Breaking News
light_mode
Trending Tags

Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

  • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 209
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.”

Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi.

Namun, teater tidak semata-mata hadir untuk mengundang tepuk tangan. Lebih dari itu, teater seharusnya mampu menggugah kesadaran: apakah para penonton hanya menjadi saksi, atau turut tergerak untuk merenungkan kembali makna kehidupan? Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah kita masih memiliki belas kasih, atau justru semakin jauh dari empati?

Pertunjukan ini mengangkat Nyanyian Angsa, karya sastra dari pujangga besar Indonesia, W.S. Rendra. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Maria Zaitun, seorang pelacur tua yang kehilangan arah hidup. Ia berkeliling, mengetuk hati manusia, berharap menemukan sedikit kepedulian. Namun, pertanyaannya menjadi tajam: apakah nilai-nilai keimanan hanya berhenti di bibir, dan kebaikan sekadar menjadi narasi tanpa tindakan nyata?

Maria Zaitun hadir sebagai potret ketidakadilan sosial. Ia merepresentasikan bagaimana stigma terhadap “pekerja malam” sering kali menutup ruang empati. Masyarakat cenderung menghakimi tanpa berusaha memahami latar belakang dan keterpaksaan yang melatarbelakangi pilihan hidup tersebut.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa manusia semakin mudah menghakimi dan mencela, tetapi kerap abai ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Dalam situasi demikian, harapan terakhir seolah hanya tertuju pada Tuhan, satu-satunya yang memeluk tanpa syarat, tanpa memandang latar belakang kehidupan seseorang.

Menariknya, meskipun Nyanyian Angsa ditulis pada akhir 1960-an, relevansinya masih terasa hingga hari ini. Di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur, persoalan kemiskinan ekstrem dan ketidakberdayaan masih menjadi realitas yang nyata. Kisah Maria Zaitun seakan menjadi cermin yang memantulkan wajah masyarakat kita sendiri.

Melalui refleksinya, tokoh Maria Zaitun mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: masih adakah kepedulian yang tersisa dalam diri kita? Pada akhirnya, pertunjukan ini mengingatkan bahwa tempat kembali manusia hanyalah kepada Tuhan, yang menerima dan memeluk setiap insan dengan kasih tanpa batas.

Penampilan Bengkel Seni Milenial (BSM) dalam pertunjukan ini patut diapresiasi. Dengan penghayatan yang kuat, mereka berhasil menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam di tengah dunia yang kian kehilangan arah.

Pertunjukan ini digelar pada Rabu, 22 April 2026, di SDK Lamenais, dalam momentum kebersamaan perayaan Halal Bihalal dan Paskah bersama SMK Sura Dewa Larantuka.

Moh. Zaini Ratuloli, S.Pd

  • Penulis: Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 395
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 464
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

expand_less