Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa
- account_circle Julianti Monalisa
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Julianti Monalisa
Bertumbuh dari Sebuah Perpisahan
Ibu saya lahir pada 17 April 1979 di Pekalongan, Jawa Tengah. Delapan tahun pertama hidupnya ia habiskan di sana, di tengah keluarga dan terutama nenek yang sangat dekat dengannya. Kedekatan itu bukan sekadar cerita yang saya dengar setelah dewasa. Bagi ibu, nenek adalah tempat ia merasa nyaman. Karena itu, ketika sebuah kabar datang bahwa keluarganya akan mengikuti program transmigrasi, yang pertama kali ada dalam pikirannya bukan tentang tempat baru, melainkan tentang siapa yang harus ia tinggalkan.
Kabar itu disampaikan oleh ibunya sendiri. Ibu diberi tahu bahwa mereka harus meninggalkan Pekalongan dan pergi ke Kalimantan. Mendengar hal itu, ibu kecil langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia tidak mau pergi jika harus berpisah dengan nenek. Kepergian yang bagi orang dewasa mungkin menjadi jalan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, bagi seorang anak berusia delapan tahun berarti harus meninggalkan orang yang paling ia sayangi.
Tahun 1987 akhirnya menjadi tahun keberangkatan itu. Hari ketika keluarga berkumpul untuk mengantar justru dipenuhi tangisan. Ibu menangis sejadi-jadinya sambil terus menggenggam nenek. Tangannya tidak ingin lepas. Orang-orang yang datang mengantar pun ikut larut dalam suasana ketika melihat ibu yang tidak berhenti menangis.
Di antara tangisan itu, nenek memberikan satu pesan yang kemudian terus melekat dalam ingatan ibu.
“Kelak harus pulang lagi ke Pekalongan untuk menemui nenek.”
Setelah itu, ibu berangkat bersama keluarganya. Mereka menuju Kalimantan menggunakan kapal. Sepanjang perjalanan, ibu hanya menangis. Ia tidak banyak berbicara kepada orang tua maupun saudara-saudaranya. Bahkan makanan pun tidak disentuh. Sejak berpisah dengan nenek, ibu menjadi mogok makan.
Ketika sampai di Sintang, Kalimantan Barat, keluarga ibu untuk sementara tinggal di sebuah kontrakan sambil menunggu tempat tinggal mereka selesai dibangun di Melawi. Tempat itu menjadi rumah baru bagi keluarga, tetapi belum menjadi rumah bagi hati ibu. Malam-malam masih diisi dengan tangisan. Pekalongan dan nenek tetap berada dalam pikirannya. Bahkan ketika ibu sudah mulai bekerja, rasa rindu itu belum benar-benar hilang.
Dari Rindu Menuju Kehidupan Baru
Waktu perlahan membawa ibu mengenal kehidupan di Kalimantan. Ia mulai bersekolah, tumbuh dewasa, kemudian bekerja. Tempat yang dahulu terasa asing akhirnya menjadi tempat ibu menjalani sebagian besar hidupnya. Dari tanah perantauan itulah ibu kemudian bertemu dengan seorang laki-laki bernama Agustinus, yang berasal dari Sintang.
Pertemuan itu membawa ibu pada perjalanan baru. Keduanya kemudian menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah. Namun, ada satu perbedaan yang harus mereka hadapi: agama. Pada waktu itu, ibu yang bernama Kustiani beragama Islam, sedangkan Agustinus berasal dari keluarga Katolik.
Setelah menikah, Agustinus mengikuti agama ibu. Namanya kemudian berubah menjadi Agus Salim. Mereka menjalani kehidupan sebagai pasangan dan membangun keluarga. Akan tetapi, kehidupan membawa mereka kembali mendekat pada keluarga bapak di Sintang yang berada dalam lingkungan Katolik.
Di lingkungan tersebut, ibu kembali berkenalan dengan kehidupan Katolik. Dari apa yang ia lihat dan jalani sehari-hari, muncul ketertarikan untuk kembali kepada agama Katolik. Keputusan itu tidak datang karena paksaan. Ibu sendiri yang merasakan keinginan tersebut. Bapak pun kemudian kembali menjadi Katolik.
Saat dibaptis di gereja, pastor memberikan nama baru kepada ibu: Kusmiyati Maria Paskalia. Nama Kustiani yang sebelumnya digunakan dalam kehidupan Islam kemudian menjadi bagian dari masa lalu. Bapak pun kembali menggunakan nama Agustinus, nama yang sebelumnya ia miliki sebelum menjadi Agus Salim.
Perubahan itu bukan sekadar perubahan nama. Ada perjalanan panjang yang berada di baliknya. Nama-nama tersebut seperti menjadi tanda dari tahap-tahap kehidupan yang pernah ibu dan bapak lewati bersama.
Empat Anak dan Sebuah Harapan
Setelah menjalani berbagai perubahan dalam hidup, ibu dan bapak membangun keluarga dengan empat orang anak: dua perempuan dan dua laki-laki. Mereka bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi. Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka berhenti berharap agar anak-anaknya dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Harapan itu mereka wujudkan dengan menyekolahkan keempat anaknya. Satu demi satu anak mereka diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Bagi ibu dan bapak, pendidikan anak menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan meskipun mereka sendiri tidak pernah merasakan pendidikan tinggi seperti yang kini dijalani anak-anaknya.
Anak ketiga mereka adalah saya, Julianti Monalisa. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sejarah dan harus menjalani kuliah jauh dari rumah. Ketika saya berada di tempat yang jauh, saya menyadari bahwa perjalanan saya menuju bangku kuliah tidak hanya dibangun oleh usaha saya sendiri. Ada dua orang di rumah yang sejak awal berusaha membuka jalan agar anak-anak mereka dapat belajar sejauh mungkin.
Saya membayangkan kembali perjalanan ibu sejak kecil. Seorang anak perempuan yang dahulu menangis di pelabuhan karena tangannya harus terlepas dari genggaman neneknya, kini telah melewati perjalanan yang begitu panjang. Ia pernah meninggalkan Pekalongan, tinggal di Sintang, menunggu rumah di Melawi, bekerja, bertemu bapak, membangun keluarga, dan membesarkan empat anak.
Hari ini, salah satu anaknya sedang duduk di bangku kuliah jauh dari rumah.
Mungkin ibu tidak pernah membayangkan bahwa keputusan untuk pergi dari Pekalongan pada tahun 1987 akan membawa hidupnya sejauh ini. Namun, perjalanan itu terus berjalan. Pesan nenek agar suatu hari pulang ke Pekalongan tetap menjadi bagian dari cerita yang dibawa ibu sejak kecil.
Bagi saya, kisah ibu bukan hanya tentang seorang perempuan yang pernah meninggalkan kampung halaman. Kisah itu tentang tangan seorang anak yang dulu enggan melepaskan genggaman neneknya, lalu perlahan belajar menggenggam kehidupannya sendiri. Dari Pekalongan menuju Kalimantan, dari seorang anak menjadi seorang ibu, dan dari sebuah keluarga sederhana menuju harapan agar anak-anaknya dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Ada satu hal yang selalu saya ingat dari kisah perjalanan keluarga kami: terkadang, kita memang harus meninggalkan sesuatu yang sangat kita cintai untuk menemukan jalan kehidupan yang baru. Perpisahan tidak selalu menjadi akhir. Bisa jadi, dari sanalah sebuah perjalanan panjang justru dimulai.
- Penulis: Julianti Monalisa
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar