Breaking News
light_mode
Trending Tags

Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
  • visibility 242
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan.

Manusia lahir dengan segudang kemungkinan yang terus diperbarui setiap hari. Setiap pagi membawa kesempatan baru, tetapi juga membuka pintu bagi kekecewaan yang tak pernah kita duga. Kadang hidup datang memeluk dengan kabar-kabar baik yang menghangatkan. Di waktu yang lain, ia menghadirkan kesakitan yang seolah tak pernah benar-benar pergi dari dalam diri.

Dari banyak cerita yang saya dengar, ada begitu banyak orang yang menemukan dirinya berada dalam keadaan yang sulit dipahami. Mereka terus memberi, terus bertahan, terus mengulurkan tangan, tetapi justru menjadi pihak yang paling sering disakiti. Mereka berkorban tanpa banyak menghitung, berharap pengorbanan itu akan dibalas dengan ketulusan yang sama. Namun hidup tidak selalu berjalan setara.

Ada pula mereka yang diam-diam memelihara sakitnya sendiri. Bukan karena menyukai penderitaan, melainkan karena telah terlanjur menyerahkan segalanya: waktu, perhatian, harapan, bahkan sebagian dari dirinya. Mereka tetap tinggal meski hati telah berkali-kali retak. Cinta, pada saat tertentu, memang dapat membutakan. Ia memabukkan, membuat seseorang sulit membedakan antara memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya telah lama hilang.

Yang menyedihkan, manusia sering memilih berdiam diri dalam kubangan gelap yang diciptakannya sendiri. Bukan karena tidak melihat jalan keluar, melainkan karena takut menghadapi kenyataan bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki. Kita bertahan pada ketidakpastian, memeluk kenangan yang menyakitkan, dan berharap waktu akan mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Padahal, mencintai tidak seharusnya berarti kehilangan diri sendiri. Pengorbanan tidak seharusnya menghapus harga diri. Dan kesetiaan tidak seharusnya menjadikan seseorang rela hidup terus-menerus dalam luka.

Pada akhirnya, menjadi dewasa mungkin bukan tentang menemukan cinta yang sempurna, melainkan tentang memiliki keberanian untuk menerima kenyataan: bahwa ada orang-orang yang datang untuk tinggal, dan ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita cara melepaskan. Bahwa tidak semua harapan perlu dipertahankan. Dan bahwa memilih pergi dari sesuatu yang terus melukai bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri.

Sebab hati juga berhak beristirahat. Ia tidak diciptakan untuk terus-menerus menunggu kepastian dari mereka yang tak pernah benar-benar berniat menetap. Ia pantas menemukan tempat pulang yang tidak membuatnya merasa harus berjuang sendirian.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi teman belajar bagi anak-anak di SMPSK KOTAGOA BOAWAE

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 225
    • 2Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 356
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini. “Kapan nikah?” Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain. Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang […]

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Angeliq Fransisca Juanna
    • visibility 154
    • 2Komentar

    Oleh: Angeliq Fransisca Juanna Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Perempuan yang Menjadi Rumah Bagi sebagian orang, keluarga mungkin selalu berarti ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan bentuk yang sama. Ada kalanya seseorang tumbuh dan menemukan sosok keluarga dalam diri orang lain. Bagi saya, sosok itu adalah tante […]

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 142
    • 2Komentar

    Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma   “Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.” Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya. Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah […]

expand_less