konteks pengumpulan bukti. Sikap kritis tidak berarti menolak seluruh peristiwa hanya karena tidak setiap pengalaman dapat dicatat secara lengkap. Dalam kasus Mei 1998, trauma, ketakutan, dan perpindahan korban merupakan bagian dari hambatan pendokumentasian yang perlu dipahami.

Pewarisan ingatan juga harus menghindari pemberian kesalahan secara menyeluruh kepada kelompok etnis lain. Tanggung jawab/kekerasan perlu ditujukan pada pihak yang terbukti melakukan/bertanggungjawab atas tindakan tersebut, bukan dibebankan kepada suatu identitas kolektif. Dengan prinsip ini, pendidikan sejarah dapat diarahkan untuk membangun penolakan terhadap rasisme & kekerasan, bukan memperkuat batas permusuhan antarkelompok.

Menghubungkan Ingatan dengan Pemenuhan Hak Korban

Kegiatan mengenang memiliki arti yang terbatas apabila tidak dihubungkan dengan kebutuhan nyata korban. Komnas perempuan menekankan perlunya tindak lanjut negara terhadap temuan TGPF serta pemenuhan hak korban atas penanganan & pemulihan. Perhatian tersebut mencakup kesehatan fisik & psikis, keadaan ekonomi, serta kebutuhan korban atas penanganan dan pemulihan. Karena itu, peringatan tidak dapat menggantikan kewajiban negara, tetapi dapat menjadi sarana untuk terus mengingatkan tanggung jawab tersebut.

Hubungan antara ingatan dan keadilan menentukan arah pewarisan sejarah. Apabila generasi berikutnya hanya diperkenalkan pada kisah penderitaan, tragedi dapat dipahami sebagai kemalangan yang tidak memiliki kaitan dengan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, ketika pengalaman korban dibicarakan bersama hak atas perlindungan, pemulihan, dan pertanggungjawaban, sejarah menjadi dasar untuk menilai kehidupan bersama. Mengingat, dalam pengertian ini, bukan sekadar mengetahui bahwa kekerasan pernah terjadi, melainkan memahami kewajiban untuk tidak membiarkan pola serupa kembali berkembang.

Kesimpulan

Memelihara memori kolektif Kerusuhan Mei 1998 berarti memberikan ruang yang layak bagi pengalaman komunitas Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Upaya ini perlu mencakup pengakuan terhadap kekerasan yang dialami korban, penghormatan terhadap pilihan penyintas, dan penyampaian pengetahuan secara bertanggung jawab. Pewarisan ingatan tidak ditujukkan untuk mempertahankan permusuhan, melainkan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi. Oleh sebab itu, kegiatan mengenang harus berjalan seiring dengan pemenuhan hak korban & penolakan terhadap diskriminasi. Arti penting ingatan tentang 1998 pada akhirnya terletak pada kemampuannya mendorong masyarakat untuk melindungi martabat setiap orang, terutama ketika perbedaan identitas digunakan sebagai alasan untuk membenarkan kekerasan.

Daftar Pustaka

Amindoni, A. (2024, 14 Mei). Kerusuhan Mei 1998:’26 tahun masalah kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia disangkal’. BBC News Indonesia.

Hikmawati, C. L. (2017). Operasi berlapis perempuan etnis Tionghoa: Pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998 di Jakarta. Jurnal Politik, 2(2), Artikel 4.

https://doi.org/10.7454/jp.v2i2.1117

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2022, 13 Mei). Merawat ingatan Tragedi Mei 98: Mencegah keberulangan tragedi kekerasan seksual melalui pengesahan UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual[Siaran pers].

  • Penulis: Julianti Nainggolan Parhusip
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Yunita
    • visibility 152
    • 4Komentar

    Nama: Drs Felix Japang Tempat Tanggal Lahir: Bekek, 30 Mei 1965 Alamat: Desa tadho, kecamatan riung, kabupaten ngada, nusa tenggara timur Meninggal: Bajawa 16 Februari 2012   Mengenal Sosok Felix Japang Felix Japang adalah seorang putra Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang lahir Pada tanggal 30 mei 1965. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Sudut Pandang: Suara dari Rahim Ile Lewotolok

    Sudut Pandang: Suara dari Rahim Ile Lewotolok

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Maria Kari Langobelen
    • visibility 27
    • 0Komentar

    “Trauma, Berkah, dan Siklus Hidup yang Dirawat Bersama” Memori kolektif adalah ingatan bersama yang dimiliki sekelompok masyarakat terhadap suatu peristiwa yang pernah terjadi. Ingatan tersebut dapat terbentuk melalui pengalaman langsung, cerita keluarga, tradisi lisan, maupun pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Memori kolektif tidak hanya berkaitan dengan peristiwa yang menyenangkan, tetapi juga dengan pengalaman […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

expand_less