SUARA DARI MEJA PERUNDINGAN: AGUS SALIM, KETIKA KATA-KATA MENJADI SENJATA PERJUANGAN
- account_circle Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya
Ia tidak membawa senjata ke medan perang. Senjata adalah bahasa, pengetahuan, dan kemampuan untuk membaca situasi. Dari sekolah Belanda di Hindia hingga meja perundingan Internasional, Haji Agus Salim menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan Indonesia juga dapat dilakukan melalui sebuah kata-kata.
Pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, perjuangan untuk mempertahankan negara bukan hanya dilakukan melalui pertempuran bersenjata. Di tengah tekanan para Kolonial yang berusaha untuk menguasai kembali Indonesia, para pemimpin Indonesia harus mencari upaya dukungan dari berbagai penjuru dunia. Indonesia yang masih sangat muda juga membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain agar kemerdekaannya tidak sekadar menjadi pernyataan sepihak saja.
Melalui situasi ini, seorang lelaki berusia lebih dari enam puluh tahun juga ikut ambil bagian dan bergerak. Rambut dan jenggotnya yang telah memutih, tubuhnya tidaklah besar nan kekar, tetapi kemampuan berbicara dan pengetahuannya justru membuatnya disegani. Ia adalah Haji Agus Salim. Seorang intelektual, jurnalis, politikus, ulama, serta diplomat yang memainkan peranan penting dalam memperkenalkan Indonesia kepada seluruh sudut dunia.
Namun, perjalanan Agus Salim untuk menuju panggung diplomasi internasional tidka dimulai dari gedung pemerintahan. Jauh dari sebelumnya, ia adalah seorang anak dari Koto Gadang, Sumatera Barat, yang tubuh dan besar dengan rasa ingin tahu dan kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
DARI KOTO GADANG MENUJU DUNIA PENGETAHUAN
Agus Salim lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884 dengan nama Masjhudul Haq. Ayahnya, Sutan Mohammad Salim, merupakan seorang jaksa kepala dalam pemerintahan kolonial. Kedudukan keluarganya membuat Agus Salim memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah yang pada masa itu tidak mudah dimasuki oleh anak pribumi.
Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan kemudian melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Di sekolah tersebut, Agus Salim menunjukkan kemampuan akademik yang menonjol. Ia tidak hanya tertarik pada pelajaran sekolah saja, tetapi juga gemar dalam membaca dan mendalami berbagai pengetahuan secara mandiri. Kemampuan intelektual tersebut kelak menjadi salah satu kekuatan utama dalam perjalanan hidupnya.
Menariknya, pendidikan yang ia terima dalam sistem kolonial justru membawanya untuk memahami bagaimana kolonialisme bekerja. Ia mengetahui bahasa dan cara berpikir orang-orang Eropa, namun pada saat yang sama semakin menyadari ketimpangan yang dialami masyarakat pribumi.
Kemampuan bahasanya berkembang sangat pesat. Agus Salim dikenal menguasai berbagai bahasa asing, termasuk Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, dan Jepang Penguasaan bahasa ini bukan sekedar kemampuan akademis saja. Di kemudian hari, bahasa menjadi salah satu senjata terpenting yang digunakannya dalam menjalankan perjuangan politik dan diplomasi.
KETIKA PENGETAHUAN MEMBAWA KE JEDDAH
Usai menyelesaikan pendidikannya, Agus Salim tidak langsung menjadi seorang politikus. Pada awal abad ke-20 ia justru memasuki dunia pekerjaan pemerintahan kolonial. Ia pernah bekerja sebagai penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupannya karena mempertemukannya secara langsung dengan dunia Islam dan lingkungan internasional.
Jeddah memberinya pengalaman yang berbeda dari kehidupan di Hindia Belanda. Ia berhadapan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan semakin mendalami bahasa Arab serta pengetahuan mengenai dunia Islam. Pengalaman tersebut kelak menjadi modal penting ketika Indonesia membutuhkan seorang diplomat yang mampu berbicara dengan negara-negara Timur Tengah.
Sepulangnya ke Hindia Belanda, Agus Salim semakin aktif dalam pergerakan politik. Ia bergabung dengan Sarekat Islam dan kemudian dikenal sebagai salah satu pemikir penting dalam organisasi tersebut. Ia tidak hanya menggunakan kemampuan berbicara untuk menggerakkan massa, tetapi juga menulis dan menyampaikan gagasan mengenai agama, pendidikan, masyarakat, dan kemerdekaan.
Pada 1921, Agus Salim menjadi anggota Volksraad, lembaga perwakilan bentukan pemerintah kolonial. Namun, keberadaannya di lembaga tersebut tidak membuatnya kehilangan sikap kritis. Ia bahkan dikenal berani menyampaikan gagasan mengenai kepentingan masyarakat pribumi. Setelah beberapa tahun, ia meninggalkan lembaga tersebut karena melihat keterbatasan kekuasaan yang dimiliki Volksraad.
DARI MEJA PERUNDINGAN KE PANGGUNG INTERNASIONAL
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, usia Agus Salim sudah lebih dari enam puluh tahun. Bagi sebagian orang, usia tersebut mungkin merupakan waktu untuk beristirahat. Tetapi bagi Agus Salim, perjuangan justru memasuki tahap baru.
