Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

  • account_circle Giorgio Babo Moggi
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 162
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Giorgio Babo Moggi

Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan memiliki lebih dari satu cara untuk mengatasi lawan yang disiplin dan terorganisasi.

Sejak peluit awal dibunyikan, Argentina mendominasi penguasaan bola. Alexis Mac Allister membuka keunggulan melalui sundulan yang berawal dari situasi bola mati, memperlihatkan efektivitas variasi serangan yang telah menjadi ciri khas Argentina sepanjang turnamen. Namun Swiss tidak kehilangan ketenangan. Tim asuhan Murat Yakin tetap mempertahankan blok pertahanan rapat, menunggu kesempatan melakukan serangan balik cepat yang akhirnya membuahkan gol penyama kedudukan melalui Dan Ndoye.

Pertandingan kemudian berubah menjadi pertarungan taktik. Argentina menguasai bola, tetapi Swiss berhasil menutup ruang di depan kotak penalti. Granit Xhaka memainkan peran sentral sebagai pengatur ritme permainan Swiss. Akurasi umpannya yang sangat tinggi membuat Swiss mampu keluar dari tekanan dan memaksa Argentina bekerja lebih keras untuk merebut kembali penguasaan bola. Selama hampir sembilan puluh menit, strategi tersebut berjalan efektif.

Lionel Scaloni merespons dengan melakukan beberapa penyesuaian. Argentina meningkatkan intensitas pressing setelah kehilangan bola dan mempercepat sirkulasi umpan dari sisi ke sisi. Messi tidak lagi diposisikan sebagai penyelesai akhir, melainkan turun lebih dalam untuk menghubungkan lini tengah dengan lini depan. Perubahan fungsi tersebut membuka ruang bagi Julián Álvarez dan Lautaro Martínez untuk melakukan penetrasi ke area yang sebelumnya dijaga rapat bek Swiss.

Salah satu momen penentu terjadi ketika Swiss harus bermain dengan sepuluh orang setelah Breel Embolo menerima kartu merah. Kehilangan satu pemain membuat struktur pertahanan Swiss tidak lagi sekompak sebelumnya. Argentina segera meningkatkan tempo permainan, memaksa Swiss bertahan semakin dalam hingga akhirnya mulai muncul celah di antara lini belakang dan lini tengah.

Gol Julián Álvarez pada babak perpanjangan waktu menjadi ilustrasi bagaimana Argentina mampu memanfaatkan ruang sekecil apa pun. Tendangan jarak jauhnya tidak hanya menunjukkan kualitas individu, tetapi juga lahir dari proses membangun serangan yang sabar. Setelah unggul, Argentina tidak mengendurkan tekanan. Lautaro Martínez kemudian memastikan kemenangan melalui gol ketiga yang mengakhiri perlawanan Swiss.

Secara statistik, Messi memang tidak mencetak gol. Akan tetapi, kontribusinya tetap sangat besar. Kapten Argentina menghasilkan enam peluang matang bagi rekan-rekannya dan menyumbangkan satu assist. Statistik tersebut menggambarkan perubahan penting dalam evolusi permainan Argentina. Messi kini lebih berperan sebagai pengatur tempo dan kreator dibandingkan sebagai pencetak gol utama. Transformasi itu justru membuat Argentina semakin sulit diprediksi lawan.

Keberhasilan Argentina juga memperlihatkan kedalaman skuad yang dimiliki. Mac Allister tampil dominan di lini tengah, Álvarez memberikan ancaman konstan dengan mobilitas tinggi, sementara Lautaro Martínez tetap tajam ketika memperoleh peluang. Di sisi lain, Emiliano Martínez kembali membuktikan dirinya sebagai penjaga gawang yang mampu menghadirkan rasa aman melalui sejumlah penyelamatan penting ketika Swiss sedang berada dalam momentum terbaiknya.

Swiss sebenarnya layak memperoleh apresiasi. Mereka menunjukkan organisasi pertahanan yang disiplin, transisi cepat yang efektif, dan keberanian menghadapi salah satu favorit juara. Sampai kartu merah mengubah jalannya pertandingan, Swiss mampu membuat Argentina kesulitan menciptakan peluang bersih. Kekalahan mereka lebih disebabkan oleh menurunnya keseimbangan organisasi permainan setelah bermain dengan sepuluh orang serta kualitas individu pemain Argentina pada momen-momen krusial.

Kemenangan ini mengantarkan Argentina ke semifinal menghadapi Inggris. Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi salah satu pertandingan paling menarik dalam turnamen karena mempertemukan dua tim yang sama-sama memiliki kedalaman skuad, keseimbangan taktik, dan kualitas individu kelas dunia.

Bagi Argentina, keberhasilan mengalahkan Swiss memberikan modal psikologis yang sangat besar. Mereka telah membuktikan mampu menang bukan hanya melalui inspirasi Messi, tetapi melalui kerja kolektif, fleksibilitas taktik, dan efektivitas pemain-pemain pendukung.

Jika pola permainan ini dapat dipertahankan, peluang Argentina mempertahankan gelar juara dunia akan tetap terbuka lebar. (*)

  • Penulis: Giorgio Babo Moggi
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • Setelah Bertemu, Kami Berteman

    Setelah Bertemu, Kami Berteman

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan. Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 514
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month 17 jam yang lalu
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma   “Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.” Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya. Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

expand_less