Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membongkar Dominasi dan Kuasa dalam Cerpen Kabut Neraka Karya Danarto: Tinjauan Kajian Sastra Pierre Bourdieu

  • account_circle Olivya Permata Agustina
  • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Olivya Permata Agustina, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Karya sastra tidak pernah lahir di ruang hampa yang terlepas dari persoalan sosial dan perebutan kekuasaan. Sebagai seorang maestro sastra yang kerap memadukan unsur sufistik dan eksistensial, Danarto sering kali menyajikan kisah-kisah metafetik yang beririsan tajam dengan realitas dunia nyata. Dalam cerpennya yang berjudul Kabut Neraka, Danarto mengambil latar situasi konflik pascainvasi di Baghdad, Irak. Melalui kemunculan fenomena mistis berupa kabut hitam pekat yang melayang dan menelan apa saja yang melewatinya, Danarto menyuarakan kritik tajam terhadap hegemoni global, militerisme, dan pertikaian sektarian.

Untuk mengupas lapis-lapis ideologi di balik cerita tersebut, pemikiran sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, mengenai strukturasi kekuasaan sangat relevan digunakan. Melalui pendekatan strukturalisme genetik, Bourdieu berupaya menjembatani jurang antara struktur sosial yang objektif dan kebebasan individu atau agen. Dengan menerapkan konsep-konsep kunci Bourdieu seperti ranah, modal, kekerasan simbolik, serta dinamika doksa, ortodoksi, dan heterodoksi, tulisan ini akan membedah bagaimana Kabut Neraka membongkar ketimpangan dan tatanan kekuasaan yang tersembunyi di balik sebuah perang.

Medan Geopolitik Baghdad dan Arena Pertarungan (Field)

Dalam pandangan Bourdieu, masyarakat terbagi ke dalam berbagai ranah, yakni ruang sosial terstruktur tempat para aktor saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya atau modal dan pengaruh. Kota Baghdad dalam cerpen Danarto digambarkan sebagai sebuah ranah geopolitik yang sarat dengan konflik kekuasaan. Berbagai kelompok hadir dengan kepentingannya masing-masing, mulai dari militer Amerika Serikat, kelompok Sunni dan Syiah, para wartawan, hingga kaum ulama. Munculnya Kabut Neraka secara tiba-tiba langsung menguji ulang aturan main di dalam arena tersebut. Situasi perang yang mulanya dikuasai oleh benturan senjata dan perselisihan mazhab mendadak berubah arah, dan fenomena aneh ini memaksa setiap kelompok untuk mendefinisikan ulang keadaan demi keuntungan mereka masing-masing.

Keterbatasan Kekuatan Militer di Hadapan Sisi Absurd

Bourdieu membagi modal menjadi empat bentuk utama, yaitu modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Dalam percaturan global, militer Amerika Serikat memegang penguasaan modal ekonomi serta modal militer dan teknologi yang sangat besar, tampak dari kepemilikan tank, helikopter, panser, hingga kendaraan taktis humpee. Namun, alur cerita Danarto memperlihatkan betapa tak berdayanya kekuatan material tersebut ketika berhadapan dengan misteri alam. Lebih dari 150 unit kendaraan tempur canggih beserta tim riset militer lenyap tanpa sisa saat mencoba menembus kabut, yang menunjukkan bahwa keunggulan militer Barat tidak ada apa-apanya di hadapan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Kekerasan Simbolik dan Pengaburan Realitas (Misrecognition) Perang 

Salah satu gagasan penting Bourdieu adalah kekerasan simbolik, yakni bentuk penindasan yang diterima atau disaksikan begitu saja oleh masyarakat tanpa disadari sebagai sebuah kekerasan karena telah dianggap lumrah atau salah-kenal. Dalam Kabut Neraka, kekerasan simbolik ini tampak jelas pada sikap para tentara Amerika yang memperlakukan zona perang dan penderitaan rakyat Irak bukan sebagai tragedi kemanusiaan, melainkan sebagai tontonan yang mengasyikkan dan ajang taruhan uang. Di sinilah terjadi pengaburan realitas yang masif karena kehancuran kota dan hilangnya nyawa warga sipil direduksi menjadi sekadar hiburan komikal, sehingga imperialisme Barat berhasil menormalisasi penderitaan sesama manusia.

Dinamika Perubahan: Dari Doksa Menuju Perlawanan (Heterodoksi) 

Pergeseran wacana dalam cerpen ini terbagi ke dalam tiga tahap kerangka Bourdieu. Pada mulanya, kekerasan dan kehancuran infrastruktur diterima begitu saja sebagai kewajaran atau risiko mutlak dari sebuah wilayah konflik sebagai wujud doksa. Ketika situasi semakin pelik, kelompok-kelompok yang berkuasa berupaya mempertahankan narasi masing-masing sebagai ortodoksi, di mana golongan Sunni dan Syiah saling tuding dan militer mengisolasi kawasan kabut dengan kawat berduri. Terakhir, kemunculan Kabut Neraka bertindak sebagai bentuk perlawanan simbolik atau heterodoksi yang sukses melumpuhkan kesombongan militer, memaksa penghentian perjudian, memancing investigasi global, hingga mendatangkan gelombang tokoh spiritual dunia termasuk para ulama dan tokoh reformis asal Indonesia.

Melalui cerpen Kabut Neraka, Danarto menyajikan lebih dari sekadar kisah fiksi yang bernuansa magis. Dengan pisau analisis kajian sastra Pierre Bourdieu, terlihat nyata bagaimana teks ini memotret ketimpangan relasi kuasa dalam konflik global serta membuka mata pembaca terhadap kekerasan terselubung di balik imperialisme. Pada akhirnya, cerita ini meruntuhkan keperkasaan modal material sekaligus membuktikan pandangan Bourdieu bahwa karya sastra tidak pernah steril dari konteks sosial, melainkan menjadi sarana penting untuk membongkar ketidakadilan.

 

  • Penulis: Olivya Permata Agustina
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 171
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tenang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tenang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Stefani Kurnia
    • visibility 75
    • 0Komentar

    “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17) Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia pada […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 267
    • 20Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 250
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

expand_less