Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur
- account_circle Agustinus Naisoko
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Esai Memori Kolektif Tragedi Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, 28 September 2018
Oleh: Agustinus Naisoko, Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma
Senja di Teluk
Sore itu, 28 September 2018, Palu tampak seperti sore-sore lain yang biasa dilewati orang Palu. Matahari condong ke barat, cahayanya jatuh keemasan di permukaan Teluk, dan angin laut membawa bau asin yang sudah dikenal setiap orang sejak kecil. Di sepanjang pantai Talise, para pedagang menata lapak dan panggung dipasang untuk Festival Palu Nomoni. Nomoni, dalam bahasa Kaili, kira-kira berarti berbunyi. Kota ini memang sedang bersiap untuk berbunyi, untuk bernyanyi, menari, dan merayakan ulang tahunnya yang ke-40.
Di tempat lain, hidup berjalan dengan kesibukannya sendiri. Di Balaroa dan Petobo, para ibu menyiapkan makan malam. Anak-anak berlarian di gang sempit sebelum dipanggil masuk untuk bersiap ke musala. Para ayah baru sampai di rumah dari kerja, melepas sepatu, dan duduk sebentar. Siang tadi memang sempat terasa guncangan, dan orang-orang menanggapinya sebagaimana mereka menanggapi gempa-gempa sebelumnya: dengan terkejut sebentar, lalu tertawa kecil, lalu lupa. Tanah di Palu sudah terlalu sering bergetar untuk dianggap sebagai pertanda.
Pukul 18.02 WITA, getaran itu datang lagi, tetapi kali ini ia tidak berhenti dan tidak mau dilupakan.
Orang-orang yang selamat sulit menjelaskan bagaimana rasanya. Lantai tidak sekadar bergoyang, ia bergulung seperti kain yang dikibaskan. Berdiri menjadi mustahil. Dinding retak, genteng berjatuhan, dan di mana-mana terdengar suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya, campuran gemuruh, kaca pecah, dan teriakan yang saling bertumpuk. Listrik padam seketika. Dalam gelap, orang-orang meraba-raba mencari anak, mencari orang tua, mencari pintu. Beberapa detik terasa seperti seluruh umur. Ketika guncangan reda, Sesar Palu-Koro, yang telah bergeser di bawah mereka dengan kekuatan Magnitudo 7,4 pada kedalaman sekitar sepuluh kilometer, telah mengubah kota itu menjadi tempat yang tidak lagi mereka kenali.
Laut yang Datang, Tanah yang Berjalan
Banyak yang mengira yang terburuk sudah lewat. Mereka keluar rumah, berkumpul di jalan, saling bertanya apakah semua selamat. Di pesisir, orang-orang yang tadinya sedang menikmati senja berdiri kebingungan di antara panggung yang miring dan tenda yang roboh. Tidak ada sirene yang meraung. Listrik mati, sinyal lenyap, dan hanya naluri yang tersisa.
Lalu terdengar sesuatu dari arah laut, bunyi yang oleh sebagian penyintas disebut seperti kereta yang melaju tanpa rel. Teluk Palu, yang selama ini dikenal tenang, menyempit di ujungnya, dan bentuk itulah yang kemudian mengubah laut menjadi dinding air. Di Talise, di Tondo, di sepanjang garis pantai yang tadinya ramai, gelombang naik begitu cepat sehingga hanya mereka yang sudah berlari yang punya kesempatan. Di Tondo, tinggi air kemudian tercatat mencapai 11,3 meter. Jembatan Ponulele, jembatan kuning yang menjadi kebanggaan kota, patah dan roboh. Rumah-rumah di tepi pantai dilipat dan dibawa pergi. Mereka yang selamat bercerita tentang memanjat apa saja yang bisa dipanjat: atap, pohon, tiang, tubuh sesama.
Namun malam itu, di bagian lain kota, kematian datang dengan wajah yang berbeda dan lebih aneh. Di Balaroa, di Petobo, di Jono Oge, bukan air yang menyerang melainkan tanah. Tanah yang selama ini menjadi tempat rumah berdiri, yang dipijak anak-anak bermain bola, tiba-tiba melunak, lalu bergerak. Orang-orang menceritakannya dengan kalimat yang nyaris sama: rumah berjalan, jalan terbelah, tanah naik seperti ombak, lalu menarik ke bawah. Hamparan perumahan bergeser ratusan meter, menggeser tembok, pohon, dan orang-orang di dalamnya seolah ada tangan raksasa yang menyeret karpet dari bawah mereka. Mereka yang terjebak dalam lumpur sering kali hanya bisa mendengar suara orang yang mereka cintai memanggil dari jarak yang tidak mungkin dicapai.
Orang Kaili punya kata untuk peristiwa itu, dan kata itu sudah ada jauh sebelum malam itu. Nalodo, tanah yang membenam dan menelan. Selama bertahun-tahun ia hanya cerita dari kakek-nenek, nyaris menjadi dongeng. Malam itu dongeng itu berubah menjadi kenyataan, di bawah kaki orang-orang yang tidak pernah diajari untuk mempercayainya.
Malam yang Tak Berujung
Malam itu berlangsung lama sekali. Orang-orang yang selamat berkumpul di tanah lapang, di lereng bukit, di halaman masjid yang masih berdiri, di mana saja yang terasa jauh dari gedung dan jauh dari laut. Mereka duduk berdesakan dalam gelap, basah dan penuh lumpur, banyak yang tanpa alas kaki. Setiap beberapa menit tanah bergetar lagi, gempa susulan yang membuat seisi kerumunan serentak berteriak, lalu terdiam, lalu saling mencari tangan.
Ponsel yang masih menyala dipakai sebagai senter, tetapi tidak ada yang bisa dihubungi. Satu-satunya cara mencari keluarga adalah memanggil nama mereka keras-keras. Malam itu Palu penuh dengan suara orang memanggil: nama anak, nama istri, nama adik, nama tetangga. Ada yang dijawab, dan tangis pecah di tempat itu. Ada yang tidak dijawab, dan panggilan itu terus diulang sampai suara habis, kemudian diulang lagi dengan bisikan.
Seorang ibu yang selamat, sebagaimana banyak ibu lain yang pernah menuturkan hal serupa, mungkin hanya akan ingat satu hal dari malam itu: ia berhasil menggendong dua anaknya, tetapi tidak bisa menjangkau yang ketiga. Ia tidak akan lupa bagaimana tangan kecil itu terlepas dari genggamannya. Sejak itu, setiap kali ia melihat anak seusia itu berlari di jalan, dadanya menyempit.
Ponsel yang masih menyala dipakai sebagai senter, tetapi tidak ada yang bisa dihubungi. Satu-satunya cara mencari keluarga adalah memanggil nama mereka keras-keras. Malam itu Palu penuh dengan suara orang memanggil: nama anak, nama istri, nama adik, nama tetangga. Ada yang dijawab, dan tangis pecah di tempat itu. Ada yang tidak dijawab, dan panggilan itu terus diulang sampai suara habis, kemudian diulang lagi dengan bisikan.
Seorang ibu yang selamat, sebagaimana banyak ibu lain yang pernah menuturkan hal serupa, mungkin hanya akan ingat satu hal dari malam itu: ia berhasil menggendong dua anaknya, tetapi tidak bisa menjangkau yang ketiga. Ia tidak akan lupa bagaimana tangan kecil itu terlepas dari genggamannya. Sejak itu, setiap kali ia melihat anak seusia itu berlari di jalan, dadanya menyempit.
