Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 190
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya.

Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan?

Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang seharusnya menjadi sapaan sering berubah menjadi pisau yang dibungkus candaan.

“Kapan nikah?”
“Masih sendiri?”
“Jangan terlalu pilih-pilih.”

Kalimat-kalimat itu terdengar ringan bagi yang mengucapkannya. Padahal, bagi sebagian orang, ia jatuh seperti tetes air yang terus-menerus menimpa batu. Bukan karena sekali ucap langsung melukai, tetapi karena terus diulang hingga perlahan mengikis ketenangan.

Lucunya, masyarakat begitu sibuk mencemaskan orang yang masih sendiri, tetapi sering lupa bertanya kabar kepada mereka yang setiap hari menangis dalam hubungan yang katanya bahagia.

Kita hidup di zaman ketika foto prewedding lebih sering dipamerkan daripada proses saling memahami. Ketika cincin dianggap lebih penting daripada komitmen. Ketika status hubungan lebih dipuji daripada kualitas hubungan itu sendiri.

Seolah-olah hidup hanyalah perlombaan menuju pelaminan.

Padahal, pelaminan bukan garis finis. Ia justru pintu masuk menuju perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tidak semua yang berjalan berdua sedang menuju kebahagiaan. Ada yang berjalan sambil memikul luka. Ada yang setiap malam tidur di samping seseorang yang tak lagi menjadi rumah. Ada yang harus menyembunyikan lebam di balik lengan baju panjang, menyembunyikan tangis di balik senyum yang dipaksa tetap ramah kepada tetangga.

Ada pula yang kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk menjadi versi yang diinginkan pasangannya.

Ironisnya, mereka jarang disebut gagal.

Sebaliknya, orang yang memilih menunggu justru lebih sering dianggap bermasalah.

Padahal, menunggu bukan berarti tidak laku. Menunggu bisa jadi adalah bentuk penghormatan paling tinggi terhadap hidup. Sebab tidak semua pintu harus dibuka hanya karena sedang kesepian. Tidak semua tangan harus digenggam hanya karena takut berjalan sendirian.

Ada musim ketika pohon tidak berbunga. Bukan karena ia mati, melainkan karena seluruh tenaganya sedang bekerja di akar. Dari luar memang tampak sunyi. Namun, di dalam tanah, kehidupan sedang disiapkan.

Begitulah sebagian orang yang masih sendiri.

Mereka sedang memperdalam akar.

Sedang berdamai dengan masa lalu. Sedang membangun mimpi. Sedang merawat orang tua. Sedang mengejar pendidikan. Sedang menyusun karier. Sedang belajar mencintai dirinya sendiri agar kelak tidak meminta orang lain menambal semua kekosongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya.

Kesendirian sering disalahpahami sebagai kehampaan. Padahal, kesendirian bisa menjadi ruang paling subur bagi pertumbuhan. Justru yang patut dikhawatirkan adalah hubungan yang memaksa seseorang berhenti menjadi dirinya sendiri. Hubungan yang menganggap cinta sebagai hak untuk mengendalikan. Hubungan yang menjadikan kekerasan sebagai bahasa, kecemburuan sebagai bukti kasih sayang, dan luka sebagai harga yang harus dibayar demi tetap bersama.

Tidak sedikit orang bertahan hanya karena takut menyandang status “sendiri”. Seolah-olah masyarakat lebih memaafkan hubungan yang penuh penderitaan daripada seseorang yang memilih menjaga kedamaian hidupnya.

Barangkali, kita memang terlalu lama memuja kebersamaan, sampai lupa bahwa tidak semua kesendirian adalah kesepian, dan tidak semua kebersamaan menghadirkan ketenangan.

Jomlo bukanlah aib.

Aib yang sesungguhnya adalah ketika kita merasa berhak menentukan jalan hidup orang lain. Ketika kita mengukur kebahagiaan hanya dari ada atau tidaknya cincin di jari manis. Ketika kita lebih percaya pada status hubungan daripada kesehatan jiwa seseorang.

