Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Suara dari Rahim Ile Lewotolok

  • account_circle Maria Kari Langobelen
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Trauma, Berkah, dan Siklus Hidup yang Dirawat Bersama”

Memori kolektif adalah ingatan bersama yang dimiliki sekelompok masyarakat terhadap suatu peristiwa yang pernah terjadi. Ingatan tersebut dapat terbentuk melalui pengalaman langsung, cerita keluarga, tradisi lisan, maupun pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Memori kolektif tidak hanya berkaitan dengan peristiwa yang menyenangkan, tetapi juga dengan pengalaman sulit yang meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.

Salah satu peristiwa yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, adalah erupsi Gunung Ile Lewotolok. Gunung ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ile Lewotolok ini. Bagi masyarakat di kaki Gunung Ile Lewotolok, gunung bukan hanya bagian dari bentang alam, tetapi juga bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal, mencari nafkah, dan menjalankan kehidupan sosial serta budaya.

Pada 27 November 2020, Gunung Ile Lewotolok mengalami erupsi yang menyebabkan masyarakat di sekitar gunung harus menghadapi situasi darurat. Banyak warga dari wilayah Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk ke Kota Lewoleba. Peristiwa ini menjadi pengalaman penting yang mengajarkan kita arti kehilangan, dan perjuangan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Erupsi sebagai Pengalaman Bersama

Erupsi Gunung Ile Lewotolok pada tahun 2020 menjadi salah satu peristiwa yang membekas dalam ingatan masyarakat Lembata. Pada malam 26 November 2020, tercatat adanya gempa vulkanik beruntun. Erupsi pembuka terjadi pada Jumat, 27 November 2020 pukul 05.57 WITA dengan ketinggian kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak. Puncak erupsi (29 November 2020) di mana aktivitas kegempaan meningkat drastis hingga terjadilah letusan besar pada Minggu, 29 November 2020 pukul 09.45 WITA. Letusan berlangsung sekitar 10 menit dengan tinggi kolom letusan mencapai 4.000 meter di atas puncak serta disertai bahan lontaran padat, lava pijar, dan percikan bunga api. Wilayah sekitar lereng gunung, terutama di sektor barat hingga selatan serta beberapa kecamatan di Kabupaten Lembata, diguyur hujan abu vulkanik dan pasir.

Bencana ini memaksa ribuan warga mengungsi secara mandiri maupun dievakuasi ke wilayah aman seperti ke arah Lewoleba. Tercatat sebanyak 2.782 jiwa mengungsi akibat letusan tersebut. Aktivitas gunung yang meningkat membuat masyarakat harus waspada terhadap keadaan di sekitar tempat tinggal mereka. Sebagian warga harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu demi keselamatan diri dan keluarga.

Bagi masyarakat yang mengalami langsung peristiwa tersebut, pengalaman mengungsi bukan hal yang mudah. Erupsi gunung ini dapat mengganggu kegiatan pendidikan, pekerjaan, pertanian, dan aktivitas lainnya. Kondisi ini membuat masyarakat mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, serta menghadapi ketidakpastian mengenai kapan dapat kembali ke rumah. Dalam menghadapi bencana, hubungan antarmasyarakat sangat penting. Bantuan, kepedulian, dan kerja sama dapat membantu warga menghadapi kesulitan serta memperkuat rasa kebersamaan. Erupsi gunung ini mengajarkan masyarakat Lembata untuk lebih memperhatikan informasi dari pihak berwenang, memahami jalur evakuasi, dan mempersiapkan kebutuhan darurat demi keselamatan bersama.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari ingatan yang sangat membekas. Cerita tentang bencana gunung ini dapat terus disampaikan kepada anak cucuagar mereka mengetahui apa yang pernah dialami oleh keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka. Ingatan ini tidak hanya berkaitan dengan kesulitan yang pernah dihadapi, tetapi juga dengan keberanian, kepedulian, dan semangat masyarakat untuk bangkit kembali dan tetap semangat.

Dengan demikian, bencana Gunung Ile Lewotolok tidak hanya diingat sebagai bencana alam, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Lembata. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan, saling membantu, dan membangun pengalaman bersama yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perasaan Korban Saat terjadi Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Dapat kita lihat dari kesaksian para korban yang merasakan langsung dampak erupsi Gunung Ile Lewotolok. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Anselmus Sili Kaba, Ibu Dina, serta Kakek Vinsensius Witak dan Nenek Veronika Kewa, di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape. Kami merasakan secara langsung situasi yang terjadi ketika gunung mengalami erupsi. Kejadian itu terjadi pada hari Minggu pagi setelah saya dan keluarga pulang beribadah dari gereja. Kami mendengar suara letusan yang sangat keras sehingga kami terkejut dan berusaha mencari sumber suara tersebut. Peristiwa tersebut menimbulkan rasa kaget,panik, dan takut.

Setelah mengetahui bahwa suara itu berasal dari Gunung Ile Lewotolok, kami semakin panik karena letusan gunung itu mengeluarkan material berupa abu vulkanik, kerikil, dan pasir. Dalam situasi tersebut, Ibu Dina dan sekeluarga, mengambil inisiatif untuk menyelamatkan diri. Karena erupsi terjadi secara tiba-tiba dan belum ada pemberitahuan dari pemerintah desa, mereka langsung berlari menjauh dari pusat erupsi.

Ibu Dina: ”Jadi, tanpa pemberitahuan dari pemerintah desa, kami sekeluarga langsung mengambil inisiatif untuk berlari menjauh dari pusat erupsi. Jadi kami berlari mengamankan diri kami itu ke kebun-kebun yang juga merupakan kebun atau ladang yang memang agak jauh dari gunung.”

Setelah kami sekeluarga berada di kebun, pemerintah desa melakukan patroli. Kemudian mereka memberi arahan kepada masyarakat untuk mengungsi ke posko-posko pengungsian di wilayah kecamatan dan kabupaten.

Berdasarkan keterangan dari Ibu Dina, aktivitas Gunung Ile Lewotolok masih berlangsung saat wawancara ini dilakukan. Ibu Dina menyampaikan bahwa tingkat aktivitasnya sudah menurun, tetapi gunung masih mengeluarkan abu vulkanik, sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi dan arahan dari pihak berwenang.

Perubahan Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Erupsi Gunung Ile Lewotolok juga memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika warga harus mengungsi, kegiatan sehari-hari yang sebelumnya berjalan seperti biasa mengalami perubahan. Aktivitas bekerja, bertani, bersekolah dan menjalankan kegiatan masyarakat harus menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat itu.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan ketika erupsi berlangsung, tetapi juga setelah keadaan mulai membaik, Masyarakat membutuhkan waktu untuk menata kembali kehidupan mereka. Penelitian mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Jontona setelah erupsi tahun 2020 menunjukkan bahwa dampak bencana turut memengaruhi kehidupan masyarakat, yang membuat mereka tetap harus waspada terhadap aktivitas gunung. Dalam situasi seperti ini, masyarakat belajar bahwa bencana tidak hanya berdampak pada lingkungan alam, tetapi juga pada hubungan sosial dan keberlangsungan ekonomi keluarga.

Terdapat beberapa perubahan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setelah bencana erupsi Gunung Ile Lewotolok tahun 2020. Pada kehidupan sosial, ada beberapa perubahan, yaitu meningkatnya gotong royong dan solidaritas masyarakat. Setelah erupsi, masyarakat Desa Jontona tetap menjalin hubungan sosial melalui kerja sama, saling membantu, dan gotong royong. Mereka menyadari bahwa untuk menghadapi kesulitan dan memberikan kehidupan diperlukan dukungan dari orang lain.

Adanya perubahan aktivitas dan hubungan sosial, di mana sebelum erupsi masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun kegiatan keagamaan. Setelah bencana, aktivitas tersebut mengalami perubahan karena sebagian masyarakat harus mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Munculnya rasa takut dan trauma yang di mana erupsi menimbulkan rasa takut dan trauma di kalangan masyarakat. Suara gemuruh gunung yang masih terdengar serta kekhawatiran terhadap banjir saat musim hujan membuat warga tetap waspada terhadap kemungkinan bencana susulan. Peran bantuan dan kepedulian sosial masyarakat menerima bantuan dari pemerintah, warga di daerah lain, serta lembaga pendidikan. Bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya menunjukkan adanya kepedulian sosial terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Adapun perubahan pada kehidupan ekonomi. Menurunnya pendapatan masyarakat, sebelum erupsi, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Setelah bencana, aktivitas ekonomi tersebut terganggu sehingga masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adanya kerusakan lahan pertanian dan perkebunan. Abu vulkanik, material letusan, dan kebakaran di sekitar lereng gunung menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian dan perkebunan. Akibatnya, masyarakat tidak dapat mengelola sebagian lahan seperti sebelumnya dan kehilangan sumber penghasilan dari hasil panen. Gangguan pada pekerjaan nelayan, masyarakat yang bekerja sebagai nelayan juga mengalami kesulitan melaut. Kabut abu vulkanik yang menutupi permukaan laut mengganggu aktivitas mereka dalam mencari ikan.

Kehilangan ternak dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Pengungsian menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan atau tidak dapat mengurus hewan peliharaan mereka. Persediaan kebutuhan pokok juga berkurang atau rusak akibat bencana, sehingga warga harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman mereka.

Karena lahan pertanian belum dapat digunakan kembali, akhirnya sebagian masyarakat beralih ke pekerjaan lain, sebagian masyarakat berusaha mencari sumber pendapatan alternatif, seperti menjadi tukang ojek dan buruh kasar. Hal ini menunjukkan adanya perubahan mata pencaharian sebagai upaya mempertahankan kehidupan keluarga.

Dampak erupsi akhir tahun 2020 tidak berhenti sebagai bencana sesaat melainkan menceritakan siklus kerentanan yang berkepanjangan bagi masyarakat lereng gunung. Kehidupan sosial ekonomi warga desa jontona belum sepenuhnya pulih. Gunung Ile Lewotolok terus berada dalam fase erupsi naik turun. Semburan abu vulkanik, pasir, dan gas beracun belerang merusak tanaman pertanian secara masif. Lahan yang menjadi sumber penghidupan utama warga kehilangan produktivitasnya.

Secara sosial masyarakat dihantui rasa trauma yang mendalam. Posisi geografis desa jontona yang berhadapan langsung dengan kawat tanpa penghalang alami memperparah kecemasan mereka. Ketika musim hujan tiba, tumpukan material sisa lava di puncak gunung memicu ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin atau banjir bandang yang memaksa warga kembali mengungsi ke tempat aman secara berkala.

Berdasarkan data badan penanggulangan bencana Daerah kabupaten Lembata jumlah pengungsinya dan sempat menembus angka 5.830 jiwa yang berasal dari 28 desa yang di mana 17 desa di kecamatan ile ape dan 9 desa di kecamatan Timur.

Solidaritas dan Gotong Royong Masyarakat

Salah satu hal penting yang dapat dikenang dari peristiwa erupsi Gunung Ile Lewotolok adalah solidaritas masyarakat. Dalam keadaan sulit, bantuan dan kepedulian dari keluarga, tetangga, pemerintah, serta masyarakat dari daerah lain menjadi bagian penting dalam membantu para pengungsi.

Bantuan yang diberikan bukan hanya berupa kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dukungan moral agar masyarakat dapat menghadapi keadaan dengan lebih kuat. Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak harus menghadapi bencana seorang diri. Hubungan kekeluargaan dan semangat gotong royong menjadi kekuatan dalam proses pemulihan. Pemerintah Kabupaten Lembata juga mencatat adanya bantuan dari masyarakat dan pemerintah daerah lain bagi warga terdampak bencana.

Semangat gotong royong kembali diuji ketika warga yang baru beberapa bulan kembali dari pengungsian harus menghadapi bencana susulan berupa banjir bandang pada April 2021. Dalam kondisi “bencana di atas bencana” tersebut, solidaritas warga tetap menjadi penopang utama untuk bertahan hidup dan saling menguatkan di tengah trauma.

Makna Gunung Ile Lewotolok bagi Generasi Berikutnya

Bagi generasi muda Lembata, memori kolektif tentang Gunung Ile Lewotolok memiliki arti penting karena membantu mereka memahami hubungan antara manusia, lingkungan dan sejarah lokal. Cerita dari orang tua, pengalaman keluarga, foto, berita serta dokumentasi mengenai bencana dapat menjadi sumber pembelajaran tentang masa lalu daerah mereka.

Gunung Ile Lewotolok menjadi warisan budaya dan spiritual. Menjadi pusat identitas suku. Gunung ini menjadi poros dari berbagai tradisi dan rumah adat seperti Uma Belen dan Koke Bale. Generasi penerus mewarisi tradisi seperti ritual “makan kacang” atau utan belai serta ritus penyelarasan hubungan dengan alam ketika terjadi dinamika alam atau erupsi. Ini mengajarkan anak cucu pentingnya menjaga hubungan etis antara manusia, leluhur, dan alam semesta.

Melalui ingatan tersebut, generasi muda dapat memahami bahwa kehidupan masyarakat selalu berhubungan dengan kondisi alam di sekitarnya. Mereka juga dapat belajar untuk menghargai pengalaman orang-orang yang pernah terdampak bencana dan memahami pentingnya kesiapsiagaan.

Memori kolektif tidak berarti masyarakat harus terus hidup dalam ketakutan terhadap bencana; sebaliknya, ingatan tersebut dapat menjadi pelajaran agar masyarakat lebih memahami risiko, mengikuti informasi resmi dan membangun kesiapan menghadapi kemungkinan erupsi berikutnya.

Dengan demikian, Gunung Ile Lewotolok bukan hanya bagian dari sejarah alam Lembata, tetapi juga bagian dari sejarah sosial masyarakat. Peristiwa erupsi mengajarkan tentang ketahanan, kepedulian dan kemampuan masyarakat untuk terus menata kehidupan meskipun pernah menghadapi masa sulit.

Kesimpulan

Tahun 2020 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Lembata. Dalam bidang sosial, bencana mengubah aktivitas sehari-hari dan menimbulkan trauma, tetapi juga memperlihatkan pentingnya gotong royong, solidaritas, dan kepedulian antarmasyarakat. Selain itu, dalam bidang ekonomi, kerusakan lahan pertanian, terganggunya aktivitas nelayan serta kehilangan ternak menyebabkan pendapatan masyarakat menurun dan kebutuhan hidup semakin sulit dipenuhi.

Erupsi gunung merupakan peristiwa penting dalam memori kolektif masyarakat Lembata. Pengalaman mengungsi, perubahan kehidupan sosial dan ekonomi, serta bantuan yang diterima masyarakat menjadi bagian dari ingatan bersama yang memiliki makna bagi kehidupan mereka hingga masa berikutnya.

Melalui konsep memori kolektif, kita dapat memahami bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang tanggal dan peristiwa, tetapi juga tentang pengalaman manusia, perasaan, hubungan sosial, dan pelajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ingatan tentang erupsi gunung ini lewat tolok perlu dijaga sebagai bagian dari sejarah lokal agar generasi muda dapat memahami pengalaman masyarakatnya sendiri.

Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari peristiwa ini adalah pentingnya kebersamaan, kepedulian, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Masyarakat Lembata dapat terus mengenang pengalaman tersebut bukan hanya sebagai masa sulit, melainkan juga sebagai pengingat akan kekuatan solidaritas dan pentingnya menjaga kehidupan bersama.

Oleh: Maria Kari Langobelen. Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma

  • Penulis: Maria Kari Langobelen
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 302
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya.    Oleh: Maria Desan Viktoria Aso   Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

  • DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Viktoria Eyen
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Oleh: Viktoria Eyen Npm:25201043 Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan Indonesia hari ini menghadapi masalah kencing manis atau diabetes sangat mengkhawatirkan , apakah anda pernah melihat antrian di gerai minuman kekinian manapun di kota-kota besar pada siang hari. Hampir pasti yang mengantri didominasi anak muda, pelajar, mahasiswa dan pekerja muda yang rela menunggu belasan menit demi […]

  • Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Alfina Shalsa Damayanti
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Oleh: Alfina Shalsa Damayanti – Esai Kajian Sastra Indonesia. Universitas Sanata Dharma Penindasan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam kehidupan sosial, penindasan juga dapat berlangsung melalui nilai, norma, dan pandangan yang menentukan bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Ketika perempuan dituntut untuk patuh, menerima keputusan laki-laki, dan mempertahankan kehormatan berdasarkan ukuran yang ditentukan […]

  • Ketika Pistol Menjadi Properti: Simulakra dan Hiperrealitas dalam Cerpen “Aktor”

    Ketika Pistol Menjadi Properti: Simulakra dan Hiperrealitas dalam Cerpen “Aktor”

    • calendar_month 16 jam yang lalu
    • account_circle Bertoldus Karinus Nurak
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Oleh: Bertoldus Karinus Nurak. Mahasiswa Sastra Indonesia, Sanata Dharma, Yogyakarta Pistol itu mungkin tidak pernah berisi peluru. Meski begitu, Pak Anton menggigil, Yusi menjatuhkan berkas-berkasnya, dan Aivi gemetar meraih telepon. Rasa takut mereka tidak menunggu kepastian apakah senjata itu asli. Di titik inilah cerpen “Aktor (‘Surprise’ Tengah Hari)” karya Endang Susanti Rustamaji menjadi lebih dari […]

expand_less