Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

  • account_circle Alvarez Keupung
  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • visibility 206
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.

(sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )

 

PURNAMA

Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah

akan kujadikan diriku purnama bagimu

agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu.

Ende, 15 April 2026.

 

LOLONG

Putih hujan telah usai

seperti semadi, kaki langit mendadak kesepian

tiba-tiba, kau beri gincu pada “langit-langit”

cakrawala

 

Warna-warni pun bertengger pada tapal sejauh mata memandang

bolehkah kusongsong dengan jiwa yang penuh romansa?

 

Jika kau adalah puisi titipan pada langit, aku mau bilang:

alam selalu punya cara memberi kemurahan, tanpa murahan.

Ende, 15 Mei 2026.

* LOLONG: Pelangi, Bianglala (Bahasa Sikka, Maumere).

 

MATA HARI

Sayap-sayap pagi datang lagi

matahari sedang telanjang berarak menghangatkan selimut mata hari

 

Di bebatuan tapak

satu per satu jejak mulai tertulis sebelum rampung di adzan senja

 

Good morning,

mari jatuh cinta pada mata hari yang bertakhta bersama perputaran kosmos

 

Di bawah matahari yang setianya kekal itu

‘kan terpahat, kita tak pernah bisa berpisah dari asa yang belum rampung.

Ende, 15 Mei 2026.

 

CERMIN

Di hadapannya, kecantikan dan ketampanan tidak selalu abadi

yang tersisa padanya adalah pertanyaan:

mengertikah manusia pada dirinya?

 

Di hadapannya, yang tertinggal hanyalah skeptis:

tak terjawab kata

tak terjamah raga

 

Sebab,

yang terlihat padanya hanyalah proyeksi semu yang akan selesai pada waktunya

 

Satu-satunya kedalaman manusia adalah: nurani

di sana, cermin segalanya berpulang menimbang.

Ende, 15 Mei 2026.

 

REMBULAN

Aura tubuhmu seperti Hawa di Eden sediakala

begitu telanjang berkabut putih pada kantong mata yang tajam melihatmu

kau hantar tabir nirwana tersingkap perlahan

 

Amboi….

betapa jauh perjalananmu suntuk semalam dan aku setia menatap separuh malam

aku terlanjur jatuh cinta padamu

tak seperti orang asing yang baru mengenalmu

 

Sebab, ketika kau berseri cah’ya

tak ada catatan lain ku tuliskan : indah rupa Tuhan pada tubuhmu

 

Rembulan,

kaulah bulan, bukan nama wanita di sudut kota ini.

Ende, 15 Mei 2026

  • Penulis: Alvarez Keupung
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 278
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Nopianti
    • visibility 20
    • 2Komentar

    Oleh: Maria Nopianti (Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma)  Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 596
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

  • Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Tuhan dan Puan Sedang Online Kucumbui minggu dijantung rindu Ada sehelai cemburu yang gugur Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.   Aku tahu, Mungkin kau sedang memulung harimu Dalam kesibukan Hingga serentetan pesanku kau abaikan. Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh, […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.442
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

expand_less