Pembacaan Dekonstruktif Jacques Derrida atas Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis
- account_circle Zefanya Chrisantya Ningrum
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Zefanya Chrisantya Ningrum, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Dalam kritik sastra konvensional, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis kerap dibaca secara moralitis-religius. Pembacaan umum biasanya menafsitkan cerpen ini sebagai kritik terhadap kesalehan individual yang egois atau kritik terhadap keterbelakangan masyarakat yang melupakan kewajiban duniawi demi ibadah semata. Teks dipandang memiliki pesan moral yang stabil, pasti, dan terpusat.
Namun, teori Dekonstruksi yang digagas oleh filsuf Prancis Jacques Derrida menantang anggapan kestabilan makna tersebut. Derrida mengajarkan bahwa teks sastra tidak pernah memiliki makna tunggal yang utuh. Di balik narasi yang tampak rapi, selalu terdapat retakan, ambivalensi, dan pertentangan internal yang membongkar struktur kebenaran yang dicoba dibangun oleh teks itu sendiri.
Membangun Oposisi Biner untuk Menegaskan Hirarki Nilai
Pada pembacaan awal yang bersifat struktural, cerpen “Robohnya Surau Kami” dikonstruksi melalui beberapa pasangan oposisi biner. Di satu sisi, ada Kakek Garin yang mewakili kesalehan, kebajikan, serta pendedikasian hidup sepenuhnya untuk ibadah ritual di dalam surau. Di sisi lain, ada Ajo Satang dan masyarakat yang mewakili keduniawian, kelalaian, serta orientasi pada materi dan kerja keras.
Hierarki ini mencerminkan apa yang dinamakan Derrida sebagai kecenderungan untuk mencari pusat kebenaran. Dalam kesadaran tokoh Kakek, batas antara yang “suci” dan yang “duniawi” sangat tegas. Kakek menempatkan pengabdiannya di surau sebagai puncak kesalehan yang dominan, sedangkan urusan duniawi dianggap sebagai hal sekunder yang inferior.
Kebajikan yang Diagungkan Ternyata Membatalkan Dirinya Sendiri dari Dalam
Dekonstruksi bekerja bukan dengan merusak teks dari luar, melainkan dengan membiarkan teks membongkar logikanya sendiri melalui penemuan aporia. Dalam cerpen ini, retakan muncul ketika logika kesucian Kakek ditentang dengan sindiran Ajo Satang tentang sosok “Haji Saleh”.
Kakek menganggap dirinya hamba yang paling taat karena beribadah siang dan malam. Namun, kisah Haji Saleh memperlihatkan paradoks orang yang merasa paling taat justru dimasukkan ke dalam neraka karena melalaikan anak dan istrinya serta membiarkan negerinya melarat. Kesalehan ritual yang niat awalnya adalah jalan menuju keagungan, justru berubah menjadi bentuk “keegoisan spiritual”. Di titik ini, kesalehan membatalkan dirinya sendiri.
Selain itu, keberadaan Kakek sebagai “penjaga surau yang suci” ternyata sepenuhnya bergantung pada hal-hal duniawi. Kakek bertahan hidup dari sedekah orang lain yang bekerja di luar surau dan dari pekerjaannya mengasah pisau. Kakek akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau pengasah tersebut—sebuah alat kerja duniawi yang menjadi jejak (trace) hancurnya batas antara kesucian dan dosa besar.
Makna Keadilan dan Kebenaran Moral
Derrida menegaskan bahwa makna tidak pernah hadir secara utuh pada satu titik akhir. Di akhir cerita, ketika Kakek ditemukan tewas dan surau menjadi roboh, Ajo Satang merespons berita kematian tersebut dengan sangat santai lalu pergi membeli kain kafan, sementara warga lain sibuk memperbincangkan sebab kematiannya.
Teks tidak memberikan jawaban tunggal mengenai siapa yang sebenarnya “salah” atau “roboh”. Apakah yang roboh itu bangunan fisik surau, iman sang Kakek yang rapuh oleh sebuah cerita, ataukah tatanan nilai masyarakat yang tidak peduli lagi pada spiritualitas? Batas antara pembela agama yang sejati dan penceroboh moral menjadi sangat kabur. Makna tentang “keimanan yang sejati” tidak pernah tuntas diberikan oleh teks dan terus ditangguhkan oleh ambivalensi sikap para tokoh.
Dekonstruksi Mengajak Pembaca Menjadi Lebih Kritis Terhadap Narasi Tunggal
Menerapkan teori Dekonstruksi Jacques Derrida terhadap cerpen “Robohnya Surau Kami” memperlihatkan bahwa karya A.A. Navis ini jauh lebih kompleks daripada sekadar khotbah moralitas yang linear.
Melalui dekonstruksi, kita melihat bagaimana teks secara cerdas memperlihatkan kerapuhan konsep-konsep absolut seperti “kesucian” dan “keimanan”. Pembacaan ini tidak bertujuan untuk meniadakan pesan religius cerita, melainkan mengajak kita untuk menyadari bahwa kebenaran dalam teks sastra (maupun dalam realitas sosial) senantiasa terbuka, kaya akan paradoks, dan tidak dapat dimonopoli oleh satu tafsir tunggal.
- Penulis: Zefanya Chrisantya Ningrum
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar