Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting
- account_circle Wicaksono
- calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya diperlakukan seperti acara ramah-tamah setelah pemakaman.
Dua tim baru saja gagal mencapai final, lalu diminta kembali memakai seragam, berbaris di lorong stadion, dan menunjukkan semangat untuk memperebutkan medali perunggu. Tidak ada anak kecil yang menempelkan poster di kamar sambil berbisik, “Kelak aku ingin finis ketiga.”
Prancis dan Inggris tampaknya memahami absurditas itu. Maka mereka mengambil keputusan bersama: kalau pertandingan ini dianggap tidak penting, pertahanan juga tidak perlu dianggap penting.
Inggris menang 6–4.
Sepuluh gol.
Itu bukan pertandingan sepak bola. Itu obral diskon Lebaran. Semua jalur dibuka, semua penyerang dipersilakan lewat, dan para bek tampak bekerja berdasarkan sistem kepercayaan.
Tensi mulai naik pada menit ketiga. Declan Rice, pemain yang biasanya bertugas menjaga ketertiban di lini tengah, justru membuka pesta. Ia mencetak gol cepat, lalu mengirim sepak pojok yang disundul Ezri Konsa menjadi gol kedua.
Konsa seorang bek tengah. Secara teori, pekerjaannya mencegah gol. Malam itu ia memperluas portofolio.
Inggris unggul 2–0 sebelum sebagian penonton selesai membeli minuman. Prancis tampak seperti tim yang baru diberi tahu bahwa penerbangan pulang dimajukan dan koper harus segera dikemas.
Lalu Bukayo Saka mulai memasak.
Saka mencetak tiga gol. Ia menyerang ruang di belakang pertahanan Prancis dengan kecepatan dan ketenangan yang membuat para bek tampak seperti sekelompok orang yang baru diperkenalkan lima menit sebelum pertandingan.
Hat-trick itu sekaligus menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman bagi Inggris: mengapa keberanian menyerang seperti ini baru muncul setelah peluang menjadi juara lenyap?
Beberapa hari sebelumnya, mereka menjaga keunggulan 1–0 atas Argentina seolah sedang membawa piring porselen warisan nenek. Sekarang, tanpa trofi utama yang bisa hilang, mereka bermain seperti sekelompok anak yang baru dibebaskan dari ruang les.
Saat jeda, Inggris unggul 4–0.
Mungkin Didier Deschamps tidak memberikan instruksi taktis. Barangkali ia hanya meminta para pemain memastikan bahwa mereka benar-benar mengenakan sepatu sepak bola.
Babak kedua dimulai, dan Prancis mendadak ingat bahwa mereka juga negara besar dalam urusan menendang bola.
Kylian Mbappé mencetak gol. Bradley Barcola menyusul. Mbappé kemudian mencetak gol kedua.
Empat kosong berubah menjadi empat tiga.
Dalam waktu kurang dari 20 menit, pertandingan yang semula menyerupai hukuman publik berubah menjadi pemeriksaan jantung bagi pendukung Inggris. Ini hiburan khas Inggris: membangun keunggulan besar, lalu perlahan meyakinkan rakyatnya bahwa kehancuran nasional masih sangat mungkin terjadi.
Mbappé tampil seperti seseorang yang menolak menutup turnamen hanya dengan ucapan terima kasih. Dua golnya memperlihatkan kekuatan terbaiknya: cepat, dingin, dan sangat tidak peduli terhadap ketenangan hidup para bek.
Michael Olise juga menonjol. Ia menjadi sumber kreativitas Prancis dan terus mengirim peluang kepada rekan-rekannya. Ia menutup turnamen dengan tujuh assist, tanpa perlu sibuk mengejar sorotan. Seperti pegawai kantor paling rajin yang menyelesaikan semua pekerjaan, lalu penghargaan tahunan jatuh kepada orang dari bagian penjualan.
Masalah Prancis tetap berada di belakang. Empat gol dalam satu babak bukan kebetulan. Garis pertahanan mereka terlalu renggang, terlambat turun, dan tampak belum mencapai kesepakatan mengenai siapa menjaga siapa. Inggris sebenarnya mengalami penyakit serupa. Setelah unggul 4–0, mereka kebobolan tiga kali dalam 18 menit.
Pertahanan kedua tim malam itu seperti fasilitas umum yang sedang direnovasi: terbuka, berantakan, dan tidak jelas siapa penanggung jawabnya. Kayak di sini ya?
Saka kemudian mencetak gol kelima Inggris. Ousmane Dembélé membalas pada masa tambahan waktu, membuat skor 5–4. Pertandingan rupanya belum merasa cukup konyol.
Jude Bellingham masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol keenam Inggris. Ia datang terlambat, melihat semua orang sudah mencetak gol, lalu tampaknya merasa tidak sopan bila pulang tanpa ikut menyumbang.
Inggris akhirnya menang 6–4 dan meraih tempat ketiga, hasil terbaik mereka sejak menjadi juara pada 1966. Namun, kemenangan itu meninggalkan satu pertanyaan besar: mengapa mereka baru bermain lepas ketika tidak ada lagi final yang bisa dikejar?
Mbappé kini berada dalam posisi sangat kuat meraih Sepatu Emas. Dua gol melawan Inggris membuat koleksinya mencapai 10 gol. Lionel Messi memasuki final bersama Argentina dengan delapan gol.
Artinya, Messi harus mencetak setidaknya dua gol melawan Spanyol untuk menyamai Mbappé. Jika membuat hat-trick, ia akan melewatinya. Mudah ditulis. Sulit dilakukan. Pertahanan Spanyol bukan loket pembagian sembako.
Mbappé mungkin tetap pulang membawa Sepatu Emas meski Prancis hanya finis keempat. Ironis, tetapi cocok dengan pertandingan ini.
Inggris menang dalam laga yang katanya tidak penting. Prancis kalah setelah mencetak empat gol. Mbappé mendekati penghargaan individu. Para bek kehilangan harga diri.
Dan penonton mendapat sepuluh gol.
Tidak penting?
Justru itu lucunya.
2026
- Penulis: Wicaksono
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar