Breaking News
light_mode
Trending Tags

Masalah Pasti Datang, Tetap Tenang

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 118
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, masalah sejatinya adalah bagian alami dari kehidupan yang tidak pernah bisa kita hindari. Oleh karena itu, sikap terbaik bukanlah menghindar atau takut berlebihan, melainkan belajar menghadapi dengan tenang.

Setiap orang, tanpa terkecuali, pasti berhadapan dengan masalah. Tidak peduli apakah ia seorang pelajar, pekerja, orang tua, ataupun anak-anak, semua akan mendapat bagiannya. Masalah bisa hadir dalam bentuk kegagalan, kehilangan, konflik, tekanan kerja, atau bahkan hanya kesalahpahaman kecil. Namun, satu hal yang sama adalah: masalah selalu datang membawa pelajaran. Mereka bukan untuk membuat kita hancur, melainkan untuk melatih kita agar lebih tangguh.

Sering kali kita merasa tegang ketika masalah datang karena kita memandangnya sebagai akhir dari segalanya. Misalnya, seorang siswa yang gagal dalam ujian mungkin merasa bahwa hidupnya hancur, masa depannya suram, dan tidak ada jalan keluar. Padahal, kegagalan itu hanya sebuah tanda bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, ada strategi yang harus diubah, dan ada kesempatan untuk tumbuh lebih baik. Ketegangan yang berlebihan justru membuat pikiran buntu, sehingga solusi sulit ditemukan.

Sikap tenang dalam menghadapi masalah bukan berarti kita bersikap pasif atau acuh tak acuh. Tenang adalah keadaan batin yang terkendali, sehingga kita bisa berpikir jernih. Bayangkan sebuah telaga yang permukaannya bergelombang: pantulan apapun akan terpecah-pecah, tak jelas bentuknya. Namun, ketika telaga tenang, ia mampu memantulkan langit dengan sempurna. Begitu pula pikiran manusia; hanya dengan ketenangan, kita bisa melihat gambaran utuh dari sebuah masalah dan menemukan jalan keluar yang tepat.

Selain itu, ketegangan sering lahir dari ketakutan akan hal yang belum terjadi. Kita membayangkan skenario terburuk, memikirkan kemungkinan gagal, dan akhirnya terjebak dalam kecemasan. Padahal, sebagian besar hal yang kita khawatirkan sebenarnya tidak pernah terjadi. Di sinilah kita perlu belajar menerima kenyataan bahwa masalah itu pasti, tetapi penderitaan berlebih sering kali hanya hasil dari pikiran kita sendiri. Dengan mengubah cara pandang, kita bisa menghadapi masalah dengan lebih ringan.

Ada sebuah ungkapan bijak: “Bukan beratnya beban yang membuat kita hancur, melainkan cara kita membawanya.” Masalah bisa jadi sama, tetapi respon setiap orang berbeda. Ada yang tegang lalu menyerah, ada pula yang tetap tenang lalu menemukan jalan keluar. Sikap tenang bukan berarti kita menunda penyelesaian, melainkan mempersiapkan diri agar lebih kuat menghadapi tantangan.

Dalam kehidupan nyata, banyak orang besar yang justru menemukan kekuatan melalui masalah. Mereka tidak menghindar, melainkan menerima dengan lapang dada dan mencari cara untuk bangkit. Jika kita perhatikan, hampir semua pencapaian besar lahir dari perjalanan panjang yang penuh rintangan. Artinya, masalah bukan penghalang, tetapi batu loncatan.

Maka dari itu, ketika masalah datang, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam, akui keberadaan masalah itu, lalu yakinkan diri bahwa ini hanyalah satu episode dalam perjalanan hidup. Dengan begitu, kita tidak akan mudah terjebak dalam ketegangan yang melelahkan. Setelah tenang, barulah kita bisa mencari solusi dengan pikiran lebih terbuka.

Pada akhirnya, hidup memang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Masalah akan terus datang silih berganti. Tetapi satu hal yang selalu bisa kita kendalikan adalah respon diri kita. Dengan sikap tenang, kita bukan hanya menjaga kesehatan pikiran dan tubuh, tetapi juga memberi peluang lebih besar untuk menemukan jalan keluar terbaik.

Hidup adalah tentang menjalani proses, bukan sekadar menghindari masalah. Karena itu, ketika masalah datang, jangan tegang. Hadapilah dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan keyakinan bahwa setiap badai pasti berlalu.

Fian N, sejak tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Dari Benteng Kolonial Menjadi Museum: Benteng Vredeburg sebagai Ruang Memori Kolektif Bangsa

    Dari Benteng Kolonial Menjadi Museum: Benteng Vredeburg sebagai Ruang Memori Kolektif Bangsa

    • calendar_month 21 jam yang lalu
    • account_circle Stefani Kurnia Handayani
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Memori kolektif suatu bangsa tidak hanya tersimpan dalam dokumen atau arsip sejarah, tetapi juga dapat ditemukan melalui bangunan dan tempat bersejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Bangunan bersejarah menjadi salah satu sarana untuk mengingat dan memahami berbagai peristiwa yang pernah terjadi. Melalui keberadaan bangunan tersebut, generasi sekarang dapat mempelajari kehidupan masyarakat pada masa lalu […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 353
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

expand_less