Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐‹๐€๐Œ๐€๐”๐‘๐ˆ, ๐’๐„๐๐”๐€๐‡ ๐๐Ž๐•๐„๐‹ (๐˜พ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™‡๐™š๐™ฅ๐™–๐™จ ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™‰๐™ค๐™ซ๐™š๐™ก ๐™†๐™š๐™™๐™ช๐™– ๐™๐™ž๐™ฃ๐™˜๐™š ๐˜ฝ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ค๐™ฃ๐™–)

  • account_circle Selo Lamatapo
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 386
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan.

Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ‘istri’ dari ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, karya pertamanya.

“Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, maka harus ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช supaya arah ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bisa dikendalikan, (๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, 124).”

***

Melalui Wa, saya kirimkan komentar setelah ia sampaikan bahwa ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช sudah terbit. “Akhirnya, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข tak ‘melaut’ sendirian. Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช yang kini menemaninya dalam doa, cinta, dan kesetiaan mengarungi lautan luas.”

Selanjutnya, catatan pendek di bawah ini adalah catatan lepas pembacaan saya atas novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช.

๐Ÿฌ๐Ÿญ. ‘๐—”๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฝ’ ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ

Novel ini dibagi dalam empat bagian cerita. Bagian satu, dua, dan tiga, masing-masing dengan judul ๐˜—๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ, ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ, ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฐ adalah ‘pembuka cerita’ yang mengenalkan tokoh-tokoh cerita, situasi, dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.

Fince Bataona menggunakan alur campuran (maju dan mundur) untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam novel ini. Ia membuka cerita dengan menuturkan ritual dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang kampung berkabung atas meninggalnya Ema Lisa, salah satu tokoh dalam novel ini. Ia melukiskan pengalaman duka tersebut dan menarasikan ritual-ritual perkabungan, juga menyertakan kebiasaan-kebiasaan umum para tokoh dalam lingkungan hidup mereka, (dalam hal ini, Lamalera sebagai latar tempat).

Secara umum, bagian ini menekankan keharmonisan dalam hidup bersama, menampilkan keterikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya, dan sekaligus memberi pesan yang kuat kepada pembaca untuk boleh membayangkan apa jadinya bila tradisi dan budaya itu mulai diabaikan, dilupakan, bahkan (mungkin) dihapus karena perkembangan zaman.

Saya terbawa dalam peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dengan bahasa sederhana, tidak ‘berbunga-bunga’; dengan bahasa keseharian yang dekat dan padat isinya: keseharian hidup tokoh utama Ina sebagai penenun, karakter tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan apa adanya โ€”baik maupun buruknyaโ€”sebagai orang kampung (saling menolong, suka omong orang lain, kerja keras, tanggung jawab, dan sebagainya).

Semua karakter itu dilukiskan dengan bahasa apa adanya. Sehingga usai membaca tiga bagian awal ini, satu hal yang melekat di kepala saya adalah Fince Bataona sedang ‘mengarsipkan’ kebiasaan-kebiasaan hidup, tradisi, budaya Lamalera untuk generasi-generasi penerus, khususnya orang-orang Lamalera dan di sekitarnya.

Saya tiba-tiba teringat Thomas Berry, Sejarawan dari Amerika. Dia pernah menyinggung tentang ‘Modifikasi Budaya’ dalam pandangannya tentang ekologi: relasi antara alam dan manusia.

Bahwa, manusia modern kerap memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi. Sebagai misal, dalam budaya-budaya tertentu, ada pandangan bahwa alam adalah saudara yang harus dijaga, dilestarikan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern memodifikasi budaya dengan mengubah pandangan atau pola pikir mereka dari alam sebagai saudara menjadi alam sebagai objek yang harus ‘dikuras’.

Saya pikir, Fince Bataona tidak ingin warisan leluhur itu dimodifikasi sesuai keinginan, apa lagi keinginan yang merugikan. Karena itu, melalui ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ia menulis apa adanya tentang tradisi dan budaya di Lamalera: ritual kematian, ritual sebelum penangkapan ikan, ritual masuk minta (pernikahan adat), kebiasaan-kebiasaan dan aneka ritual lainnya.

Bagi saya, bila kelak ada upaya ‘memodifikasi budaya’ (ke arah yang merugikan), novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช dapat dibaca kembali untuk membalikkan pembelokan itu. Novel ini akan menjadi pengingat setiap orang untuk kembali ke ‘jalur’.

๐Ÿฌ๐Ÿฎ. ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—บ

Sebagai lanjutan dari tiga bagian awal yang menekankan tradisi dan budaya sebagai unsur yang melekat kuat pada setiap tokoh, pada bagian keempat dari novel ini, Fince Bataona memadukan kisah masa lalu dan masa kini tokoh utama cerita. Bagian ini juga menjadi bagian akhir.

Fince Bataona mengisahkan Ina (tokoh utama cerita) sebagai perempuan kampung yang melanjutkan pendidikannya (kuliah) di Kupang. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang yang bekerja sehari-hari sebagai pembuat sampan untuk para pelaut, ibunya adalah penenun yang berwatak keras dan berkarakter kuat.

Sebaik apa pun ia dibentuk dalam keluarganya di kampung, Ina toh pada akhirnya jatuh dalam pelukan lelaki kota bernama Adrian. Ia hamil di luar nikah. Celakanya, lelaki itu memilih menghilang usai menyuruhnya menggugurkan anak dalam kandungan itu.

Ina harus berhenti kuliah dan memilih kembali ke kampung untuk memulai hidup baru, termasuk siap menanggung segala bentuk ‘sanksi’ sosial. Ia memilih membesarkan anak itu dengan tetap berbesar hati menghadapi segala situasi yang ada di kampung.

Sampai pada akhirnya, sahabat lamanya, Ama, berani menerima kenyataan hidup Ina dan ingin menikahinya. Meski pada akhirnya keduanya menikah, bagi saya, tegangan konflik (antara ibu Ama dengan kenyataan hidup Ina sebagai janda, antara keluarga besar Ina dan Ama) yang diciptakan Fince Bataona di klimaks cerita ini amat menarik.

Bayangkan, seorang perempuan (Ina) yang tidak selesai kuliah, pulang karena hamil, ditinggal laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lalu tiba-tiba atas nama cinta lama, rasa yang pernah tumbuh, Ama ingin menikahinya dan hidup semati dengannya? Apa kata orang-orang kampung? Bagaimana Ina dan Ama menghadapi semua itu?

Saya menyelesaikan kisah ini, dan membayangkan Ama adalah tokoh ‘jelmaan’ dari jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus: “Berapa kali saya harus mengampuni, apakah tujuh kali?”

“Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.”

Pengampunan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sebagaiman manusia jatuh berulangkali dalam pencobaan dan dosa. Berulangkali agar manusia tahu, bahwa hidup itu berharga. Ama (mungkin) melanjutkan pesan Yesus itu.

Terlepas dari itu semua, saya ingin membaca kisah itu lebih jauh dalam relasi antara kampung (Ina) dan kota (Adrian).

Ina adalah simbol kampung penuh tradisi, budaya. Keterlepasan relasi, kelupaan budaya berarti kehancuran.

Adrian adalah kota, gambaran perkembangan dunia, penuh manipulasi, tipu-daya, tak bertanggung jawab, simbol keserakahan dan keegoisan, (bila kita kaitkan dengan bagian awal novel maka ia dinamakan manusia modern yang memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, lalu lari dan tak bertanggung jawab atas kenyataan sesudahnya).

Keputusan Fince Bataona untuk menetapkan tokoh utama Ina pulang ke kampung adalah sebuah seruan untuk kembali ke akar, kembali ke rahim; sebuah seruan untuk tidak memanipulasi budaya, tidak memodifikasi budaya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (kepentingan yang merugikan).

Keputusan Fince Bataona untuk melukiskan tokoh Ama menerima Ina apa adanya adalah sebuah panggilan untuk menerima, bukan menolak; sebuah seruan untuk berjalan bersama-sama, bukan ‘merusakkan’ lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab.

Pada akhirnya, novel ini menyimpan banyak pesan kemanusiaan, dan dapat dimaknai lebih dalam.

Silakan pesan di Kaka Fince Bataona.

 

๐ด๐‘™๐‘’๐‘›๐‘ž๐‘ข๐‘’๐‘Ÿ-๐ด๐‘š๐‘Ž๐‘ง๐‘œ๐‘›, ๐‘€๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘ก 2026.

 

๐’๐ž๐ฅ๐จ ๐‹๐š๐ฆ๐š๐ญ๐š๐ฉ๐จ

  • Penulis: Selo Lamatapo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month 18 jam yang lalu
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma ย  โ€œCintaย yangย sudahย sampaiย padaย tahapย palingย dekatย denganย bahagia,ย hanyaย untukย direnggutย olehย satuย malamย kelamย dalamย sejarahย bangsa.โ€ Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya. Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 244
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba,ย Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata. Saya membaca […]

  • Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Yunita
    • visibility 110
    • 4Komentar

    Nama: Drs Felix Japang Tempat Tanggal Lahir: Bekek, 30 Mei 1965 Alamat: Desa tadho, kecamatan riung, kabupaten ngada, nusa tenggara timur Meninggal: Bajawa 16 Februari 2012   Mengenal Sosok Felix Japang Felix Japang adalah seorang putra Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang lahir Pada tanggal 30 mei 1965. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan […]

expand_less