Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar
- account_circle Katharina Tasik Busa
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 114
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari.
Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur.
Namun, di balik rasa syukur itu, ada ruang kosong yang terus tumbuh bersamaku. Ruang yang tidak pernah berhasil diisi oleh apa pun. Ruang itu bernama kesempatan untuk didengar.
Sejak kecil aku terbiasa mendengar orang-orang dewasa berbicara tentang hidupku, tentang keluargaku, bahkan tentang ibuku. Anehnya, hampir semua cerita yang kudengar selalu bernada buruk. Nama ibuku seolah hanya hadir sebagai alasan untuk menyalahkan, menghakimi, atau mengingat luka-luka lama.
Aku mendengarkan semuanya dalam diam.
Bukan karena aku percaya begitu saja, tetapi karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya.
Aku ingin berkata bahwa setiap cerita pasti memiliki lebih dari satu sisi. Aku ingin percaya bahwa tidak ada manusia yang hanya berisi kesalahan. Aku ingin mengenal ibuku melalui hatiku sendiri, bukan semata-mata dari penilaian orang lain.
Tetapi setiap kali aku mencoba membuka mulut, kalimat yang sama selalu lebih dulu datang.
“Diam… Anak kecil tidak tahu apa-apa.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagiku, ia seperti pintu yang terus ditutup sebelum aku sempat masuk.
Lama-kelamaan aku belajar memendam semuanya. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Aku menelan air mata yang tidak pernah sempat menjadi kata-kata. Aku memilih diam, bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena aku sadar suaraku dianggap tidak penting.
Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan ketika orang-orang berbicara buruk tentang ibuku.
Yang paling menyakitkan adalah ketika tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaanku sebagai anak yang mendengar semua itu.
Seolah-olah menjadi anak berarti tidak memiliki hak untuk merasa terluka.
Padahal setiap kata yang diucapkan orang dewasa jatuh tepat di hati seorang anak yang masih belajar memahami dunia.
Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun. Aku hanya ingin didengar. Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga yang penuh luka. Aku juga tidak pernah memilih untuk tumbuh jauh dari kedua orang tuaku. Semua itu terjadi sebelum aku cukup besar untuk memahami apa arti kehilangan.
Namun anehnya, akulah yang sering diminta menerima semuanya tanpa bertanya. Orang-orang dewasa berharap anak mampu memahami keadaan mereka. Mereka berharap anak mengerti alasan di balik setiap keputusan. Tetapi mengapa mereka begitu jarang berusaha memahami apa yang dirasakan seorang anak?
Aku diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Dan aku percaya itu. Tetapi bukankah menghormati juga berarti menjaga hati yang lebih muda? Bukankah menjadi dewasa berarti mampu memilih kata-kata yang tidak meninggalkan luka di hati seorang anak?
Aku tidak pernah ingin menjadi hakim bagi keluargaku. Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu bukan tugasku.
Yang kutahu hanyalah aku mencintai keluargaku. Aku mencintai opa dan oma yang telah membesarkanku. Aku juga mencintai ayah dan ibuku dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin dipaksa memilih siapa yang harus kucintai atau siapa yang harus kubenci. Karena cinta seorang anak tidak pernah berkesudahan kepada semua pihak.
Kini aku mulai mengerti bahwa luka tidak selalu meninggalkan darah. Ada luka yang tumbuh perlahan setiap kali suara seorang anak dipatahkan sebelum sempat didengarkan.
Ada luka yang terus hidup ketika seorang anak dipaksa memikul konflik orang dewasa yang bukan diciptakannya.
Aku berharap, suatu hari nanti, lebih banyak orang dewasa berhenti hanya berbicara tentang anak, lalu mulai benar-benar mendengarkan anak. Sebab seorang anak bukan sekadar pendengar dalam kisah orang dewasa.
Ia juga memiliki kisahnya sendiri. Ia memiliki air mata yang sering tidak terlihat. Ia memiliki perasaan yang sama berharganya. Dan ia memiliki suara yang pantas didengar. Mungkin suaraku tidak lantang. Mungkin kisahku tidak akan mengubah masa lalu.
Tetapi aku percaya, setiap keberanian seorang anak untuk bersuara adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih ramah bagi mereka. Karena seorang anak tidak membutuhkan jawaban untuk semua pertanyaannya. Sering kali, yang ia butuhkan hanyalah satu orang yang mau berhenti sejenak, menatap matanya, lalu berkata,
“Aku mendengarmu.”
Oleh: Katharina Tasik Busa
Tutor Sebaya Plan Indonesia PIA Nagekeo. Siswa SMA NEGERI Dua Boawae.
- Penulis: Katharina Tasik Busa
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar