Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • account_circle Helena Beraf
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 609
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.

Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.

Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.

Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โ€œbekalโ€. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.

Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.

Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย  “๐™‹๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.

Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย  Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.

Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต-๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜” ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ “๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โ€œperempuan baik-baikโ€.

Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.

Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย  Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.

Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย  Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.

Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ ๐™ช๐™ฃ๐™˜๐™ž ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™œ๐™–๐™ฅ ๐™จ๐™š๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ž ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™– ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™—๐™ช๐™™๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ. ๐™†๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.

๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™™๐™– ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™ข๐™ค๐™™๐™š๐™ง๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž ๐™œ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™—๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™ข๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™˜๐™ค๐™ ๐™ค๐™ก ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ข ๐™ข๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™–; ๐™—๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ.

Jakarta, 5 April

  • Penulis: Helena Beraf
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 โ€“ 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

  • Langit yang Menyatukan, Bumi yang Memisahkan: Membaca Takdir Bidadari dari Jawa hingga Sulawesi Tenggara

    Langit yang Menyatukan, Bumi yang Memisahkan: Membaca Takdir Bidadari dari Jawa hingga Sulawesi Tenggara

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Yoseph Yapi Taum
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Oleh: Yoseph Yapi Taum Ada getaran yang membekas ketika membaca kembali mitos-mitos lama Nusantara. Cerita tentang seorang pemuda bumi yang mengintai bidadari mandi di telaga, mencuri pakaian atau selendangnya, lalu memaksanya terikat dalam kehidupan fana, adalah motif yang berulang dari ujung barat hingga timur kepulauan ini. Namun, ketika dua cerita dari dua bentang geografis yang […]

  • Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 255
    • 1Komentar

    SMPSK Kotagoa Boawae – 18 Mei 2026 diguyur hujan tanpa henti. Pada kesempatan yang sama akan dilangsungkan lomba Solo Vokal dan Paduan Suara serta membaca hasil kejuaraan lomba yang sudah dilaksanakan pada minggu-minggu sebelumnya. Para peserta pun berdatangan di tengah hujan yang rintik-rintik manja. Ada pun orang tua juga ikut menyaksikan malam penuh rasa penasaran […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 โ€“ Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Stefani Kurnia
    • visibility 56
    • 0Komentar

    โ€œSebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.โ€ (Lukas 8:17) Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia pada […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 208
    • 20Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

expand_less