Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 196
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Filemon Pandu Wimastha

(Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende) 

Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. Di Ritapiret, tradisi-tradisi itu hidup dengan caranya sendiri: sederhana, namun penuh makna; biasa, namun menyimpan kedalaman yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Di antara sekian banyak tradisi yang tumbuh di komunitas ini, ada dua yang selalu meninggalkan jejak mendalam di hati saya: perayaan ulang tahun dan syukuran atas selesainya ujian skripsi maupun tesis. Dua perayaan ini tampak sederhana di mata orang luar, tetapi bagi kami, ia adalah ruang persaudaraan tempat sukacita dirayakan dengan cara yang khas dan nyaris tak tergantikan.

Perayaan ulang tahun di seminari memiliki wajah yang berbeda dari perayaan ulang tahun pada umumnya. Di luar sana, seseorang yang berulang tahun biasanya menjadi pusat perhatian dirayakan, dilayani, dan diperlakukan bak raja sehari. Namun di Ritapiret, keadaan seolah dibalik secara diam-diam namun indah. Frater yang berulang tahun justru menjadi pelayan bagi sesamanya. Ia sibuk menyiapkan makanan dan minuman, mengatur meja, memanggil teman-teman untuk makan bersama, bahkan tak jarang harus meminjam uang sana-sini demi menjaga sukacita tetap tinggal di tengah komunitas.

Di situlah letak keindahannya.

Ulang tahun tidak dimaknai sebagai hari untuk menerima, melainkan kesempatan untuk memberi. Ada sukacita yang lahir bukan karena dilayani, tetapi karena mampu membahagiakan sesama, walau dengan hidangan sederhana dan tawa yang seadanya.

Saya teringat pada pemikiran Martin Heidegger yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berjalan menuju kematian. Maka ulang tahun sesungguhnya bukan hanya penanda bertambahnya usia, tetapi juga penegasan bahwa Tuhan masih berkenan menghadiahkan waktu kepada manusia. Setiap lilin usia yang bertambah seakan menjadi bisikan sunyi bahwa hidup adalah rahmat yang belum selesai.

Karena itu, ulang tahun di seminari selalu terasa khidmat dalam kesederhanaannya. Di balik gelak tawa dan bunyi piring di meja makan, tersembunyi rasa syukur yang hening: syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, belajar, jatuh, bangkit, dan berjalan bersama saudara-saudara seperjalanan.

Selain ulang tahun, ada pula tradisi lain yang akhir-akhir ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan komunitas: syukuran ujian skripsi dan tesis. Tradisi ini bukan sekadar pesta kecil setelah sidang akademik, melainkan perayaan atas sebuah perjuangan panjang yang penuh air mata, kecemasan, doa, dan harapan.

Skripsi dan tesis bagi seorang frater bukan hanya lembaran ilmiah yang harus diselesaikan. Ia adalah ziarah batin. Ada malam-malam panjang yang ditemani kantuk dan kopi, ada kebingungan yang diam-diam dipikul sendiri, ada rasa putus asa yang kadang disembunyikan di balik senyum. Namun di tengah semua itu, komunitas hadir seperti rumah yang menjaga nyala harapan tetap hidup.

Dukungan itu datang dalam bentuk-bentuk kecil yang sering kali justru paling membekas: sapaan hangat di lorong seminari, guyonan teman-teman yang mencairkan ketegangan, perhatian sederhana dari adik tingkat di meja makan, atau kata-kata motivasi yang terdengar biasa namun mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.

Dan ketika ujian itu akhirnya selesai, sukacita pun mekar bersama-sama.

Ada flyer ucapan selamat yang dipasang penuh bangga, ada meja makan yang dihiasi hidangan sederhana namun penuh cinta, ada tawa yang pecah di antara bunyi gelas dan sendok, ada wajah-wajah lelah yang akhirnya bisa tersenyum lega. Keberhasilan satu orang menjadi sukacita seluruh komunitas. Tidak ada yang sungguh berjalan sendiri di Ritapiret; setiap perjuangan selalu menemukan rumahnya dalam persaudaraan.
Tradisi-tradisi kecil seperti inilah yang diam-diam membentuk jiwa para frater. Dari sana kami belajar bahwa hidup bersama bukan sekadar tinggal dalam satu atap, tetapi tentang saling menanggung beban dan merayakan harapan. Kami belajar bahwa sukacita terbesar bukanlah ketika dipuji atau dilayani, melainkan ketika dapat berbagi hidup dengan tulus.
Dan kelak, ketika waktu membawa kami keluar dari tembok seminari menuju jalan panggilan masing-masing, saya percaya bahwa yang paling dirindukan bukanlah gedung-gedungnya, melainkan kenangan-kenangan kecil itu: aroma makanan di kamar makan saat syukuran, tawa persaudaraan yang pecah di malam hari, guyonan sederhana di sela kecemasan skripsi, dan wajah-wajah saudara yang pernah berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, Ritapiret bukan hanya tempat belajar menjadi imam. Ia adalah rumah yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Kasianus Sebho
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian. […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar photo_camera 1

    Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Pada 15–16 Mei 2026, suasana di lingkungan SMPSK Kotagoa Boawae terasa berbeda. Panggung pentas dan halaman tengah sekolah yang biasanya dipenuhi tepuk tangan untuk merayakan prestasi peserta didik, kali ini berubah menjadi ruang kompetisi yang hidup dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar hadir membawa keberanian, bakat, dan harapan mereka. Dalam rangka menyongsong pesta […]

  • Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Novita Din
    • visibility 104
    • 2Komentar

    “Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda.” Romo Driyarkara: Dari Pendidik hingga Penjaga Martabat Manusia Nama Romo Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S.J. tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, khususnya Universitas Sanata Dharma. Lahir di Kedunggubah, Purworejo, pada 13 Juni 1893 dengan nama Djentoe, Driyarkara kemudian memilih jalan hidup sebagai imam Jesuit sekaligus pendidik dan […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 317
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 170
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: “Kasihilah seorang akan yang lain”. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

expand_less