Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐‹๐€๐Œ๐€๐”๐‘๐ˆ, ๐’๐„๐๐”๐€๐‡ ๐๐Ž๐•๐„๐‹ (๐˜พ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™‡๐™š๐™ฅ๐™–๐™จ ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™‰๐™ค๐™ซ๐™š๐™ก ๐™†๐™š๐™™๐™ช๐™– ๐™๐™ž๐™ฃ๐™˜๐™š ๐˜ฝ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ค๐™ฃ๐™–)

  • account_circle Selo Lamatapo
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 384
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan.

Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ‘istri’ dari ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, karya pertamanya.

“Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, maka harus ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช supaya arah ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bisa dikendalikan, (๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, 124).”

***

Melalui Wa, saya kirimkan komentar setelah ia sampaikan bahwa ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช sudah terbit. “Akhirnya, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข tak ‘melaut’ sendirian. Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช yang kini menemaninya dalam doa, cinta, dan kesetiaan mengarungi lautan luas.”

Selanjutnya, catatan pendek di bawah ini adalah catatan lepas pembacaan saya atas novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช.

๐Ÿฌ๐Ÿญ. ‘๐—”๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฝ’ ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ

Novel ini dibagi dalam empat bagian cerita. Bagian satu, dua, dan tiga, masing-masing dengan judul ๐˜—๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ, ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ, ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฐ adalah ‘pembuka cerita’ yang mengenalkan tokoh-tokoh cerita, situasi, dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.

Fince Bataona menggunakan alur campuran (maju dan mundur) untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam novel ini. Ia membuka cerita dengan menuturkan ritual dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang kampung berkabung atas meninggalnya Ema Lisa, salah satu tokoh dalam novel ini. Ia melukiskan pengalaman duka tersebut dan menarasikan ritual-ritual perkabungan, juga menyertakan kebiasaan-kebiasaan umum para tokoh dalam lingkungan hidup mereka, (dalam hal ini, Lamalera sebagai latar tempat).

Secara umum, bagian ini menekankan keharmonisan dalam hidup bersama, menampilkan keterikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya, dan sekaligus memberi pesan yang kuat kepada pembaca untuk boleh membayangkan apa jadinya bila tradisi dan budaya itu mulai diabaikan, dilupakan, bahkan (mungkin) dihapus karena perkembangan zaman.

Saya terbawa dalam peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dengan bahasa sederhana, tidak ‘berbunga-bunga’; dengan bahasa keseharian yang dekat dan padat isinya: keseharian hidup tokoh utama Ina sebagai penenun, karakter tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan apa adanya โ€”baik maupun buruknyaโ€”sebagai orang kampung (saling menolong, suka omong orang lain, kerja keras, tanggung jawab, dan sebagainya).

Semua karakter itu dilukiskan dengan bahasa apa adanya. Sehingga usai membaca tiga bagian awal ini, satu hal yang melekat di kepala saya adalah Fince Bataona sedang ‘mengarsipkan’ kebiasaan-kebiasaan hidup, tradisi, budaya Lamalera untuk generasi-generasi penerus, khususnya orang-orang Lamalera dan di sekitarnya.

Saya tiba-tiba teringat Thomas Berry, Sejarawan dari Amerika. Dia pernah menyinggung tentang ‘Modifikasi Budaya’ dalam pandangannya tentang ekologi: relasi antara alam dan manusia.

Bahwa, manusia modern kerap memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi. Sebagai misal, dalam budaya-budaya tertentu, ada pandangan bahwa alam adalah saudara yang harus dijaga, dilestarikan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern memodifikasi budaya dengan mengubah pandangan atau pola pikir mereka dari alam sebagai saudara menjadi alam sebagai objek yang harus ‘dikuras’.

Saya pikir, Fince Bataona tidak ingin warisan leluhur itu dimodifikasi sesuai keinginan, apa lagi keinginan yang merugikan. Karena itu, melalui ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ia menulis apa adanya tentang tradisi dan budaya di Lamalera: ritual kematian, ritual sebelum penangkapan ikan, ritual masuk minta (pernikahan adat), kebiasaan-kebiasaan dan aneka ritual lainnya.

Bagi saya, bila kelak ada upaya ‘memodifikasi budaya’ (ke arah yang merugikan), novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช dapat dibaca kembali untuk membalikkan pembelokan itu. Novel ini akan menjadi pengingat setiap orang untuk kembali ke ‘jalur’.

๐Ÿฌ๐Ÿฎ. ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—บ

Sebagai lanjutan dari tiga bagian awal yang menekankan tradisi dan budaya sebagai unsur yang melekat kuat pada setiap tokoh, pada bagian keempat dari novel ini, Fince Bataona memadukan kisah masa lalu dan masa kini tokoh utama cerita. Bagian ini juga menjadi bagian akhir.

