Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 163
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Filemon Pandu Wimastha

(Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende) 

Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. Di Ritapiret, tradisi-tradisi itu hidup dengan caranya sendiri: sederhana, namun penuh makna; biasa, namun menyimpan kedalaman yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Di antara sekian banyak tradisi yang tumbuh di komunitas ini, ada dua yang selalu meninggalkan jejak mendalam di hati saya: perayaan ulang tahun dan syukuran atas selesainya ujian skripsi maupun tesis. Dua perayaan ini tampak sederhana di mata orang luar, tetapi bagi kami, ia adalah ruang persaudaraan tempat sukacita dirayakan dengan cara yang khas dan nyaris tak tergantikan.

Perayaan ulang tahun di seminari memiliki wajah yang berbeda dari perayaan ulang tahun pada umumnya. Di luar sana, seseorang yang berulang tahun biasanya menjadi pusat perhatian dirayakan, dilayani, dan diperlakukan bak raja sehari. Namun di Ritapiret, keadaan seolah dibalik secara diam-diam namun indah. Frater yang berulang tahun justru menjadi pelayan bagi sesamanya. Ia sibuk menyiapkan makanan dan minuman, mengatur meja, memanggil teman-teman untuk makan bersama, bahkan tak jarang harus meminjam uang sana-sini demi menjaga sukacita tetap tinggal di tengah komunitas.

Di situlah letak keindahannya.

Ulang tahun tidak dimaknai sebagai hari untuk menerima, melainkan kesempatan untuk memberi. Ada sukacita yang lahir bukan karena dilayani, tetapi karena mampu membahagiakan sesama, walau dengan hidangan sederhana dan tawa yang seadanya.

Saya teringat pada pemikiran Martin Heidegger yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berjalan menuju kematian. Maka ulang tahun sesungguhnya bukan hanya penanda bertambahnya usia, tetapi juga penegasan bahwa Tuhan masih berkenan menghadiahkan waktu kepada manusia. Setiap lilin usia yang bertambah seakan menjadi bisikan sunyi bahwa hidup adalah rahmat yang belum selesai.

Karena itu, ulang tahun di seminari selalu terasa khidmat dalam kesederhanaannya. Di balik gelak tawa dan bunyi piring di meja makan, tersembunyi rasa syukur yang hening: syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, belajar, jatuh, bangkit, dan berjalan bersama saudara-saudara seperjalanan.

Selain ulang tahun, ada pula tradisi lain yang akhir-akhir ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan komunitas: syukuran ujian skripsi dan tesis. Tradisi ini bukan sekadar pesta kecil setelah sidang akademik, melainkan perayaan atas sebuah perjuangan panjang yang penuh air mata, kecemasan, doa, dan harapan.

Skripsi dan tesis bagi seorang frater bukan hanya lembaran ilmiah yang harus diselesaikan. Ia adalah ziarah batin. Ada malam-malam panjang yang ditemani kantuk dan kopi, ada kebingungan yang diam-diam dipikul sendiri, ada rasa putus asa yang kadang disembunyikan di balik senyum. Namun di tengah semua itu, komunitas hadir seperti rumah yang menjaga nyala harapan tetap hidup.

Dukungan itu datang dalam bentuk-bentuk kecil yang sering kali justru paling membekas: sapaan hangat di lorong seminari, guyonan teman-teman yang mencairkan ketegangan, perhatian sederhana dari adik tingkat di meja makan, atau kata-kata motivasi yang terdengar biasa namun mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.

Dan ketika ujian itu akhirnya selesai, sukacita pun mekar bersama-sama.

Ada flyer ucapan selamat yang dipasang penuh bangga, ada meja makan yang dihiasi hidangan sederhana namun penuh cinta, ada tawa yang pecah di antara bunyi gelas dan sendok, ada wajah-wajah lelah yang akhirnya bisa tersenyum lega. Keberhasilan satu orang menjadi sukacita seluruh komunitas. Tidak ada yang sungguh berjalan sendiri di Ritapiret; setiap perjuangan selalu menemukan rumahnya dalam persaudaraan.
Tradisi-tradisi kecil seperti inilah yang diam-diam membentuk jiwa para frater. Dari sana kami belajar bahwa hidup bersama bukan sekadar tinggal dalam satu atap, tetapi tentang saling menanggung beban dan merayakan harapan. Kami belajar bahwa sukacita terbesar bukanlah ketika dipuji atau dilayani, melainkan ketika dapat berbagi hidup dengan tulus.
Dan kelak, ketika waktu membawa kami keluar dari tembok seminari menuju jalan panggilan masing-masing, saya percaya bahwa yang paling dirindukan bukanlah gedung-gedungnya, melainkan kenangan-kenangan kecil itu: aroma makanan di kamar makan saat syukuran, tawa persaudaraan yang pecah di malam hari, guyonan sederhana di sela kecemasan skripsi, dan wajah-wajah saudara yang pernah berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, Ritapiret bukan hanya tempat belajar menjadi imam. Ia adalah rumah yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 174
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Noyaldista Lisan
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Oleh: Noyaldista Lisan Npm : 25201051 Kelas:2025B Program Studi: Keperawatan   Kesehatan reproduksi wanita merupakan salah satu aspek penting yang sering kali belum mendapatkan perhatian yang memadai di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seorang wanita untuk memiliki keturunan, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berhubungan dengan sistem reproduksi. […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 227
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 431
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 910
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

expand_less