Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

  • account_circle John Lobo
  • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi heroik para pemain ke arah sosok pengadil lapangan.

Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 di waktu normal dan disudahi dengan kemenangan penalti Pesik Kuningan 5-4 ini, menyisakan catatan kelam terkait kepemimpinan wasit yang dinilai berat sebelah. Alih-alih menjadi fasilitator pertandingan yang adil, sang pengadil justru menjelma sebagai pemain ke-12 yang merusak ritme dan mental bertanding.

Ada dua dosa taktis utama dari kepemimpinan wasit di laga ini yang patut dikritisi secara tajam, yaitu: Pertama, matinya kepekaan terhadap aturan keuntungan. Dalam sepak bola modern, aturan ini adalah instrumen krusial agar tim yang dilanggar tidak semakin dirugikan saat alur serangan mereka sedang mengalir. Namun, apa yang terjadi di Sriwedari justru sebaliknya.

Wasit tercatat menghentikan jalannya pertandingan sebanyak beberapa kali tepat saat PSN Ngada sedang membangun skema serangan balik cepat yang sangat berbahaya. Peluit ditiup untuk pelanggaran yang sudah lewat, mengabaikan fakta bahwa bola masih dikuasai penuh oleh pemain PSN Ngada dalam posisi menyerang.

Secara taktis, ini adalah sebuah bencana bagi PSN Ngada sekaligus napas buatan bagi Pesik Kuningan. Keputusan prematur tersebut memberikan waktu berharga bagi lini pertahanan Pesik untuk kembali merapatkan barisan. Sangat wajar jika Head Coach PSN Ngada, Cletus Marselinus Gabhe, meledak amarahnya di area teknis. Protes keras yang dilayangkannya bukanlah bentuk ketidakdewasaan, melainkan jeritan taktis seorang pelatih yang melihat peluang emas anak asuhnya dirampas oleh peluit yang buta momentum.

Kedua, penerapan standar ganda pada duel fisik. Tensi tinggi laga semifinal tentu melahirkan benturan-benturan sengit di lapangan. Di sinilah integritas dan objektivitas wasit kembali dipertanyakan. Setiap kali terjadi duel 50-50, peluit seolah jauh lebih ringan ditiup untuk memberikan keuntungan bagi Pesik Kuningan. Sebaliknya, ketika pemain PSN Ngada menunjukkan determinasi fisik yang sama, wasit kerap menutup mata atau bahkan memutarbalikkan fakta dengan menghukum pemain PSN.

Ketidakadilan semacam ini merupakan perampasan penguasaan bola secara tidak sah, dan meneror mental pemain. Sulit bagi pemain mana pun untuk tetap fokus ketika mereka merasa sedang bertanding melawan dua kubu sekaligus yakni tim lawan dan perangkat pertandingan. Protes beruntun dari Coach Cletus adalah upaya rasional untuk melindungi hak-hak dasar pemainnya agar bisa bertanding di atas lapangan yang datar.

Liga 4 Nasional adalah fondasi bagi masa depan sepak bola kita, sekaligus jembatan mimpi bagi klub-klub daerah. Jika di fase sepenting semifinal saja kualitas perangkat pertandingan masih diwarnai keputusan-keputusan ganjil, bagaimana kita bisa bermimpi membangun kompetisi nasional yang sehat, bersih, dan profesional?

Evaluasi total dari Komite Wasit PSSI mutlak diperlukan. Pertandingan yang mempertaruhkan keringat, persiapan berbulan-bulan, dan harapan puluhan ribu suporter daerah tidak boleh dirusak begitu saja dalam waktu 90 menit. Keadilan di Sriwedari mungkin telah tercederai, dan skor akhir 5-4 lewat adu penalti telah menjadi ketukan palu. Namun, laga ini harus menjadi teguran keras agar sepak bola kita berhenti tersandung di lubang inkompetensi yang sama.

Mojokerto, 8 Juli 2026

  • Penulis: John Lobo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

expand_less