Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan
- account_circle Alvarez Keupung
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.
(sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )
PURNAMA
Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah
akan kujadikan diriku purnama bagimu
agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu.
Ende, 15 April 2026.
LOLONG
Putih hujan telah usai
seperti semadi, kaki langit mendadak kesepian
tiba-tiba, kau beri gincu pada “langit-langit”
cakrawala
Warna-warni pun bertengger pada tapal sejauh mata memandang
bolehkah kusongsong dengan jiwa yang penuh romansa?
Jika kau adalah puisi titipan pada langit, aku mau bilang:
alam selalu punya cara memberi kemurahan, tanpa murahan.
Ende, 15 Mei 2026.
* LOLONG: Pelangi, Bianglala (Bahasa Sikka, Maumere).
MATA HARI
Sayap-sayap pagi datang lagi
matahari sedang telanjang berarak menghangatkan selimut mata hari
Di bebatuan tapak
satu per satu jejak mulai tertulis sebelum rampung di adzan senja
Good morning,
mari jatuh cinta pada mata hari yang bertakhta bersama perputaran kosmos
Di bawah matahari yang setianya kekal itu
‘kan terpahat, kita tak pernah bisa berpisah dari asa yang belum rampung.
Ende, 15 Mei 2026.
CERMIN
Di hadapannya, kecantikan dan ketampanan tidak selalu abadi
yang tersisa padanya adalah pertanyaan:
mengertikah manusia pada dirinya?
Di hadapannya, yang tertinggal hanyalah skeptis:
tak terjawab kata
tak terjamah raga
Sebab,
yang terlihat padanya hanyalah proyeksi semu yang akan selesai pada waktunya
Satu-satunya kedalaman manusia adalah: nurani
di sana, cermin segalanya berpulang menimbang.
Ende, 15 Mei 2026.
REMBULAN
Aura tubuhmu seperti Hawa di Eden sediakala
begitu telanjang berkabut putih pada kantong mata yang tajam melihatmu
kau hantar tabir nirwana tersingkap perlahan
Amboi….
betapa jauh perjalananmu suntuk semalam dan aku setia menatap separuh malam
aku terlanjur jatuh cinta padamu
tak seperti orang asing yang baru mengenalmu
Sebab, ketika kau berseri cah’ya
tak ada catatan lain ku tuliskan : indah rupa Tuhan pada tubuhmu
Rembulan,
kaulah bulan, bukan nama wanita di sudut kota ini.
Ende, 15 Mei 2026
- Penulis: Alvarez Keupung
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar