Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

  • account_circle Rein Lagang
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
  • visibility 115
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero. 

Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara mendalam pada Teori negosiasi wajah yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey. Teori tadi menekankan bahwa perbedaan budaya sangat memengaruhi cara seorang berbicara, memberikan kritik, menuntaskan permasalahan, dan menjaga keharmonisan sosial. Dalam masyarakat kolektivis seperti Indonesia, komunikasi umumnya dilakukan menggunakan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan serta kehormatan orang lain. oleh karena itu, kritik tak jarang disampaikan secara halus, tidak langsung, serta mempertimbangkan tata cara kesopanan. Tetapi, pada tengah budaya komunikasi mirip itu, timbul figur publik mirip Rocky Gerung yang dikenal memiliki gaya komunikasi lugas, tajam, kritis, serta sering mengakibatkan kontroversi. Kenyataan ini menarik buat dianalisis sebab membagikan adanya benturan antara nilai komunikasi tradisional Indonesia menggunakan pola komunikasi yg lebih terbuka serta individualistik. Menggunakan memakai Teori perundingan wajah Stella Ting-Toomey, goresan pena ini bertujuan buat menganalisis bagaimana style komunikasi Rocky Gerung mencerminkan orientasi paras eksklusif, bagaimana respons rakyat terhadap gaya tersebut, dan apa makna sosial dan budaya yang bisa dipahami asal kenyataan komunikasi publik tadi.

Teori negosiasi wajah Stella Ting -Toomey

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mempertahankan gambaran dirinya dalam hubungan sosial. Stella Ting-Toomey membagi orientasi wajah menjadi 3 bentuk utama, yaitu menjaga gambaran diri sendiri, menjaga gambaran orang lain, serta menjaga keharmonisan. Pada budaya kolektivis, individu cenderung menghindari permasalahan terbuka demi mempertahankan hubungan sosial dan stabilitas kelompok. Sebaliknya, budaya individualis lebih menekankan kebebasan berekspresi serta keberanian memberikan pendapat secara langsung. Indonesia menjadi warga kolektivis umumnya menempatkan kesopanan, penghormatan, dan harmoni sosial menjadi nilai utama dalam komunikasi. Oleh sebab itu, cara berbicara acapkali kali dirancang lebih halus agar tidak mempermalukan pihak lain.

Gaya Komunikasi Rocky Gerung dalam Perspektif teori wajah

Rocky Gerung dikenal menjadi figur publik yg menggunakan bahasa kritis, terbuka, serta argumentatif dalam menyampaikan pendapat. Ia seringkali memberikan kritik secara pribadi pada tokoh politik maupun institusi publik tanpa poly memakai bahasa penghalus. Dalam perspektif teori negosiasi wajah, gaya komunikasi ini memberikan kesamaan bertenaga di orientasi self-face, yaitu penekanan di kebebasan berpikir, ketegasan pendapat, dan integritas eksklusif. Gaya komunikasi tersebut tidak selaras menggunakan pola komunikasi rakyat Indonesia yang cenderung mengutamakan keharmonisan serta menghindari permasalahan terbuka. Sebab itu, pernyataan-pernyataannya seringkali dilihat terlalu keras atau menyerang wajah pihak lain. Tetapi di sisi lain, sebagian masyarakat melihat gaya tersebut menjadi bentuk keberanian intelektual serta kejujuran pada memberikan kritik sosial.

Respons Sosial terhadap Gaya Komunikasi Rocky Gerung

Respons rakyat terhadap Rocky Gerung memberikan adanya perbedaan cara pandang terhadap etika komunikasi. Sebagian masyarakat menduga gaya komunikasinya tak sopan sebab disebut mempermalukan atau menyerang kehormatan pihak lain di ruang publik. Pada teori Stella Ting-Toomey, kondisi ini diklaim menjadi ancaman terhadap wajah, yang dapat memicu perseteruan komunikasi. Tetapi, terdapat juga kelompok warga terutama generasi muda dan kelompok kritis yang justru mendukung gaya komunikasinya. Mereka melihat keterusterangan menjadi simbol keberanian dan kebebasan berekspresi. Kenyataan ini membagikan adanya perubahan budaya komunikasi di Indonesia akibat pengaruh globalisasi, dan berkembangnya nilai individualisme pada rakyat terkini.

Makna Ilmiah serta Relevansi Sosial Persoalan Rocky Gerung

Komunikasi publik tidak bisa dipisahkan dari konteks budaya dan perubahan sosial. Gaya komunikasinya menunjukkan adanya ketegangan antara nilai kolektivisme yang menekankan keharmonisan menggunakan nilai individualisme yang menjunjung keterbukaan serta kebebasan berbicara. Secara ilmiah, fenomena ini menandakan bahwa Teori perundingan wajah tidak hanya menjelaskan perilaku komunikasi, namun pula bisa menjelaskan perubahan orientasi budaya pada rakyat. Komunikasi yg terlalu halus bisa menjaga hubungan sosial tetapi berpotensi menekan kritik, sedangkan komunikasi yg terlalu keras bisa memicu pertarungan meskipun efektif memberikan kebenaran. Oleh karena itu, dibutuhkan ekuilibrium atau keseimbangan antara keberanian menyampaikan pendapat dan kemampuan menjaga etika komunikasi.

Penutup

Sesuai analisis memakai Teori negosiasi wajah Stella Ting-Toomey, dapat dipahami bahwa gaya komunikasi Rocky Gerung adalah representasi asal perubahan budaya komunikasi di Indonesia. Ia membagikan pola komunikasi yang lebih berorientasi di self-face, yaitu menekankan kebebasan berpikir, keterusterangan, dan ketegasan pada memberikan kritik. Gaya tadi tidak sinkron menggunakan pola komunikasi tradisional rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan keharmonisan serta perlindungan terhadap wajah orang lain. Perdebatan yang ada terhadap gaya komunikasinya menawarkan adanya benturan antara nilai budaya kolektivis dan nilai komunikasi terkini yang lebih individualistik. Sebagian rakyat memandang keterusterangan menjadi bentuk keberanian intelektual, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai pelanggaran terhadap etika komunikasi. Dengan demikian, kenyataan Rocky Gerung bukan hanya persoalan gaya berbicara eksklusif, tetapi juga cerminan perubahan cara masyarakat Indonesia tahu kritik, kehormatan, dan kebebasan berekspresi pada ruang publik. Melalui kajian ini, bisa disimpulkan bahwa komunikasi yg efektif bukan hanya bergantung di isi pesan, tetapi pula pada kemampuan memahami konteks budaya, menjaga korelasi sosial, serta menyesuaikan cara penyampaian menggunakan situasi komunikasi yg dihadapi.

Maumere, 2026

  • Penulis: Rein Lagang
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 211
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 148
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 403
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

expand_less