Breaking News
light_mode
Trending Tags

Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

  • account_circle Benyamin Chintyano Meo
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 217
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero

Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi megah modernisasi pertanian tersebut, terdapat realitas ekologis yang kelam: pembabatan hutan alam berskala masif yang meicu deforestasi parah di berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga ujung timur Papua.

Secara Fundamental, kebijakan yang mengorbankan ekosistem demi target produksi mencerminkan patologi komunikasi lingkungan yang mendalam. Untuk membedah fenomena ini, teori The Othering of Nature (Alam Sebaga yang Lain) yang dicetuskan oleh Profesor Komunikasi Ekokultural, Tema Milstein, menyediakan pisau analisis yang sangat tajam. Milstein berargumen bahwa cara manusia berkomunikasi dengan alam melalui berbagai metode, seringkali mengonstruksikan alam sebagai entitas yang terpisah, inferior, dan sepenuhnya berada di bawah kendali manusia.

Opini ini akan menganalisis bagaimana proyek Food Estate di Indonesia beroperasi di atas fundasi cara berpikir othering tersebit. Melalui pendekatan kualitatif-reflektif yang didukung data empiris terkini, opini ini akan berusaha melihat bagaimana reduksi alam menjadi sekadar komoditas industri berujung pada krisis ekologis dan peminggiran struktural masyarakat adat.

The Othering of Nature: Dokrin Penakluk Ruang Hidup

Teori Teme Miltein berakar pada kritik terhadap dualisme kartesian yang memisahkan manusia dari alam secara dikotomis. Dalam bingkai The Othering of Nature, alam diposisikan sebagai yang lain (the other). Ia kehilangan agensi instruksinya dan tidak lagi diakui sebagai sebuah sistem kehidupan yang utuh (the greater-human world). Sebaliknya, alam diturunkan derajatnya menjadi objek pasif yang menunggu untuk ditaklika, dimodifikasi, dan dieksploitasi demi kenyamanan utilitas manusia.

Dalam implementasi Food Estate, cara pandang othering ini terwujud secara nyata melalui bahasa dan retorika pembangunan. Pemerintah dan korporasi kerap menggunakan pelabelan linguistic seperti lahan tidur, hutan terdegradasi, atau kawasan tidak produktif untuk menjustifikasi pembongkaran hutan tropis. Eufemisme ini secara halus mencuci kesadaran publik, solah-olah hutan yang berdiri tegak adalah ruang kosong yang tidak berguna sebelum disentuh oleh alat berat dan teknologi modern.

Mistein mengingatkan bahwa ketika alam sukses didefinisikan sebagai objek inferior, maka segala tindakan destruktif terhadapnya tidak lagi dianggap sebagai kejahatan ekologis, melainkan sebagai bentuk penyelamatan atau pemberdayaan demi kepentingan manusia. Proyek Food Estate berjalan dengan nalar maskulin: sebuah keyakinan bahwa ketahanan pangan hanya bisa dicapai dengan cara menjinakkan hutan alam yang liar menjadi bentangan monokultur yang seragam.

Deforestasi Masif: Angka Riil Eksploitasi Ekologis

Ketika paradigma othering disuntikanĀ  ke dalam Proyek Strategis Nasional (PNS), dampak ekologis yang dihasilkan tidak lagi berupa potensi risiko melainkan kerusakan nyata yang terukur. Laporan dari Strategic Enyironmental and Social Assessment (SESA) yang dirilis oleh Bappenas menunjukkan bahwa proyek ekosistem skala besar di kawasan sensitive termasuk Papua selatan, menempati skor penilaian sosial-ekologis terendah karena tingginya potensi destabilitas lingkungan hidup.

Data dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat memaparkan potret yang mencengangkan mengenai pembabatan hutan di wilayah Merauke, khususnya di sekitar Kampung Wanam dan Kampung Sernayab. Proyek lumbung pada pangan dan energi di wilayah ini menargetkan luasan komoditas tebu dan padi nasional hingga mencapai 1 juta hektar, ditambah pengembangan etanol sebesar 500.000 hektar. Jika diakumulasi, total alokasi lahan untuk proyek ini mangonsumsi hampir 25% atau seperempat dari seluruh wilayah administrasi Kabupaten Merauke.

Pembongkaran hutan dalam skala kuantum ini memicu hilangnya keanekaragaman hayati secara permanen, melepaskan cadangan karbon dalam jumlah raksasa ke atmosfer, dan merusak tata air regional. Kasus serupa yang terjadi di Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah, menjadi bukti empiris yang fatal. Ribuan hektar hutan tropis dibabat habis untuk proyek Food Estate singkong, namun yang terasa saat ini hanyalah hamparan lahan gundul yang gagal panen, tanah yang mengalami erosi parah, serta peningkatan frekuensi bencana banjir yang merendam pemukiman warga di hilir sungai. Kegagalan ini menunjukkan bahwa ketika alam diperlakukan sebagai objek mekanistik tanpa menghormati hukum ekologisnya, alam akan memberikan umpan balik destruktif kepada manusia.

Gastrokolonialisme dan Pemusnahan kearifan Lokal

Dampak dari nalar the othering of nature tidak hanya memutilasi vegetasi hutan, melainkan juga menghancurkan struktur sosial manusia yang hidup selaras di dalamnya. Bagi komunitas masyarakat adat di Papua (seperti suku Marind) maupun Dayak di Kalimantan, hutan bukanlah komoditas ekonomi belaka. Hutan adalah ruang spiritual, identitas kebudayaan, dan penyedia pangan berdaulat yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun.

Ketika negara memaksa masuknya korporasi pertanian monokultur, terjadilah apa yang disebut sebagai gastrokolonialisme: sebuah imperialisme pangan di mana sistem pangan lokal dihancurkan dan digantikan secara paksa oleh standardisasi industry modern. Pembabatan hutan sagu untuk digantikan dengan tanaman padi atau tebu adalah bentuk nyata penindasan ekokultural. Sagu yang merupakan simbol resiliensi pangan lokal dan adaptif terhadap rawa-rawa disingkirkan karena dianggap primitive, sementara padi yang membutuhkan input kimia tinggi dipaksa sebagai standar kemajuan.

Lebih jauh lagi, studi hukum lingkungan menunjukkan bahwa proyek Food Estate di Merauke kerap mengabaikan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC), hak masyarakat adat untuk memberikan atau menolak persetujuan atas proyek yang menyentuh wilayah adat mereka tanpa paksa. Dengan menabrak hak ulayat ini, negara memosisikan masyarakat adat sebagai perpanjangan tangan dari alam yang liar tadi : sama-sama diposisikan sebagai the other yang harus disingkirkan atau dipaksa tunduk dem jalannya roda pembangunan kapitalistik.

Menuju Komunikasi Ekokultural yang Inklusif

Melanjutkan proyek Food Estate dengan cara pandang yang sama hanya akan mempercepat laju katastrofe ekologis di Indonesia. Diperlukan dekonstruksiradikal terhadap diskursus pwmbangunan kita. Tema Milstein menawarkan alternative berupa ecocultural interconnection (saling keterhubungan ekokultural), sebuah kesadaran bahwa manusia bukanlah entitas terpisah yang menguasai alam, melainkan bagian integral dari jaringan kehidupan itu sendiri.

Ketahanan pangan sejati tidak semestinya dibangun di atas fondasi deforestasi masif yang merusak masa depan planet. Negara harus mulai mendengarkan sains ekologi dan kearifan tradisional. Diversifikasi pangan berbasis agroforestri dan perlindungan terhadap system pangan lokal yang sudah eksis jauh lebih efektif dan minim risiko dibanding memaksakan mega-proyek monokultur terpusat pada yang rentan gagal dan merusak iklim.

Kebijakan Food Estate di Indonesia menjadi preseden buruk bagaimana nalar The Othering of Nature diimplementasikan ke dalam regulasi negara. Pembabatan hutan berskala besar di Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya membuktikan bahwa alam masih dipandang sekedar sebagai ruang kosong dan objek eksploitasi yang inferior. Data dari Bappenas dan lembaga pemantau independen mempertegas bahwa proyek ini memicu krisis ekologis yang parah mulai dari deforestasi massif hingga bencana hidrometeorologi yang diperparah oleh praktik gastrokolonialisme terhadap masyarakat adat. Untuk itu, Indonesia harus segera menghentikan pendekatan penaklukan ekologis ini dan beralih ke paradigma pembangunan yang menempatkan alam sebagai mitra keberlanjutan hidup, bukan sebagai objek yang terus-menerus dikorbankan.

Maumere, 2026

  • Penulis: Benyamin Chintyano Meo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)Ā  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  TerancamĀ 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang TerancamĀ 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 215
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.Ā  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 360
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

expand_less