Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

  • account_circle Katharina Tasik Busa
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 149
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari.

Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur.

Namun, di balik rasa syukur itu, ada ruang kosong yang terus tumbuh bersamaku. Ruang yang tidak pernah berhasil diisi oleh apa pun. Ruang itu bernama kesempatan untuk didengar.

Sejak kecil aku terbiasa mendengar orang-orang dewasa berbicara tentang hidupku, tentang keluargaku, bahkan tentang ibuku. Anehnya, hampir semua cerita yang kudengar selalu bernada buruk. Nama ibuku seolah hanya hadir sebagai alasan untuk menyalahkan, menghakimi, atau mengingat luka-luka lama.

Aku mendengarkan semuanya dalam diam.

Bukan karena aku percaya begitu saja, tetapi karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya.

Aku ingin berkata bahwa setiap cerita pasti memiliki lebih dari satu sisi. Aku ingin percaya bahwa tidak ada manusia yang hanya berisi kesalahan. Aku ingin mengenal ibuku melalui hatiku sendiri, bukan semata-mata dari penilaian orang lain.

Tetapi setiap kali aku mencoba membuka mulut, kalimat yang sama selalu lebih dulu datang.

“Diam… Anak kecil tidak tahu apa-apa.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagiku, ia seperti pintu yang terus ditutup sebelum aku sempat masuk.

Lama-kelamaan aku belajar memendam semuanya. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Aku menelan air mata yang tidak pernah sempat menjadi kata-kata. Aku memilih diam, bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena aku sadar suaraku dianggap tidak penting.

Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan ketika orang-orang berbicara buruk tentang ibuku.

Yang paling menyakitkan adalah ketika tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaanku sebagai anak yang mendengar semua itu.

Seolah-olah menjadi anak berarti tidak memiliki hak untuk merasa terluka.

Padahal setiap kata yang diucapkan orang dewasa jatuh tepat di hati seorang anak yang masih belajar memahami dunia.

Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun. Aku hanya ingin didengar. Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga yang penuh luka. Aku juga tidak pernah memilih untuk tumbuh jauh dari kedua orang tuaku. Semua itu terjadi sebelum aku cukup besar untuk memahami apa arti kehilangan.

Namun anehnya, akulah yang sering diminta menerima semuanya tanpa bertanya. Orang-orang dewasa berharap anak mampu memahami keadaan mereka. Mereka berharap anak mengerti alasan di balik setiap keputusan. Tetapi mengapa mereka begitu jarang berusaha memahami apa yang dirasakan seorang anak?

Aku diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Dan aku percaya itu. Tetapi bukankah menghormati juga berarti menjaga hati yang lebih muda? Bukankah menjadi dewasa berarti mampu memilih kata-kata yang tidak meninggalkan luka di hati seorang anak?

Aku tidak pernah ingin menjadi hakim bagi keluargaku. Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu bukan tugasku.

Yang kutahu hanyalah aku mencintai keluargaku. Aku mencintai opa dan oma yang telah membesarkanku. Aku juga mencintai ayah dan ibuku dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin dipaksa memilih siapa yang harus kucintai atau siapa yang harus kubenci. Karena cinta seorang anak tidak pernah berkesudahan kepada semua pihak.

Kini aku mulai mengerti bahwa luka tidak selalu meninggalkan darah. Ada luka yang tumbuh perlahan setiap kali suara seorang anak dipatahkan sebelum sempat didengarkan.

Ada luka yang terus hidup ketika seorang anak dipaksa memikul konflik orang dewasa yang bukan diciptakannya.

Aku berharap, suatu hari nanti, lebih banyak orang dewasa berhenti hanya berbicara tentang anak, lalu mulai benar-benar mendengarkan anak. Sebab seorang anak bukan sekadar pendengar dalam kisah orang dewasa.

Ia juga memiliki kisahnya sendiri. Ia memiliki air mata yang sering tidak terlihat. Ia memiliki perasaan yang sama berharganya. Dan ia memiliki suara yang pantas didengar. Mungkin suaraku tidak lantang. Mungkin kisahku tidak akan mengubah masa lalu.

Tetapi aku percaya, setiap keberanian seorang anak untuk bersuara adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih ramah bagi mereka. Karena seorang anak tidak membutuhkan jawaban untuk semua pertanyaannya. Sering kali, yang ia butuhkan hanyalah satu orang yang mau berhenti sejenak, menatap matanya, lalu berkata,

 

“Aku mendengarmu.”

 

Oleh: Katharina Tasik Busa

Tutor Sebaya Plan Indonesia PIA Nagekeo. Siswa SMA NEGERI Dua Boawae. 

 

  • Penulis: Katharina Tasik Busa
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aku Ingin Membaca Semua Cerita Tentangmu

    Aku Ingin Membaca Semua Cerita Tentangmu

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Aku mencintaimu bukan hanya karena hal-hal yang mudah kucintai darimu. Bukan hanya karena senyummu, caramu berbicara, atau cara matamu memandangku ketika kita sedang baik-baik saja. Aku ingin mencintai bagian-bagian dirimu yang jarang kauperlihatkan kepada dunia. Ada begitu banyak cerita yang tersimpan di dalam dirimu. Cerita yang mungkin belum pernah selesai kauceritakan. Luka yang mungkin sudah […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month 2 jam yang lalu
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Ruang Rasa: Pohon Mangga

    Ruang Rasa: Pohon Mangga

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Saya belum berjalan lagi ke beberapa sawah yang dulu begitu akrab dengan masa kecil saya: Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa. Entah sudah berapa lama saya tidak menyusuri jalan-jalan kecil itu. Jalan tanah yang dulu saya kenal tanpa perlu berpikir, pematang sawah yang bisa saya lewati dengan langkah-langkah kecil, dan sudut-sudut tempat kami biasa […]

expand_less