Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

  • account_circle John Lobo
  • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
  • visibility 124
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi heroik para pemain ke arah sosok pengadil lapangan.

Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 di waktu normal dan disudahi dengan kemenangan penalti Pesik Kuningan 5-4 ini, menyisakan catatan kelam terkait kepemimpinan wasit yang dinilai berat sebelah. Alih-alih menjadi fasilitator pertandingan yang adil, sang pengadil justru menjelma sebagai pemain ke-12 yang merusak ritme dan mental bertanding.

Ada dua dosa taktis utama dari kepemimpinan wasit di laga ini yang patut dikritisi secara tajam, yaitu: Pertama, matinya kepekaan terhadap aturan keuntungan. Dalam sepak bola modern, aturan ini adalah instrumen krusial agar tim yang dilanggar tidak semakin dirugikan saat alur serangan mereka sedang mengalir. Namun, apa yang terjadi di Sriwedari justru sebaliknya.

Wasit tercatat menghentikan jalannya pertandingan sebanyak beberapa kali tepat saat PSN Ngada sedang membangun skema serangan balik cepat yang sangat berbahaya. Peluit ditiup untuk pelanggaran yang sudah lewat, mengabaikan fakta bahwa bola masih dikuasai penuh oleh pemain PSN Ngada dalam posisi menyerang.

Secara taktis, ini adalah sebuah bencana bagi PSN Ngada sekaligus napas buatan bagi Pesik Kuningan. Keputusan prematur tersebut memberikan waktu berharga bagi lini pertahanan Pesik untuk kembali merapatkan barisan. Sangat wajar jika Head Coach PSN Ngada, Cletus Marselinus Gabhe, meledak amarahnya di area teknis. Protes keras yang dilayangkannya bukanlah bentuk ketidakdewasaan, melainkan jeritan taktis seorang pelatih yang melihat peluang emas anak asuhnya dirampas oleh peluit yang buta momentum.

Kedua, penerapan standar ganda pada duel fisik. Tensi tinggi laga semifinal tentu melahirkan benturan-benturan sengit di lapangan. Di sinilah integritas dan objektivitas wasit kembali dipertanyakan. Setiap kali terjadi duel 50-50, peluit seolah jauh lebih ringan ditiup untuk memberikan keuntungan bagi Pesik Kuningan. Sebaliknya, ketika pemain PSN Ngada menunjukkan determinasi fisik yang sama, wasit kerap menutup mata atau bahkan memutarbalikkan fakta dengan menghukum pemain PSN.

Ketidakadilan semacam ini merupakan perampasan penguasaan bola secara tidak sah, dan meneror mental pemain. Sulit bagi pemain mana pun untuk tetap fokus ketika mereka merasa sedang bertanding melawan dua kubu sekaligus yakni tim lawan dan perangkat pertandingan. Protes beruntun dari Coach Cletus adalah upaya rasional untuk melindungi hak-hak dasar pemainnya agar bisa bertanding di atas lapangan yang datar.

Liga 4 Nasional adalah fondasi bagi masa depan sepak bola kita, sekaligus jembatan mimpi bagi klub-klub daerah. Jika di fase sepenting semifinal saja kualitas perangkat pertandingan masih diwarnai keputusan-keputusan ganjil, bagaimana kita bisa bermimpi membangun kompetisi nasional yang sehat, bersih, dan profesional?

Evaluasi total dari Komite Wasit PSSI mutlak diperlukan. Pertandingan yang mempertaruhkan keringat, persiapan berbulan-bulan, dan harapan puluhan ribu suporter daerah tidak boleh dirusak begitu saja dalam waktu 90 menit. Keadilan di Sriwedari mungkin telah tercederai, dan skor akhir 5-4 lewat adu penalti telah menjadi ketukan palu. Namun, laga ini harus menjadi teguran keras agar sepak bola kita berhenti tersandung di lubang inkompetensi yang sama.

Mojokerto, 8 Juli 2026

  • Penulis: John Lobo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 466
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Kotagoa, 24 Juni 2026 – SDI Olaewa sukses menorehkan sejarah sebagai juara cabang futsal antar Sekolah Dasar pada Kotagoa Diamond Competition 2026. Gelar juara diraih setelah menaklukkan SDK Natanage A dengan skor meyakinkan 4-2 pada laga grand final yang berlangsung di Kotagoa Sport Area, Rabu (24/6/2026). Sejak peluit kick-off dibunyikan wasit utama, pertandingan langsung berlangsung […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

expand_less