Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan
- account_circle Redaksi Mataleza
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata.
Saya membaca sebuah status di salah satu grup Facebook yang kurang lebih berbunyi: “Tangan kanan memberi, tangan kiri pegang bendera dan kamera.” Sebuah kalimat yang mungkin dimaksudkan sebagai kritik kepada para politisi yang datang membawa bantuan ke wilayah terdampak gempa Mbay–Nagekeo.
Kritik tentu saja adalah hak setiap orang. Kita hidup di ruang publik yang memungkinkan siapa saja menyampaikan pandangan. Tetapi dalam situasi bencana, barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah setiap tangan yang datang membawa bantuan harus terlebih dahulu dicurigai niatnya?
Gempa magnitudo 7,7 SR yang terjadi pada 15 Agustus 2026 bukanlah panggung politik. Ia adalah tragedi kemanusiaan. Ada rumah yang roboh. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ada anak-anak yang mungkin masih takut tidur di dalam rumah. Ada orang tua yang kehilangan rasa aman. Ada fasilitas umum yang rusak. Ada mereka yang mungkin sampai hari ini masih berusaha mengumpulkan kembali barang-barang yang tersisa dari reruntuhan. Dalam keadaan seperti ini, selembar dokumentasi tidak seharusnya lebih besar daripada bantuan yang dibawa.
Kalau seorang politisi datang membawa beras, air mineral, obat-obatan, selimut, kebutuhan bayi, atau bantuan lainnya, lalu kebetulan tangan yang lain memegang bendera dan kamera, apakah bantuan itu otomatis menjadi tidak berarti? Bukankah yang jauh lebih penting adalah: ada sesuatu yang sampai kepada mereka yang membutuhkan?
Kita boleh kritis terhadap politisi. Bahkan kita harus kritis. Kita boleh bertanya dari mana sumber bantuan itu, bagaimana mekanismenya, apakah ada kepentingan politik di baliknya, dan apakah bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Semua itu penting.
Tetapi kritik yang sehat tidak semestinya membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sisi kemanusiaan dari sebuah tindakan. Sebab tidak semua orang yang datang membawa bantuan harus kita curigai. Dan tidak semua orang yang memegang kamera sedang mencari panggung. Kadang kamera memang dibutuhkan untuk dokumentasi, pertanggungjawaban, laporan kepada pihak yang berdonasi, atau sekadar memberi tahu kepada masyarakat bahwa bantuan telah disalurkan. Dokumentasi bukan selalu pencitraan. Sama seperti sebuah foto tidak selalu berarti seseorang sedang meminta pujian.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika kita terlalu sibuk menghitung siapa yang difoto, bendera siapa yang dibawa, logo apa yang terlihat, atau siapa yang berdiri paling depan, sementara di belakang kamera ada seorang ibu yang sedang memikirkan bagaimana keluarganya bisa makan malam. Jangan sampai kita lebih sibuk menghakimi tangan yang memberi daripada mengulurkan tangan kita sendiri.
Sebab boleh jadi, orang yang kita tuduh sedang mencari popularitas itu justru sedang membantu seseorang yang tidak kita kenal. Dan boleh jadi pula, kita yang merasa paling peka terhadap penderitaan sesama justru hanya menjadi penonton yang paling lantang berkomentar.
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu kita ajukan kepada diri sendiri: “Saya sudah melakukan apa untuk mereka yang menjadi korban?”
Sudahkah kita menyumbang? Sudahkah kita datang membantu? Sudahkah kita mengirim makanan? Sudahkah kita menghubungi keluarga atau saudara yang terdampak? Sudahkah kita membantu membersihkan rumah yang rusak? Sudahkah kita memberikan ruang bagi anak-anak korban gempa untuk bermain dan tersenyum kembali?
Atau jangan-jangan, satu-satunya kontribusi kita adalah menulis status dan mencurigai orang lain? Saya tidak sedang membela politisi. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa semua bantuan yang datang dari politisi pasti murni tanpa kepentingan. Tidak. Tetapi saya sedang membela sesuatu yang jauh lebih besar daripada politik: kemanusiaan.
Biarlah setelah keadaan kembali normal, kita bicara tentang politik. Biarlah nanti ketika masyarakat sudah bisa tidur dengan tenang, kita evaluasi siapa yang bekerja dan siapa yang hanya datang untuk mencari kamera. Tetapi hari ini, ketika masih ada saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan, jangan kita jadikan penderitaan mereka sebagai ruang untuk saling mencurigai.
Dan kepada mereka yang menulis bahwa satu tangan memberi sementara tangan lainnya memegang bendera dan kamera, mungkin sesekali kita perlu melihat kehidupan dari sudut pandang mereka yang sedang kehilangan.
Mungkin rumah kita masih berdiri. Mungkin keluarga kita masih lengkap. Mungkin anak-anak kita masih tidur nyaman. Mungkin malam ini kita masih bisa membuka pintu, menyalakan lampu, mengambil air dari keran, memasak makanan, lalu tidur tanpa rasa takut. Tetapi tidak semua orang seberuntung itu.
Karena itu, sebelum mempertanyakan tangan orang lain, mungkin lebih baik kita bertanya kepada tangan kita sendiri: “Sudahkah tangan ini melakukan sesuatu untuk meringankan beban sesama?”
Sebab pada akhirnya, korban gempa tidak terlalu membutuhkan kita untuk menentukan siapa yang paling benar. Mereka membutuhkan uluran tangan. Mereka membutuhkan kepedulian.Mereka membutuhkan kehadiran.
Mereka membutuhkan alasan untuk percaya bahwa setelah bumi berguncang dan sebagian hidup mereka runtuh, mereka tidak sendirian. Kalau ada yang datang membawa bantuan sekaligus kamera, biarlah.
Kalau ada yang datang membawa bantuan sekaligus bendera, biarlah. Kalau ada yang datang membawa nama lembaga, organisasi, komunitas, atau partai, biarlah. Selama bantuan itu benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, terima kasih tetap layak diucapkan.
Karena dalam bencana, kita tidak sedang berlomba mencari siapa yang paling suci. Kita sedang belajar menjadi manusia.
Dan mungkin, justru di saat seperti inilah kita bisa melihat dengan jelas: siapa yang benar-benar datang untuk membantu, siapa yang hanya datang untuk berbicara, dan siapa yang bahkan tidak melakukan keduanya.
Pondoc Baca Mataleza Olakile 31 Agustus 2026
- Penulis: Redaksi Mataleza
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar