Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: ๐—”๐—ž๐—จ ๐—•๐—˜๐—•๐—ข

  • account_circle Selo Lamatapo
  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

1/

Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi.

Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu.

“๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข (Pater), selamat pagi.”

Mama Maria Mei, rupanya. Perempuan paruh baya itu menyapa saya sambil tersenyum. Ia bersama tiga umat lain.

“Selamat pagi, Bos,” balas saya sembari menyilakan mereka duduk pada kursi di teras pastoran. Saya amat sering menyapa mereka dengan ‘bos’, ‘mama’, atau ‘bapa’, ‘om’, ‘abang’, ‘no’. Dan mereka sudah tentu membalasnya dengan senyum disusul kalimat, ‘๐˜ข๐˜ช, ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ธ’.

“Perlu apa ow pagi-pagi ๐˜ด๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ-๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜ช?”

“Kami mau ambil surat permandian, ๐˜›๐˜ถ๐˜ข (Pater),” balas Mama Maria pelan. Tangan kanannya meletakkan keranjang di lantai.

Saya tersenyum, menjawab ‘oh’ panjang, kemudian mengajak mereka ke kantor paroki untuk urusan tersebut.

2/

Hari Rabu adalah hari pasar Detukeli. Umat separoki Detukeli berbelanja dan mendagangkan hasil kebun, barang-barang kios, hasil tenun, juga menawarkan jasa angkat barang-barang. Para pedagang dari Ende, Manggarai, Wolowaru, Maurole, biasanya datang pula untuk berjualan.

Umat berdatangan dari stasi-stasi yang jauh, yang dibatasi bukit, lembah, kali, dan hutan luas. Karena itu, mereka memanfaatkan pula kesempatan hari Rabu untuk mengambil surat-surat di kantor paroki, menyerahkan iuran-iuran, dan aneka urusan lain di paroki.

Kebetulan, pasar Detukeli berdekatan dengan pastoran. Jadi, hitung-hitung, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampau; sekali pergi, dua-tiga kebutuhan terpenuhi.

Dengan begitu, pastoran paroki Detukeli lumayan ramai tiap Rabu. Biasanya, saya bantu melayani mereka yang hendak mengambil surat-surat. Umumnya, mereka meminta surat baptis untuk urusan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, dan urusan lain. Melayani mereka, saya merasa terpanggil untuk mendengarkan sepenuh hati dan sesabar-sabarnya.

Untuk urusan surat baptis, saya perlu mengetahui nama lengkap, tempat kelahiran, tahun kelahiran, tahun baptis, dan tempat baptis. Oleh karena sudah sering melayani mereka, saya menemukan dua kenyataan:

๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, generasi muda โ€“ kelahiran 1990-an hingga 2000-an โ€“ pada umumnya mengingat secara baik tahun lahir dan tahun baptis mereka maupun anak-anak mereka. Hal itu memudahkan saya menemukan data baptis mereka secara manual pada buku-buku permandian. Maklum, paroki tua yang akan memasuki usia intan ini menyimpan data-data permandian secara tertulis pada buku.

๐˜’๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข, generasi tua โ€“ kelahiran tahun 1940-an hingga 1970-an โ€“ tidak mengingat sama sekali tahun lahir, apalagi tahun baptis. Mereka hanya menyebut nama lengkap, kemudian mulai menebak-nebak: “๐˜ˆ๐˜ช, ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ ๐˜ฏ๐˜ข (Pater, saya tidak tahu).” Ini kalimat pembuka dan akan disusul dengan jawaban lain, “Pater, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang.” Deretan jawaban ini diakhiri dengan senyum-senyum tulus, namun lumayan buat saya pusing.

Tiap kali mendengar jawaban-jawaban itu, saya menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada lemari penuh buku permandian, dan berkata pelan, “Bapa/Mama/Kaka/Bos ๐˜ฆ๐˜ธ, coba toleh lihat lemari sana. Buku-buku banyak begitu ๐˜ต๐˜ถ kalau ๐˜ต๐˜ช ingat tahun lahir atau tahun baptis, maka kita cari ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ sore.”

Mereka tak berkomentar, hanya tersenyum tanpa salah. Senyum mereka itu semacam air: teduh dan lumayan menenangkan hati saya yang mulai marah. Setelahnya, saya menarik napas panjang dan mulai mencari data mereka perlahan-lahan. Pencarian ini bermodalkan tahun tebak-tebakan yang mereka utarakan.

3/

Pada mulanya, saya merasa biasa perihal pengalaman tebak-tebak umur itu. Perasaan saya mulai terganggu ketika semakin sering saya mengalami pengalaman yang sama. Saya menganggap pengalaman ini perlu direnungkan dan bila mungkin dapat digali lebih jauh.

Karena itu, tiap kali usai melayani mereka, saya bersandar pada kursi kantor, memandang keluar jendela, dan bertanya pada diri sendiri, kenapa mereka lupa bahkan tidak mengetahui secara persis tahun kelahiran mereka? Sebegitu pentingkah mengingat tahun kelahiran? Kenapa?

Saya bertolak pada jawaban-jawaban mereka untuk bermenung diri.

๐™‹๐™š๐™ง๐™ฉ๐™–๐™ข๐™–, ‘๐™–๐™ ๐™ช ๐™—๐™š๐™—๐™ค, ๐™จ๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช.’

Secara sederhana, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ menegaskan bahwa manusia tidak melulu mengetahui segala hal, serentak ia (manusia) pun tak pernah tuntas dipahami.

Dalam hubungan dengan tak mengetahui segala hal, manusia kerap bertanya dan mencari. Para penyair melukiskan situasi-situasi itu dalam syair-syair penuh makna.

Goenawan Mohamad, misalnya, menulis sajak pendek sarat makna berjudul ๐˜‹๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ต, mempertanyakan kebahagiaan. Saya kutip lengkap puisinya.

 

๐˜‹๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ต

๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ

๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ

๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ,

๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข

๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ

๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข

๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข?

Lain halnya Leo Kleden. Secara lebih jauh, ia melukiskan pengembaraan seorang anak manusia mencari tahu nama Dia, Cahaya Mahacahaya, Sosok Sunyi, yakni Tuhan, dalam sajak panjang ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.

Leo melukiskan pengembaraan dan pencarian nama itu bermula pada suatu pagi dari musim yang sudah ia lupa. Ia ‘ngembara tanpa alamat berbekalkan pertanyaan-pertanyaan. Adakah mereka yang dijumpai (si tua bijaksana, anak-anak di tepi pantai, sepasang anak muda, seorang filsuf, nabi, pendeta di gereja, ahli kitab, penyair, pertapa, para fakir miskin) mengenal nama itu?

Di akhir sajak itu, Leo menggambarkan akhir dari pengembaraan dan pencariannya.

๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ โ€“ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข: ๐˜– ๐˜Š๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข, ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ค๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ.

Goenawan Mohamad dan Leo Kleden telah menampilkan identitas manusia sebagai makhluk yang tak melulu mengetahui segala hal, yang terus-menerus mencari dan bertanya. Beberapa tanya tak sempat dijawab, mengambang dan dipermainkan anak sungai, lainnya sia-sia. Beberapa yang lain mendapat jawab.

Apa pun itu, hidup menghadapkan anak-anak manusia pada pilihan-pilihan: maju-mundur, jatuh-bangun, diterima-dicampakkan, dan ragam pilihan lain. Siapa pun dia, pilihan-pilihan itu menghantar kita pada kenyataan lain bahwa ia (manusia) tak pernah tuntas dipahami. Sebab, setiap orang, tulis Herman Hesse, berada dalam kesunyiannya masing-masing. Dengan lebih puitis, Chairil Anwar menambahkan, nasib adalah kesunyiaan masing-masing.

Dengan demikian, jawaban ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ menyingkap sisi lain manusia sebagai makhluk sunyi, penuh misteri. Ia hidup, mencari, bertanya, dan menyimpan segalanya: yang penting dan yang tak penting sekalipun, termasuk pentingkah mengingat angka-angka tahun lahir itu?

Tidak penting mengingat itu semua. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ menyadarkan manusia tentang pencarian-pencarian, tak melulu soal mengingat apalagi menghitung angka-angka yang menandai usia panjang atau pendek. Tak selalu tentang itu. Sebab usia lanjut, sebagaimana tertuang dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo, adalah terhormat bukan karena waktunya panjang dan bukan karena tahunnya berjumlah banyak, melainkan hidup tak bercela, (Bdk. Keb. 4:8-9).

Maka, boleh jadi, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ sedang mengingatkan manusia, bahwa hidup adalah soal sejauh mana engkau berguna bagi orang lain, bukan hanya soal lama atau singkat engkau ada di bumi. Jadi, yang ditanyakan adalah ๐˜ฌ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ถ buat apa selama ini? Bukan sekadar, ๐˜ฌ๐˜ฐ ๐˜ฑ๐˜ถ umur berapa?

Pertanyaan itu menjelma dalam pencarian-pencarian. Hingga di suatu hari nanti, entah pagi, entah siang, entah malam, entah musim kemarau atau musim hujan, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba pada pencarianmu. Di titik itu, manusia memahami arti hidup.

๐™†๐™š๐™™๐™ช๐™–, ‘๐™–๐™ ๐™ช ๐™ก๐™–๐™๐™ž๐™ง ๐™ฌ๐™–๐™ ๐™ฉ๐™ช ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™ข๐™ช๐™จ๐™ž๐™ข ๐™๐™ช๐™Ÿ๐™–๐™ฃ, ๐™ฌ๐™–๐™ ๐™ฉ๐™ช ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™—๐™ช๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ.’

