Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

  • account_circle Emanuel Boli Manuk
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • visibility 456
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero

Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang perdebatan ini tidak menghasilkan titik temu, hanya telinga yang panas dan status “unfollow”. Mengapa komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan justru menjelma menjadi tembok? Salah satu kacamatanya bisa kita pinjam dari Teori Komunikasi Akomodasi (Communication Accommodation Theory/CAT) dari Howard Giles. CAT mengajarkan bahwa dalam percakapan, kita secara sadar atau tidak menyesuaikan gaya bicara, aksen, gestur, bahkan pilihan kata untuk mendekatkan diri (konvergensi) atau menjauhkan diri (divergensi) dari lawan bicara. Sayangnya, fenomena aktual yang paling meresahkan di Indonesia saat ini adalah maraknya komunikasi divergen yang ekstrem, terutama di ruang publik digital yang mempertemukan kelompok generasi yang berbeda—misalnya antara Generasi Z (yang akrab disapa “gamers” atau anak digital) dan Generasi Baby Boomers (para “senior” atau “boomers”).

Fenomena Baper vs Santai: Kegagalan Akomodasi Antar Generasi

Ambil satu kasus panas akhir-akhir ini: diskusi tentang produktivitas kerja di media sosial, pasca wacana penerapan 8 jam kerja untuk buruh dan pekerja kantoran. Di kolom komentar TikTok dan X (Twitter), seorang pekerja senior (Gen X atau Boomer) menulis, “Dulu saya kerja lembur sampai subuh gak pernah komplain. Generasi sekarang manja, sedikit capek minta WFH. Mental keramik.” Sementara itu, seorang Gen Z membalas, “Ok boomer, standar gaji UMR tapi ekspektasi level CEO. Gak heran ekonomi mandek karena kolot.” Dalam bahasa CAT, momen ini adalah kegagalan akomodasi yang spektakuler. Alih-alih berkonvergensi untuk memahami perspektif lawan bicara, kedua pihak justru melakukan divergensi yang agresif. Kelompok senior mempertegas identitas generasinya sebagai yang tangguh, disiplin, dan pantang menyerah (dengan kata-kata bernada menggurui). Sebaliknya, kelompok junior mempertegas identitasnya sebagai generasi yang menghargai work-life balance, fleksibilitas, dan keadilan (dengan kata-kata sinis seperti “ok boomer”). Giles menyebut ini sebagai divergensi antarkelompok (intergroup divergence). Ketika seseorang merasa identitas kelompoknya terancam atau ingin menonjolkan perbedaan status, ia akan sengaja menjauhkan cara bicaranya dari lawan. Masalahnya, ruang digital dengan anonimitasnya dan minimnya isyarat nonverbal membuat divergensi ini meledak menjadi hujatan, bukan sekadar perbedaan gaya bahasa.

Mengapa Fenomena Ini Aktual dan Berbahaya?

Fenomena ini bukan sekadar “saling ejek” di dunia maya. Ia merembet ke kebijakan nyata dan fragmentasi sosial. Di lingkungan kampus, saya mencatat sejumlah mahasiswa magang yang mengundurkan diri karena merasa “tidak diakomodasi” oleh bos senior yang komunikasinya cenderung imperatif dan langsung. Sebaliknya, banyak atasan senior mengeluh bahwa anak magang “kurang inisiatif” hanya karena mereka tidak membalas pesan dengan cepat atau memilih bertanya lewat chat, bukan tatap muka. Dalam CAT, komunikasi yang baik membutuhkan upaya konvergensi—sesuatu yang rumit di era digital. Agar konvergensi terjadi, seseorang harus menunjukkan usaha untuk meniru gaya komunikasi lawan bicaranya. Bayangkan jika seorang manajer Boomer mau sedikit belajar mengetik “Ok siap pak” dengan stiker lucu, atau jika seorang Gen Z mau sedikit menyesuaikan dengan menelepon orang tua untuk hal-hal genting. Namun yang terjadi justru sebaliknya: masing-masing pihak over-accommodate dengan caranya sendiri yang kaku. Senior menurunkan nada bicara secara berlebihan (dengan bahasa merendahkan), junior pun mengkritik dengan sarkasme. Hasilnya adalah stereotype yang mengeras: “Boomers keras kepala”, “Gen Z pemalas”.

