Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua
- account_circle Aprianus Jebarus
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari
Rumah
Di sudut ini
hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah
menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit
yang tak lagi biru
suaramu mengalun indah dalam imaji
merajut kisah menjelma rindu tak berwujud
setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi
yang mengalun lembut dalam barisan
yang menjadikannya diksi paling favorit
dalam aroma kehangatan yang pernah ada
dan kau menyebutnya RUMAH
pun aku memanggilnya seperti itu.
2026
Rasa Yang Tak Sampai
Kepada ranting basah
kuceritakan ingin
yang belum sampai
pada kelopak indah itu
Pada setangkai bunga
kukabarkan pesan
tentang harap tak bertepi
Lewat celah dinding
kuukir namamu sepanjang jalan
Namun,
atmamu terlalu jauh untuk kutempuh
ada jeda yang menghentikan kisah
ada jarak yang memisahkan langkah
meruntuhkan rasa
hingga kata tak ‘kan
mampu mengejar kerinduan di tengah
gelombang perasaan yang mulai
rapuh.
2026
Hilang
Cuaca melamar di penghujung bulan
membawa isyarat yang tak pernah pasti
Gemuruh riuh berjalan tanpa arah
menjatuhkan bulir-bulir kenangan yang
membekas dalam awan
Getaran harap semakin menyatu,
menusuk dingin di samudera ingatan
Jemari mulai berlari, mencari cinta
Di antara air mata semesta yang
mengalir lurus
Menyimpan rahasia tentang ketulusan
yang hilang diterpa hujan.
2026
Untuk Apa Berdua
Hitam pekat menatap dengan tajam
Sendok mulai menari pada samudera gelas antik
menemani malam
menunggu hujan reda
Gumpalan asap menepi
mulai bertanya pada papan kayu yang enggan berpijak dari tempatnya
Mengapa sendiri lagi?
Ia tidak menjawab sepata kata pun
hanya terdiam tersenyum malu hingga beberapa saat
sebelum tegukan pertama mengalir menyejukkan kisah
Angin berhembus pelan, membisikkan kata
Membius kan aroma, mematikan obrolan
sambil berbisik
Untuk apa berdua
jika tak kan mampu
menyatukan harap yang sama.
2026
Aku
Beginilah caraku
menikmati hari tanpa tapi
berjalan menelusuri bebatuan
tanpa mengeluh
menerima semua keadaan tanpa pasrah
Dan semua kutuangkan lewat
kertas putih di laci meja
meracik huruf yang
ada dalam isi kepala penuh
menyajikannya dalam hati
penuh.
2026
- Penulis: Aprianus Jebarus
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar