Cerpen Pastor: I Love You Full!
- account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- visibility 143
- comment 4 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD
(Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama)
Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup bagi anak-anak desa. Di sanalah kami bermain, membuat katapel, mengejar burung-burung kecil yang berkicau di sela pepohonan. Dari bukit itu pula, segala kabar tentang sukacita dan dukacita diumumkan kepada kampung.
Ketika aku sampai di puncak, kulihat beberapa laki-laki sedang meniup tanduk kerbau. Suaranya panjang, berat, dan memilukan–membelah langit desa seperti ratapan yang dipaksa ke luar dari dada. Aku terdiam.
Dalam adat kami, suara tanduk itu hanya ditiup ketika seseorang meninggal dunia. Rasa takut perlahan merayap ke dalam dadaku.
“Tulang, siapa yang meninggal?” tanyaku pelan.
Salah seorang dari mereka menoleh. Wajahnya tampak canggung ketika melihatku.
“Kenapa kau di sini, Nang? Dari mana tadi?”
“Marombo aku, Tulang. Dari ladang guruku.”
“Ayolah pulang. Bonceng aja sama Tulang biar cepat.”
Belum sempat aku bertanya lagi, tanduk kerbau kembali ditiup tujuh kali. Angin sore terasa semakin dingin. Di sepanjang perjalanan, dadaku mendadak sesak.
“Nang… jangan nangis ya.” Aku menoleh bingung.
“Kenapa rupanya, Tulang?” Namun ia hanya diam. Diam yang menakutkan.
“Inangku kenapa, Tulang?” Tak ada jawaban.
Rumah-rumah mulai terlihat. Anehnya, setiap orang yang memandangku menunjukkan wajah belasungkawa. Jantungku berdegup semakin keras. Begitu sampai di halaman rumah, kulihat banyak orang berkerumun. Pintu rumah terbuka lebar. Tangisku langsung pecah sebelum aku benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
“Tidak… tidak… Inangku belum pergi…” Aku berlari masuk.
Tubuh Inang terbujur kaku. Kuguncang bahunya. Kudekapkan kepalaku di dadanya, berharap masih ada napas yang tersisa.
Namun tak ada lagi denyut kehidupan.
“Inang… jangan tinggalkan aku… Inang… nanti aku sama siapa lagi…”
Tangisku pecah seperti hujan yang kehilangan langitnya.
Hari itu, dunia terasa runtuh.
Malam duka menyelimuti rumah kami. Orang-orang datang silih berganti membawa doa dan air mata. Aku duduk di sudut rumah seperti anak kecil yang kehilangan arah pulang.
Keesokan harinya, serombongan berjubah putih datang. Mereka berjalan perlahan sambil membawa rosario di tangan. Di antara mereka, ada seorang frater muda yang terus menangis sejak memasuki rumah. Usianya tidak terlalu jauh dariku.
“Inang… kenapa cepat kali pergi…” isaknya lirih.
Lalu pandangannya tertuju padaku.
Entah mengapa, matanya semakin basah.
Aku memmerhatikan jubah putih yang dikenakannya. Bersih. Teduh. Damai.
Sejak saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa ingin mengenal Tuhan lebih dekat.
Aku ingin menjadi religius. Aku ingin menjadi seperti mereka.
Doa Salam Maria dilantunkan sepanjang perjalanan menuju makam. Suara doa itu menggema di antara bukit-bukit desa kami yang miskin pengetahuan agama. Namun di tengah segala keterbatasan itu, aku merasa Bunda Maria sedang memelukku.
Sesudah pemakaman, para frater dan suster berpamitan pulang. Aku memandang mereka satu per satu. Dalam pikiranku yang masih polos, aku mengira mereka akan memberiku uang. Ternyata menjadi religius bukan soal kekayaan. Mereka datang hanya membawa kasih.
“Pudan sini, Nang,” ucap frater muda tadi sambil tersenyum.
Aku langsung bersembunyi di balik pintu.
“Gak ah. Siapa kamu?”
“Aku abangmu. Bang James.”
“Gak ada abangku kayak gitu.”
Ia tertawa kecil, lalu mengeluarkan sebungkus Borobudur.
“Ayo jajan kita.”
Dan seperti semua anak kecil lainnya, aku kalah oleh bujuk rayu makanan.
Malam itu Bang James menemaniku sampai tertidur.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ia harus kembali ke Pematangsiantar untuk melanjutkan pendidikan imamatnya.
“Baik-baik ya, Nang. Temani Bapak.” Aku memandangnya lama.
“Bang… aku mau jadi pastor ajalah.” Ia tertawa keras. “Hahaha… susternya, Nang. Gak bisa jadi pastor.”
“Iyanya… itupun jadilah.” Tawanya perlahan meredup. Matanya kembali berkaca-kaca.
Saat itu aku belum mengerti bahwa orang dewasa juga bisa menyimpan luka.
Tiga bulan kemudian, Ayah jatuh sakit. Tubuhnya melemah sedikit demi sedikit hingga akhirnya hanya bisa terbaring di kasur bambu. Aku mulai bekerja sepulang sekolah. Menjadi buruh kecil dengan upah lima ribu rupiah sehari. Kadang uang itu hanya cukup membeli beras Bulog dan beberapa bungkus Indomie.
Saudara-saudaraku merantau entah ke mana.
Tak ada kabar. Tak ada bantuan.
Aku mulai mengenal kenyataan bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang terasa yatim meski masih memiliki keluarga. Setiap malam aku menangis diam-diam. Aku takut kehilangan Ayah. Aku takut sendirian.
“Pak… jangan tinggalkan aku ya…” Kupeluk tubuh Ayah yang semakin kurus. Namun waktu tetap berjalan seperti pisau yang diasah perlahan.
Enam bulan kemudian, menjelang Natal, Ayah pergi menyusul Inang. Aku kembali berdiri di depan kehilangan yang sama.
“Pak e… bangun, Pak…” Tangisku pecah.
Bang James memelukku erat sambil menahan air matanya sendiri.
“Sudah, Nang… masih ada abang.”
“Jangan tinggalkan aku juga, Bang…”
“Iya… ke mana abang pergi, kau kubawa.” Kalimat itu tertanam kuat di dalam kepalaku. Kalimat yang kelak justru menjadi sumber lukaku.
Sepeninggal Ayah dan Inang, aku tinggal bersama bibik yang keras dan galak. Aku diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri. Aku sering lari dari rumah. Tetangga mulai kasihan melihat hidupku yang berantakan. Akhirnya Bang James datang membawaku ke Pematang Siantar. Sepanjang perjalanan aku memegang tangannya erat-erat.
“Bang… nanti kita tinggal di mana?”
“Sama abanglah.”
“Berarti gak abang tinggalin aku lagi kan?”
“Tidak, Nang. Di sini kau aman.”
Namun setibanya di sebuah rumah asuhan milik para suster, rasa takutku kembali muncul.
Gedung itu terlalu besar untuk anak kecil sepertiku. Aku terus memeluk lengan Bang James. Saat aku mandi, ia diam-diam pergi.
Ketika aku kembali ke ruang tamu, kursinya kosong.
“Mana abangku, Suster?”
“Sere… abangmu sudah pergi.”Dunia kembali runtuh. Aku berlari menuju gerbang, menangis sejadi-jadinya.
“Abang… jangan tinggalin aku…” Gerbang tinggi itu terkunci rapat.
Malam itu aku tertidur di depan gerbang sambil menunggu seseorang yang tak kembali. Sejak hari itu, aku mulai membenci Bang James. Aku menyembunyikan identitasnya dari siapa pun. Dalam pikiranku, ia telah mengkhianati janji.
Enam tahun aku hidup bersama para suster. Mereka merawatku dengan baik, tetapi luka dalam diriku tak pernah benar-benar sembuh. Saat SMA, aku memilih keluar dari asrama. Aku mencoba mencari kebebasan di luar sana. Aku mulai mengenal alkohol, pergaulan bebas, dan kesepian yang lebih liar. Namun sejauh apa pun aku pergi, luka masa kecil selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Setiap telepon dari Bang James kubiarkan berdering tanpa jawaban. Aku ingin membencinya. Tetapi diam-diam aku juga merindukannya. Ketika lulus SMA, aku memilih masuk biara. Bukan hanya karena panggilan Tuhan. Sebagian diriku ingin bersembunyi.
Aku merasa hidup membiara akan menyelamatkanku dari kekacauan batin yang selama ini menghantuiku. Lucunya, dosen liturgiku ternyata Bang James sendiri. Aku hampir tertawa pahit melihat cara Tuhan mempermainkan hidupku.
Setiap kali pelajaran liturgi berlangsung, aku sengaja diam. Aku menunduk, menulis sembarang hal di buku, dan menghindari tatapannya. Namun para suster rupanya mengetahui semuanya. Suatu hari aku jatuh sakit parah. Dalam keadaan lemah dan setengah sadar, hanya satu nama yang keluar dari mulutku. “Telepon abangku…” Malam itu Bang James datang. Aku melihat matanya lagi. Mata yang dulu selalu menangis diam-diam demi aku. Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu: Ia tidak pernah meninggalkanku. Ia hanya sedang berjuang.
Berjuang sebagai anak muda berusia sembilan belas tahun yang harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi adik-adiknya. Aku mulai mengingat banyak hal yang dulu tak kupahami. Tentang uang fotokopi yang ia pakai membeli makananku. Tentang beras yang tinggal satu mug di dapur. Tentang dirinya yang pura-pura kuat padahal dompetnya hanya berisi lima puluh ribu rupiah. Tentang matanya yang berkaca-kaca setiap kali melihatku makan. Dan malam itu… Hatiku akhirnya pulang.
Empat tahun masa pembinaan kulewati dengan damai. Di dalam bus menuju Medan, aku memandang jendela sambil tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi membawa dendam. Yang tersisa hanyalah rasa syukur. Aku sadar, kasih tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan yang sempurna. Kadang ia datang dalam bentuk seseorang yang diam-diam kelaparan agar kita tetap bisa makan. Aku ingin meminta maaf pada Bang James. Aku ingin memeluknya tanpa marah lagi. Aku ingin mengatakan bahwa selama ini aku salah. Bus terus melaju membelah kota Medan yang ramai. Hatiku terasa hangat. Dan di antara segala luka yang pernah ada, hanya satu kalimat yang terus bergaung di dalam diriku: “Pastor, I Love You Full..!”
2026
- Penulis: Sr. Auxilia Damanik, SFD
- Editor: Redaksi Mataleza

Kisah yang sangat menghangatkan sore ku sr. Jadi teringat dulu kita pernah sebangku pas kelas X. Semangat terus yaa sr🙏🏻
6 Juni 2026 5:09 pmterharu dan hangat sekali sr, semangat selalu sr. Jadi ingat dulu kita sebangku pas kelas 10 😆
6 Juni 2026 5:07 pmBaca nya pakai perasaan sampai nangis🥺
31 Mei 2026 8:35 pmSemangat selalu sr cantikkk🤍🤍
Terima kasih.
1 Juni 2026 6:12 am