Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pembacaan Dekonstruktif Jacques Derrida atas Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis

  • account_circle Zefanya Chrisantya Ningrum
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Zefanya Chrisantya Ningrum, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Dalam kritik sastra konvensional, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis kerap dibaca secara moralitis-religius. Pembacaan umum biasanya menafsitkan cerpen ini sebagai kritik terhadap kesalehan individual yang egois atau kritik terhadap keterbelakangan masyarakat yang melupakan kewajiban duniawi demi ibadah semata. Teks dipandang memiliki pesan moral yang stabil, pasti, dan terpusat.

Namun, teori Dekonstruksi yang digagas oleh filsuf Prancis Jacques Derrida menantang anggapan kestabilan makna tersebut. Derrida mengajarkan bahwa teks sastra tidak pernah memiliki makna tunggal yang utuh. Di balik narasi yang tampak rapi, selalu terdapat retakan, ambivalensi, dan pertentangan internal yang membongkar struktur kebenaran yang dicoba dibangun oleh teks itu sendiri.

Membangun Oposisi Biner untuk Menegaskan Hirarki Nilai

Pada pembacaan awal yang bersifat struktural, cerpen “Robohnya Surau Kami” dikonstruksi melalui beberapa pasangan oposisi biner. Di satu sisi, ada Kakek Garin yang mewakili kesalehan, kebajikan, serta pendedikasian hidup sepenuhnya untuk ibadah ritual di dalam surau. Di sisi lain, ada Ajo Satang dan masyarakat yang mewakili keduniawian, kelalaian, serta orientasi pada materi dan kerja keras.

Hierarki ini mencerminkan apa yang dinamakan Derrida sebagai kecenderungan untuk mencari pusat kebenaran. Dalam kesadaran tokoh Kakek, batas antara yang “suci” dan yang “duniawi” sangat tegas. Kakek menempatkan pengabdiannya di surau sebagai puncak kesalehan yang dominan, sedangkan urusan duniawi dianggap sebagai hal sekunder yang inferior.

Kebajikan yang Diagungkan Ternyata Membatalkan Dirinya Sendiri dari Dalam

Dekonstruksi bekerja bukan dengan merusak teks dari luar, melainkan dengan membiarkan teks membongkar logikanya sendiri melalui penemuan aporia. Dalam cerpen ini, retakan muncul ketika logika kesucian Kakek ditentang dengan sindiran Ajo Satang tentang sosok “Haji Saleh”.

Kakek menganggap dirinya hamba yang paling taat karena beribadah siang dan malam. Namun, kisah Haji Saleh memperlihatkan paradoks orang yang merasa paling taat justru dimasukkan ke dalam neraka karena melalaikan anak dan istrinya serta membiarkan negerinya melarat. Kesalehan ritual yang niat awalnya adalah jalan menuju keagungan, justru berubah menjadi bentuk “keegoisan spiritual”. Di titik ini, kesalehan membatalkan dirinya sendiri.

Selain itu, keberadaan Kakek sebagai “penjaga surau yang suci” ternyata sepenuhnya bergantung pada hal-hal duniawi. Kakek bertahan hidup dari sedekah orang lain yang bekerja di luar surau dan dari pekerjaannya mengasah pisau. Kakek akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau pengasah tersebut—sebuah alat kerja duniawi yang menjadi jejak (trace) hancurnya batas antara kesucian dan dosa besar.

Makna Keadilan dan Kebenaran Moral 

Derrida menegaskan bahwa makna tidak pernah hadir secara utuh pada satu titik akhir. Di akhir cerita, ketika Kakek ditemukan tewas dan surau menjadi roboh, Ajo Satang merespons berita kematian tersebut dengan sangat santai lalu pergi membeli kain kafan, sementara warga lain sibuk memperbincangkan sebab kematiannya.

Teks tidak memberikan jawaban tunggal mengenai siapa yang sebenarnya “salah” atau “roboh”. Apakah yang roboh itu bangunan fisik surau, iman sang Kakek yang rapuh oleh sebuah cerita, ataukah tatanan nilai masyarakat yang tidak peduli lagi pada spiritualitas? Batas antara pembela agama yang sejati dan penceroboh moral menjadi sangat kabur. Makna tentang “keimanan yang sejati” tidak pernah tuntas diberikan oleh teks dan terus ditangguhkan oleh ambivalensi sikap para tokoh.

Dekonstruksi Mengajak Pembaca Menjadi Lebih Kritis Terhadap Narasi Tunggal

Menerapkan teori Dekonstruksi Jacques Derrida terhadap cerpen “Robohnya Surau Kami” memperlihatkan bahwa karya A.A. Navis ini jauh lebih kompleks daripada sekadar khotbah moralitas yang linear.

Melalui dekonstruksi, kita melihat bagaimana teks secara cerdas memperlihatkan kerapuhan konsep-konsep absolut seperti “kesucian” dan “keimanan”. Pembacaan ini tidak bertujuan untuk meniadakan pesan religius cerita, melainkan mengajak kita untuk menyadari bahwa kebenaran dalam teks sastra (maupun dalam realitas sosial) senantiasa terbuka, kaya akan paradoks, dan tidak dapat dimonopoli oleh satu tafsir tunggal.

 

  • Penulis: Zefanya Chrisantya Ningrum
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 366
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Gregorius Nggadung
    • visibility 588
    • 2Komentar

    PERJAMUAN MALAM Tak ada yang kau siapkan lagi Selain roti tawar yang disiram dan mekar Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan Meredam di atas tumpukan buku Lelap di pangkuan tanganmu   Kau tak perlu datang lagi malam ini Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini Di bawah meja perjamuan Kukibarkan kata-kata Sehingga tak ada tulang-tulang […]

  • Membongkar Dominasi dan Kuasa dalam Cerpen Kabut Neraka Karya Danarto: Tinjauan Kajian Sastra Pierre Bourdieu

    Membongkar Dominasi dan Kuasa dalam Cerpen Kabut Neraka Karya Danarto: Tinjauan Kajian Sastra Pierre Bourdieu

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Olivya Permata Agustina
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Oleh: Olivya Permata Agustina, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Karya sastra tidak pernah lahir di ruang hampa yang terlepas dari persoalan sosial dan perebutan kekuasaan. Sebagai seorang maestro sastra yang kerap memadukan unsur sufistik dan eksistensial, Danarto sering kali menyajikan kisah-kisah metafetik yang beririsan tajam dengan realitas dunia nyata. Dalam cerpennya yang berjudul […]

  • Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Agustinus Edy Kristanto
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Oleh: Agustinus Edy Kristanto Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat. Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari. Ada baiknya saya jelaskan begini. Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya […]

  • Ketika Sabda Tuhan Hidup di Halaman SMPSK Kotagoa Boawae

    Ketika Sabda Tuhan Hidup di Halaman SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Semarak Bulan Kitab Suci Nasional 2026 di SMPSK Kotagoa Boawae Boawae, Nagekeo-NTT — Ada suasana yang berbeda di halaman tengah SMPSK Kotagoa Boawae, Nagekeo, pada Senin hingga Rabu, 28–30 September 2026. Biasanya halaman sekolah menjadi tempat siswa bercanda, bermain, atau sekadar melepas penat di sela-sela kegiatan belajar. Namun selama tiga hari itu, halaman sekolah berubah […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

expand_less