Breaking News
light_mode
Trending Tags

Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

  • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 226
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.”

Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi.

Namun, teater tidak semata-mata hadir untuk mengundang tepuk tangan. Lebih dari itu, teater seharusnya mampu menggugah kesadaran: apakah para penonton hanya menjadi saksi, atau turut tergerak untuk merenungkan kembali makna kehidupan? Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah kita masih memiliki belas kasih, atau justru semakin jauh dari empati?

Pertunjukan ini mengangkat Nyanyian Angsa, karya sastra dari pujangga besar Indonesia, W.S. Rendra. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Maria Zaitun, seorang pelacur tua yang kehilangan arah hidup. Ia berkeliling, mengetuk hati manusia, berharap menemukan sedikit kepedulian. Namun, pertanyaannya menjadi tajam: apakah nilai-nilai keimanan hanya berhenti di bibir, dan kebaikan sekadar menjadi narasi tanpa tindakan nyata?

Maria Zaitun hadir sebagai potret ketidakadilan sosial. Ia merepresentasikan bagaimana stigma terhadap “pekerja malam” sering kali menutup ruang empati. Masyarakat cenderung menghakimi tanpa berusaha memahami latar belakang dan keterpaksaan yang melatarbelakangi pilihan hidup tersebut.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa manusia semakin mudah menghakimi dan mencela, tetapi kerap abai ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Dalam situasi demikian, harapan terakhir seolah hanya tertuju pada Tuhan, satu-satunya yang memeluk tanpa syarat, tanpa memandang latar belakang kehidupan seseorang.

Menariknya, meskipun Nyanyian Angsa ditulis pada akhir 1960-an, relevansinya masih terasa hingga hari ini. Di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur, persoalan kemiskinan ekstrem dan ketidakberdayaan masih menjadi realitas yang nyata. Kisah Maria Zaitun seakan menjadi cermin yang memantulkan wajah masyarakat kita sendiri.

Melalui refleksinya, tokoh Maria Zaitun mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: masih adakah kepedulian yang tersisa dalam diri kita? Pada akhirnya, pertunjukan ini mengingatkan bahwa tempat kembali manusia hanyalah kepada Tuhan, yang menerima dan memeluk setiap insan dengan kasih tanpa batas.

Penampilan Bengkel Seni Milenial (BSM) dalam pertunjukan ini patut diapresiasi. Dengan penghayatan yang kuat, mereka berhasil menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam di tengah dunia yang kian kehilangan arah.

Pertunjukan ini digelar pada Rabu, 22 April 2026, di SDK Lamenais, dalam momentum kebersamaan perayaan Halal Bihalal dan Paskah bersama SMK Sura Dewa Larantuka.

Moh. Zaini Ratuloli, S.Pd

  • Penulis: Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 224
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 437
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 345
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Paulina Bening Puspa Arum
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Paulina Bening Puspa Arum Ada orang-orang yang pergi, lalu perlahan dilupakan. Nama mereka pernah disebut, wajah mereka pernah dikenal, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus jejak. Ketika semakin sedikit orang yang mengingat kenangan pun perlahan menjadi samar. Bagi Pramoedya Ananta Toer, melupakan bukan perkara sederhana. Di Pulau Buru, tempat ia menjalani penahanan politik […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Inspirasi: Kis 2:1-11 /// Yoh 20:19-23 Kita buka renungan di Hari Raya ini dengan pantun: Maksud hati mengunjungi Om Strom, apa daya bertemu Veronika. ROH KUDUS menjadikan kita Strong. Di tengah situasi sedih dan terluka. Ketika Roh Kudus turun atas para Rasul, saat itu Gereja lahir. Gereja yang penuh dengan daya Roh Kudus, membuat Gereja […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

expand_less