Fince Bataona mengisahkan Ina (tokoh utama cerita) sebagai perempuan kampung yang melanjutkan pendidikannya (kuliah) di Kupang. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang yang bekerja sehari-hari sebagai pembuat sampan untuk para pelaut, ibunya adalah penenun yang berwatak keras dan berkarakter kuat.

Sebaik apa pun ia dibentuk dalam keluarganya di kampung, Ina toh pada akhirnya jatuh dalam pelukan lelaki kota bernama Adrian. Ia hamil di luar nikah. Celakanya, lelaki itu memilih menghilang usai menyuruhnya menggugurkan anak dalam kandungan itu.

Ina harus berhenti kuliah dan memilih kembali ke kampung untuk memulai hidup baru, termasuk siap menanggung segala bentuk ‘sanksi’ sosial. Ia memilih membesarkan anak itu dengan tetap berbesar hati menghadapi segala situasi yang ada di kampung.

Sampai pada akhirnya, sahabat lamanya, Ama, berani menerima kenyataan hidup Ina dan ingin menikahinya. Meski pada akhirnya keduanya menikah, bagi saya, tegangan konflik (antara ibu Ama dengan kenyataan hidup Ina sebagai janda, antara keluarga besar Ina dan Ama) yang diciptakan Fince Bataona di klimaks cerita ini amat menarik.

Bayangkan, seorang perempuan (Ina) yang tidak selesai kuliah, pulang karena hamil, ditinggal laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lalu tiba-tiba atas nama cinta lama, rasa yang pernah tumbuh, Ama ingin menikahinya dan hidup semati dengannya? Apa kata orang-orang kampung? Bagaimana Ina dan Ama menghadapi semua itu?

Saya menyelesaikan kisah ini, dan membayangkan Ama adalah tokoh ‘jelmaan’ dari jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus: “Berapa kali saya harus mengampuni, apakah tujuh kali?”

“Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.”

Pengampunan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sebagaiman manusia jatuh berulangkali dalam pencobaan dan dosa. Berulangkali agar manusia tahu, bahwa hidup itu berharga. Ama (mungkin) melanjutkan pesan Yesus itu.

Terlepas dari itu semua, saya ingin membaca kisah itu lebih jauh dalam relasi antara kampung (Ina) dan kota (Adrian).

Ina adalah simbol kampung penuh tradisi, budaya. Keterlepasan relasi, kelupaan budaya berarti kehancuran.

Adrian adalah kota, gambaran perkembangan dunia, penuh manipulasi, tipu-daya, tak bertanggung jawab, simbol keserakahan dan keegoisan, (bila kita kaitkan dengan bagian awal novel maka ia dinamakan manusia modern yang memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, lalu lari dan tak bertanggung jawab atas kenyataan sesudahnya).

Keputusan Fince Bataona untuk menetapkan tokoh utama Ina pulang ke kampung adalah sebuah seruan untuk kembali ke akar, kembali ke rahim; sebuah seruan untuk tidak memanipulasi budaya, tidak memodifikasi budaya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (kepentingan yang merugikan).

Keputusan Fince Bataona untuk melukiskan tokoh Ama menerima Ina apa adanya adalah sebuah panggilan untuk menerima, bukan menolak; sebuah seruan untuk berjalan bersama-sama, bukan ‘merusakkan’ lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab.

Pada akhirnya, novel ini menyimpan banyak pesan kemanusiaan, dan dapat dimaknai lebih dalam.

Silakan pesan di Kaka Fince Bataona.

 

๐ด๐‘™๐‘’๐‘›๐‘ž๐‘ข๐‘’๐‘Ÿ-๐ด๐‘š๐‘Ž๐‘ง๐‘œ๐‘›, ๐‘€๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘ก 2026.

 

๐’๐ž๐ฅ๐จ ๐‹๐š๐ฆ๐š๐ญ๐š๐ฉ๐จ

  • Penulis: Selo Lamatapo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono: Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono: Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month 17 jam yang lalu
    • account_circle Stefani Kurnia Handayani
    • visibility 36
    • 0Komentar

    โ€œSebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.โ€ (Lukas 8:17)ย    Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 244
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 277
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Sudut Pandang: ๐—”๐—ž๐—จ ๐—•๐—˜๐—•๐—ข

    Sudut Pandang: ๐—”๐—ž๐—จ ๐—•๐—˜๐—•๐—ข

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 217
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข (Pater), selamat pagi.” Mama […]

  • Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata. Saya membaca […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

expand_less