Jika sebelumnya perjuangan melawan kolonialisme dilakukan melalui organisasi, tulisan, dan pergerakan politik, setelah kemerdekaan perjuangan harus dilakukan melalui diplomasi. Republik Indonesia membutuhkan pengakuan internasional. Belanda sendiri berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia bukanlah negara yang benar-benar berdaulat.
Dalam situasi tersebut, pengalaman Agus Salim menjadi sangat berharga. Ia pernah tinggal di Timur Tengah, memahami bahasa Arab, mengetahui persoalan politik internasional, serta memiliki kemampuan berbicara di hadapan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Pada 1947, Agus Salim ikut dalam Konferensi Hubungan Antar Asia di New Delhi. Dalam forum tersebut, delegasi Indonesia berusaha membangun dukungan negara-negara Asia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tidak berhenti di India, Agus Salim kemudian memimpin misi diplomatik ke negara-negara Timur Tengah. Salah satu hasil terpenting dari misi tersebut adalah hubungan Indonesia dengan Mesir. Pada 10 Juni 1947, Indonesia dan Mesir menandatangani perjanjian persahabatan. Dukungan Mesir menjadi sangat penting karena menunjukkan bahwa Indonesia mulai memperoleh pengakuan dari dunia internasional.
Dukungan tersebut kemudian diikuti oleh negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Diplomasi Agus Salim ikut membuka jalan bagi Indonesia untuk memperoleh dukungan internasional ketika posisi Republik masih sangat rentan.
KATA-KATA DI TENGAH PERANG
Perjuangan diplomasi tidak berarti bahwa keadaan di dalam negeri menjadi aman. Pada 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I. Konflik Indonesia-Belanda kemudian menjadi persoalan internasional yang dibawa ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Agus Salim dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri dan menjalankan tugas tersebut dalam beberapa kabinet. Arsip Presiden Republik Indonesia mencatat bahwa ia menjadi Menteri Luar Negeri mulai Kabinet Amir Sjarifuddin I pada Juli 1947 dan kemudian tetap menduduki posisi tersebut hingga Kabinet Hatta II pada Desember 1949.
Dalam posisi tersebut, Agus Salim menghadapi tugas yang tidak ringan. Indonesia harus mempertahankan keberadaan Republik di tengah tekanan militer dan diplomatik Belanda. Bersama tokoh-tokoh lain, ia berusaha menjelaskan kepada dunia internasional bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah yang sedang memberontak, melainkan bangsa yang telah menyatakan kemerdekaannya.
Perjuangan itu mencapai babak penting ketika Indonesia terus mengupayakan penyelesaian konflik melalui diplomasi internasional. Agus Salim turut terlibat dalam berbagai perundingan dan misi diplomatik yang bertujuan mempertahankan posisi Republik Indonesia. Bahkan setelah Agresi Militer Belanda II pada 1948, ia termasuk pemimpin Republik yang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda.
SEORANG DIPLOMAT YANG TIDAK HANYA BERBICARA
Agus Salim sering dikenang karena kepiawaiannya berbicara. Namun, kemampuan berbicara sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kekuatannya. Di balik setiap argumen terdapat pengetahuan yang luas mengenai agama, politik, sejarah, bahasa, dan hubungan antarbangsa.
Pengalamannya di Jeddah membuatnya memahami dunia Islam. Pendidikan kolonial memberinya kemampuan menggunakan bahasa dan memahami cara berpikir Eropa. Pengalamannya dalam Sarekat Islam membentuk kemampuan politiknya. Sementara pengalaman sebagai penulis dan jurnalis membuatnya terbiasa menyusun gagasan dan menyampaikannya kepada masyarakat.
Karena itulah diplomasi Agus Salim tidak sekadar mengandalkan jabatan sebagai Menteri Luar Negeri. Ia membawa pengalaman hidup yang panjang ke dalam setiap perundingan. Dalam dirinya, pendidikan dan pengalaman bertemu menjadi sebuah kemampuan untuk membaca lawan sekaligus menjelaskan posisi Indonesia kepada dunia.
WARISAN SEORANG “THE GRAND OLD MAN”
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, Agus Salim tidak lagi memegang jabatan sebagai Menteri Luar Negeri. Usianya yang semakin lanjut membuatnya mengurangi aktivitas pemerintahan. Namun, pemikirannya tetap hidup melalui tulisan, ceramah, dan orang-orang yang pernah belajar darinya.
Agus Salim meninggal di Jakarta pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun. Beberapa tahun kemudian, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.Warisan Agus Salim sebenarnya jauh lebih besar daripada jabatan yang pernah ia duduki. Ia memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu harus dilakukan dengan mengangkat senjata. Ada perjuangan melalui pendidikan, tulisan, organisasi, bahasa, dan diplomasi.
Ia pernah belajar dalam sistem pendidikan kolonial, bekerja untuk pemerintahan kolonial, dan mengenal dunia dari dekat. Namun, pengetahuan tersebut justru ia gunakan untuk memperjuangkan bangsanya sendiri. Dari Koto Gadang hingga Jeddah, dari ruang-ruang organisasi hingga meja diplomasi internasional, perjalanan Agus Salim menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat berubah menjadi kekuatan politik.Mungkin itulah alasan Agus Salim tetap menarik untuk dikenang. Ia tidak hanya berjuang agar Indonesia merdeka, tetapi juga berusaha menunjukkan bahwa bangsa yang baru merdeka itu mampu berbicara dengan dunia menggunakan bahasanya sendiri.
- Penulis: Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar