Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

  • account_circle Dr. Made Supriatma
  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • visibility 202
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik

(sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )

Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita tidak tahu apa yang terjadi pada Mama Yasinta di pedalaman Papua sana. Kalau pun Mama Yasinta memilih untuk berbalik posisi, apa yang bisa kita lakukan? Bukankah inti dari film ini adalah bahwa semua orang adalah “agency” atau subyek bagi dirinya sendiri?

Film ini ingin memberikan kesempatan bagi Mama Yasinta dan orang-orang seperti dirinya untuk bisa bersuara. Selama ini mereka tidak punya suara. Film dan kerja-kerja pemberdayaan yang dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil bertujuan untuk memberi kesempatan bagi orang seperti Mama Yasinta bersuara.

Intinya adalah bagaimana orang-orang yang tidak bisa bersuara ini bisa memiliki suara. Orang-orang yang dikalahkan memiliki kekuatan. Dan mereka yang tersingkir, tidak dianggap, memiliki kekuatan supaya juga diperhitungkan.

Kemudian, ada serangan terhadap orang-orang yang membantu mereka yang terpinggirkan ini. Orang yang mencoba menyampaikan suara-suara bisu dan dibisukan ini. Tentu ini klasik: shoot the messenger! Hantam mereka yang menyampaikan pesannya.

Serangan terhadap orang-orang yang membantu Mama Yasinta dan komunitasnya ini sangat marak akhir-akhir ini. Tidak saja dia datang dari para influencer atau buzzer. Ia juga datang dari Jendral, pejabat, hingga uskup agung!

Salah satu yang klasik adalah seperti yang dikatakan oleh Kasad Jendral Maruli Simanjuntak. “Bikin film kan mahal? Dari mana uangnya?”

Si uskup agung, yang tampak sekali belum menonton filmnya tapi sudah berkomentar, juga menanyakan hal yang sama. Siapa yang memberi dana? Bahkan lebih dari Kasad yang militer, uskup agung ini bertanya jangan-jangan film ini bertujuan untuk melepas Papua dan menyerahkannya kepada satu negara adidaya.

Para buzzer pun sibuk mengulik berbagai data dan berusaha menghubungkan film dengan konspirasi dana asing. Tujuannya jelas: bahwa film ini adalah bagian dari konspirasi dan pembuatnya adalah antek-antek asing.

Serangan terhadap the messenger ini tentu bertujuan untuk mengaburkan message yang ingin disampaikan. Artinya, serang pembawa pesannya supaya pesannya itu sendiri tidak sampai.

Dalam pengertian ini, semua messengers seperti para sutradara, kru film, orang-orang yang ada di film, semua mereka adalah bagian dari konspirasi asing ini.

Mama Yasinta dalam hal ini hanya alat. Sebelum ini Mama Yasinta sangat aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat. Dia ke Jakarta untuk ikut gugatan masyarakat sipil atas Proyek Strategis Nasional. Dia bahkan ada di Jayapura saat launching film Pesta Babi ini.

Namun kemudian dia berbalik arah. Para buzzer beramai-ramai mengunggah video bahwa sekarang dia mendukung PSN di Merauke!

Sekali lagi, sejauh ini kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Mama Yasinta. Namun apapun posisi Mama Yasinta sekarang, apakah itu akan menghapus malapetaka ekologis, sosial, dan ekonomi yang diakibatkan oleh PSN?

Satu persoalan yang selalu menggoda pikiran saya adalah mengapa selalu saja kerja-kerja seperti ini, yang berusaha memberikan hak kepada mereka yang dihilangkan haknya, suara kepada mereka yang dibisukan, tongkat kepada mereka yang dilumpuhkan, selalu berusaha dijatuhkan oleh soal uang? Siapa yang mendanai proyek ini? Ah, ini pasti bagian dari skema menjatuhkan Indonesia!

Ini terjadi karena, menurut saya, mereka tidak memiliki argumen apa pun untuk menunjukkan yang sebaliknya. Fakta di lapangan bicara kuat sekali: ribuan bulldozer dan puluhan ribu tentara diterjunkan untuk menggusur hutan-hutan dan penduduk yang ada di dalamnya.

Kemudian, mengapa mereka sangat terobsesi pada uang? Pada siapa yang mendanai? Sederhana saja menurut saya: mereka memang beroperasi di wilayah itu.

Sistem sosial dan politik kita sangat transsaksional. Orang memilih karena bansos atau amplop. Orang menjabat karena mampu menyediakan uang. Bahkan orang menjadi tentara atau polisi karena membayar. Untuk naik jabatan juga harus membayar.

Di negeri kita ini tidak ada altruisme – orang yang rela berkorban untuk orang lain tanpa mengharap balasan apa pun. Para agamawan rajin menyerukan ini – demi surga. Para pejabat khususnya di masa Orde Baru rajin berujar “tanpa pamrih” yang lebih berlaku untuk orang lain bukan diri sendiri.

Film kan mahal, siapa yang bayar? Itu pertanyaan seorang jendral yang kekayaannya sangat fantastis. Dan para buzzer yang jelas dibayar itu berusaha membongkar siapa yang mendanai film ini.

Bahkan pertanyaan itu keluar dari uskup mandagi, uskup agung! Mandagi pernah marah-marah karena kalangan gereja-gereja Kristen dan Katolik di Papua menyerukan ketidaksetujuan terhadap PSN. Dia bilang, PSN memberikan pekerjaan untuk orang Papua. Supaya orang Papua bisa makan nasi. Tidak ada dalam pikiran si uskup ini bahwa makan sagu, patatas, atau keladi itu sama terhormatnya dengan makan nasi. Mandagi pun otak dan pemikirannya sama seperti mereka yang terobsesi dengan uang ini. Pada 2021, dia menerima Rp 2,4 milyar dari anak perusahaan Korindo group. Dan, perusahaan yang dimaksud juga ada dalam film Pesta Babi.

Jadi, demikianlah saudara-saudara. Hidup sosial, politik, dan bahkan keagamaan kita diatur oleh pemikiran transsaksional yang sama. Diatur oleh keserakahan yang sama. Bajunya saja yang berbeda-beda: safari putih pejabat, seragam militer, dan jubah uskup!

Sehingga ketika ada orang-orang yang mau bertindak altruistik, untuk mereka itu anomali. Bahkan ancaman atas stabilitas uang yang menjadi dunia mereka. Sehingga mereka melihat dunia yang penuh konspirasi: ada kekuatan asing yang ingin menguasai kekayaan yang dalam pikiran serakah mereka adalah monopoli mereka. Saya percaya, altruisme tidak mati. Anda yang nobar dan diskusi Pesta Babi, Anda yang menyuarakan ketidakadilan yang dialami Andrie Yunus, Anda yang berdiri bersama orang-orang yang digusur, dan lain sebagainya menunjukkan itu.

Terakhir, saya menonton wawancara uskup mandagi (cari sendiri online) di mana dia mendoakan mereka yang mengkritik dirinya dan keuskupan yang dia pimpin. “Supaya kita bersama masuk surga,” katanya. Yakin mau berbagi surga dengan orang seperti uskup mandagi? Saya sih pilih masuk neraka

25 Mei, 2026

  • Penulis: Dr. Made Supriatma
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Oleh: Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar   Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya […]

  • Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Felisitas Tri Wulandari
    • visibility 106
    • 2Komentar

    Oleh: Felisitas Tri Wulandari (Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)   Pukul enam pagi, ketika sebagian orang di kampung kami belum bangun sepenuhnya dari tidur, seorang lelaki paruh baya sudah memanggul karung jagung menuju tempat penggilingan. Keringat membasahi punggungnya jauh sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia akan terus begitu sampai matahari benar benar tenggelam di ufuk barat, […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 253
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

expand_less