Breaking News
light_mode
Trending Tags

MEMBACA DEKONSTRUKSI DALAM CERPEN FILOSOFI KOPI KARYA DEE LESTARI

  • account_circle Athaya Sekar Khairina
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Athaya Sekar Khairina

Cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari dapat dianalisis menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Dekonstruksi merupakan pendekatan filsafat dan pembacaan teks yang mempertanyakan anggapan bahwa suatu makna bersifat tetap, tunggal, dan mutlak. Derrida menunjukkan bahwa makna dibentuk melalui hubungan antar tanda dan perbedaan, sehingga makna yang tampak pasti dapat berubah ketika dibaca dari sudut pandang lain.

Dalam analisis sastra, pendekatan dekonstruksi ini akan membalikkan makna yang sudah ada pada teks, juga berusaha menemukan pertentangan, ketidakstabilan, dan kontradiksi di dalam teks yang justru memperlihatkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya tunggal.

Oposisi Biner pada Cerpen Filosofi Kopi

Pertama, kita akan membaca oposisi biner yang terdapat pada cerpen Filosofi Kopi. Oposisi biner akan mempertentangkan atau mempersoalkan ketimpangan yang kontras pada cerpen ini. Pada awal cerita, Ben meyakini bahwa kopi yang baik harus memiliki cita rasa istimewa dan dapat memenuhi standar kesempurnaan yang ia tetapkan. Keyakinan tersebut terlihat melalui penciptaan kopi Ben’s Perfecto, yang menjadi kebanggaan sekaligus representasi kemampuan Ben sebagai peracik kopi. Namun, keyakinan itu mulai terguncang ketika seorang pelanggan menilai bahwa Perfecto bukanlah kopi terbaik dan membandingkannya dengan Kopi Tiwus, racikan sederhana milik Pak Seno. Konflik tersebut diawali dengan kutipan berikut:  Setelah meminum seteguk, bapak itu meletakkan cangkir dan kembali membuka halaman kerannya.

Ben segera bertanya antusias, “Bagaimana, Pak?”

Bapak itu mendongak. “Apanya?”

“Ya, kopinya.”

Dengan ekspresi sopan, bapak itu mengangguk-angguk. ‘Lumayan, jawabnya singkat lalu terus membaca.

“Lumayan bagaimana?” Ben mulai terusik. “Ya, maksudnya lumayan enak toh, Dik,” ia membalas.

“Pak, yang barusan Bapak minum itu kopi yang paling enak di dunia.” Aku tidak tahan untuk tidak menjelaskan.

“Yang bener toh? Masa iya?” Seperti mendengar lelucon bapak itu malah tertawa kecil. (Hlm. 16 )

Dari situlah, terjadi oposisi biner yang memperlihatkan ketimpangan Ben’s Perfecto yang diracik dengan cara modern (dengan mesin kopi yang canggih) dan Kopi Tiwus yang diracik dengan sederhana. Bila kita melihat dekonstruksi pada konsep ‘tradisional’ dan ‘modern’ dalam peracikan kopi pada cerpen ini, konsep ‘tradisional’ diperlihatkan pada peracikan Kopi Tiwus yang sederhana; sedangkan konsep ‘modern’ diperlihatkan pada peracikan Ben’s Perfecto yang canggih dengan mesin kopi dan biji kopi pilihan Ben. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu diracik dengan alat yang canggih, melainkan justru didapatkan dari cara yang sederhana—hal ini berkontradiksi dengan konsep ‘modern’ pada peracikan kopi yang seringkali dianggap lebih higienis dan praktis.

Selain konsep ‘tradisional’ dan ‘modern’, kita dapat membongkar dekonstruksi antar tokoh, yakni Ben dan Jodi. Mereka memiliki pemikiran berbeda dalam meracik kopi dan mengelola kedai. Ben digambarkan sebagai peracik kopi yang idealis dan perfeksionis—dilihat dari kegigihannya dalam membuat menu Ben’s Perfecto berikut ini: Minggu-minggu berlalu sudah. Sekitar tengah malam, Ben tahu-tahu meneleponku, memaksaku datang ke kedai.

Aku tiba sambil bersungut-sungut. “Urusan apa yang sebegitu pentingnya sampai tidak bisa menunggu besok?”

Ben tidak menjawab. Namun kutangkap kilau mata yang menyala terang, terpancar dari wajahnya yang kusut berantakan. Ke depan batang hidungku, ia menyodorkan sebuah gelas ukur. Ada kopi hangat di dalamnya. “Coba cium…”

Aku mengendus. Wangi. Sangat wangi. “Coba minum…”

Dengan sedikit ragu aku menyeruput. Sebuah kombinasi rasa merambari lidahku. Hmm… ini… “Ben, kopi ini… aku mengangkat wajahku, ‘SEMPURNA!’”

Kujabat tangan Ben keras-keras sampai badannya terguncang-guncang. Kami berdua tertawa-rawa. Lama sekali. Seakan-akan ada beban berat yang tahu-tahu terangkat. Seolah-olah sudah tahunan kami tidak tertawa.

“Ini kopi yang paling enak!” seruku lagi, takjub. … di dunia, sambung Ben. Aku sudah keliling dunia dan mencoba semua kopi terenak, tapi belum ada yang rasanya seperti ini. Akhirnya aku bisa berkata bahwa ada ramuan kopi yang rasanya SEMPURNA.

Aku mengangguk setuju. “Mau diberi nama apa ramuan ini?”

Ben mematung, sampai akhirnya sebuah senyum me ngembang, senyum bangga seorang ayah yang menyaksikan bayinya lahir ke dunia. “BEN’S PERFECTO”, tandasnya mantap. (Hlm. 11–12)

Sementara itu, Jodi digambarkan sebagai orang yang realistis. Ia lebih memperhatikan keuntungan usaha, tanggung jawab finansial, dan kelangsungan kedai yang mereka kelola.

“Coba diingat-ingat, rencana pengembangan Filosofi Kopi yang sudah kususun. Dan semuanya itu membutuhkan kertas ini sebagai modal,” bujukku.

“Aku pensiun meramu kopi.”

Kali ini ketidakpahamanku meledak. “Kenapa kamu harus membuat urusan kopi ini jadi kompleks? Romantis overdosis? Okelah, kamu cinta kopi, tapi tidak usah jadi berlebihan. Pakai rasio…”

Ben bangkit berdiri. “Memang cuma duit yang kamu pikir! Profit, laba, omset… kamu memang tidak pernah mengerti arti kopi buatku. Ambil saja Filosofi Kopi. Kamu sama dengan laki-laki goblok sok sukses itu…” (Hlm. 23–24)

Dengan demikian, Ben lebih memperhatikan kualitas kopi yang diracik, sedangkan Jodi lebih memperhatikan kuantitas, yakni keuntungan yang diperoleh dari kedai yang mereka kelola. Dua hal ini menjadi oposisi biner yang terbentuk dari penokohan Ben dan Jodi. Selain itu, oposisi biner antara ‘ambisius’ dan ‘realistis’ juga terdapat pada percakapan antara Ben dan Jodi.

Membaca Trace dan Différance dalam Filosofi Kopi

Setelah membaca oposisi biner yang terdapat dalam cerpen Filosofi Kopi, kita akan melihat lebih dekat dekonstruksi pada cerpen ini dengan membongkar trace dan différance.

Ben ingin menciptakan kopi yang sempurna. Namun, gagasan tentang ‘kesempurnaan’ baru memiliki arti karena terdapat kemungkinan bahwa kopi lain dianggap kurang sempurna, bahwa penilaian penikmat kopi dapat berbeda, dan bahwa hasil racikan kopi dapat diperbaiki. Dengan kata lain, konsep ‘kesempurnaan’ dapat membawa jejak ketidaksempurnaan di dalam dirinya.

Kehadiran Kopi Tiwus memperjelas hubungan tersebut. Perfecto memperoleh status sebagai kopi unggulan melalui ukuran yang dibangun Ben, tetapi status itu menjadi tidak stabil ketika muncul kopi lain yang dinilai lebih enak. Jadi, ketidaksempurnaan bukan sekadar lawan yang berada di luar kesempurnaan. Kemungkinan ketidaksempurnaan justru ikut membentuk makna kesempurnaan itu sendiri.

Kemudian, mari kita lihat différance yang terjadi pada cerpen Filosofi Kopi. Dalam cerpen ini, nama Ben’s Perfecto seolah-olah menjanjikan makna yang sudah selesai: kopi tersebut adalah kopi yang sempurna. Namun, penilaian pelanggan dan pengalaman Ben ketika berhadapan dengan Kopi Tiwus memperlihatkan bahwa makna kesempurnaan itu tidak pernah benar-benar final. Makna ‘perfecto’ berubah ketika dibandingkan dengan Kopi Tiwus. Dengan demikian, Kopi Tiwus memperoleh makna sebagai alternatif terhadap Perfecto karena keduanya ditempatkan dalam hubungan perbandingan. Perubahan ini menunjukkan bahwa makna kopi tidak hanya berasal dari karakteristik minuman itu sendiri, tetapi juga dari perbedaan, pengalaman, dan konteks penilaiannya.

Dari sudut pandang différance, pencarian Ben terhadap kopi sempurna dapat dipahami sebagai pencarian terhadap sesuatu yang tidak dapat ditetapkan secara mutlak. Setiap penilaian dapat membuka kemungkinan penilaian lain. Oleh karena itu, cerita tidak harus dimaknai sebagai penemuan satu definisi baru tentang racikan kopi yang sempurna, melainkan justru menunjukkan keterbatasan upaya untuk menetapkan definisi tersebut secara permanen.

Referensi

Derrida, J. (1982). Margins of Philosophy (A. Bass, Trans.). University of Chicago Press.

Derrida, J. (2016). Of Grammatology (G. C. Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.

Lestari, D. (2012). Filosofi Kopi. Bentang Pustaka.

  • Penulis: Athaya Sekar Khairina
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 440
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Aloysius Wudi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Opini atas Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Oleh: Aloysius Wudi Ada sebuah pesta yang berlangsung sangat meriah di Papua Selatan. Ratusan alat berat datang beriringan seperti tamu agung. Kapal-kapal besar merapat ke dermaga tanpa basa-basi perkenalan. Aparat berdiri tegak mengawal kedatangan mereka bukan menghalangi, melainkan mempersilakan masuk. Proyek pangan dan energi nasional […]

  • DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Viktoria Eyen
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Oleh: Viktoria Eyen Npm:25201043 Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan Indonesia hari ini menghadapi masalah kencing manis atau diabetes sangat mengkhawatirkan , apakah anda pernah melihat antrian di gerai minuman kekinian manapun di kota-kota besar pada siang hari. Hampir pasti yang mengantri didominasi anak muda, pelajar, mahasiswa dan pekerja muda yang rela menunggu belasan menit demi […]

  • Pembacaan Dekonstruktif Jacques Derrida atas Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis

    Pembacaan Dekonstruktif Jacques Derrida atas Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis

    • calendar_month 18 jam yang lalu
    • account_circle Zefanya Chrisantya Ningrum
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Oleh: Zefanya Chrisantya Ningrum, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dalam kritik sastra konvensional, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis kerap dibaca secara moralitis-religius. Pembacaan umum biasanya menafsitkan cerpen ini sebagai kritik terhadap kesalehan individual yang egois atau kritik terhadap keterbelakangan masyarakat yang melupakan kewajiban duniawi demi ibadah semata. Teks dipandang memiliki pesan moral yang stabil, […]

expand_less