Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membaca Ulang “Heungbu dan Nolbu”: Benarkah si Miskin Selalu Suci dan si Kaya Selalu Jahat? 

  • account_circle Sanggi Na
  • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Sanggi Na 

Bagi siapa pun yang tumbuh dengan cerita rakyat, dongeng “Heungbu dan Nolbu” adalah salah satu kisah klasik yang paling membekas di ingatan. Sejak kecil, kita disodorkan pada sebuah narasi hitam-putih yang sangat rapi: Heungbu adalah lambang kesucian hati yang terjebak dalam kemiskinan, sedangkan Nolbu adalah simbol keserakahan yang hidup bergelimang harta. Pesan moralnya pun dikemas dengan sangat instan—jadilah orang baik maka alam semesta akan membalasmu, dan jangan menjadi orang jahat jika tidak ingin tertimpa azab.

Sebagai anak-anak, kita menerima premis ini bulat-bulat. Namun, ketika kita tumbuh dewasa dan mulai berbenturan dengan realitas sosial serta kerumitan ekonomi sehari-hari, dongeng ini mulai terasa mengganjal. Jika kita berani membedah ulang karakter keduanya tanpa kacamata moralitas tradisional yang bias, cerita ini justru memunculkan pertanyaan yang cukup provokatif: benarkah Heungbu sebaik itu, dan benarkah Nolbu sejahat itu?

Mari kita mulai dengan menguliti karakter Heungbu. Selama ini, ia selalu diposisikan sebagai korban atau tokoh protagonis yang harus dikasihani. Namun, dari sudut pandang kehidupan modern, Heungbu sebenarnya adalah sosok kepala keluarga yang sangat bermasalah. Ia diceritakan memiliki banyak anak, tetapi ironisnya, ia tidak memiliki etos kerja yang memadai untuk memastikan keluarganya tidak kelaparan.

Kita sering diajarkan filosofi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit untuk menggambarkan proses membangun kestabilan hidup melalui kerja keras yang konsisten. Namun, Heungbu tampaknya tidak mengenal konsep ini. Ia tidak berusaha membangun “bukit” finansialnya dari keringat dan usahanya sendiri. Sebaliknya, ia hanya berpasrah pada nasib, mengandalkan belas kasihan kakaknya, dan pada akhirnya, menggantungkan nasib pada keajaiban dari seekor burung walet. Kebaikan Heungbu—seperti menolong hewan yang terluka—memang patut dipuji. Tetapi, membiarkan anak istrinya hidup dalam garis kemiskinan ekstrem tanpa usaha yang rasional sebenarnya adalah bentuk ketidakbertanggungjawaban. Kebaikan hatinya, pada titik tertentu, hanyalah selimut yang menutupi kepasifan dan ketidakmampuannya bertahan hidup.

Di seberang sana, kita memiliki Nolbu. Ya, dia pelit, mulutnya tajam, dan tidak punya belas kasih. Namun, jika kita mencopot label “tokoh jahat” dari dahinya sejenak, Nolbu adalah representasi dari rasionalitas ekonomi. Keputusannya untuk menolak menampung atau terus-menerus memberikan hartanya kepada Heungbu sebenarnya adalah sikap yang sangat realistis. Mengapa ia harus mengorbankan kekayaannya untuk mensubsidi seorang adik yang malas dan menolak untuk mandiri?

Dalam kacamata finansial hari ini, Nolbu sekadar menetapkan batasan yang sehat (boundaries). Ia menyadari bahwa kekayaan tidak datang dari langit, melainkan dari pengelolaan yang rasional. Tentu saja, tindakan Nolbu di akhir cerita—sengaja mematahkan kaki burung walet agar bisa mendapat balasan harta—adalah sebuah keserakahan yang konyol. Tetapi, sikap awalnya yang menolak dieksploitasi oleh kemalasan adiknya adalah sikap yang masuk akal di dunia nyata.

Membongkar cerita ini membuat kita sadar bahwa dongeng tradisional sering kali mengandalkan penyederhanaan realitas. “Heungbu dan Nolbu” secara tidak sadar telah meninabobokan masyarakat dengan ilusi bahwa kemiskinan selalu beriringan dengan keluhuran budi, sementara kekayaan pasti lahir dari kelicikan. Lebih dari itu, dongeng ini menjual fantasi tentang kekayaan instan—bahwa jalan keluar dari kemiskinan bukanlah kerja keras, melainkan “jackpot” dari langit berkat perbuatan baik yang kebetulan.

Pada akhirnya, membaca ulang kisah ini di era modern memberikan kita pesan moral yang sama sekali baru. Kita tidak bisa hanya menjadi Heungbu yang baik hati tapi pasif, karena dunia nyata tidak akan mengirimkan burung walet ajaib saat tagihan menumpuk. Kita juga tidak boleh menjadi Nolbu yang rasional tapi kehilangan empati kemanusiaannya. Kunci dari bertahan hidup bukanlah memilih salah satu dari mereka, melainkan mengambil jalan tengah: milikilah hati nurani yang peduli pada sesama, tetapi sertai itu dengan kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain

 

  • Penulis: Sanggi Na
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 178
    • 2Komentar

    Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, lahir sebuah tim yang sedang menulis kisahnya sendiri. Namanya CPJF Flores (PT. Charon Pokphand Jaya Farm). Usianya memang masih sangat muda, tetapi semangat dan keberaniannya telah membuat banyak orang mulai melirik ke arah mereka. Didirikan pada tahun 2025, CPJF Flores bukan sekadar tim sepak bola yang […]

  • Pita Kuning yang Tak Terlupakan: Memori Kolektif Tragedi Feri Sewol dalam Masyarakat Korea Selatan

    Pita Kuning yang Tak Terlupakan: Memori Kolektif Tragedi Feri Sewol dalam Masyarakat Korea Selatan

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Ada kalanya sebuah benda sederhana menyimpan ingatan yang jauh lebih besar daripada bentuknya. Pita kuning, misalnya, hanyalah sepotong pita yang dapat diikatkan, ditempelkan, atau dikenakan pada tubuh. Namun, di Korea Selatan, pita kuning memperoleh makna mendalam setelah tragedi tenggelamnya Feri Sewol pada 16 April 2014. Benda sederhana tersebut menjadi simbol untuk […]

  • Rumah yang Menyimpan Ingatan: Rumah Panjang Dayak dan Pewarisan Identitas di Kalimantan Barat

    Rumah yang Menyimpan Ingatan: Rumah Panjang Dayak dan Pewarisan Identitas di Kalimantan Barat

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Julianti Monalisa
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh: Julianti Monalisa Pendahuluan Ada rumah yang hanya digunakan untuk pulang setelah seseorang selesai bekerja. Ada pula rumah yang menjadi tempat sebuah keluarga tumbuh, menyimpan barang-barang lama, dan mengenang orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya. Namun, bagi sebagian masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, rumah memiliki makna yang jauh lebih luas. Rumah bukan hanya tempat untuk […]

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 302
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

expand_less