Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 272
  • comment 7 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com

Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya mengumpulkan niat membaca agar bisa menulis dengan lebih baik di setiap harinya.

Tapi, sebelum teman-teman lanjut membaca, berikut saya sertakan link berupa bentuk dukungan untuk kegiatan di Komunitas Pondok Baca Mataleza dalam menyambut tahun ajaran baru bagi peserta didik tahun 2026/2027: silakan klik atau tekan pada tulisan di bawah ini. 

Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini

Selamat membaca, semoga memberikan banyak hal positif untuk teman-teman. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat tidak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Ia begitu dekat dan ada di dalam setiap hidup kita. Selamat membaca, semoga betah sampai akhir.

***

Ada satu hal yang sering kali kita abaikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern: kemampuan untuk benar-benar peka terhadap sesama. Kepekaan dan rasa peduli bukan sekadar sifat tambahan yang membuat seseorang terlihat “baik,” melainkan fondasi yang membentuk manusia menjadi lebih utuh. Tanpa itu, kita bisa saja menjadi makhluk yang cerdas, sukses, bahkan berpengaruh, tetapi kosong di dalam. Pertanyaan yang menghantui saya adalah: apa gunanya semua pencapaian jika hati kita hampa, tidak mampu merasakan derita orang lain, atau bahkan menutup mata terhadap realitas yang ada di sekitar kita?

Saya masih ingat satu pengalaman sederhana yang mengubah cara pandang saya tentang kepedulian. Suatu sore, di jalan pulang menuju kontrakan, saya melihat seorang anak kecil duduk di pinggir jalan, berjualan ikan. Tangannya yang mungil memegang ikat ikan segar, matanya sayu tapi tetap berusaha tersenyum kepada setiap orang yang lewat sambil terus menawarkan jualannya. Awalnya, saya hanya berjalan cepat, pura-pura sibuk. Namun, beberapa langkah kemudian, ada sesuatu yang sepertinya sebuah bisikan. “Apakah kau tidak melihatnya? Apakah kau begitu sibuk dengan dirimu hingga melupakan bahwa di depan matamu ada manusia lain yang sedang berjuang?”

Saya pun kembali menghampiri anak itu, membeli satu ikat ikan, dan mengajaknya sedikit berbincang. Namanya Lita, usianya baru sepuluh tahun, dan ia membantu orang tuanya mencari nafkah karena ayahnya sedang sakit (itu dari ceritanya, tapi entah benar atau tidak, ssaya tidak perlu mencari tahu). Dari pertemuan singkat itu, saya menyadari satu hal penting: sering kali kita lupa bahwa di balik wajah asing yang kita temui di jalan, ada kisah panjang yang penuh pergulatan, ada air mata yang tak selalu terlihat, dan ada harapan yang rapuh. Kepekaan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian untuk berhenti sejenak, melihat, terlibat dan mendengarkan.

Kepekaan adalah kemampuan membaca tanda-tanda yang sering kali tersembunyi di balik permukaan. Seseorang mungkin berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal sorot matanya berteriak meminta pertolongan. Seseorang mungkin tertawa keras, padahal di dalam dirinya ada jurang kesepian yang dalam. Dan seseorang mungkin tampak kuat di hadapan kita, padahal ia nyaris runtuh dalam diam.

Rasa peduli, di sisi lain, adalah keberanian untuk bertindak setelah kita peka. Tanpa peduli, kepekaan hanya akan berakhir sebagai rasa iba sesaat yang tidak mengubah apa pun. Namun dengan peduli, kepekaan menjadi energi yang mengalir: tangan yang terulur, kata yang menenangkan, atau bahkan kehadiran diam yang memberi rasa aman. Inilah yang membuat manusia menjadi utuh, tidak hanya sibuk membangun dirinya sendiri, tetapi juga hadir sebagai cahaya bagi orang lain.

Namun, saya harus jujur: tidak mudah untuk selalu peka dan peduli. Ada banyak momen di mana saya memilih menutup mata. Ego sering berbisik, “Itu bukan urusanmu. Fokus saja pada dirimu sendiri. Kau sudah cukup sibuk dengan masalahmu.” Dan benar, hidup saya pun tidak selalu mudah, ada pekerjaan yang menumpuk, ada target yang mengejar, ada kegelisahan pribadi yang menghantui. Banyak persoalan yang tak pernah terselesaikan.

Di titik inilah konflik batin muncul. Apakah saya harus mengutamakan diri sendiri, ataukah membuka hati untuk orang lain? Saya belajar bahwa menjadi manusia bukan berarti kita harus sempurna menolong semua orang. Tidak! Menjadi manusia berarti berani membuat keputusan yang berimbang: merawat diri sendiri agar tetap utuh, sekaligus membuka ruang untuk peduli. Saya menemukan bahwa justru dalam memberi, hati saya ikut disembuhkan. Peduli tidak menguras energi, tetapi justru mengisinya dengan makna.

Kehidupan modern sering menjerumuskan kita dalam jebakan individualisme. Kita hidup di era di mana orang lebih sibuk memotret makanan daripada berbagi makanan dengan yang lapar. Kita sibuk memotret duka orang ketimbang terlibat dalam berbagi penguatan. Kita terbiasa memamerkan kebaikan di media sosial, tetapi lupa melakukannya dalam keseharian yang nyata. Saya sendiri tidak luput dari dilema ini: apakah kepedulian saya tulus, atau sekadar ingin terlihat baik di mata orang lain?

Pertanyaan ini cukup tajam, menghujam ke dalam diri, tetapi penting. Karena kepedulian sejati tidak selalu butuh sorotan atau jangkauan luas. Ia justru tumbuh dalam keheningan, dalam doa yang dipanjatkan untuk orang lain, dalam perhatian kecil yang tidak pernah diunggah ke mana-mana. Dunia mungkin tidak melihat, tetapi hati kita tahu.

Saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa kepekaan dan rasa peduli adalah jalan panjang yang harus ditempuh setiap hari. Tidak ada titik selesai. Kita akan selalu diuji: ketika melihat orang tua kesulitan membawa barang belanjaannya, ketika mendengar kabar teman yang diam-diam sedang berjuang melawan depresi karena kehilangan orang-orang terdekatnya, ketika menemukan tetangga yang hidup serba kekurangan. Apakah kita akan membantu? Ataukah kita akan berlalu begitu saja?

Menjadi manusia yang utuh berarti belajar melihat, mendengar, dan merasakan lebih dalam. Utuh bukan berarti tidak retak, tetapi justru mampu merangkul retakan diri dan orang lain dengan kelembutan. Utuh berarti kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi bagian dari denyut kenyataan yang lebih luas bersama orang-orang di sekitar kita.

Saya percaya, setiap kali kita memilih untuk peka dan peduli, kita sedang mengisi bagian diri kita yang kosong. Kita sedang menulis kisah kemanusiaan yang lebih indah. Kita sedang melangkah, pelan tapi pasti, menuju keutuhan yang sejati.

Akhirnya, hidup akan selalu menawarkan pilihan: menjadi manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri, atau menjadi manusia yang utuh dengan membuka hati bagi sesama. Kepekaan dan rasa peduli mungkin tampak sederhana, tetapi justru itulah yang membuat hidup kita bermakna. Saya memilih, meski sering jatuh dan gagal untuk terus belajar peka, untuk terus berani peduli. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar harta atau jabatan yang kita kumpulkan yang akan dikenang, melainkan seberapa dalam hati kita menyentuh hati orang lain.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Alfianus Nggoa (Fian N) selain suka menulis dan membaca juga suka kamu. Sejak tahun 2020 sampai saat ini masih setia menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Menjadi pengajar di SMPSK Kotagoa Boawae.