Pagi dan Nama-nama yang Dipanggil
Ketika fajar menyingkap Palu, kota itu tidak lagi seperti dalam ingatan. Pantai penuh puing, jalan retak dan miring, bangunan-bangunan besar runtuh. Hotel Roa Roa rebah, pusat-pusat perbelanjaan lumpuh. Bandara Mutiara SIS Al-Jufri rusak, Pelabuhan Pantoloan porak-poranda. Di Balaroa dan Petobo, tempat yang kemarin berisi ratusan rumah kini hanya hamparan lumpur bercampur atap, kasur, sepeda, dan perabot yang tersangkut tanpa urutan.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari pencarian. Orang-orang menyusuri reruntuhan dengan tangan kosong, dengan cangkul, dengan apa saja. Mereka tidak menunggu alat berat, karena orang yang mereka cari mungkin masih bernapas di bawah sana. Para tetangga yang kehilangan rumah ikut menggali rumah orang lain. Banyak yang menemukan apa yang mereka cari, banyak pula yang tidak, dan ketidakpastian itu menjadi luka tersendiri.
Kita sering menyebut bantuan datang dari mana-mana, dan itu benar. Tetapi sebelum bantuan itu tiba, ada hari-hari panjang ketika orang Palu menolong sesamanya dengan apa yang mereka punya. Segelas air dibagi berdua. Sebungkus mi dipecah untuk lima mulut. Warga yang rumahnya masih utuh membuka pintu bagi siapa saja yang tidak punya atap. Antrean panjang mengular di depan pompa bensin dan di titik-titik pembagian air. Rasa lapar dan haus menjadi teman sehari-hari, tetapi sebagian besar orang tetap saling menjaga. Dalam kepanikan yang paling gelap, banyak yang justru menemukan bahwa mereka masih memiliki satu sama lain.
Di Bawah Tenda
Ratusan ribu orang tinggal di tenda dan hunian darurat. Di sana kehidupan berjalan dengan cara yang sama sekali baru: tidur berdesakan di atas terpal, memasak di dapur umum, mengantre mandi, saling meminjam pakaian. Anak-anak yang kehilangan sekolah bermain di antara tali tenda. Para orang tua duduk di depan pintu terpal, memandang jauh ke arah yang sama, dan jarang bicara.
Ketakutan tidak ikut pergi bersama puing. Ia pindah ke tubuh. Bunyi truk yang melintas membuat orang melonjak, mengira bumi bergetar lagi. Suara hujan di atap seng, yang dulu menenangkan, berubah menjadi sesuatu yang membuat dada berdebar. Banyak orang tidak berani lagi tidur di dalam rumah, bahkan di rumah yang tidak rusak, dan lebih memilih tidur di halaman, dengan pintu terbuka dan sandal diletakkan di samping bantal. Anak-anak yang biasanya riang tiba-tiba menangis setiap kali lantai bergetar sedikit, atau menolak melepaskan tangan ibunya sama sekali. Para dokter menyebutnya trauma. Orang Palu menyebutnya takut yang belum selesai.
Dan di tengah semua itu, ada doa. Azan tetap berkumandang di tenda-tenda, kadang dari pengeras suara yang suaranya parau, kadang tanpa pengeras suara sama sekali. Zikir dilantunkan bersama-sama, tahlil dibaca untuk yang tidak sempat dimakamkan dengan layak. Orang-orang yang kehilangan hampir segalanya masih berdiri untuk salat, dan di dalam kesedihan yang paling dalam, mereka masih mengucap syukur karena masih ada yang selamat. Iman mereka tidak membuat duka itu hilang, tetapi memberi tempat bagi duka itu untuk dipikul bersama.
Duka yang Tak Punya Nisan
Ada kehilangan yang bisa ditangisi di depan makam, dan ada kehilangan yang tidak punya tempat untuk dikunjungi. Banyak korban dimakamkan bersama-sama di pemakaman massal, sebelum keluarga sempat mengenali, sebelum sempat mengucapkan perpisahan yang pantas. Banyak lagi yang tidak pernah ditemukan, tertimbun dalam tanah yang kini ditumbuhi rumput.
Bagi keluarga mereka, kehilangan itu terus berlangsung dalam bentuk-bentuk kecil yang tidak terlihat orang lain. Seorang ayah masih menyimpan pesan terakhir anaknya di ponsel dan membacanya ulang setiap malam. Seorang istri masih tanpa sadar menyiapkan dua cangkir kopi. Seorang anak yang kini yatim masih menoleh ke pintu setiap sore, menunggu langkah yang tak akan datang lagi. Rumah yang hilang bukan sekadar bangunan, melainkan seluruh kenangan yang dulu tersimpan di dalamnya: foto pernikahan, ijazah, mainan pertama, kursi tempat nenek biasa duduk. Harta bisa dihitung, tetapi yang hilang jauh lebih banyak dari yang bisa dihitung.
Beginilah kehilangan bekerja: ia tidak selesai pada hari kejadian. Ia datang lagi pada hari ulang tahun yang tidak dirayakan, pada hari raya yang terasa sepi, pada setiap 28 September ketika jam seolah berputar kembali ke pukul 18.02.
Tetap Tinggal
Setelah bencana, sebagian orang memilih pergi. Mereka pindah ke kota lain, ke rumah saudara di seberang pulau, dan itu pilihan yang bisa dimengerti. Siapa yang akan menyalahkan orang yang ingin menjauh dari tempat yang pernah merenggut segalanya?
Tetapi banyak pula yang memilih tinggal, bahkan kembali. Ada orang yang berkali-kali datang ke bekas rumahnya di Balaroa atau Petobo, hanya untuk berdiri di tepi tanah yang kini bukan lagi tanah miliknya, lalu berdoa dalam diam. Ada yang membangun lagi di atas puing, ada yang menunggu dengan sabar di hunian sementara sampai hunian tetap tersedia. Ada yang berkata, dengan sederhana, bahwa mereka tidak bisa hidup jauh dari teluk, dari lembah yang dikelilingi pegunungan, dari bau tanah dan laut yang sudah menjadi bagian dari tubuh mereka.
Cinta itu mungkin sulit dipahami oleh orang yang tidak pernah kehilangan tempat asalnya. Bagaimana mungkin seseorang mencintai tanah yang pernah menelan keluarganya, dan laut yang pernah menyapu rumahnya? Jawabannya mungkin sederhana: tanah itu juga yang melahirkan mereka, menumbuhkan padi dan kelapa yang menghidupi mereka, dan menyimpan makam leluhur mereka. Mencintai Palu, Donggala, dan Sigi tidak berarti menyangkal bahaya yang ada. Ia berarti tetap memilih tinggal, tetapi kali ini dengan mata yang lebih terbuka.
Nalodo
Hari ini Palu telah bergerak maju. Jalan-jalan kembali ramai, pantai dikunjungi lagi, dan anak-anak yang dulu menangis setiap kali lantai bergetar kini sudah tumbuh. Pembangunan berjalan, dan itu patut disyukuri.
Namun di bawah keramaian itu ada sesuatu yang tidak ikut dikubur, yaitu ingatan. Ia hidup dalam kebiasaan: dalam cara orang melirik ke tanah ketika lantai berderak, dalam cerita yang dituturkan di dapur dan di tepi jalan, dalam doa tahunan di dekat tanah yang pernah berjalan. Ia hidup dalam kata yang dahulu nyaris terlupa. Kini setiap anak Palu tahu apa arti nalodo, dan mereka mengetahuinya bukan dari dongeng, melainkan dari kehilangan.
Ingatan seperti ini bukan hanya duka, melainkan juga warisan. Ia mengajarkan bahwa tanah dan laut punya wataknya sendiri, bahwa kearifan leluhur bukan sekadar takhayul, dan bahwa pengetahuan yang dibayar mahal tidak boleh dibiarkan menjadi dongeng lagi. Ia juga mengingatkan bahwa pada saat yang paling gelap, orang-orang Palu tidak membiarkan sesamanya sendirian.
Maka ketika kita menyebut nama Balaroa, Petobo, Jono Oge, Talise, Tondo, Donggala, dan Sigi, kita sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sangat sederhana dan sangat penting: kita sedang memanggil mereka yang tidak sempat dijawab. Tanah boleh menelan rumah mereka, laut boleh menyapu pantai mereka, dan waktu boleh terus berjalan. Tetapi selama masih ada yang bercerita, mengingat, dan belajar, nalodo tidak akan sempat menelan ingatan tentang mereka.
- Penulis: Agustinus Naisoko
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar