Breaking News
light_mode
Trending Tags

Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
  • visibility 124
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan.

Manusia lahir dengan segudang kemungkinan yang terus diperbarui setiap hari. Setiap pagi membawa kesempatan baru, tetapi juga membuka pintu bagi kekecewaan yang tak pernah kita duga. Kadang hidup datang memeluk dengan kabar-kabar baik yang menghangatkan. Di waktu yang lain, ia menghadirkan kesakitan yang seolah tak pernah benar-benar pergi dari dalam diri.

Dari banyak cerita yang saya dengar, ada begitu banyak orang yang menemukan dirinya berada dalam keadaan yang sulit dipahami. Mereka terus memberi, terus bertahan, terus mengulurkan tangan, tetapi justru menjadi pihak yang paling sering disakiti. Mereka berkorban tanpa banyak menghitung, berharap pengorbanan itu akan dibalas dengan ketulusan yang sama. Namun hidup tidak selalu berjalan setara.

Ada pula mereka yang diam-diam memelihara sakitnya sendiri. Bukan karena menyukai penderitaan, melainkan karena telah terlanjur menyerahkan segalanya: waktu, perhatian, harapan, bahkan sebagian dari dirinya. Mereka tetap tinggal meski hati telah berkali-kali retak. Cinta, pada saat tertentu, memang dapat membutakan. Ia memabukkan, membuat seseorang sulit membedakan antara memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya telah lama hilang.

Yang menyedihkan, manusia sering memilih berdiam diri dalam kubangan gelap yang diciptakannya sendiri. Bukan karena tidak melihat jalan keluar, melainkan karena takut menghadapi kenyataan bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki. Kita bertahan pada ketidakpastian, memeluk kenangan yang menyakitkan, dan berharap waktu akan mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan.

Padahal, mencintai tidak seharusnya berarti kehilangan diri sendiri. Pengorbanan tidak seharusnya menghapus harga diri. Dan kesetiaan tidak seharusnya menjadikan seseorang rela hidup terus-menerus dalam luka.

Pada akhirnya, menjadi dewasa mungkin bukan tentang menemukan cinta yang sempurna, melainkan tentang memiliki keberanian untuk menerima kenyataan: bahwa ada orang-orang yang datang untuk tinggal, dan ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita cara melepaskan. Bahwa tidak semua harapan perlu dipertahankan. Dan bahwa memilih pergi dari sesuatu yang terus melukai bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri.

Sebab hati juga berhak beristirahat. Ia tidak diciptakan untuk terus-menerus menunggu kepastian dari mereka yang tak pernah benar-benar berniat menetap. Ia pantas menemukan tempat pulang yang tidak membuatnya merasa harus berjuang sendirian.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi teman belajar bagi anak-anak di SMPSK KOTAGOA BOAWAE

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 287
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 319
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

  • DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Viktoria Eyen
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Oleh: Viktoria Eyen Npm:25201043 Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan Indonesia hari ini menghadapi masalah kencing manis atau diabetes sangat mengkhawatirkan , apakah anda pernah melihat antrian di gerai minuman kekinian manapun di kota-kota besar pada siang hari. Hampir pasti yang mengantri didominasi anak muda, pelajar, mahasiswa dan pekerja muda yang rela menunggu belasan menit demi […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 221
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

expand_less