Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 617
  • comment 32 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya.

Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya bahkan setelah perjalanan pulang selesai.

Pengalaman itu dimulai di Mbay.

Mbay yang panas, gerah, dan membuat saya tidak betah. Setidaknya begitulah yang selalu saya rasakan setiap kali berada di sana. Mungkin karena saya bukan orang yang tinggal di Mbay, sehingga tubuh saya belum benar-benar terbiasa dengan suhu yang terasa menyengat itu. Bukan suasananya yang membuat saya tidak nyaman, sebab Mbay tetap punya keramaiannya sendiri, punya kehidupan yang berjalan seperti biasa. Panasnya seperti menempel di kulit dan sulit hilang.

Jumat, 22 Mei, matahari terasa begitu menyengat sejak siang belum terlalu terik. Jalanan tampak berdebu, kendaraan lalu-lalang, benar-benar ramai, dan angin yang lewat pun tidak cukup membantu mengurangi gerah.

Setelah tugas utama selesai, saya dan teman memutuskan singgah di sebuah rumah makan. Kami memang sudah lapar sejak tadi. Rasanya tubuh benar-benar butuh istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Kami memesan makan siang dan es campur.

Es campur itu datang dalam mangkuk sedang dengan potongan buah, agar-agar, dan es yang mulai mencair pelan-pelan karena udara yang terlalu panas. Saya menikmatinya perlahan sambil mencoba mengusir rasa gerah yang sejak tadi membuat kepala terasa berat. Kadang-kadang hal sederhana seperti minuman dingin di tengah cuaca panas bisa terasa sangat menenangkan.

Jauh sebelum makan siang, saya sebenarnya sudah memberi kabar kepada Mama Fajar bahwa saya sedang berada di Mbay. Tidak lama setelah itu, masuk sebuah pesan:

“Jangan lupa oleh-oleh untuk Fajar kalau lagi di Mbay.”

Saya membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka berbelanja atau membeli sesuatu untuk dibawa pulang. Kalau bukan makanan atau buah-buahan, biasanya saya malas mencarinya. Saya lebih suka pulang tanpa repot membawa banyak barang. Tetapi kali ini berbeda. Bukan karena terpaksa, melainkan karena saya merasa memang sudah seharusnya memenuhi permintaan itu.

Setelah makan siang selesai, kami menuju sebuah toko.

Saya langsung mencari barang yang dimaksud tanpa terlalu lama melihat-lihat bagian lain. Beruntung, barang itu cukup mudah ditemukan. Saya kemudian memotret beberapa pilihan dan mengirimkannya kepada Mama Fajar. Tidak lama menunggu, pilihannya jatuh pada foto terakhir.

Entah kenapa saya merasa lega karena pilihan itu sama dengan yang sebenarnya saya harapkan sejak awal.

Saya memerhatikan barang itu beberapa saat sebelum membawanya ke kasir. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi harganya cukup membuat saya menarik napas pelan. Untuk ukuran barang seperti itu, harganya terasa cukup “mencekik leher”. Namun setelah melihat kualitasnya secara langsung, saya juga tidak bisa menyangkal bahwa harga itu memang sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.

Saya akhirnya tetap membelinya.

Di meja kasir, suasana toko tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pembeli lain yang sedang mengantre. Di belakang saya berdiri dua lelaki yang tampaknya sedang berbincang santai sambil menunggu giliran.

Saya mengeluarkan uang dari dalam tas sambil menunggu kasir menghitung total belanja. Kasir itu seorang perempuan muda. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap melayani dengan sopan seperti pekerja toko pada umumnya.

Lalu salah satu lelaki di belakang saya tiba-tiba berbicara.

Awalnya saya tidak terlalu memerhatikan. Sampai akhirnya saya sadar bahwa ia sedang melihat sesuatu di tangan si kasir perempuan. Rupanya ada gambar kecil di sana, mungkin tato kecil, mungkin juga hanya gambar biasa.