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (7)

  • DIAN

    Benar sekali ade, dunia sekarang harus saling peduli dan lebih peka thd sesama. Seperti sy selalu bilang ke orang rumah ; kalau kepasar untuk belanja, utamakan belanja ke pedagang kecil atau ke orang pribumi/asli setempat. Jgan melulu belanja ke org pendatang, krna dibalik wajah² yg kesulitan menjual barang dagangannya, pasti ada keluarga yang sedang tunggu dirumah, bahkan mungkin sedang tahan lapar atau sakit. Makasih ade, menginspirasi.

    Balas13 Juni 2026 8:37 pm
  • Wilbrodus Seda

    Dibaca pada 01.59, karena raga sudah lelah bergulat dengan tuntutan rutinitas harian. Tulisan yang inspiratif. Ada ciri refleksi sunyi di tengah dunia yang ribut dengan aneka perjuangan menyambung hidup. Ini “homili” yang menggugah berdasarkan sabda bahagia Yesus pada aspek sosial. Semoga kita jadi lebih peka dan akhirnya, more than words bisa berbelarasa dengan yang sungguh membutuhkannya.❤️

    Balas30 Mei 2026 2:09 am
    • Mataleza

      Bapa guru, Terima kasih sudah berbagi, menambahkan kejernihan rasa melalui komentar ini.

      Balas30 Mei 2026 5:16 am
  • Oyn

    Keren2 pak guru .Cerita ini sangat dalam karena mengingatkan bahwa menjadi manusia yang utuh bukan soal terlihat hebat di depan orang lain, tetapi soal masih memiliki hati yang peka dan peduli terhadap sesama. Di tengah kehidupan sekarang yang membuat banyak orang sibuk dengan diri sendiri, tulisan ini seperti mengajak kita kembali sadar bahwa perhatian kecil, mendengar orang lain, dan memahami rasa seseorang adalah bentuk kemanusiaan yang mulai hilang. Cerita ini sederhana, tetapi maknanya kuat karena menyentuh sisi emosional dan membuat pembaca merenungkan kembali bagaimana cara kita memperlakukan orang lain.

    Balas29 Mei 2026 9:55 pm
    • Mataleza

      Kaka Oin, Terima kasih. Mari sama sama saling peduli yang datangnya dari hati. Karena, sesuatu yang berasal dari hati akan sampai juga ke hati. Semoga makin banyak hal baik diperlakukan dengan baik

      Balas29 Mei 2026 9:59 pm
  • Pik

    Poinnya adalah bukan seberapa besar harta yang kita kumpulkan yang akan dikenang, melainkan seberapa dalam hati kita menyentuh hati orang lain.
    “Sesuatu yang dari hati akan sampai ke hati.”
    Semoga lebih banyak orang punya hati seperti ini.
    Mantap p guru, Tulisan yang bagus.

    Balas29 Mei 2026 8:01 pm
    • Mataleza

      Sesuatu yang datang dari hati tidak akan pernah menyakiti, ia adalah obat. Semoga setiap hati dijamah oleh kasih.

      Balas29 Mei 2026 8:42 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    Sudut Pandang: ia yang Mengajarkanku Berdiri Sendiri

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Angeliq Fransisca Juanna
    • visibility 154
    • 2Komentar

    Oleh: Angeliq Fransisca Juanna Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Perempuan yang Menjadi Rumah Bagi sebagian orang, keluarga mungkin selalu berarti ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan dengan bentuk yang sama. Ada kalanya seseorang tumbuh dan menemukan sosok keluarga dalam diri orang lain. Bagi saya, sosok itu adalah tante […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

  • CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 167
    • 2Komentar

    Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, lahir sebuah tim yang sedang menulis kisahnya sendiri. Namanya CPJF Flores (PT. Charon Pokphand Jaya Farm). Usianya memang masih sangat muda, tetapi semangat dan keberaniannya telah membuat banyak orang mulai melirik ke arah mereka. Didirikan pada tahun 2025, CPJF Flores bukan sekadar tim sepak bola yang […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 280
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

expand_less