Breaking News
light_mode
Trending Tags

NADIEM: Siapa yang Order?

  • account_circle Nury Sybli
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 293
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum.

Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun.

“Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa pun yang masih punya sedikit akal sehat pasti bertanya: ini proses hukum atau eksekusi pesanan?

Saya tidak mengenal Nadiem secara pribadi. Juga tidak mengenal istrinya, Franka Makariem. Tapi saya mengikuti perjalanan mereka. Dua anak muda cerdas, keren dari keluarga yang dikenal menghargai pendidikan dan menjaga nama baik.

Sejak mendirikan “GoTo” atau Gojek saya menghormati Nadiem. Bukan karena statusnya, tapi karena idenya membuka jalan hidup bagi jutaan orang kecil. Banyak keluarga Indonesia bisa makan dengan cara terhormat karena ada ojek online, kurir, UMKM digital, dan ekonomi yang bergerak dari bawah. Saya salah satu yang bahagia dengan adanya gojek.

Saat dia masuk kabinet jadi Menteri Pendidikan, jujur saya sempat underestimate. Saya bahkan beberapa kali mengkritiknya. Saya merasa dia terlalu “Jakarta”, terlalu korporat, kurang menyentuh anak-anak pinggiran dan perbatasan.

Tapi hari ini, melihat dia diperlakukan seperti bandar narkoba kelas kakap, saya justru bertanya: negara ini sedang mencari keadilan atau sedang mencari tumbal? Siapa pemesannya?

Kasus Chromebook ini sejak awal sudah terasa janggal. Ajaib dan Gaib. Angka kerugian berubah-ubah seperti harga cabai di pasar. Dari Rp 2,1 triliun, meloncat ke sana-sini, sampai akhirnya publik bingung: sebenarnya yang kacau kasusnya atau otak para penuntutnya?

Sidang dakwaan dimulai 5 Januari 2026 setelah drama kesehatan Nadiem yang kurang mendukung. Setiap persidangan banyak kalangan professional, wartawan senior, Ojol, kerabat Nadiem, selebritas hadir memberikan dukungan. Tapi tak nampak satupun politisi. Beberapa sidang terakhir pakar pakar Hukum turut membersamai sidang Nadiem yang tergolong kasus ajaib ini.

Dan ternyata makin lama persidangan berjalan, makin terlihat bahwa para JAKSA Penuntut tidak memahami substansi dakwaannya sendiri.

Dua contoh paling fatal:

1. Jaksa tidak memahami aturan lock-up period saat IPO Gojek/”GoTo” pada 11 April 2022. Sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pendiri perusahaan dilarang menjual saham dalam periode tertentu. Tapi Jaksa tetap ngotot membangun narasi bahwa Nadiem menjual saham saat sudah menjadi Menteri.

2. Jaksa juga gagal memahami soal founders tax sebesar 0,5 persen yang dibayar Nadiem. Itu bukan pajak hasil penjualan saham, melainkan kewajiban pendiri perusahaan saat IPO. Bahkan tarif pajak final saham di pasar modal saja cuma 0,1 persen.

Fatal? Sangat. Karena dari kekeliruan dasar itulah dibangun tuduhan bahwa Nadiem mengeruk keuntungan pribadi dari proyek Chromebook.

Pertanyaannya: kalau fondasi logikanya saja runtuh, bagaimana bisa tuntutannya malah dibuat seganas itu?

Ini bukan lagi sekadar salah tafsir hukum. Ini terlihat seperti semangat menghukum mati karakter seseorang.

Jaksa seperti datang bukan membawa semangat “pro justicia”, tapi semangat “pokoknya harus masuk”.

Tidak peduli fakta sidang.
Tidak peduli logika.
Tidak peduli rasa keadilan.

Yang penting: Nadiem harus jatuh dan mampus.

Siapa sebenarnya yang ORDER?
Siapa yang begitu berkepentingan menjadikan Nadiem sebagai simbol pesakitan nasional? Segitu dendamnya pada Nadiem.

Ahli Hukum Todung Mulya Lubis memberikan pernyataan bahkan terdengar sangat keras:

«“Ini tuntutan yang insane. Logika jaksa adalah logika penghukuman, bukan logika keadilan.”»

Dan memang terasa sekali. Asas praduga tak bersalah sekarang tinggal slogan dekorasi ruang sidang. Dipasang untuk dipotret, bukan dijalankan.

Padahal tugas Jaksa bukan sekadar memenangkan perkara. Tugas Jaksa adalah menghadirkan keadilan. Bahkan menuntut bebas jika bukti tidak cukup.

Sedangkan hakim memikul tanggung jawab paling berat: memastikan palu tidak berubah jadi alat balas dendam politik.

Karena ketika hukum mulai dipakai untuk menghabisi orang, negara hukum pelan-pelan berubah jadi negara ketakutan.

Hari ini orang melihat kasus .
Kemarin .
Besok siapa lagi?
Apa yang dialami Nadiem, Franka bisa jadi akan dialami kita.

Kalau semua perkara diproses dengan semangat “punitive”, dengan target menghancurkan, bukan mencari kebenaran, maka yang runtuh bukan cuma kepercayaan pada pengadilan. Yang runtuh adalah cita-cita Indonesia sebagai negara hukum.

Dan mungkin benar seperti judul buku :

“The Indonesian Supreme Court: A Study of Institutional Collapse.”

Bukan hanya Mahkamah Agung yang runtuh. Tapi rasa percaya rakyat bahwa keadilan masih punya rumah di negeri ini. Saya bersama Nadiem dan Ibam.

….

Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta. Sosok Perempuan pahlawan literasi bagi Suku Baduy. Memulai karirnya di bidang jurnalistik pada tahun 2001 yakni sebagai reporter di Media Nasional di Jakarta. Lalu, pada taun 2004 hingga 2010 menjadi reporter ekonomi di kantor berita Reuters. Nury dikenal sebagai ibu baca tulis Suku Baduy Luar. Nury selalu meluangkan waktu berkeliling Indonesia mengajak sebanyak mungkin orang mencintai buku dan mencintai lingkungan.

  • Penulis: Nury Sybli
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.489
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Agustinus Edy Kristanto
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Oleh: Agustinus Edy Kristanto Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat. Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari. Ada baiknya saya jelaskan begini. Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya […]

  • Sudut Pandang: Kursi yang kini Hanya Menyisakan Kenangan

    Sudut Pandang: Kursi yang kini Hanya Menyisakan Kenangan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Marselina Ardia Simenes
    • visibility 104
    • 2Komentar

    Tentang seorang ayah yang pendiam, sederhana, dan selalu punya cara untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak perempuannya.  Ada banyak hal yang berubah setelah seseorang yang kita sayangi pergi. Rumah masih berada di tempat yang sama, aktivitas keluarga masih berjalan, dan hari-hari tetap berganti seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda karena seseorang yang dahulu […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Kotagoa, 24 Juni 2026 – SDI Olaewa sukses menorehkan sejarah sebagai juara cabang futsal antar Sekolah Dasar pada Kotagoa Diamond Competition 2026. Gelar juara diraih setelah menaklukkan SDK Natanage A dengan skor meyakinkan 4-2 pada laga grand final yang berlangsung di Kotagoa Sport Area, Rabu (24/6/2026). Sejak peluit kick-off dibunyikan wasit utama, pertandingan langsung berlangsung […]

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 376
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

expand_less