Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 53
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Filemon Pandu Wimastha

(Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende) 

Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. Di Ritapiret, tradisi-tradisi itu hidup dengan caranya sendiri: sederhana, namun penuh makna; biasa, namun menyimpan kedalaman yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Di antara sekian banyak tradisi yang tumbuh di komunitas ini, ada dua yang selalu meninggalkan jejak mendalam di hati saya: perayaan ulang tahun dan syukuran atas selesainya ujian skripsi maupun tesis. Dua perayaan ini tampak sederhana di mata orang luar, tetapi bagi kami, ia adalah ruang persaudaraan tempat sukacita dirayakan dengan cara yang khas dan nyaris tak tergantikan.

Perayaan ulang tahun di seminari memiliki wajah yang berbeda dari perayaan ulang tahun pada umumnya. Di luar sana, seseorang yang berulang tahun biasanya menjadi pusat perhatian dirayakan, dilayani, dan diperlakukan bak raja sehari. Namun di Ritapiret, keadaan seolah dibalik secara diam-diam namun indah. Frater yang berulang tahun justru menjadi pelayan bagi sesamanya. Ia sibuk menyiapkan makanan dan minuman, mengatur meja, memanggil teman-teman untuk makan bersama, bahkan tak jarang harus meminjam uang sana-sini demi menjaga sukacita tetap tinggal di tengah komunitas.

Di situlah letak keindahannya.

Ulang tahun tidak dimaknai sebagai hari untuk menerima, melainkan kesempatan untuk memberi. Ada sukacita yang lahir bukan karena dilayani, tetapi karena mampu membahagiakan sesama, walau dengan hidangan sederhana dan tawa yang seadanya.

Saya teringat pada pemikiran Martin Heidegger yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berjalan menuju kematian. Maka ulang tahun sesungguhnya bukan hanya penanda bertambahnya usia, tetapi juga penegasan bahwa Tuhan masih berkenan menghadiahkan waktu kepada manusia. Setiap lilin usia yang bertambah seakan menjadi bisikan sunyi bahwa hidup adalah rahmat yang belum selesai.

Karena itu, ulang tahun di seminari selalu terasa khidmat dalam kesederhanaannya. Di balik gelak tawa dan bunyi piring di meja makan, tersembunyi rasa syukur yang hening: syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, belajar, jatuh, bangkit, dan berjalan bersama saudara-saudara seperjalanan.

Selain ulang tahun, ada pula tradisi lain yang akhir-akhir ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan komunitas: syukuran ujian skripsi dan tesis. Tradisi ini bukan sekadar pesta kecil setelah sidang akademik, melainkan perayaan atas sebuah perjuangan panjang yang penuh air mata, kecemasan, doa, dan harapan.

Skripsi dan tesis bagi seorang frater bukan hanya lembaran ilmiah yang harus diselesaikan. Ia adalah ziarah batin. Ada malam-malam panjang yang ditemani kantuk dan kopi, ada kebingungan yang diam-diam dipikul sendiri, ada rasa putus asa yang kadang disembunyikan di balik senyum. Namun di tengah semua itu, komunitas hadir seperti rumah yang menjaga nyala harapan tetap hidup.

Dukungan itu datang dalam bentuk-bentuk kecil yang sering kali justru paling membekas: sapaan hangat di lorong seminari, guyonan teman-teman yang mencairkan ketegangan, perhatian sederhana dari adik tingkat di meja makan, atau kata-kata motivasi yang terdengar biasa namun mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.

Dan ketika ujian itu akhirnya selesai, sukacita pun mekar bersama-sama.

Ada flyer ucapan selamat yang dipasang penuh bangga, ada meja makan yang dihiasi hidangan sederhana namun penuh cinta, ada tawa yang pecah di antara bunyi gelas dan sendok, ada wajah-wajah lelah yang akhirnya bisa tersenyum lega. Keberhasilan satu orang menjadi sukacita seluruh komunitas. Tidak ada yang sungguh berjalan sendiri di Ritapiret; setiap perjuangan selalu menemukan rumahnya dalam persaudaraan.
Tradisi-tradisi kecil seperti inilah yang diam-diam membentuk jiwa para frater. Dari sana kami belajar bahwa hidup bersama bukan sekadar tinggal dalam satu atap, tetapi tentang saling menanggung beban dan merayakan harapan. Kami belajar bahwa sukacita terbesar bukanlah ketika dipuji atau dilayani, melainkan ketika dapat berbagi hidup dengan tulus.
Dan kelak, ketika waktu membawa kami keluar dari tembok seminari menuju jalan panggilan masing-masing, saya percaya bahwa yang paling dirindukan bukanlah gedung-gedungnya, melainkan kenangan-kenangan kecil itu: aroma makanan di kamar makan saat syukuran, tawa persaudaraan yang pecah di malam hari, guyonan sederhana di sela kecemasan skripsi, dan wajah-wajah saudara yang pernah berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, Ritapiret bukan hanya tempat belajar menjadi imam. Ia adalah rumah yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 160
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 236
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 98
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba, Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 168
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

expand_less