Darah, Tanah, dan Mayat yang Menolak Lupa: Tubuh Perempuan sebagai Arsip Dosa Sejarah dalam Cantik itu Luka
- account_circle Paulina Bening Puspa Arum
- calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Paulina Bening Puspa Arum
Pendahuluan
“Satu sore di hari akhir pekan di bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya setelah dua puluh satu tahun kematian.”
(Kurniawan, 2002)
Tanah yang retak di pekuburan Halimunda tidak pernah benar-benar mampu membungkam rahasia. Dua puluh satu tahun setelah jasadnya dibaringkan di bawah naungan kamboja dan rumput liar, Dewi Ayu mengetuk dinding tanahnya sendiri, lalu bangkit. Ia tidak kembali sebagai sesosok hantu yang meratap, melainkan sebagai sosok perempuan tenang, berjalan dengan sisa-sisa bau tanah gembur menuju sebuah kedai untuk sekadar memesan makanan. Bagi mereka yang hanya membaca peristiwa ini dari permukaan, kebangkitan Dewi Ayu adalah lelucon realisme magis yang ganjil. Namun, di dalam rahim penceritaan Eka Kurniawan, adegan tersebut adalah sebuah pekikan historiografis yang teramat sunyi sekaligus mengerikan: sejarah yang berdarah tidak akan pernah mau mati hanya karena ia telah dikuburkan.
Tulisan ini tidak menempatkan novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan sebagai dokumen fakta historis empiris, melainkan menggunakannya sebagai objek analisis Memori Kolektif Kultural (Cultural Memory Studies). Dalam kebudayaan sebuah bangsa yang sering kali menyapu trauma nasional ke bawah karpet amnesia— mulai dari perbudakan seksual di era pendudukan Jepang, kebuasan perang revolusi, hingga genosida politik 1965— kebangkitan Dewi Ayu adalah alegori tentang kebenaran yang merayap keluar dari kegelapan. Melalui kacamata ini, tokoh fiksional Dewi Ayu beserta lanskap Halimunda hadir sebagai arsip sejarah alternatif. Di atas tubuh Dewi Ayu—seorang perempuan, pelacur, sekaligus saksi zaman—sejarah kolonialisme dan patriarki yang brutal dipatahkan dengan begitu dalam, berdarah, dan jujur.
DAGING YANG DILUMURI PERANG: DARI BLOEDENKAMP KE RUMAH MAMA KALONG
Sebelum Dewi Ayu menjadi penguasa atas nasibnya sendiri, tubuhnya terlebih dahulu dijadikan padang pembantaian oleh sejarah. Runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda pada tahun 1942 bukan sekadar pergantian bendera di tiang-tiang tatanan politik, melainkan runtuhnya martabat manusia. Sebagai perempuan berdarah campuran Belanda Pribumi dari keluarga Stammler, identitas kelas atas yang selama ini melindunginya menguap seketika bagitu serdadu Pasukan Fajar Terbit menapakkan kaki di Halimunda.
Dewi Ayu dilemparkan ke Kamp Bloedenkamp—sebuah neraka lumpur di tengah delta sungai, tempat batas antara manusia dan binatang dikikis habis. Di sana, bertahan hidup bukan lagi soal integritas moral, melainkan tentang ketelanjangan insting: merebus darah sapi dari perut lintah dan menyimpan perhiasan di dalam lipatan pencernaan. Namun, penderitaan fisik di Kamp Bloedenkamp barulah bait pertama dari simfoni duka yang lebih pekat. Ketika ia dan dua puluh gadis muda Halimunda digiring ke Rumah Mama Kalong untuk dijadikan jugun ianfu (pelacur paksa), sejarah secara resmi menanggalkan kemanusiaan mereka dan menggantikan dengan fungsi biologi yang dieksploitasi tanpa ampun.
“Setiap kali seorang melompat ke atas tubuhnya, ia membayangkan dirinya adalah sesosok mayat kaku yang tak punya rasa.”
(Kurniawan, 2002)
Di atas ranjang-ranjang dingin Rumah Mama Kalong, setiap kali serdadu Jepang datang bergantian, Dewi Ayu mempelajari satu-satunya ilmu bertahan hidup yang paling menyayat hati: dissociation. Ia mematikan jiwanya, mengunci pikirannya di balik dinding kesadaran, dan membiarkan tubuh fisiknya terbaring kaku seperti mayat yang pasrah. Dalam momen-momen kelam tersebut, tubuh perempuan tidak lagi dimiliki oleh dirinya sendiri; ia telah bertransformasi menjadi sebuah monumen penderitaan, tempat kekerasan geopolitik Perang Dunia II menancapkan taringnya tanpa pernah meminta maaf.
OTONOMI DI ANTARA BAU KERINGAT DAN DUKAT: PELACURAN SEBAGAI BENTENG RESISTENSI
Matahari perang akhirnya redup, serdadu Jepang diusir, dan bendera kemerdekaan dikibarkan. Namun bagi perempuan seperti Dewi Ayu, kemenangan politik bangsa jarang sekali berbanding lurus dengan pembebasan tubuh. Di era pasca-revolusi, tatkala Halimunda mencoba membasuh dirinya dari dosa masa lalu, Dewi Ayu mengambil sebuah keputusan yang mengejutkan seluruh tatanan sosial: ia secara sadar, dingin, dan tanpa penyesalan memilih untuk tetap menjadi seorang pelacur.
