Breaking News
light_mode
Trending Tags

JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
  • visibility 150
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)Β 

Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit.

Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. Tanah adalah dapur, sekolah, apotek, dan kuburan leluhur. Tanah adalah warisan untuk anak cucu. Mama tidak punya uang di ATM. Tidak punya rumah mewah dan mobil mengkilap. Tapi Mama punya tanah. Itu satu-satunya yang tersisa.

Lalu perusahaan datang. Perkebunan tebu dibuka. Cetak sawah dijalankan. Sawit merayap. Ruang hidup Mama Yasinta terpaksa putus. Hutan yang biasa tempat berburu dan meramu berubah jadi blok-blok monokultur. Sumber air mengering. Tanah yang diwariskan tiba-tiba diklaim milik konsesi.

Lantas apa yang Mama Yasinta harus lakukan? Diam berarti mati. Tidak melawan berarti menyaksikan anak cucu jadi kuli di tanahnya sendiri. Hanya anjing kudis yang menyerahkan lehernya ke tiang algojo untuk ditebas. Mama Yasinta adalah manusia. Dalam analisanya yang terakhir, ketika penindasan semakin mendesak, maka Mama pasti melawan.

Dan inilah yang dilakukan Mama Yasinta. Ia berteriak berkali-kali di depan Istana. Ia bicara di forum-forum kerakyatan. Ia terbang ribuan mil dari Papua ke Jakarta, didampingi kawan-kawan Lembaga Swadaya Masyarakat. Ia ke Pengadilan Negeri Jayapura ditemani advokat Papua Wissel Van Nunubado , yang bekerja membela tanpa minta satu peser pun. Keberanian Mama Yasinta bukan rekayasa. Ia lahir dari perut tanah yang dirampas.

Tapi hari ini sikap Mama Yasinta terbalik. Ia muncul dalam wawancara yang janggal, bicara dengan narasi yang berbeda. Ia ke Jakarta lagi, tapi dengan pengawalan lengkap. Ada infrastruktur keamanan. Ada akses advokasi dan bantuan hukum yang rapi. Ada kuasa hukum baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam lingkar perlawanan.

Sekarang Siapa yang Salah?Β 

Pertama, tidak ada yang salah jika kita bicara dengan jujur. Mama Yasinta tidak salah. Dandy Laksono tidak salah. Pusaka tidak salah. Jubi tidak salah. Yang harus ditanyakan bukan siapa yang jahat, tapi kenapa sikap Mama Yasinta bisa berubah. Dari ribuan manusia yang terdampak perkebunan sawit, tebu, dan padi di Merauke, kenapa Mama Yasinta yang dulu terpilih dan pergi ke Jakarta? Karena keberaniannya sendiri untuk memperjuangkan tanah adat. Selain Mama Yasinta ada Bapa Vincent Kwipalo dan banyak nama lain. Mereka subjek, bukan wayang.

Maka pertanyaannya harus dilanjutkan: kenapa sekarang berubah? Tidak cukup dijawab “hanya Tuhan yang tahu”. Kita harus cari sebab-sebabnya secara rasional. Perubahan tidak jatuh dari langit. Apalagi perubahan yang datang bersamaan dengan fasilitas, logistik, dan jaringan media yang tiba-tiba tersedia.

Kalau kita jujur membaca politik, kita tidak boleh lupa reaksi balik dari negara. Ketika film atau advokasi seperti _Pesta Babi_ mengguncang tatanan, negara tidak mungkin diam. Negara punya 1001 cara untuk mengembalikan narasi. Kooptasi adalah cara paling tua. Intimidasi adalah cara paling cepat. Fasilitas adalah cara paling halus.

Karena itu mari kita ajukan pertanyaan yang dingin:

Ada situasi Mama Yasinta tiba-tiba diwawancarai oleh orang tak dikenal dengan sejumlah uang di tangan. Siapa orang tersebut? Mama Yasinta mengaku dia orang miskin dalam wawancara ghaib itu, tapi dalam waktu singkat sudah ada di Jakarta dengan pengawalan. Dari mana semua ini?

Kalau dulu Mama Yasinta ke Jakarta jelas dibiayai oleh kawan-kawan LSM untuk berjuang mempertahankan tanahnya. Kalau keberangkatan sekarang siapa yang membiayai? Siapa yang bantu Mama Yasinta untuk koneksi bantuan hukum, alur pelaporan ke Polda Metro Jaya, nasihat hukum, dan panggung media? Jika kuasa hukum yang mendampingi Mama Yasinta adalah orang yang benar-benar baru, maka siapa yang menghubungkan Mama Yasinta dengannya?

Kalau dulu Mama Yasinta berjuang, ia didampingi pengacara yang berdiri bersama rakyat tanpa bayaran. Kalau pengacara yang sekarang dampingi Mama Yasinta itu pengacara darimana? Bagaimana mereka bisa ketemu? Siapa yang mempertemukan mereka?

Satu hal yang jelas: perubahan sikap Mama Yasinta pasti ada sebab. Dan sebab itu tidak bisa dilepaskan dari reaksi balik negara dan korporasi. Pertanyaan selanjutnya: siapa yang berada di balik Mama Yasinta saat ini dengan koneksi jaringan media yang luas, finansial, dan akses hukum yang kuat? Jika Mama Yasinta dicintai, mengapa tidak dari dulu ada fasilitas semacam itu ketika Mama Yasinta berjuang sendirian? Kenapa justru baru ada sekarang dalam upaya untuk meng-counter narasi _Pesta Babi_?

Inilah titik krusialnya. Kita sedang diseret untuk melihat konflik pada kulitnya, bukan pada isinya. Kita dipancing untuk saling tuduh sesama korban. Musuh kita yang tadinya adalah korporasi, militer, dan negara, sekarang dibelokkan menjadi musuh kepada sikap Mama Yasinta, kepada LSM, kepada Dandy Laksono, kepada Cyipri Dale, kepada Jubi.

Ini namanya pengalihan konflik vertikal menjadi horizontal. Yang diuntungkan dari situasi ini hanya satu: pihak yang sedang merampas tanah. Sementara kita sibuk menghakimi Mama Yasinta, ekskavator tetap jalan. Hutan tetap dibabat. Tanah adat tetap beralih fungsi.

Karena itu, buka mata lebar-lebar. Jangan caci-maki Mama Yasinta. Dia tetap bagian dari masyarakat kecil yang ruang hidupnya terancam. Kalau ada tekanan, tawaran, atau transaksi di balik layar, maka yang harus dibongkar adalah kekuatan di belakang layar. Bukan menghakimi orang yang berdiri di depan kamera.

Mengapa? Siapa? Ada apa? Kalau bukan suatu kekuatan raksasa yang sedang berdiri dan mendikte Mama Yasinta dari belakang, lalu siapa? Apakah ada lembaga swadaya, sekali lagi, SWADAYA, yang berdiri di belakang Mama Yasinta saat ini? Jika tidak ada, lalu siapa yang punya sumber daya untuk semua ini?

Kita harus jujur mengatakan: musuh kita sedang dibelokkan. Tugas kita adalah meluruskan kembali arah panah. Ukurannya hanya satu dan sederhana. Selama tanah adat Mama Yasinta dan ribuan masyarakat Merauke belum kembali, berarti perlawanan belum selesai. Siapapun boleh bicara, tapi tanah yang bicara paling jujur.

Jangan salah alamat. Lawan tetap ke atas, bukan ke samping.

Tanah Terjajah, 30 Mei 2026 || 20:19 WPB00

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 142
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 254
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 255
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Aloysius Wudi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Opini atas Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Oleh: Aloysius Wudi Ada sebuah pesta yang berlangsung sangat meriah di Papua Selatan. Ratusan alat berat datang beriringan seperti tamu agung. Kapal-kapal besar merapat ke dermaga tanpa basa-basi perkenalan. Aparat berdiri tegak mengawal kedatangan mereka bukan menghalangi, melainkan mempersilakan masuk. Proyek pangan dan energi nasional […]

  • π—£π—˜π—₯π—˜π— π—£π—¨π—”π—‘ π——π—”π—Ÿπ—”π—  π—•π—”π—¬π—”π—‘π—š-π—•π—”π—¬π—”π—‘π—š 𝗣𝗔𝗧π—₯π—œπ—”π—₯π—žπ—œ?

    π—£π—˜π—₯π—˜π— π—£π—¨π—”π—‘ π——π—”π—Ÿπ—”π—  π—•π—”π—¬π—”π—‘π—š-π—•π—”π—¬π—”π—‘π—š 𝗣𝗔𝗧π—₯π—œπ—”π—₯π—žπ—œ?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

expand_less