Breaking News
light_mode
Trending Tags

Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
  • visibility 286
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selain sandaran, manusia butuh kutipan

Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang ditinggalkan di tulisan ini. Di ruang rasa ini bakal menjadi tempat untuk meluapkan segala keluh kesah tentang kenyataan. Ini bukan tentang bongkar aib sendiri tetapi lebih kepada menyembuhkan dengan cara yang berbeda. Ada yang mau healing dengan menghilang dari keramaian, saya healing dengan menulis dan itu di matalezadotcom. Tentang mengapa saya memilih menulis di platform ini, akan saya uraikan di kesempatan selanjutnya, di momen-momen yang lebih aduhai.

Hari ini di tempat saya menulis tentang sesuatu yang sedang teman-teman baca, keadaan di luar rumah sedang hujan. Alam mengaakrabi manusia dengan caranya yang tak pernah kita duga. Selalu saja punya kejutan dan berjubah misteri. Ingin sekali ada rasa ingin tahu untuk menyingkapnya tapi sayang, kita hanyalah makhluk yang terbatas (bisa juga dibatasi).

Keterbatasan manusia itu terjawab dalam setiap pola laku hidupnya. Dalam tutur kata pun ketika hadir dalam kehidupan sosial. Dalam interaksi sosial, manusia dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Manusia boleh hidup bersama, manusia boleh seragam dalam sebuah tata atur tetapi tetap tidak harus sama. Artinya, ada perbenturan-perbenturan perbedaan yang acap kali terjadi di sana.

Persis dalam tulisan ini, ada perbedaan yang pembaca temukan di sini. Banyak sudut pandang yang diambil ketika membicarakan satu tema persoalan yang coba diangkat ke permukaan dan ditelaah dalam waktu sekejap. Dalam diskusi-diskusi tertentu pun sama, ada silang pendapat yang terjadi. Silang pendapat tersebut akhirnya memperkaya pemahaman. Tetapi, Keputusan tunggal tetap harus diambil meskipun membuahkan kekecawaan.

Pada kesempatan ini dengan keadaan di luar sedang diguyuri hujan, sebisa mungkin saya fokus pada tulisan sederhana ini. Sebuah tulisan yang berangkat dari kenyataan yang saya temukan dalam kehidupan ini. Kenyataan yang memaksa saya untuk terus melaju bersama waktu. Kadang saya melambat untuk mengatur ulang ritme. Memastikan bahwa masih berada di jalur yang tepat. Sebetulnya jika berada di luar jalur pun tidak perlu dipersoalkan. Ada pelajaran yang didapat dari sana setelahnya.

Sering kita juga patah dalam menjalani kehidupan ini. Menjadi jelas karena manusia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu milik Dia semata. Tetapi patah yang dialami oleh manusia lebih sering terjadi karena keadaan sekitar, yang datang dari orang-orang terdekat. Hal ini yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan yang mendalam.

Saya sendiri sering mengalami patah yang bertubi-tubi. Patah yang pernah membuat saya hampir saja ingin menyerah dan menyudahi kehidupan ini dalam waktu sekejap. Tetapi kesadaran datang lebih cepat dari pada kelebat hitam kehidupan. Orang-orang mengabaikan kebisingan di kepala ini yang sebenarnya tidak saya ungkapkan ke orang-rang di sekitar. Manusia kebanyakan, yang saya temui, adalah manusia yang lebih senang memuaskan rasa penasarannya setelah menemukan jawaban atas persoalan orang lain. Setelah rasa penasaran itu terpuaskan, ia akan pergi dan menceritakan kepada orang lain. Ini yang biasa kita bilang gosip.

Apa yang membuat saya bisa ke luar dari keadaan demikian? Keadaan yang pernah membuat saya patah sepatah-patahnya? Di bagian ini, pasti akan ada yang bilang, lelaki bisa patah juga? Perkasalah! Jangan cengeng seperti itu. Jangan pakai standar hidupmu untuk membuat perbandingan dengan kehidupan orang lain. Sebab, setiap persoalan yang dihadapi setiap orang berbeda porsinya antara satu dengan yang lain. Ketika kau pakai standar yang sama untuk sesuatu yang tidak sama latar belakangnya, jangan pernah mengharapkan akan mendapatkan hasil yang sama di akhirnya. Justru kau akan kecewa.

Berikut, sedikit yang bisa saya bagikan tentang bangkit setelah patah berkali-kali;

Menemukan tempat yang tepat untuk bercerita

Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak lama. Saya memilih bercerita kepada sesuatu atau seseorang yang tepat. Kebiasaan ini adalah, saya menuliskan segala yang saya alami di catatan harian. saya rutin menulisnya setiap hari. Saya menceritakan sebebas-bebasnya di dalam catatan harian. Sejak 2014, saya sudah rutin membuat catatan harian. Semakin ke sini saya tidak menulis lagi di catatan harian seperti biasanya, tetapi kebiasaan ini bukan hilang, medianya saya ubah ke dalam bentuk catatan harian digital. Menulis bagi saya adalah sebuah usaha membunuh sepi yang sering bertandang tanpa diundang. Mengusik segala kebisingan. Benar-benar meluapkan tanpa harus marah kepada kenyataan. Saya seperti membiarkan semua terungkap begitu saja. Lalu, apakah saya membutuhkan tanggapan orang-orang? Tanggapan atau respon itu selalu saya terima tetapi setelahnya saya pun membuat pemisahan, mana yang tepat untuk persoalan yang saya hadapi dan mana yang hanya sekadar menilai atau mengkritik.

Membaca buku

Selain catatan harian saya pun mulain rutin membaca buku meskipun saya belum menjadi pribadi yang benar-benar kutu buku. Awal mula jatuh cinta dengan buku yang membuat saya untuk terus membaca adalah Zahir. Sebuah novel milik Paulo Coelho. Novel itulah yang membuat saya untuk memburu beberapa karya Paulo Coelho dan yang tersimpan sampai saat ini hanyalah Sebelas Menit yang aduhai itu. Selain novel, dulu, kalau ke toko buku Gramedia Maumere, saya memburu buku motivasi yang sedang diobral, biasanya ditata di pintu masuk. Harganya sesuai kantong anak kos, yang masih mengharapkan uang bulanan dari orang tua. hahahha

Membaca buku membuat saya bisa mengolah emosi dengan sedikit lebih baik. Selain itu, dengan membaca, wawasan sedikit dibuka, saya tidak perlu ke mana-mana untuk menjelajahi sesuatu yang terjadi di luar diri saya. Perlahan, persoalan yang saya hadapi memudar dan bisa diatasi.

Jalan-jalan (tidak harus ke tempat wisata yang lagi trending)

Ini sebenarnya bukan kebiasaan saya. Tetapi, saya merasa perlu untuk dilakukan bagi siapa pun yang sedang mengalami patah atau persoalan pelik. Tetapi tidak dianjurkan juga jika sedang patah yang mengerikan, jangan jalan-jalan sendirian, sebab sangat-sangat berbahaya jika tidak mengolah emosi dengan baik. Saya sendiri beberapa kali jalan-jalan atau rekreasi di beberapa tempat terdekat, tidak harus ke tempat wisata dengan tiket masuk yang harganya begitu luar biasa.

Saya sendiri pun cukup percaya diri bahwa dengan jalan-jalan, kesuntukan atau sesuatu yang sedang dihadapi, dengan sendirinya menguar begitu saja ke langit-langit, akan merasakan plong setelahnya. Lepaskan bebanmu kepada sesuatu yang tepat. Ke kotak sampah misalnya.

Ceritakan kepada Tuhamu

Sebenarnya ini bagian yang harusnya menjadi yang paling pertama. Tetapi atas dasar kesadaran bahwa semua yang sedang kau alami saat ini, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang begitu berharga di depan sana. Tuhan tidak pernah menyiapkan tantangan melebihi kemampuan manusiawi kita. Ada air mata dan juga permata setelahnya.

Serahkan semua persoalan yang dihadapi kepada Dia. Yakinlah bahwa Dia telah menyiapkan yang terbaik untuk umat kesayangan-Nya. Luka dan sembuh. Patah dan tumbuh. Semua itu tidak ada apa-apanya jika kita mau menerimanya sebagai sebuah pelajaran paling berharga.

Teman-teman pembaca yang budiman, di atas itu beberapa hal yang bisa saya bagikan pada kesempatan ini. Saya yakin dan percaya bahwa segala yang patah pasti akan tumbuh setelahnya. Dan itu seperti kata Banda Neira, yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Akhirnya, tumbuh kuatlah dari ha-hal yang membuatmu jatuh. Tetap semangat dan jangan sampai menyerah. Berserahlah saja kepada Dia

Pondok Baca Mataleza-Pogopeo, 2024

 

Fian N, lahir di bulan Desember. Menerbitkan beberapa buku puisi sejak tahun 2019 sampai tahun 2025. Buku terbarunya adalah Jangan Baca Buku Ini Jika Sudah Bahagia (Detak Pustaka, 2025). Sejak tahun 2020 sampai sekarang dipercayakan menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Tebal: vi + 88 hlm Penerbit: Mojok Cetakan: IV, 2017 ISBN: 978-602-1318-57-7 Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 263
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.Β    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

expand_less