Analisis: Mengapa Kita Malas Berakomodasi?

Howard Giles mengidentifikasi beberapa motif di balik akomodasi, namun ada dua faktor utama penyebab retaknya komunikasi kita saat ini.

Pertama, motif mempertahankan identitas sosial. Di era polarisasi, orang lebih bangga menjadi “orang timur yang sopan” atau “anak muda yang kritis” daripada menjadi komunikator yang adaptif. Di media sosial, menjadi konvergen atau mau menyesuaikan sering dianggap sebagai bentuk “mengalah” atau “lemah”. Sementara divergensi justru mendapat like dan retweet karena dianggap “tegas” dan “memiliki pendirian”.

Kedua, minimnya umpan balik nonverbal. Dalam percakapan tatap muka, jika kita mulai meninggikan suara (divergensi), lawan bicara mungkin akan mengernyit atau mundur selangkah. Umpan balik itu membuat kita reflektif. Di dunia digital, kita tidak melihat raut kecewa atau sedih lawan bicara. Kita hanya membaca teks. Akibatnya, divergensi berlangsung tanpa rem. Komentar “Ok boomer” dibalas “Generasi strawberry” dibalas lagi dengan meme kasar, dan seterusnya. Tidak ada yang merasa perlu mengakomodasi karena tidak ada empati visual.

 Kembali ke Akomodasi Sadar

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Sebagai masyarakat yang hidup di tenght arus informasi super cepat, kita perlu menghidupkan kembali akomodasi komunikasi secara sadar. Bukan berarti kita harus setuju dengan semua orang, tetapi setidaknya kita bisa mengakomodasi aspek gaya sebelum menyampaikan isi pesan. Misalnya, seorang dosen senior (yang khawatir dengan teknologi) bisa memulai diskusi dengan Gen Z: “Saya tahu kalian terbiasa dengan video pendek, jadi coba saya jelaskan teori ini dalam 3 poin visual, ya. Tapi tolong, setelah itu, baca jurnalnya.” Di sisi lain, seorang Gen Z yang berhadapan dengan kolega Boomer bisa memulai chat: “Pak, maaf mengganggu. Bapak lebih nyaman dibalas WA atau telepon langsung? Saya bisa menyesuaikan.” Ini adalah bentuk konvergensi minimal yang meredakan tensi. Dalam CAT, ada konsep atribusi—jika lawan bicara melihat kita berusaha mengakomodasi, mereka akan menilai kita positif (welas asih, cerdas sosial), meskipun hasil akomodasinya belum sempurna. Sebaliknya, jika kita terus melakukan divergensi, mereka akan memberi atribusi negatif: “Dasar arogan.”

Jembatan Bukan Tembok

Teori Komunikasi Akomodasi Howard Giles mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupa: komunikasi bukan hanya tentang kebenaran argumen, tetapi tentang sejauh mana kita bersedia menyesuaikan diri agar pesan kita bisa diterima dengan tenang. Saat ini, di mana ruang publik kita diwarnai oleh hiruk-pikuk tagar dan komentar sinis, kita sedang kehilangan seni berakomodasi. Fenomena bentrok generasi “Gamers vs Boomers” hanyalah satu contoh kecil dari retaknya jembatan empati. Jika kita tidak segera sadar bahwa perbedaan gaya bicara bukan ancaman, maka yang akan runtuh bukan hanya diskusi di kolom komentar, melainkan kohesi sosial kita sendiri. Mari kita coba sekali lagi, untuk tidak reply dengan sarkasme, melainkan dengan kalimat: “Maaf, bisa diulang dengan cara yang berbeda? Saya ingin memahami maksud Bapak/Ibu.” Itulah akomodasi. Itulah cara manusiawi kita berkomunikasi.

Maumere, 2026

  • Penulis: Emanuel Boli Manuk
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini. “Kapan nikah?” Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain. Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang […]

expand_less