Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 305
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi.

Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, manusia membuat keputusan dalam sekejap. Kebiasaan demikian bukan muncul dari luar, sebenarnya ia diam di dalam diri manusia. Jika sebelumnya manusia hidup dalam ketenangan, kebaikan, harmonis bersama segala yang ada di sekitar, tentu semua akan baik-baik saja ketika dihadapkan dengan banyak pilihan yang ditawarkan semesta. Ia tidak akan gegabah menetapkan keputusan, tenang dan terukur. Bukan sekadar puas setelahnya tetapi keputusan itu mampu menghidupkannya dalam ketenangan dan kedamaian untuk kenyataan selanjutnya.

Ketenangan tidak datang dalam waktu yang singkat. Ia dipelihara sejak lama, diperam dengan sungguh agar bisa memberikan manfaat ketika dibutuhkan. Ia membuat setiap individu menjadi lebih peka terhadap diri sendiri sebelum sampai kepada yang lain. Ketenangan itulah yang mendorong setiap pribadi untuk begerak lebih jauh dalam menjelajahi setiap kenyataan yang dihadiahkan Pemilik kehidupan. Ketenangan itu menghidupkan serentak mematikan. Menghidupkan daya juang untuk bertahan dalam goncangan arus kehidupan yang semakin kompleks akan kecemasan, kehilangan, ketakutan dan kepedihan yang mendalam. Ia mematikan ketika ada sebuah gelombang kecemburuan, kedengkian, dan kemarahan yang datang dari luar mampu dihadapi dengan sikap yang dingin, tidak buru-buru tetapi terukur. Hal ini membuat lawan yang ada di hadapannya menjadi tak berdaya. Ini Adalah kelebihan yang tidak semua dimiliki oleh setiap manusia. Hanya orang-orang tertentu, yang sudah siap dan mengidupkan pola seperti ini sejak lama. Ia dilatih, diasuh dan dibiarkan tumbuh dalam bimbingan sesuai iman yang diyakini.

Pada sebuah kesempatan, tepat pagi itu, langit cerah. Burung-burung gereja berkicauan merdu. Di jalanan, segerombolan anjing sedang berebutan buah advokat yang jatuh diterpa angin malam. Anjing-anjing itu tidak saling memedulikan. Saling berebutan. Saya yakin dari sekian banyak itu berasal dari rahim yang sama. Ya, namanya mempertahankan hidup dan berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan, status persaudaraan ditinggalkan. Yang hadir paling awal di sana adalah pertikaian. Cara mempertahankan hidup di tengah kompleksnya kehidupan ini adalah yang kuat bertahan dan mampu beradaptasi itulah pemenangnya. Dan jangan pernah mengharapkan kemenangan jika kau hanya berdiam diri tanpa ada perjuangan. Yang berjuang saja belum tentu dimenangkan apalagi hanya pasif saja.

Di hidup ini, kita, termasuk saya, tidak luput hidup dalam kebiasaan seperti itu. Saling sikut sebelum akhirnya peluk erat setelah ada sesuatu yang didapat. Ada saja kelakuan yang menjengkelkan sebelumnya. Ada saja tindakan yang menimbulkan pertikaian. Ada saja perkataan yang menyakitkan. Akhirnya di antara kita ada yang memilih mundur dan keluar dari gelanggang pertarungan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi menghemat energi untuk pertarungan selanjutnya yang lebih fair. Jika kita tetap bertahan di gelanggang pertarungan yang demikian, di mana pemenangnya sudah ada sebelum pertarungan itu berlangsung. Adalah skenario yang sudah diatur sedemikian rupa dan pertarungan hanyalah gambaran formalitas atas sebuah kenyataan yang mengerikan. Untuk hal-hal demikian, jika dihadapkan dengan seleksi alam, akan gugur paling awal.

Saya pun sering mendengar kata-kata yang mereka berikan kepada saya saat berhadapan dengan sesuatu yang bagi saya sedikit kewalahan. “Kamu pasti bisa. Tidak perlu takut, ada kami di belakangmu.” Atau, “Hidup ini adalah sebuah pertarungan, jangan mundur atau kau akan kehilangan segalanya.”

Yang saya dengar, itu menguatkan. Yang saya heran, kenapa bukan mereka saja yang langsung berhadapan dengan situasi yang sedang saya almi? Atau karena itu adalah jatahnya saya? Menarik memang untuk ditelisik. Karena teori itu asyik namun kenyatannya, kau harus mengorbankan banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang maksimal. Banyak yang menjadi korban atas perjuangan kita. Bukan hanya diri kita sendiri. Keluarga kita pun bisa ikut menjadi korban atas sebuah perlawanan yang kita berikan. Diintervensi dan masuk melalui banyak pintu. Ruang gerak dibatasi. Tetapi untuk sebuah kebaikan, selalu ada jalan keluar yang didapatkan, semesta tidak pernah diam saja terhadap sebuah kelaliman.

Ya, ketika kita mulai hidup oleh kata mereka, maka kita pada kesempatan yang sama akan kehilangan jati diri. Sebab, yang tahu semua kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri hanya kita sendiri. Orang-orang di sekitar hanya bisa menilai. Dari penilaian mereka, mereka yakin bahwa kita bisa. Tetapi nyatanya, kita hanya sedang mencoba agar tidak kehilangan momen. Bila berhadapan dengan kenyataan berikutnya yang kurang lebih sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Belajar dari kenyataan sebelumnya.

Akhirnya, hiduplah dalam keharmonisan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan termasuk alam sekitar. Dan, mari sambut hari-hari baru dengan lebih waspada. Semoga selalu hidup dalam kedamaian dan melewati pertarungan-pertarungan di gelanggang kenyataan dengan penuh tanggung jawab. Setia dalam ketenangan dan tidak gegabah setelahnya.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 288
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 355
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 231
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar photo_camera 1

    Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Pada 15–16 Mei 2026, suasana di lingkungan SMPSK Kotagoa Boawae terasa berbeda. Panggung pentas dan halaman tengah sekolah yang biasanya dipenuhi tepuk tangan untuk merayakan prestasi peserta didik, kali ini berubah menjadi ruang kompetisi yang hidup dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar hadir membawa keberanian, bakat, dan harapan mereka. Dalam rangka menyongsong pesta […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

expand_less