Pilihan ini bukan bentuk kepasrahan seorang perempuan yang patah, melainkan sebuah tindakan eksistensial yang teramat subversif. Dewi Ayu memahami betul hipokrisi tatanan patriarki yang mengelilinginya. Ketika Maman Gendeng, penguasa dunia hitam Halimunda yang paling ditakuti, berlutut dan menawarkannya mahligai pernikahan terhormat, Dewi Ayu menolaknya dengan senyum penuh sindiran.
“Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela, dan aku tak suka bercinta tanpa dibayar.”
(Kurniawan, 2002)
Pernyataan dingin ini menelanjangi hipokrisi moralitas masyarakatnya. Bagi Dewi Ayu, pernikahan dalam masyarakat yang korup tak ubahnya pelacuran terselubung—sebuah transaksi di mana perempuan menyerahkan seluruh jiwa dan tubuhnya demi ilusi keamanan sosial. Dengan tetap menjadi pelacur komersial yang menetapkan harga dirinya sendiri, Dewi Ayu justru merebut kembali kedaulatan yang pernah dirampas darinya. Di dalam kamar bordilnya, takhta kuasa dibalikkan. Pria-pria terpandang di Halimunda—para pejabat yang berdasi, tentara yang memegang senjata, hingga preman yang ditakuti—semuanya datang bertekuk lutut, memelas, dan membayar mahal hanya untuk setetes kehangatan dari tubuhnya. Pelacuran di tangan Dewi Ayu bertransformasi dari instrumen penindasan perang menjadi alat subversi politik untuk menelanjangi wajah asli masyarakatnya yang munafik dan dipenuhi hasrat.
SATIRE DARI RAHIM YANG LUKA: RUPA BURUK DAN TRANSMISI TRAUMA
Luka sejarah tidak pernah selesai pada orang yang pertama kali menerimanya. Ia merembes seperti racun, mengalir melalui darah, dan menetes ke dalam rahim generasi-generasi berikutnya. Di Halimunda, nasib tragis yang menimpa anak-anak perempuan Dewi Ayu adalah cerminan dari betapa racun masa lalu itu terus memburu. Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi lahir membawa kecantikan yang sempurna—sebuah estetika yang di dalam tatanan maskulinitas Halimunda justru menjadi kutukan paling mematikan. Kecantikan mereka menarik kebuasan, obsesi, dan kekerasan dari laki-laki yang ingin menguasai mereka.
Melalui nasib ketiga anaknya, Eka Kurniawan menegaskan sebuah filsafat yang amat pedih: kecantikan dalam dunia patriarki adalah sebuah luka yang menganga. Ia menjadi komoditas untuk diperebutkan dan alasan bagi kekerasan untuk dijustifikasi. Kesadaran pahit inilah yang mendorong Dewi Ayu melakukan sebuah perlawanan paling sunyi saat ia mengandung anak keempatnya.
“Ia tak berdoa meminta anak yang elok rupanya; ia memohon agar bayi di dalam kandungannya lahir dengan wujud paling buruk yang bisa dibayangkan oleh bumi.”
(Kurniawan, 2002)
Di dalam kegelapan kamarnya, Dewi Ayu memohon dengan kepasrahan yang pekat. Ketika bayi itu lahir dengan kulit sehitam arang dan hidung yang menyerupai colokan listrik, Dewi Ayu tidak menangis. Ia tersenyum puas, memeluk tubuh mungil itu, dan menamainya ”Si Cantik”. Penamaan ini adalah sebuah satire kultural yang menggelegar. Dengan melahirkan anak yang buruk rupa, Dewi Ayu berhasil menyelamatkan bayinya dari kebuasan mata laki-laki Halimunda. Si Cantik lahir sebagai sosok yang tak bisa dikomodifikasi, tak bisa diperkosa oleh standar estetika pasar, dan tak bisa dilukai oleh hasrat patriarki. Rupa buruk Si Cantik adalah perisai terakhir yang diciptakan oleh rahim seorang ibu yang telah lelah melihat kecantikan berujung pada kebinasaan.
PENUTUP: MENATAP KEMBALI BAYANG-BAYANG HALIMUNDA
Ketika cerita berakhir dan debu di Halimunda kembali tenang, kita disadarkan bahwa kebangkitan Dewi Ayu dari kubur adalah sebuah peringatan bagi mereka yang hidup di masa kini. Dosa-dosa sejarah kejahatan perang yang tak pernah diadili, suara-suara korban yang dibungkam, serta kebrutalan struktural atas tubuh perempuan—tidak akan hilang hanya karena zaman berganti atau lembaran kalender berganti angka. Mereka akan tetap tinggal di bawah tanah, mengumpul menjadi dendam kultural, dan menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali menagih kesadaran kita.
Lawat bahasa realisme magis yang puitis sekaligus menusuk, Cantik itu Luka berhasil memindahkan catatan sejarah dari buku-buku pelajaran yang kaku ke dalam ruang rasa yang paling dalam. Dewi Ayu tidak hanya mengajari kita cara bertahan hidup di tengah kebuasan zaman, tetapi juga memaksa kita untuk berani menatap luka-luka bangsa ini secara jujur. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan pernah bisa sembuh dari sakitnya, selama ia masih takut untuk mengakui darah dan nanah yang terkandung di dalam sejarahnya sendiri.
- Penulis: Paulina Bening Puspa Arum
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar