Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pertentangan Pandangan Dunia dalam Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga Karya Kuntowijoyo: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann

  • account_circle Karyn Melody Ceria
  • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Karyn Melody Ceria

Pernahkah kita merasa bahwa hidup seolah-olah hanya dinilai dari seberapa keras kita bekerja dan seberapa banyak yang berhasil kita hasilkan? Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan sering dianggap sebagai tanda tanggung jawab, sedangkan kegiatan yang tidak menghasilkan sesuatu secara langsung terkadang dipandang sebagai hal yang kurang penting. Padahal, kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas pekerjaan dan kewajiban. Ada ketenangan, keindahan, serta pengalaman batin yang juga membuat kehidupan memiliki arti. Persoalan tersebut dapat ditemukan dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo. Melalui tokoh Buyung, Ayah, dan Kakek, cerita ini menghadirkan pertentangan cara memandang kehidupan. Ayah menekankan pentingnya pekerjaan dan tanggung jawab, sedangkan Kakek memperkenalkan Buyung pada dunia bunga, keindahan, dan ketenangan batin.

Pertentangan itu membuat bunga-bunga dalam cerita bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari pengalaman yang mempertemukan Buyung dengan nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Cerpen ini menarik dibaca melalui teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Teori tersebut memandang karya sastra sebagai struktur bermakna yang memiliki hubungan dengan struktur sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya. Artinya, karya sastra tidak cukup dipahami hanya melalui tokoh dan konfliknya. Pembaca juga perlu melihat bagaimana unsur-unsur cerita membentuk makna yang lebih luas serta bagaimana makna itu berhubungan dengan kehidupan masyarakat.

Salah satu konsep penting dalam pemikiran Goldmann adalah vision du monde atau pandangan dunia. Pandangan dunia bukan semata-mata pendapat pribadi seorang tokoh atau pengarang, melainkan cara suatu kelompok sosial memahami dan menanggapi kenyataan hidup. Melalui konsep ini, pertentangan dalam cerpen Kuntowijoyo dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami perbedaan nilai yang hidup dalam masyarakat. Cerita berpusat pada Buyung, seorang anak yang mulai mengenal pengalaman baru setelah bertemu dengan Kakek. Sebelumnya, kehidupan Buyung banyak dipengaruhi oleh cara pandang Ayah yang menempatkan pekerjaan dan kesibukan sebagai bagian penting dari kehidupan. Pertemuan dengan Kakek kemudian memperkenalkannya pada pengalaman yang berbeda, terutama melalui kecintaan terhadap bunga-bunga.

Bagi Kakek, bunga memberikan ruang untuk menikmati keindahan dan menemukan ketenangan. Aktivitas merawat bunga memperlihatkan bahwa kehidupan tidak harus selalu diukur melalui hasil pekerjaan. Ada pengalaman yang mungkin tidak menghasilkan keuntungan secara langsung, tetapi tetap berarti bagi manusia. Melalui Kakek, Buyung mulai mengenal sisi kehidupan yang sebelumnya tidak memperoleh banyak ruang dalam kesehariannya. Sebaliknya, Ayah menunjukkan sikap yang berbeda terhadap kecintaan Buyung pada bunga. Ketika kesukaan tersebut dianggap tidak sesuai dengan gambaran mengenai anak laki-laki yang seharusnya kuat dan sibuk bekerja, muncul pertentangan antara keinginan Buyung dan harapan Ayah.

Bunga-bunga yang bagi Buyung memiliki arti justru menjadi sesuatu yang dipersoalkan oleh Ayah. Jika dilihat dari struktur ceritanya, pertentangan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan pengalaman Buyung. Ia berada di antara dua cara memahami kehidupan: kehidupan yang menekankan pekerjaan dan tanggung jawab, serta kehidupan yang memberikan tempat bagi keindahan dan ketenangan batin. Dengan demikian, konflik antartokoh bukan sekadar perbedaan kesukaan, melainkan konflik nilai yang memengaruhi cara Buyung memahami dunia di sekitarnya. Melalui konsep pandangan dunia Lucien Goldmann, pertentangan antara Ayah dan Kakek dapat dibaca lebih jauh daripada perbedaan karakter individual. Sikap Ayah memperlihatkan penekanan pada kerja, kesibukan, dan tanggung jawab, sedangkan Kakek menghadirkan pandangan yang memberi tempat bagi kehidupan batin. Kedua cara pandang tersebut membentuk ketegangan yang dialami Buyung sepanjang cerita.

Namun, penting untuk tidak langsung menyamakan Ayah dengan seluruh masyarakat yang mengutamakan pekerjaan atau Kakek dengan kelompok sosial tertentu tanpa bukti yang memadai. Dalam teori Goldmann, pandangan dunia berkaitan dengan kesadaran suatu kelompok sosial. Karena itu, analisis perlu menunjukkan bagaimana susunan konflik, hubungan antartokoh, dan nilai-nilai yang muncul dalam cerita membentuk suatu keseluruhan yang bermakna. Dalam cerpen ini, bunga-bunga memperoleh arti melalui hubungannya dengan tokoh dan konflik. Bunga tidak hanya menjadi objek yang disukai Buyung, tetapi juga memperlihatkan adanya ruang kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat diukur melalui produktivitas. Ketika kecintaan terhadap bunga dipersoalkan, yang dipertentangkan sebenarnya adalah nilai yang dianggap penting dalam menjalani kehidupan.

Dari sini, pembaca dapat melihat bagaimana struktur cerita berhubungan dengan persoalan sosial yang lebih luas. Kehidupan yang menempatkan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ukuran utama dapat membuat pengalaman lain, seperti menikmati keindahan atau merawat ketenangan batin, tampak kurang berarti. Cerpen ini membuka ruang untuk mempertanyakan anggapan tersebut tanpa harus menolak pentingnya bekerja dan bertanggung jawab. Pembacaan semacam ini sejalan dengan cara kerja strukturalisme genetik yang bergerak dari struktur teks menuju struktur sosial-historis. Konflik dalam cerita menjadi titik awal untuk memahami makna karya, kemudian dihubungkan dengan nilai dan pandangan yang mungkin berkembang dalam kehidupan sosial. Hubungan tersebut perlu dibangun melalui bukti dari keseluruhan cerita, bukan hanya melalui satu tokoh atau satu peristiwa.

Judul Dilarang Mencintai Bunga-Bunga sendiri menghadirkan pertanyaan yang menarik. Mengapa sesuatu yang sederhana dan indah justru menjadi sesuatu yang dilarang? Kata “dilarang” menandakan adanya batas yang ditetapkan terhadap apa yang boleh disukai atau dilakukan. Sementara itu, bunga-bunga menjadi bagian dari pengalaman Buyung yang mempertemukannya dengan cara pandang berbeda. Dalam konteks cerita, larangan tersebut dapat dibaca sebagai persoalan mengenai siapa yang berhak menentukan nilai dan perilaku seseorang. Buyung tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pendapat, tetapi juga dengan harapan yang dibebankan kepadanya. Pengalaman bersama Kakek memberinya kesempatan untuk mengenal kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, sedangkan sikap Ayah memperlihatkan kuatnya tuntutan mengenai bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.

Meski demikian, cerita ini tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk memilih salah satu tokoh secara mutlak. Bekerja dan bertanggung jawab tetap merupakan bagian penting dari kehidupan. Yang menjadi persoalan adalah ketika satu cara pandang dianggap paling benar sehingga pengalaman lain tidak memperoleh tempat. Melalui pertentangan tersebut, cerpen Kuntowijoyo mengajak pembaca memikirkan kembali ukuran yang digunakan untuk menilai kehidupan manusia. Di sinilah konsep pandangan dunia Goldmann membantu pembaca memahami hubungan antara konflik dalam karya sastra dan nilai-nilai sosial. Cerita tidak sekadar menyampaikan pesan moral secara langsung, tetapi membangun pertanyaan melalui hubungan antartokoh dan perkembangan konflik. Makna muncul dari keseluruhan struktur cerita, lalu membuka kemungkinan pembacaan terhadap kehidupan masyarakat yang lebih luas.

DilarangMencintai Bunga-Bunga memperlihatkan bahwa pertentangan sederhana dalam keluarga dapat menyimpan persoalan yang lebih luas mengenai cara manusia memahami kehidupan. Melalui pengalaman Buyung bersama Ayah dan Kakek, Kuntowijoyo menghadirkan ketegangan antara tuntutan untuk bekerja dan kebutuhan untuk menghayati kehidupan secara lebih tenang. Dengan menggunakan konsep pandangan dunia Lucien Goldmann, konflik tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari struktur cerita yang bermakna dan memiliki kemungkinan hubungan dengan nilai-nilai sosial. Bunga-bunga menjadi penting karena melalui benda sederhana itu, cerita memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas kewajiban dan hasil yang dapat diukur.

Pada akhirnya, cerpen ini mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru menentukan satu ukuran bagi kehidupan yang baik. Bekerja, bertanggung jawab, menikmati keindahan, dan merawat ketenangan batin dapat menjadi bagian dari pengalaman manusia yang saling melengkapi. Sebab, kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita hasilkan, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami dan menjalaninya.

 

  • Penulis: Karyn Melody Ceria
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 348
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 422
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 676
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

expand_less