Lelaki itu bertanya:

“Itu tato asli atau gambar pakai pena tinta hitam?”

Nada suaranya terdengar santai, seperti sekadar basa-basi untuk membuka percakapan.

Kasir perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit saya artikan, apakah malu, tidak nyaman, atau memang memilih untuk tidak menanggapi.

Saat itu saya masih menunggu uang kembalian.

Namun beberapa detik kemudian, lelaki itu kembali berbicara. Kali ini bukan pertanyaan.

“Tidak tahu kenapa tubuh saya ini tidak suka ditato. Saya lebih suka ‘main’ perempuan.”

Kalimat itu membuat saya spontan menoleh ke arah kasir perempuan tersebut. Saya ingin melihat bagaimana reaksinya setelah mendengar kalimat seperti itu keluar begitu saja dari mulut orang asing.

Tetapi perempuan itu tetap diam.

Saya sendiri tidak tahu pasti apa yang saya rasakan saat mendengarnya. Mungkin kaget. Mungkin juga tidak nyaman. Sebab kalimat itu diucapkan begitu ringan, seolah-olah perempuan hanyalah bahan candaan biasa dalam percakapan antarlelaki.

Saya tidak mendengar percakapan selanjutnya. Di luar toko gerimis mulai turun, dan kami harus segera pulang karena perjalanan menuju Boawae masih cukup jauh.

Namun anehnya, justru setelah meninggalkan tempat itu, kalimat tadi terus terulang di kepala saya.

Saya sebenarnya tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Saya tahu banyak orang mungkin akan menganggap itu hanya candaan biasa. Kalimat spontan yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tetapi entah kenapa saya merasa terusik.

Mungkin karena akhir-akhir ini saya juga sedang membaca Re: dan peRempuan karya Maman Suherman. Novel itu berkisah tentang seorang perempuan yang “terpaksa” menjadi pelacur karena tekanan dalam keluarganya sendiri. Ia hidup dalam omelan, kemarahan, dan penghakiman yang terus-menerus. Sampai akhirnya ia memilih kabur setelah ketahuan hamil, entah oleh sahabatnya sendiri atau guru privat Matematikanya.

Novel itu membuat saya berpikir banyak tentang perempuan. Tentang bagaimana perempuan sering kali dipaksa menanggung luka sendirian. Tentang bagaimana tubuh dan hidup perempuan sering dijadikan tempat pelampiasan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi sasaran penghakiman.

Dan mungkin karena itulah kalimat di toko tadi terasa mengganggu.

Kalimat:

“Saya lebih suka ‘main’ perempuan.”

Bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa. Bahkan mungkin dianggap lucu. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang terasa salah ketika perempuan dibicarakan seperti barang hiburan. Seolah perempuan hanyalah objek pemuas yang keberadaannya bisa dipakai sesuka hati.

Kadang saya merasa perempuan begitu sering dijadikan “budak” bahkan sejak dalam pikiran sebagian lelaki. Belum apa-apa, perempuan sudah ditempatkan sebagai tubuh ‘pelampiasan’. Sebagai objek. Sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, disentuh, dimainkan, lalu ditinggalkan tanpa beban.

Yang lebih menyedihkan, cara pandang seperti itu sering dianggap normal.

Diulang terus dalam percakapan sehari-hari. Dalam candaan. Dalam lingkungan pertemanan. Dalam kebiasaan yang diwariskan diam-diam. Sampai akhirnya banyak orang tidak lagi sadar bahwa ada yang salah di sana.

Mungkin apa yang saya pikirkan ini terdengar berlebihan. Saya juga tidak tahu.

Namun saya percaya, banyak hal besar sebenarnya lahir dari sesuatu yang dianggap kecil dan biasa. Termasuk cara memandang perempuan.

Dan mungkin karena terlalu sering dianggap biasa, perempuan akhirnya terbiasa pula menerima luka-luka kecil yang terus datang berulang.

Untuk sementara, sejauh ini dulu yang bisa saya tuliskan.

Saya merasa tulisan ini belum selesai sepenuhnya. Masih ada banyak hal yang ingin saya pahami, banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Mungkin suatu hari nanti, setelah menemukan pengalaman atau pemikiran baru, tulisan ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih utuh dan lebih baik lagi.

Pondok Baca Mataleza, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (32)

  • Guru Kampung

    Mantap om guru. Perlu untuk didiskusikan lebih lanjut, dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan Perempuan.
    Hal seperti ini di kota2 besar sudah sering didiskusikan.
    Dikalangan kita org desa masih belum tersentuh.
    Buat semacam podcast atau reels FB. Agar menjangkau lapisan masyarakat di pedesaan yang notabene main FB pro.

    Balas26 Mei 2026 12:36 pm
  • ristonpili

    Ini pelecehan yang di anggap sebagai candaan.. Ini juga mungkin efek dari lingkungan masyarakat yamg menormalisasikan sesuatu yg sudah tidak normal…..

    Balas25 Mei 2026 12:19 pm
  • Felan Tanis

    Semoga Mbay cukup membakar kulit eh guru jangan sampai membakar martabat ehh guru..:)

    Balas24 Mei 2026 1:37 pm
  • ,Hyasinta Mi

    Terima kasih pa guru secara keseluruhan puisi iini menurut saya baik dimana penyair telah berhasil menggambarkan bagaimana kompleksitas dan daya tarik perempuan tidak hanya dilihat secara fisik semata,melainkan bertransformasi menjadi sebuah gagasan,inspirasi,atau bahkan obsesi yang mendalam didalam pikiran sadar laki-laki.karya yang cerdas karena mampu memotret relasi antar manusia secara mendalam dan estetis.salam sukses Tuhan memberkati🙏

    Balas24 Mei 2026 1:21 pm
  • SONY BUU

    Hemat saya kaee, pemikiran seperti itu Mash saja terjadi di era sekarang ini. Ini adalah sebuah pemikiran kolot yang kalau TDK diberikan masukan atau semacam tanggapan secepatnya akan terus dan terus diwariskan. Kenapa demikian, peradaban manusia sekarang ini banyak sekali mengulangi peradaban manusia zaman dulu dimana kita melihat seberapa rasa kepedulian dan kepercayaan kepada kaum hawa sangat minim.memang kaum Adam sekarang secara langsung mulai menemukan jati diri yg sebenarnya, namun bertolak dari itu asumsi bahwa derajat kaum hawa tetap saja di katakan sebagai pelengkapnya. Dan itu nyata di era sekarang. TDK bisa dipikiri lagi asumsi ini akan terus berlanjut sampai kapanpun…

    Balas24 Mei 2026 11:51 am
    • Mataleza

      Iya guru, sebenarnya ini perlu perhatian semua lapisan masyarakat. tentang yang tabu itu dan jangan sampai terus menempatkan perempuan sebagai objel pemuas hasrat berdasarkan penampilan seseorang.

      Balas25 Mei 2026 9:34 am
  • Enno

    terimakasih ka’e atas tulisannya. hal ini sering ditemukan setiap hari bahkan selalu dianggap hal biasa. Oleh karena itu, harus dicegah tindakan tersebut. pentingnya peran dari seluruh elemen masyarakat untuk memberikan pendidikan tentang gender, seks, dan penghargaan martabat manusia.
    ditunggu tulisan-tulisan berikutnya.

    Balas24 Mei 2026 10:15 am
  • Mexes Meze

    Begitulah om, terkadang candaan seperti dianggap hal yang lumrah. Patut disayangkan kalau ini menjadi kebiasaan.

    Balas24 Mei 2026 7:45 am
  • Wilbrodus Seda

    Sepertinya kesetaraan gender masih jadi isu yang memprihatinkan. Wanita masih dapat perlakuan diskriminatif dan lebih parah jika tidak berpendidikan. Semoga semua perempuan lebih waspada sehingga tidak menjadi objek eksploitasi. Salam sehat dan tetap konsisten menulis ame💥

    Balas24 Mei 2026 7:07 am
    • Mataleza

      Ya, Bapa Guru. Isu ini akan terus nampak ke permukaan jika hal-hal seperti ini masih dianggap tabu.

      Balas24 Mei 2026 7:22 am
  • Efronius Lengi To

    Reaksi ketertarikan terhadap lawan jenis dalam situasi apa pun bisa terjadi dan itu lah kodrat alam tetapi
    Pengendalian diri bisa menjadi pagar supaya moral punya cukup ruang,,
    Kasus sperti ini banyak dan sering kali terjadi di manapun,, jangankan di kota di kampung-kampung juga sering terjadi akibat dari normalisasi yang pada dasarnya tidak normal.
    Kalau saja kaum hawa punya keberanian speak up secara kolektif mungkin bisa jadi diskusi publik yang kemudian jadi rambu2 didalam Kehidupan sosial

    Balas23 Mei 2026 11:55 pm
    • Mataleza

      Apakah boleh kita buat diskusi publik atau mulai dari komunitas, Guru?

      Balas24 Mei 2026 5:38 am
      • Efronius Lengi To

        Dua duanya bisa sekalian jalan guru dng melibatkan kelompok rentan(kaum hawa) lbh banyak,,
        Ada hal menarik kalau kita perhatikan di kampung2.
        Di hampir semua kampung di nagekeo punya satu sistem keakraban yang unik dalam bahasa Boawae kita menyebutnya Ipa weki.
        Didalam status keakraban ini nilainya adalah secara tidak langsung mempertegas hubungan kawin kawin artinya ada orang orang tertentu yang secara budaya direkomendasikan untuk bisa “kelakar” Dalam Bahasa Boawae (Papa momo). kedengarannya agak kasar tetapi sebagai bentuk validasi jalur perkawinan.
        Cuman,,,!!!!!! Ada pergeseran nilai dari sastra ke hastrat.
        Orang dulu kelakar yang dimaksud syarat dengan unsur sastra (subhi sawe,, litu li’u) ada nilai seninya yang kalau boleh dibilang seni sastra.
        Sekarang sdh agak sedikit to the point yang secara sadar atau tidak mengarah ke pelecehan dan sini sastra sdh di abaikan hastrat lebih dominan.

        Balas24 Mei 2026 12:54 pm
        • Mataleza

          Benar guru. Semakin ke sini, semakin tidak tau tempat, kadang salah menempatkan posisi perempuan

          Balas25 Mei 2026 9:33 am
  • Anonim

    Lelaki seperti itu biasanya lelaki yg lahir dari keluarga patriarki.
    Terlalu bnyak standar untuk wanita tanpa melihat kurang dan buruknya diri mreka sendiri.
    lelaki bgtu pada umumnya masuk dalam tipikal lelaki yang sering menuntut wanita nya untuk sempurna dgn menjadikan ibu mrka sbg standar kesempurnaan tnpa lihat seberguna apa diri mereka sendiri.
    Knpa sy bilang patriari karena omongan bgtu biasanya termasuk dalam budaya turun temurun, mungkin di rumah bapanya tidak bisa hargai mamanya jdi imbas nya anak pun tdak mampu menghargai yg lain.

    Balas23 Mei 2026 11:36 pm
    • Mataleza

      Sebuah komentar yang datang karena keresahan dan kenyataan yang sering ditembak di lingkungan sekitar tempat tinggal. Terima kasih, kaka Nia. Salam kenal Mof

      Balas23 Mei 2026 11:44 pm
      • Anonim

        Karena banyak sekali kesalahan dan kekeliruan yang justru di jadikan budaya oleh orang-orang yang tidak paham caranya menghargai, kaka.🙏🏻

        Balas23 Mei 2026 11:47 pm
  • Oyn blolon

    Setidaknya masih ada laki-laki yang berani melihat perempuan sebagai manusia, bukan sekadar tubuh. Karena yang paling dibutuhkan perempuan hari ini bukan pujian tentang fisik, tapi cara pandang yang lebih waras tentang menghargai perempuan..
    Thnks pak guru

    Balas23 Mei 2026 11:19 pm
    • Mataleza

      Terima kasih, kaka Oin. Perempuan dan ketubuhannya sering kali dijadikan objek sebagai pemuas dahaga hasrat lelaki. Dan pelecehan secara fisik dan verbal sudah sering terjadi, baik di medsos maupun dalam kehidupan nyata sehari hari.

      Balas23 Mei 2026 11:33 pm
  • James

    Di lihat dari sudut pandang yang berbeda membuat seseorang merasa hidup paling benar,dan suatu lingkungan entah yg tiap saat candaan nya tidak pernah menjaga perasaan orang lain..
    Perempuan itu mahkota yang harus di lindungi dan harus di jaga bukan kita melihat sisi buruk kita menganggap dirinya tidak baik..

    Balas23 Mei 2026 7:58 pm
  • Inetha Boleng

    Normalisasi candaan mesum dalam pergaulan sehari-hari seperti ini bukti kemunduran etika dan adab sebagai manusia. Miris sekali kalau orang bisa dengan lantang bercanda begitu. Ini cermin betapa rendah isi kepala dan harga diri si oknum.

    Balas23 Mei 2026 6:32 pm
    • Mataleza

      Benar benar sangat memprihatinkan, tubuh perempuan dijadikan objek demi memuas hasrat meskipun itu melalui kata kata. Ada yang dilecehkan di sana, ada dan keberadaan perempuan.

      Balas23 Mei 2026 10:42 pm
  • Alva Ndana

    Seru sih kk, apalagi bnyk skli laki” yah kadang langsung membangun asumsi sendiri ketika melihat perempuan bertato tu sebagai ‘perempuan murahan’ sedangkan ada beberapa orang yang buat tato bukan untuk hal itu tetapi membuat beberapa kenangan yg disatukan dalam satu gambar.

    Cara pandang kita punya orang disini kadang masih seperti itu dan seperti orang” pada umumnya yah perempuan juga bgtu ada yang kadang acuh tak acuh dgn pandangan orang tapi ada yg merasa bahwa itu sebuah pelecehan non verbal. Kk hrus angkat lagi sih karena ini menarik menyuarakan sudut pandang perempuan yg kadang kita tidak pahami oleh orang lain.

    Balas23 Mei 2026 6:19 pm
    • Mataleza

      Cara pandang itu yang diubah. Tapi sayang, yang diucapkan itu sudah melecehkan perempuan dalam konteks ini.

      Balas23 Mei 2026 10:43 pm
  • Teti Filemon

    Kalau saya ada di situ sudah saya isi apapun yg ada depan mata ke mulut laki2 jahanam itu

    Balas23 Mei 2026 6:00 pm
    • Mataleza

      Saya cukup kaget kemarin

      Balas23 Mei 2026 6:16 pm
      • Teti Filemon

        PRnya adalah bagaimna kurikulum tentang tubuh itu jadi hal dasar untuk dibicarakan di dunia pendidikan, Parenting semua spektrum. Tdk bisa bergerak sendiri. Kadang membicarakan soal ketubuhan itu sj masih jadi hal tabuh di dunia ini. Kaka Perempuan itu juga bisa saja tdk sadar bahwa dia sedang di lecehkan, dan laki2 itu juga bisa jadi tidak tahu kalau dia sedang melecehkan.

        Balas23 Mei 2026 6:51 pm
        • Mataleza

          Iya, kak. Mungkin si lelaki itu tidak tahu kalau ada sesuatu yang diucapkan itu melecehkan perempuan yang ada di hadapannya. Dan benar bahwa ketubuhan harus menjadi hal utama dibicarakan, didiskusikan di dalam keluarga.

          Balas23 Mei 2026 10:41 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 116
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 283
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 300
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 162
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

expand_less