Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • account_circle Helena Beraf
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 524
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.

Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.

Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.

Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โ€œbekalโ€. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.

Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.

Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย  “๐™‹๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.

Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย  Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.

Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต-๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜” ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ “๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โ€œperempuan baik-baikโ€.

Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.

Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย  Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.

Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย  Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.

Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ ๐™ช๐™ฃ๐™˜๐™ž ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™œ๐™–๐™ฅ ๐™จ๐™š๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ž ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™– ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™—๐™ช๐™™๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ. ๐™†๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.

๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™™๐™– ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™ข๐™ค๐™™๐™š๐™ง๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž ๐™œ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™—๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™ข๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™˜๐™ค๐™ ๐™ค๐™ก ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ข ๐™ข๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™–; ๐™—๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ.

Jakarta, 5 April

  • Penulis: Helena Beraf
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 78
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 216
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Ada dua hal yang sulit saya lakukan belakangan ini: bangun pagi dan percaya bahwa alarm benar-benar punya niat baik kepada manusia. Udara sedang dingin-dinginnya. Selimut terasa seperti kontrak seumur hidup yang tidak boleh diputus sepihak. Namun, sejak babak 32 besar Piala Dunia dimulai, semua prinsip hidup itu mendadak gugur. Saya rela bangun pukul tiga dini […]

  • MONIKA DI UJUNGย NASIB

    MONIKA DI UJUNGย NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 395
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatanโ€ Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 309
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, โ€œkita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.โ€ Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.335
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

expand_less