Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Cinta Menjadi Doa

  • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • visibility 164
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu duduk di bangku ketiga dari depan. Dengan mata terpejam dan tangan terkatup, ia tampak begitu larut dalam doa, seakan seluruh dunia berhenti untuk memberi ruang bagi perjumpaannya dengan Tuhan. Namanya Elara, nama yang sederhana, namun sarat makna. Bagi Frater Arda, kehadiran Elara bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah misteri yang perlahan mengusik kedalaman panggilannya.

Suatu pagi setelah perayaan Ekaristi, Fr. Arda memberanikan diri menyapanya di halaman kapela. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma bunga yang gugur di pafin.

“Selamat pagi, Elara,” sapa Fr. Arda dengan suara yang sedikit bergetar dan berserak. Elara menoleh dan tersenyum hangat. “Selamat pagi, Frater. Terima kasih atas pelayanannya dalam misa tadi. Bacaan yang   Frater bacakan tadi sangat menyentuh.” Fr. Arda menunduk sejenak, mencoba menenangkan gelombang perasaannya. “Kadang saya merasa bahwa bukan saya yang membaca bacaan itu, melainkan Sabda itu sendiri yang sedang membentuk saya.” Elara mengangguk pelan. “Bukankah hidup memang seperti itu, Frater? Kita sering berpikir bahwa kita sedang menjalani hidup, padahal sebenarnya hiduplah yang sedang membentuk kita.” Fr. Arda menatap Elara dengan penuh perhatian. “Kata-kata itu mengingatkan saya pada pemikiran Søren Kierkegaard, bahwa hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan. Namun, melangkah ke depan sering kali berarti menghadapi pilihan yang tidak mudah.”

Elara terdiam sejenak sebelum bertanya dengan lembut, “Apakah Frater sedang menghadapi pilihan itu?” Arda menarik napas panjang. “Ya, Elara. Saya mulai menyadari bahwa hati manusia tidak selalu berjalan searah dengan panggilan yang diyakininya. Ada saat-saat ketika saya merasa bahwa Tuhan berbicara bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui kehadiran seseorang.” Elara menatap Arda dengan mata yang teduh. “Apakah kehadiran itu membawa Frater semakin dekat kepada Tuhan, atau justru menjauhkan?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, sarat makna. Arda menjawab dengan jujur, “Awalnya saya takut bahwa perasaan ini akan menjauhkan saya dari panggilan. Namun semakin saya merenungkannya, saya justru merasa bahwa cinta ini mengajarkan saya tentang makna pengorbanan dan ketulusan. Saya belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.” Elara tersenyum, meskipun ada kilau haru di matanya. “Cinta memang misteri, Frater. Santo Agustinus pernah berkata bahwa ukuran cinta adalah mencintai tanpa ukuran. Tetapi terkadang, mencintai juga berarti merelakan.” Arda menatap langit yang mulai cerah. “Elara, apakah kamu pernah merasa bahwa Tuhan menempatkan seseorang dalam hidup kita bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajarkan sesuatu yang lebih dalam?”

Elara menjawab dengan suara yang hampir seperti bisikan, “Saya percaya demikian. Mungkin Tuhan mempertemukan dua jiwa agar keduanya belajar tentang makna kasih yang sejati—kasih yang tidak menuntut balasan.” Arda kemudian berkata dengan penuh kejujuran, “Elara, saya ingin kamu tahu bahwa kehadiranmu telah menjadi bagian dari perjalanan rohani saya. Setiap Minggu, ketika saya melihatmu berdoa, saya diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.” Elara menunduk, menahan haru. “Frater Arda, saya juga merasakan kedamaian setiap kali melihat Frater  memakai jubah cokelat dan melayani. Ada keyakinan bahwa Tuhan bekerja melalui hidup Frater. Karena itu, saya percaya bahwa panggilan Frater adalah sesuatu yang indah dan harus dijaga.”

“Apakah kamu tidak pernah berharap akan kemungkinan lain?” tanya Arda dengan hati-hati.   Elara terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Sebagai manusia, tentu saya memiliki harapan dan perasaan. Namun saya percaya bahwa cinta sejati tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Terkadang, cinta justru mencapai kepenuhannya ketika kita berani menyerahkannya kembali kepada Tuhan.” Arda merasakan keheningan yang penuh makna. “Kata-katamu mengingatkan saya pada konsep agape cinta yang memberi tanpa mengharapkan balasan. Mungkin inilah bentuk cinta yang sedang Tuhan ajarkan kepada kita.”

Elara mengangguk. “Jika cinta ini membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, maka biarlah ia menjadi doa yang hidup, bukan menjadi beban.”  Angin pagi kembali berembus, membawa ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Arda akhirnya berkata dengan mantap, “Elara, terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan iman saya. Saya tidak tahu bagaimana masa depan akan terbentang, tetapi saya percaya bahwa Tuhan selalu menuntun setiap langkah kita.” Elara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih juga, Frater. Saya akan selalu mendoakan agar Frater setia pada panggilan yang telah Tuhan percayakan. Dan biarlah perasaan ini kita simpan sebagai rahmat, bukan sebagai penyesalan.” Beberapa saat kemudian, bunyi klaper kembali berdentang, seolah menegaskan keputusan yang telah mereka terima dengan penuh kedamaian. Mereka saling berpandangan untuk terakhir kalinya pagi itu, bukan sebagai dua insan yang terpisah oleh keadaan, tetapi sebagai dua jiwa yang dipersatukan oleh makna yang lebih tinggi.

Sejak hari itu, Elara tetap hadir setiap Minggu pagi, duduk di bangku yang sama dengan doa yang tak pernah berubah. Sementara itu, Frater Arda melanjutkan perjalanan panggilannya dengan hati yang telah dimurnikan oleh pengalaman mencintai. Ia kini memahami bahwa cinta bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang memberi makna. Dan di antara doa serta rasa yang pernah bersemi, ia menemukan kebenaran sederhana: bahwa setiap cinta yang tulus pada akhirnya akan kembali kepada Sang Sumber Cinta itu sendiri.

2026

Tentang Penulis:  Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD. Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA

Penulis juga merupakan seorang calon Imam/Biarawan Karmel OCD.

 

  • Penulis: Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (3)

  • MasterOyen Feto

    Salam kenal Frater. Selamat menikmati jalan yang penuh cinta. Karena cinta sesungguhnya ada di Altar kehidupan yang siap dirayakan dengan sembah syukur dan Amin yang dibalas tunai. Maju terus dalam jalan panggilanmu… Slm doaku dan berkat Tuhan.

    Balas4 Mei 2026 4:56 pm
  • Firmus

    Dari kisah frater ini menyadarkan saya bahwa memang cinta tidak selamanya harus dimiliki, cinta yang benar-benar itu hanya datang dari Tuhan

    Balas28 April 2026 12:42 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 261
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 326
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 355
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam […]

expand_less