Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 237
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi.

Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, manusia membuat keputusan dalam sekejap. Kebiasaan demikian bukan muncul dari luar, sebenarnya ia diam di dalam diri manusia. Jika sebelumnya manusia hidup dalam ketenangan, kebaikan, harmonis bersama segala yang ada di sekitar, tentu semua akan baik-baik saja ketika dihadapkan dengan banyak pilihan yang ditawarkan semesta. Ia tidak akan gegabah menetapkan keputusan, tenang dan terukur. Bukan sekadar puas setelahnya tetapi keputusan itu mampu menghidupkannya dalam ketenangan dan kedamaian untuk kenyataan selanjutnya.

Ketenangan tidak datang dalam waktu yang singkat. Ia dipelihara sejak lama, diperam dengan sungguh agar bisa memberikan manfaat ketika dibutuhkan. Ia membuat setiap individu menjadi lebih peka terhadap diri sendiri sebelum sampai kepada yang lain. Ketenangan itulah yang mendorong setiap pribadi untuk begerak lebih jauh dalam menjelajahi setiap kenyataan yang dihadiahkan Pemilik kehidupan. Ketenangan itu menghidupkan serentak mematikan. Menghidupkan daya juang untuk bertahan dalam goncangan arus kehidupan yang semakin kompleks akan kecemasan, kehilangan, ketakutan dan kepedihan yang mendalam. Ia mematikan ketika ada sebuah gelombang kecemburuan, kedengkian, dan kemarahan yang datang dari luar mampu dihadapi dengan sikap yang dingin, tidak buru-buru tetapi terukur. Hal ini membuat lawan yang ada di hadapannya menjadi tak berdaya. Ini Adalah kelebihan yang tidak semua dimiliki oleh setiap manusia. Hanya orang-orang tertentu, yang sudah siap dan mengidupkan pola seperti ini sejak lama. Ia dilatih, diasuh dan dibiarkan tumbuh dalam bimbingan sesuai iman yang diyakini.

Pada sebuah kesempatan, tepat pagi itu, langit cerah. Burung-burung gereja berkicauan merdu. Di jalanan, segerombolan anjing sedang berebutan buah advokat yang jatuh diterpa angin malam. Anjing-anjing itu tidak saling memedulikan. Saling berebutan. Saya yakin dari sekian banyak itu berasal dari rahim yang sama. Ya, namanya mempertahankan hidup dan berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan, status persaudaraan ditinggalkan. Yang hadir paling awal di sana adalah pertikaian. Cara mempertahankan hidup di tengah kompleksnya kehidupan ini adalah yang kuat bertahan dan mampu beradaptasi itulah pemenangnya. Dan jangan pernah mengharapkan kemenangan jika kau hanya berdiam diri tanpa ada perjuangan. Yang berjuang saja belum tentu dimenangkan apalagi hanya pasif saja.

Di hidup ini, kita, termasuk saya, tidak luput hidup dalam kebiasaan seperti itu. Saling sikut sebelum akhirnya peluk erat setelah ada sesuatu yang didapat. Ada saja kelakuan yang menjengkelkan sebelumnya. Ada saja tindakan yang menimbulkan pertikaian. Ada saja perkataan yang menyakitkan. Akhirnya di antara kita ada yang memilih mundur dan keluar dari gelanggang pertarungan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi menghemat energi untuk pertarungan selanjutnya yang lebih fair. Jika kita tetap bertahan di gelanggang pertarungan yang demikian, di mana pemenangnya sudah ada sebelum pertarungan itu berlangsung. Adalah skenario yang sudah diatur sedemikian rupa dan pertarungan hanyalah gambaran formalitas atas sebuah kenyataan yang mengerikan. Untuk hal-hal demikian, jika dihadapkan dengan seleksi alam, akan gugur paling awal.

Saya pun sering mendengar kata-kata yang mereka berikan kepada saya saat berhadapan dengan sesuatu yang bagi saya sedikit kewalahan. “Kamu pasti bisa. Tidak perlu takut, ada kami di belakangmu.” Atau, “Hidup ini adalah sebuah pertarungan, jangan mundur atau kau akan kehilangan segalanya.”

Yang saya dengar, itu menguatkan. Yang saya heran, kenapa bukan mereka saja yang langsung berhadapan dengan situasi yang sedang saya almi? Atau karena itu adalah jatahnya saya? Menarik memang untuk ditelisik. Karena teori itu asyik namun kenyatannya, kau harus mengorbankan banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang maksimal. Banyak yang menjadi korban atas perjuangan kita. Bukan hanya diri kita sendiri. Keluarga kita pun bisa ikut menjadi korban atas sebuah perlawanan yang kita berikan. Diintervensi dan masuk melalui banyak pintu. Ruang gerak dibatasi. Tetapi untuk sebuah kebaikan, selalu ada jalan keluar yang didapatkan, semesta tidak pernah diam saja terhadap sebuah kelaliman.

Ya, ketika kita mulai hidup oleh kata mereka, maka kita pada kesempatan yang sama akan kehilangan jati diri. Sebab, yang tahu semua kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri hanya kita sendiri. Orang-orang di sekitar hanya bisa menilai. Dari penilaian mereka, mereka yakin bahwa kita bisa. Tetapi nyatanya, kita hanya sedang mencoba agar tidak kehilangan momen. Bila berhadapan dengan kenyataan berikutnya yang kurang lebih sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Belajar dari kenyataan sebelumnya.

Akhirnya, hiduplah dalam keharmonisan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan termasuk alam sekitar. Dan, mari sambut hari-hari baru dengan lebih waspada. Semoga selalu hidup dalam kedamaian dan melewati pertarungan-pertarungan di gelanggang kenyataan dengan penuh tanggung jawab. Setia dalam ketenangan dan tidak gegabah setelahnya.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 712
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 367
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

  • KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Noyaldista Lisan
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Oleh: Noyaldista Lisan Npm : 25201051 Kelas:2025B Program Studi: Keperawatan   Kesehatan reproduksi wanita merupakan salah satu aspek penting yang sering kali belum mendapatkan perhatian yang memadai di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seorang wanita untuk memiliki keturunan, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berhubungan dengan sistem reproduksi. […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 121
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

expand_less