๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ (๐พ๐๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฃ ๐๐๐ฅ๐๐จ ๐ฉ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ๐ ๐๐ค๐ซ๐๐ก ๐๐๐๐ช๐ ๐๐๐ฃ๐๐ ๐ฝ๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ๐)
- account_circle Selo Lamatapo
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- visibility 212
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan.
Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช, ‘istri’ dari ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ง๐ข, karya pertamanya.
“Ada ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ง๐ข, maka harus ada ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช supaya arah ๐ฑ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ bisa dikendalikan, (๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช, 124).”
***
Melalui Wa, saya kirimkan komentar setelah ia sampaikan bahwa ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช sudah terbit. “Akhirnya, ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ง๐ข tak ‘melaut’ sendirian. Ada ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช yang kini menemaninya dalam doa, cinta, dan kesetiaan mengarungi lautan luas.”
Selanjutnya, catatan pendek di bawah ini adalah catatan lepas pembacaan saya atas novel ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช.
๐ฌ๐ญ. ‘๐๐ฟ๐๐ถ๐ฝ’ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ
Novel ini dibagi dalam empat bagian cerita. Bagian satu, dua, dan tiga, masing-masing dengan judul ๐๐ฏ๐ฆ๐ต๐ฆ ๐๐ญ๐ฆ๐ฑ, ๐๐ข๐ต๐ข๐จ๐ข๐ฑ๐ถ, ๐๐ข๐ฏ๐ฐ ๐๐ฆ๐ฐ adalah ‘pembuka cerita’ yang mengenalkan tokoh-tokoh cerita, situasi, dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.
Fince Bataona menggunakan alur campuran (maju dan mundur) untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam novel ini. Ia membuka cerita dengan menuturkan ritual dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang kampung berkabung atas meninggalnya Ema Lisa, salah satu tokoh dalam novel ini. Ia melukiskan pengalaman duka tersebut dan menarasikan ritual-ritual perkabungan, juga menyertakan kebiasaan-kebiasaan umum para tokoh dalam lingkungan hidup mereka, (dalam hal ini, Lamalera sebagai latar tempat).
Secara umum, bagian ini menekankan keharmonisan dalam hidup bersama, menampilkan keterikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya, dan sekaligus memberi pesan yang kuat kepada pembaca untuk boleh membayangkan apa jadinya bila tradisi dan budaya itu mulai diabaikan, dilupakan, bahkan (mungkin) dihapus karena perkembangan zaman.
Saya terbawa dalam peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dengan bahasa sederhana, tidak ‘berbunga-bunga’; dengan bahasa keseharian yang dekat dan padat isinya: keseharian hidup tokoh utama Ina sebagai penenun, karakter tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan apa adanya โbaik maupun buruknyaโsebagai orang kampung (saling menolong, suka omong orang lain, kerja keras, tanggung jawab, dan sebagainya).
Semua karakter itu dilukiskan dengan bahasa apa adanya. Sehingga usai membaca tiga bagian awal ini, satu hal yang melekat di kepala saya adalah Fince Bataona sedang ‘mengarsipkan’ kebiasaan-kebiasaan hidup, tradisi, budaya Lamalera untuk generasi-generasi penerus, khususnya orang-orang Lamalera dan di sekitarnya.
Saya tiba-tiba teringat Thomas Berry, Sejarawan dari Amerika. Dia pernah menyinggung tentang ‘Modifikasi Budaya’ dalam pandangannya tentang ekologi: relasi antara alam dan manusia.
Bahwa, manusia modern kerap memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi. Sebagai misal, dalam budaya-budaya tertentu, ada pandangan bahwa alam adalah saudara yang harus dijaga, dilestarikan.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern memodifikasi budaya dengan mengubah pandangan atau pola pikir mereka dari alam sebagai saudara menjadi alam sebagai objek yang harus ‘dikuras’.
Saya pikir, Fince Bataona tidak ingin warisan leluhur itu dimodifikasi sesuai keinginan, apa lagi keinginan yang merugikan. Karena itu, melalui ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช, ia menulis apa adanya tentang tradisi dan budaya di Lamalera: ritual kematian, ritual sebelum penangkapan ikan, ritual masuk minta (pernikahan adat), kebiasaan-kebiasaan dan aneka ritual lainnya.
Bagi saya, bila kelak ada upaya ‘memodifikasi budaya’ (ke arah yang merugikan), novel ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ถ๐ณ๐ช dapat dibaca kembali untuk membalikkan pembelokan itu. Novel ini akan menjadi pengingat setiap orang untuk kembali ke ‘jalur’.
๐ฌ๐ฎ. ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ ๐ธ๐ฒ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ, ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ ๐ธ๐ฒ ๐ฅ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ
Sebagai lanjutan dari tiga bagian awal yang menekankan tradisi dan budaya sebagai unsur yang melekat kuat pada setiap tokoh, pada bagian keempat dari novel ini, Fince Bataona memadukan kisah masa lalu dan masa kini tokoh utama cerita. Bagian ini juga menjadi bagian akhir.
Fince Bataona mengisahkan Ina (tokoh utama cerita) sebagai perempuan kampung yang melanjutkan pendidikannya (kuliah) di Kupang. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang yang bekerja sehari-hari sebagai pembuat sampan untuk para pelaut, ibunya adalah penenun yang berwatak keras dan berkarakter kuat.
Sebaik apa pun ia dibentuk dalam keluarganya di kampung, Ina toh pada akhirnya jatuh dalam pelukan lelaki kota bernama Adrian. Ia hamil di luar nikah. Celakanya, lelaki itu memilih menghilang usai menyuruhnya menggugurkan anak dalam kandungan itu.
Ina harus berhenti kuliah dan memilih kembali ke kampung untuk memulai hidup baru, termasuk siap menanggung segala bentuk ‘sanksi’ sosial. Ia memilih membesarkan anak itu dengan tetap berbesar hati menghadapi segala situasi yang ada di kampung.
Sampai pada akhirnya, sahabat lamanya, Ama, berani menerima kenyataan hidup Ina dan ingin menikahinya. Meski pada akhirnya keduanya menikah, bagi saya, tegangan konflik (antara ibu Ama dengan kenyataan hidup Ina sebagai janda, antara keluarga besar Ina dan Ama) yang diciptakan Fince Bataona di klimaks cerita ini amat menarik.
Bayangkan, seorang perempuan (Ina) yang tidak selesai kuliah, pulang karena hamil, ditinggal laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lalu tiba-tiba atas nama cinta lama, rasa yang pernah tumbuh, Ama ingin menikahinya dan hidup semati dengannya? Apa kata orang-orang kampung? Bagaimana Ina dan Ama menghadapi semua itu?
Saya menyelesaikan kisah ini, dan membayangkan Ama adalah tokoh ‘jelmaan’ dari jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus: “Berapa kali saya harus mengampuni, apakah tujuh kali?”
“Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.”
Pengampunan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sebagaiman manusia jatuh berulangkali dalam pencobaan dan dosa. Berulangkali agar manusia tahu, bahwa hidup itu berharga. Ama (mungkin) melanjutkan pesan Yesus itu.
Terlepas dari itu semua, saya ingin membaca kisah itu lebih jauh dalam relasi antara kampung (Ina) dan kota (Adrian).
Ina adalah simbol kampung penuh tradisi, budaya. Keterlepasan relasi, kelupaan budaya berarti kehancuran.
Adrian adalah kota, gambaran perkembangan dunia, penuh manipulasi, tipu-daya, tak bertanggung jawab, simbol keserakahan dan keegoisan, (bila kita kaitkan dengan bagian awal novel maka ia dinamakan manusia modern yang memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, lalu lari dan tak bertanggung jawab atas kenyataan sesudahnya).
Keputusan Fince Bataona untuk menetapkan tokoh utama Ina pulang ke kampung adalah sebuah seruan untuk kembali ke akar, kembali ke rahim; sebuah seruan untuk tidak memanipulasi budaya, tidak memodifikasi budaya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (kepentingan yang merugikan).
Keputusan Fince Bataona untuk melukiskan tokoh Ama menerima Ina apa adanya adalah sebuah panggilan untuk menerima, bukan menolak; sebuah seruan untuk berjalan bersama-sama, bukan ‘merusakkan’ lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab.
Pada akhirnya, novel ini menyimpan banyak pesan kemanusiaan, dan dapat dimaknai lebih dalam.
Silakan pesan di Kaka Fince Bataona.
๐ด๐๐๐๐๐ข๐๐-๐ด๐๐๐ง๐๐, ๐๐๐๐๐ก 2026.
๐๐๐ฅ๐จ ๐๐๐ฆ๐๐ญ๐๐ฉ๐จ
- Penulis: Selo Lamatapo
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar