Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Penolakan Dianggap Penghinaan: Dekonstruksi Hierarki Kuasa dan Kebebasan Perempuan dalam Cerpen “Perempuan Penjual Rembulan” Karya Nono Winarno

  • account_circle Aurelia Keyodia
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aurelia Keyodia

Penolakan semestinya menjadi bagian dari kebebasan seseorang untuk menentukan hidupnya sendiri. Kenyataannya, dalam relasi sosial tertentu, penolakan dapat ditafsirkan sebagai penghinaan, seolah-olah hak untuk memilih hanya berlaku selama tidak menggagalkan kehendak orang lain. Cerpen berjudul Perempuan Penjual Rembulan mengangkat kisah seorang gadis cantik bernama Rupi’ah yang menjadi daya tarik utama sebuah warung. Banyak pelanggan berbondong-bondong datang bukan semata-mata untuk menjajakan makanan dan minuman yang dijual, melainkan untuk menyaksikan pesona perempuan yang melayani mereka. Kecantikan Rupi’ah tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, melainkan juga membentuk cara masyarakat memandang dan menafsirkan dirinya. Kehadiran para pelanggan, tidak sekadar menjajakan makanan dan minuman yang dijual, tetapi daya tarik sang pemilik warung yang membuat warung menjadi ramai pelanggan.

Sejak awal, kecantikan Rupi’ah hadir dalam dua kedudukan sekaligus sebagai modal yang mendukung keberhasilannya dan dasar bagi orang lain untuk membentuk penilaian terhadap dirinya. Narasi cerpen menyebutkan bahwa cara berbicara dan bercandanya kerap dianggap memberikan harapan kepada laki-laki. Tak heran, banyak orang menafsirkan sikap tersebut secara negatif sebagai tanda bahwa ia menjual diri. Padahal sikap Rupi’ah yang ramah itu dimaksudkan agar pelanggan merasa betah berlama-lama di warungnya, sehingga mendukung keuntungan dan popularitas usahanya. Perbedaan antara maksud tokoh dan penafsiran masyarakat ini memperlihatkan bahwa makna sebuah tindakan tidak selalu tunggal atau sepenuhnya berada dalam kendali orang yang melakukan. Gaya komunikasi  yang ramah dapat dibaca sebagai strategi usaha, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai isyarat ketertarikan atau pemerian janji. Persoalannya bukan sekadar menentukan penafsiran mana yang benar, melainkan menelaah suatu penafsiran memperoleh kedudukan dominan sementara persoalan lain tersisih.

Persoalan tersebut berlanjut ketika Sampurno, laki-laki kaya yang telah memberikan berbagai hadiah seperti perhiasan yang memenuhi lehernya, motor hingga Sampurno rela menjual tempat usahanya demi memenuhi keinginan Rupi’ah. Kala itu Sampurno dan keluarganya datang untuk melamar, mendengar hal itu Rupi’ah tidak memberikan penolakan secara halus, tetapi meminta tenggat waktu lima tahun sebelum menikah. Namun, jawaban tersebut dipahami oleh keluarga Sampurno sebagai penolakan halus yang merendahkan mereka. Paman Sampurno, Suwondo, menyebutnya sebagai penghinaan yang harus dibalas. Sementara Rupi’ah menjelaskan bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga karena takut terikat oleh berbagai aturan dan permasalahan, serta masih ingin menikmati kehidupannya sendiri. Jika ditelisik lebih jauh, persoalan yang dialami Rupi’ah tidak hanya berkaitan dengan penolakan terhadap lamaran Sampurno, tetapi juga dengan keterbatasan ruang yang dimilikinya untuk menentukan kapan dirinya siap untuk menikah. Di satu sisi, Rupi’ah dihadapkan pada harapan ibunya agar ia segera membuka hati dan menerima pinangan laki-laki. Namun ia menyadari bahwa kehidupan rumah tangga tidak semata-mata berkaitan dengan romantisme saja, tetapi melibatkan tanggung jawab dan tuntutan kehidupan sehari-hari.

Pernikahan dapat berarti kebahagiaan bagi sebagian orang, tetapi bagi Rupi’ah, pernikahan yang dijalani sebelum dirinya merasa siap justru berpotensi menjadi ikatan yang membatasi kebebasannya. Menelisik dalam perspektif dekonstruksi Jacques Derrida, pertentangan tersebut dapat dibaca dengan membongkar oposisi biner sebagai sesuatu yang ideal, sedangkan penundaan atau penolakan terhadap pernikahan dipandang sebagai penyimpangan dari harapan sosial. Sebagaimana dijelaskan Constantina dan Stitorus (2023), dekonstruksi berupaya mengungkap kontradiksi dalam teks mengubah makna yang selama ini dianggap mapan. Jika pernikahan dipahami sebagai jalan menuju kedewasaan, pengalaman Rupi’ah membuka makna baru bahwa menikah tanpa kesiapan justru dapat menjadi sumber kecemasan dan keterikatan. Sebaliknya, keputusan untuk meminta waktu tidak serta-merta menunjukkan ketidakseriusan atau keinginan mempermainkan perasaan orang lain, tetapi dapat dibaca sebagai upaya mempertimbangkan tanggung jawab yang dihadapinya. pembacaan ini tidak berarti bahwa pernikahan tidak harus dimaknai secara negatif, melainkan menunjukkan bahwa makna pernikahan tidak dapat diseragamkan menjadi  satu bentuk ideal yang berlaku bagi setiap orang.

Kontradiksi serupa tampak dalam cara keluarga Sampurno memaknai permintaan waktu Rupi’ah. Keputusan yang berangkat dari ketidaksiapan ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap keluarga, sehingga kehendak Rupi’ah seolah-olah kehilangan kedudukannya ketika berhadapan dengan kehormatan dan harapan pihak lain. Teori dekonstruksi Jacques Derrida menunjukkan bahwa dekonstruksi dapat membantu mempertanyakan pihak yang memiliki kuasa untuk menetapkan suatu tindakan. Hal yang perlu dipertanyakan, apakah Rupi’ah sebagai orang yang mengambil keputusan, atau keluarga Sampurno sebagai pihak yang merasa dirugikan oleh keputusan tersebut? Penafsiran keluarga Sampurno memang hadir sebagai salah satu makna dalam cerita, tetapi tidak harus diterima sebagai makna yang mutlak. Ketika alasan Rupi’ah turut diperhitungkan, permintaan waktu lima tahun bukan hanya sebagai penolakan terhadap seseorang, melainkan penegasan bahwa keputusan menikah seharusnya melibatkan kesiapan pihak yang akan menjalaninya. Sehingga, makna penghinaan menjadi tidak stabil karena bergantung pada sudut pandang, kepentingan, dan harapan sosial yang melatarbelakanginya.

Ketidakstabilan penafsiran itu mencapai titik penting ketika rumah sekaligus warung Rupi’ah terbakar, Ia bersama Ibunya mengalami luka bakar serius. Pada awalnya rumor masyarakat menghubungkan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan balas dendam keluarga Sampurno karena lamaran yang dianggap penghinaan akibat ditolak. Namun, penyelidikan polisi kemudian menetapkan  lima pemuda yang menjadi pelanggan rutin warung Rupi’ah sebagai tersangka. Perubahan dugaan ini menggoyahkan anggapan awal bahwa keluarga Sampurno menjadi pihak yang bertanggung jawab. Pada pembacaan dekonstruktif, pertentangan antara rumor dan fakta memperlihatkan bahwa makna sebuah peristiwa tidak selalu dapat dipastikan melalui dugaan pertama yang beredar di masyarakat. Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa cerpen berjudul Perempuan Penjual Rembulan tidak hanya menghadirkan persoalan kebebasan perempuan, tetapi juga mempertanyakan perihal makna kecantikan, keramahan, penolakan, pernikahan dan penghinaan dibentuk melalui pandangan sosial.

Melalui teori dekonstruksi Derrida, makna-makna itu tidak diperlakukan sebagai kebenaran yang sepenuhnya tetap, melainkan diperiksa melalui pertentangan dan kontradiksi yang muncul di dalam cerita. Sosok Rupi’ah dalam cerita tersebut dapat dipandang sebagai sebagai perempuan yang memiliki daya tarik dan kemampuan mengembangkan usaha, tetapi pada saat yang sama Ia juga menjadi sasaran penilaian dan harapan orang lain. Demikian pula, pernikahan yang dipandang sebagai tujuan ideal oleh lingkungan sosialnya justru hadir sebagai keputusan besar yang membutuhkan kesiapan pribadi. Dengan demikian, cerpen ini membuka ruang baru bagi pembaca untuk lebih kritis terhadap anggapan bahwa penolakan selalu berarti penghinaan, keramahan selalu mengandung janji, atau pernikahan selalu menjadi pilihan yang membahagiakan bagi setiap perempuan.

Sumber: 

https://ruangsastra.com/30130/perempuan-penjual-rembulan/

Natasha Constantin, Fitzgerald Kennedy Sitorus, (2023). Dekonstruksi Makna dan Bahasa dalam Perspektif Jacques Derrida. JKOMDIS : Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial, 3(3), 795-801.

https://doi.org/10.47233/jkomdis.v3i3.1315

  • Penulis: Aurelia Keyodia
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    Sudut Pandang: Ka Sinta yang Selalu Ada Untukku

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Yesi Kristiani
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: Yesi Kristiani Cerita sederhana tentang seorang kakak yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupku. Setiap orang pasti mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak selalu kita sadari kehadirannya, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Bagiku sosok kakak Sinta sangat berarti dalam setiap perjalanan ku, terutama ketika saya dapat dukungan dari kedua […]

expand_less