Sebab hidup bukan soal siapa yang paling cepat menemukan pasangan.

Hidup adalah tentang menemukan diri sendiri terlebih dahulu.

Karena seseorang yang tidak selesai dengan dirinya akan menjadikan cinta sebagai tongkat penyangga. Sementara seseorang yang telah selesai berdamai dengan dirinya akan menjadikan cinta sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan tempat saling menyandera.

Maka, jika hari ini masih sendiri, jangan buru-buru merasa tertinggal.

Bunga tidak pernah iri kepada hujan yang datang lebih dulu. Laut tidak pernah memaksa matahari terbit lebih cepat. Bahkan fajar pun selalu menunggu malam benar-benar selesai sebelum memperlihatkan cahayanya.

Barangkali hidup memang bekerja seperti itu.

Ia tidak pernah terlambat. Ia hanya tidak tunduk pada jadwal yang dibuat oleh manusia.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan oleh hidup bukanlah, “Seberapa cepat kamu menemukan pasangan?”

Melainkan, “Apakah ketika akhirnya berjalan bersama seseorang, kamu tetap menjadi dirimu sendiri, atau justru kehilangan seluruh arah hanya agar tidak berjalan sendirian?”

Karena berjalan sendiri mungkin terasa sepi. Tetapi berjalan bersama orang yang salah sering kali jauh lebih sunyi.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (3)

  • Miaclara

    Terimakasih untuk tulisan ini Kaka.
    Entah kenapa kalau beraktivitas sendirian tanpa pasangan menjadi bahan pembicaraan orang². Padahal Jomblo atau memilih hidup sendiri bukanlah sebuah dosa yang akan dihapus jika punya pasangan. Dunia sekarang yang sudah serba apa – apa viral banyak mempertontonkan hal hal buruk dari orang yang sudah hidup bersama. Perselingkuhan, kekerasan, penghianatan dan Masih banyak lagi hal hal yang sangat menakutkan terjadi ketika memilih untuk bersama pasangan. Kadang bukan hanya orang yang sudah mengalami hal hal tersebut yang trauma, bahkan ada juga orang yang hanya mengamati saja sudah trauma takut deluan dan memilih untuk menyendiri.
    Biarkan kita memilih sendiri dengan lebih cermat dalam hal pasangan, agar hidup bersama benar benar didasari cinta kasih dan benar benar hidup bersama bukan nanti tinggal bersama..

    Balas2 Juli 2026 4:50 pm
    • Mataleza

      Peluklah setiap pilihan dengan penuh kasih. Apa pun itu tetap disyukuri. Jangan dengarkan kata orang jika itu menyakitkan. Belajarlah untuk berkata “tidak” kepada merka yang tidak memberikan andil apa pun dalam kehidupan kita.Terus tumbuh dengan sungguh.

      Balas3 Juli 2026 1:28 am
  • Mariana Liska

    Tulisannya keren kak.. 👏🏻❤️

    Banyak orang memaksa setiap orang mengikuti standar mereka dan mengukur kebahagiaan dari “punya pasangan atau tidak”. Padahal, memilih sendiri itu pun adalah sebuah langkah untuk bertumbuh lebih baik, menyiapkan segala hal dengan baik, memperdalam semua sisi dengan baik, sehingga ketika tiba pada waktunya memang kita akan menemukan orang yang tepat ~ yang sepadan, kita memang udah siap ada di tahap itu. Bukan karena paksaan, tetapi karena hati kita sudah terbuka dan diri kita sudah benar² mantap dalam pilihan itu..

    Memiliki pasangan kan bukan hanya asal ada dan membangun hubungan bukan sekadar membangun, tetapi motivasi dan tujuan di dalamnya juga harus ada. ✨️

    Balas2 Juli 2026 11:45 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 496
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata. Saya membaca […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 876
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

expand_less