Sebagai lanjutan dari jawaban ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ, jawaban ini menampilkan manusia sebagai sosok yang dapat mengingat segala pengalaman paling dekat dengannya dan segala kebiasaan yang diulang-ulang. Itulah alasan seseorang kerap meratap berlarut-larut lantaran luka kehilangan, atau seorang tampak begitu riang mendapat balasan cinta. Demikian pun dalam konteks jawaban ini, musim hujan, bulan terang, kemarau panjang, musim panen, itu semua dianggap penting dan mendapat tempat dalam ingatan serta melekat erat dalam hati.

Di sisi lain, secara tidak langsung, jawaban itu pun menandaskan bahwa mereka tampak begitu akrab dan dekat dengan alam. Dan saya dapat langsung menebak bahwa mereka ini adalah orang-orang yang membaktikan hidup mereka sebagai petani. Dengan kata lain, kita dapat mengenal orang dari kebiasaan-kebiasaannya.

Lalu?

Musim hujan, musim kemarau, bulan terang, bulan gelap sebagai kenyataan yang diingat, membawa saya pada pemahaman bahwa hidup mereka hanya tentang ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆ-๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข, siang-malam (hari), ada hasil-tidak ada hasil (kerja). Siang kerja, malam istirahat; begitu berulang-ulang. Ada hasil atau tidak ada hasil adalah buah pengorbanan (kerja). Jadi, apa pentingnya mengingat angka-angka itu?

Mereka terbangun di pagi hari, menyiapkan segalanya, membaktikan diri dalam kerja, kemudian pergi istirahat di malam hari. Esoknya, mereka mengulangi lagi siklus yang sama. Itu yang melekat kuat dalam diri mereka, sehingga di kemudian hari bila ditanya, mereka menjawab pelan, aku lahir waktu itu musim hujan, waktu itu bulan terang. Begitu sederhana, penuh kejujuran.

Albert Camus, Filsuf Prancis, pernah mengkhawatirkan siklus/rutinitas/kebiasaan hidup seperti itu. Kebiasaan yang sama yang diulang-ulang, kata Camus, dapat menimbulkan kejenuhan. Terbangun di pagi hari, menyiapkan diri untuk kerja/aktivitas, pulang di sore hari, lakukan aktivitas rumah, makan, tidur di malam hari, kemudian esoknya, ulangi lagi hal yang sama. Begitu berulang-ulang tiap hari.

Bagi Camus, ketika manusia dipenuhi kejenuhan karena tidak sungguh memahami makna hidup dari setiap rutinitas berulang-ulang itu, ditambah lagi segala keinginan manusia untuk memahami semuanya tapi tidak sungguh terjawab secara seluruh, maka manusia tak sungkan-sungkan mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri. Camus tak menyarankan engkau melakukan cara keji itu, melainkan memintamu untuk tetap mendorong ‘batu kebiasaanmu itu’ dengan kesadaran bahwa hidupmu jauh lebih berguna dan engkau sendiri yang berhak atas hidupmu.

Dalam pengalaman saya, umat paroki Detukeli tak pernah senaif itu. Siklus, rutinitas, kebiasaan-kebiasaan itu dipandang sebagai bagian dari hidup. ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆ-๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข, terang-gelap, adalah warna hidup. Bahwasanya, hidup tak selalu terang, juga tidak senantiasa gelap. Mereka tetap tumbuh dalam dua warna itu, ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฆ-๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข, di siang hari maupun di malam hari, juga di musim hujan dan kemarau sekalipun.

Dengan demikian, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ dan lanjutannya ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, sama-sama menegaskan perihal hidup. Bahwa, hidup adalah tentang sejauh mana engkau berguna bagi dirimu, sesamamu, dan Dia Yang Mahasuci yang dikenal sebagai Tuhan. Selebihnya adalah tambahan, termasuk mengingat deretan angka-angka yang ditemukan jauh sebelum mereka lahir. Dan itu tidak terlalu penting bagi mereka yang menjawab ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.

4/

Di kantor, Rabu itu, Mama Maria duduk di hadapan saya. Ia mengambil surat baptis miliknya dan milik suaminya. Umat yang lain duduk di bangku kantor bersandar pada dinding, lainnya menikmati udara pagi di halaman pastoran.

“Mama ๐˜ฑ๐˜ถ nama lengkap?”

Ia menyebut namanya dan saya menulis pada kertas.

“Ingat tahun baptis ๐˜ฌ๐˜ข, Mama?”

Ia tersenyum.

“Tahun lahir?”

Senyuman itu makin melebar.

“๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฐ, ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข.”

Saya tersenyum, kami sama-sama tersenyum.*

 

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช, ๐˜‘๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช 2023

 

Selo Lamatapo, Pastor SVD yang sedang bermisi di Amzon.

  • Penulis: Selo Lamatapo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 187
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Oleh:ย Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.ย  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang โ€œBaku Rapatโ€ Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang โ€œBaku Rapatโ€ Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 146
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang โ€œBaku Rapatโ€ Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: โ€œKasihilah seorang akan yang lainโ€. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 450
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,ย  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

expand_less