MEMBACA DEKONSTRUKSI DALAM CERPEN FILOSOFI KOPI KARYA DEE LESTARI
- account_circle Athaya Sekar Khairina
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Athaya Sekar Khairina
Cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari dapat dianalisis menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Dekonstruksi merupakan pendekatan filsafat dan pembacaan teks yang mempertanyakan anggapan bahwa suatu makna bersifat tetap, tunggal, dan mutlak. Derrida menunjukkan bahwa makna dibentuk melalui hubungan antar tanda dan perbedaan, sehingga makna yang tampak pasti dapat berubah ketika dibaca dari sudut pandang lain.
Dalam analisis sastra, pendekatan dekonstruksi ini akan membalikkan makna yang sudah ada pada teks, juga berusaha menemukan pertentangan, ketidakstabilan, dan kontradiksi di dalam teks yang justru memperlihatkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya tunggal.
Oposisi Biner pada Cerpen Filosofi Kopi
Pertama, kita akan membaca oposisi biner yang terdapat pada cerpen Filosofi Kopi. Oposisi biner akan mempertentangkan atau mempersoalkan ketimpangan yang kontras pada cerpen ini. Pada awal cerita, Ben meyakini bahwa kopi yang baik harus memiliki cita rasa istimewa dan dapat memenuhi standar kesempurnaan yang ia tetapkan. Keyakinan tersebut terlihat melalui penciptaan kopi Ben’s Perfecto, yang menjadi kebanggaan sekaligus representasi kemampuan Ben sebagai peracik kopi. Namun, keyakinan itu mulai terguncang ketika seorang pelanggan menilai bahwa Perfecto bukanlah kopi terbaik dan membandingkannya dengan Kopi Tiwus, racikan sederhana milik Pak Seno. Konflik tersebut diawali dengan kutipan berikut: Setelah meminum seteguk, bapak itu meletakkan cangkir dan kembali membuka halaman kerannya.
Ben segera bertanya antusias, “Bagaimana, Pak?”
Bapak itu mendongak. “Apanya?”
“Ya, kopinya.”
Dengan ekspresi sopan, bapak itu mengangguk-angguk. ‘Lumayan, jawabnya singkat lalu terus membaca.
“Lumayan bagaimana?” Ben mulai terusik. “Ya, maksudnya lumayan enak toh, Dik,” ia membalas.
“Pak, yang barusan Bapak minum itu kopi yang paling enak di dunia.” Aku tidak tahan untuk tidak menjelaskan.
“Yang bener toh? Masa iya?” Seperti mendengar lelucon bapak itu malah tertawa kecil. (Hlm. 16 )
Dari situlah, terjadi oposisi biner yang memperlihatkan ketimpangan Ben’s Perfecto yang diracik dengan cara modern (dengan mesin kopi yang canggih) dan Kopi Tiwus yang diracik dengan sederhana. Bila kita melihat dekonstruksi pada konsep ‘tradisional’ dan ‘modern’ dalam peracikan kopi pada cerpen ini, konsep ‘tradisional’ diperlihatkan pada peracikan Kopi Tiwus yang sederhana; sedangkan konsep ‘modern’ diperlihatkan pada peracikan Ben’s Perfecto yang canggih dengan mesin kopi dan biji kopi pilihan Ben. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu diracik dengan alat yang canggih, melainkan justru didapatkan dari cara yang sederhana—hal ini berkontradiksi dengan konsep ‘modern’ pada peracikan kopi yang seringkali dianggap lebih higienis dan praktis.
Selain konsep ‘tradisional’ dan ‘modern’, kita dapat membongkar dekonstruksi antar tokoh, yakni Ben dan Jodi. Mereka memiliki pemikiran berbeda dalam meracik kopi dan mengelola kedai. Ben digambarkan sebagai peracik kopi yang idealis dan perfeksionis—dilihat dari kegigihannya dalam membuat menu Ben’s Perfecto berikut ini: Minggu-minggu berlalu sudah. Sekitar tengah malam, Ben tahu-tahu meneleponku, memaksaku datang ke kedai.
Aku tiba sambil bersungut-sungut. “Urusan apa yang sebegitu pentingnya sampai tidak bisa menunggu besok?”
Ben tidak menjawab. Namun kutangkap kilau mata yang menyala terang, terpancar dari wajahnya yang kusut berantakan. Ke depan batang hidungku, ia menyodorkan sebuah gelas ukur. Ada kopi hangat di dalamnya. “Coba cium…”
Aku mengendus. Wangi. Sangat wangi. “Coba minum…”
Dengan sedikit ragu aku menyeruput. Sebuah kombinasi rasa merambari lidahku. Hmm… ini… “Ben, kopi ini… aku mengangkat wajahku, ‘SEMPURNA!’”
Kujabat tangan Ben keras-keras sampai badannya terguncang-guncang. Kami berdua tertawa-rawa. Lama sekali. Seakan-akan ada beban berat yang tahu-tahu terangkat. Seolah-olah sudah tahunan kami tidak tertawa.
“Ini kopi yang paling enak!” seruku lagi, takjub. … di dunia, sambung Ben. Aku sudah keliling dunia dan mencoba semua kopi terenak, tapi belum ada yang rasanya seperti ini. Akhirnya aku bisa berkata bahwa ada ramuan kopi yang rasanya SEMPURNA.
Aku mengangguk setuju. “Mau diberi nama apa ramuan ini?”
Ben mematung, sampai akhirnya sebuah senyum me ngembang, senyum bangga seorang ayah yang menyaksikan bayinya lahir ke dunia. “BEN’S PERFECTO”, tandasnya mantap. (Hlm. 11–12)
Sementara itu, Jodi digambarkan sebagai orang yang realistis. Ia lebih memperhatikan keuntungan usaha, tanggung jawab finansial, dan kelangsungan kedai yang mereka kelola.
“Coba diingat-ingat, rencana pengembangan Filosofi Kopi yang sudah kususun. Dan semuanya itu membutuhkan kertas ini sebagai modal,” bujukku.
“Aku pensiun meramu kopi.”
Kali ini ketidakpahamanku meledak. “Kenapa kamu harus membuat urusan kopi ini jadi kompleks? Romantis overdosis? Okelah, kamu cinta kopi, tapi tidak usah jadi berlebihan. Pakai rasio…”
Ben bangkit berdiri. “Memang cuma duit yang kamu pikir! Profit, laba, omset… kamu memang tidak pernah mengerti arti kopi buatku. Ambil saja Filosofi Kopi. Kamu sama dengan laki-laki goblok sok sukses itu…” (Hlm. 23–24)
Dengan demikian, Ben lebih memperhatikan kualitas kopi yang diracik, sedangkan Jodi lebih memperhatikan kuantitas, yakni keuntungan yang diperoleh dari kedai yang mereka kelola. Dua hal ini menjadi oposisi biner yang terbentuk dari penokohan Ben dan Jodi. Selain itu, oposisi biner antara ‘ambisius’ dan ‘realistis’ juga terdapat pada percakapan antara Ben dan Jodi.
Membaca Trace dan Différance dalam Filosofi Kopi
Setelah membaca oposisi biner yang terdapat dalam cerpen Filosofi Kopi, kita akan melihat lebih dekat dekonstruksi pada cerpen ini dengan membongkar trace dan différance.
Ben ingin menciptakan kopi yang sempurna. Namun, gagasan tentang ‘kesempurnaan’ baru memiliki arti karena terdapat kemungkinan bahwa kopi lain dianggap kurang sempurna, bahwa penilaian penikmat kopi dapat berbeda, dan bahwa hasil racikan kopi dapat diperbaiki. Dengan kata lain, konsep ‘kesempurnaan’ dapat membawa jejak ketidaksempurnaan di dalam dirinya.
Kehadiran Kopi Tiwus memperjelas hubungan tersebut. Perfecto memperoleh status sebagai kopi unggulan melalui ukuran yang dibangun Ben, tetapi status itu menjadi tidak stabil ketika muncul kopi lain yang dinilai lebih enak. Jadi, ketidaksempurnaan bukan sekadar lawan yang berada di luar kesempurnaan. Kemungkinan ketidaksempurnaan justru ikut membentuk makna kesempurnaan itu sendiri.
Kemudian, mari kita lihat différance yang terjadi pada cerpen Filosofi Kopi. Dalam cerpen ini, nama Ben’s Perfecto seolah-olah menjanjikan makna yang sudah selesai: kopi tersebut adalah kopi yang sempurna. Namun, penilaian pelanggan dan pengalaman Ben ketika berhadapan dengan Kopi Tiwus memperlihatkan bahwa makna kesempurnaan itu tidak pernah benar-benar final. Makna ‘perfecto’ berubah ketika dibandingkan dengan Kopi Tiwus. Dengan demikian, Kopi Tiwus memperoleh makna sebagai alternatif terhadap Perfecto karena keduanya ditempatkan dalam hubungan perbandingan. Perubahan ini menunjukkan bahwa makna kopi tidak hanya berasal dari karakteristik minuman itu sendiri, tetapi juga dari perbedaan, pengalaman, dan konteks penilaiannya.
Dari sudut pandang différance, pencarian Ben terhadap kopi sempurna dapat dipahami sebagai pencarian terhadap sesuatu yang tidak dapat ditetapkan secara mutlak. Setiap penilaian dapat membuka kemungkinan penilaian lain. Oleh karena itu, cerita tidak harus dimaknai sebagai penemuan satu definisi baru tentang racikan kopi yang sempurna, melainkan justru menunjukkan keterbatasan upaya untuk menetapkan definisi tersebut secara permanen.
Referensi
Derrida, J. (1982). Margins of Philosophy (A. Bass, Trans.). University of Chicago Press.
Derrida, J. (2016). Of Grammatology (G. C. Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.
Lestari, D. (2012). Filosofi Kopi. Bentang Pustaka.
- Penulis: Athaya Sekar Khairina
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar