Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mayat yang Mengambang di Danau: Ketika Kesalehan Justru Membuat Kita Cuek

  • account_circle Yunia Melia Putri
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yunia Melia Putri

Cerpen “Mayat yang Mengambang di Danau” karya Seno Gumira Ajidarma bercerita tentang Barnabas, seorang nelayan tua yang taat beribadah, dan Klemen, anaknya yang pulang dari sekolah teologi dengan kepala penuh pertanyaan. Konfliknya sederhana, yakni bapak yang percaya bahwa hidup benar berarti rajin ke gereja dan menyekolahkan anak jadi pendeta, versus anak yang melihat bahwa di luar sana darah mengotori bumi sementara orang sibuk memuja langit.

Sekilas ini cerita biasa tentang generasi tua versus generasi muda. Tapi kalau kita baca pakai teori dekonstruksi Derrida, ada sesuatu yang lebih mengganggu di dalamnya. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang benar, bapak atau anak?” Melainkan: apakah kesalehan Barnabas itu benar-benar saleh, atau justru dari awal sudah mengandung benih ketidakpedulian yang membongkar dirinya sendiri?

Oposisi Biner yang Kelihatan Rapi

Barnabas hidup dalam tatanan yang jelas: Tuhan di atas, manusia di bawah; akhirat penting, dunia cuma sementara; doa lebih utama daripada tindakan. Dalam kerangka ini, dia ada di sisi “saleh,” dan Klemen yang pulang dengan pertanyaan-pertanyaan ada di sisi “berontak.” Tapi dekonstruksi nggak pernah percaya pada kerapian seperti itu. Tugasnya justru mencari celah di balik oposisi yang tampak stabil.

Celah itu ada di cara Barnabas bekerja

Perhatikan bagaimana Seno menggambarkan Barnabas menangkap ikan. Dia tahu betul ikan yang ditangkapnya akan disembelih, digoreng, dimakan wisatawan, lalu tulangnya dilempar ke ikan mas. Barnabas paham rantai konsumsi ini sampai detail terkecil. Tapi dia nggak pernah menghubungkan logika “hidup dimakan hidup” itu dengan imannya.

Di sinilah kesalehan Barnabas mulai retak. Kesalehannya berdiri di atas pengabaian sistematis terhadap kekerasan yang terjadi di sekitarnya. Bukan karena dia jahat—dia kerja keras, menabung puluhan tahun buat sekolah anaknya, sabar sama dunia. Tapi kebaikannya terkurung dalam kotak yang tertutup rapat: selama hari Minggu ke gereja dan anaknya jadi pendeta, dunia dianggap beres.

Kalimat Klemen Membongkar, Bukan Sekadar Menolak

Klemen bilang: “Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi.”Kalau kita berhenti di kesimpulan “Klemen benar, Barnabas salah,” kita justru jatuh ke perangkap yang ingin dibongkar dekonstruksi. Karena dekonstruksi nggak tertarik pada kesimpulan “siapa yang menang.”

Yang lebih menarik: kalimat Klemen itu sebenarnya nggak menolak kesalehan ayahnya. Dia justru menunjukkan bahwa kesalehan itu sudah retak dari dalam. Barnabas bukan orang jahat. Tapi ketika Klemen bawa kabar tentang kampus dihancurkan tentara, orang-orang ditembak, masyarakat kacau, kabar itu nggak muat dalam kotak Barnabas. Kesalehannya rapuh bukan karena “salah,” tapi karena nggak pernah siap menghadapi penderitaan di luar dirinya sendiri.

Dalam bahasa Derrida: iman akhirat yang benar-benar radikal seharusnya membuat seseorang peka terhadap ketidakadilan di dunia sekarang. Kalau iman akhirat justru membuat orang cuek terhadap darah di bumi, maka iman itu sudah mengkhianati Tuhannya sendiri. Klemen bukan menyangkal Tuhan ayahnya, dia cuma menunjukkan bahwa Tuhan ayahnya sudah menyusut jadi berhala kecil yang cuma peduli ritual hari Minggu.

Patriarki yang menumpang pada kesalehan

Penelitian yang sudah ada menyebut “kekuasaan orang tua” sebagai salah satu temuan dekonstruktif cerpen ini. Itu benar, dan menarik untuk dikembangkan.

Harapan Barnabas supaya Klemen jadi pendeta bukan cuma semangat religius murni. Di situ ada investasi identitas, dia menabung puluhan tahun menangkap ikan buat biaya pendidikan anaknya. Jadi ketika Klemen mundur, yang ditolak bukan cuma sekolah teologi, tapi juga investasi makna seumur hidup ayahnya

Di sini dekonstruksi bekerja lebih dalam: kesalehan religius dan hasrat patriarkis itu saling menumpang, nggak bisa dipisahkan bersih. “Berbakti pada Tuhan” dan “pengen anak jadi orang hebat” itu dua sisi koin yang sama. Waktu Klemen bilang “apalah artinya memuja langit,” dia menghantam Tuhan ayahnya sekaligus ego ayahnya. Dan Barnabas? Dia diam. Kebisuan itu sendiri jejak dekonstruktif, sistem makna yang dulu terasa jelas, sekarang nggak mampu lagi memproduksi pembelaan yang meyakinkan.

Kesimpulan

Pembacaan dekonstruktif cerpen ini nggak memberi kesimpulan moral yang nyaman. Nggak ada “Barnabas bodoh, Klemen tercerahkan” itu cuma mengunci oposisi biner yang baru.

Yang bisa dikatakan: kata “saleh” dalam cerpen ini sudah dikosongkan dan diisi ulang. Kesalehan Barnabas itu tulus, tapi juga tertutup, terbatas, dan kebal terhadap darah di luar batasnya. Sementara “ketidaksalehan” Klemen justru lahir dari kesalehan yang lebih keras, kesalehan yang nggak mau doa menggantikan tindakan.

Cerpen ini nggak menyelesaikan konflik itu. Dia menggantungnya. Dan justru penggantungan itulah yang dihargai dekonstruksi: makna selalu dalam penangguhan, nggak pernah ada pengadilan terakhir yang bisa memutuskan siapa benar siapa salah.

Kalau harus disimpulkan satu kalimat: kritik terdalam cerpen ini bukan ditujukan ke tokoh tertentu, tapi ke bentuk iman yang menyamakan ritual dengan etika, dan menjadikan harapan akhirat sebagai dalih untuk cuek terhadap dunia sekarang. Bentuk ini bukan cacat pribadi Barnabas, dia risiko struktural yang bisa tumbuh di tradisi religius mana pun. Dekonstruksi cuma membuat risiko itu kelihatan di celah-celah teks.

 

  • Penulis: Yunia Melia Putri
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Esai Memori Kolektif Tragedi Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, 28 September 2018 Oleh: Agustinus Naisoko, Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Senja di Teluk Sore itu, 28 September 2018, Palu tampak seperti sore-sore lain yang biasa dilewati orang Palu. Matahari condong ke barat, cahayanya jatuh keemasan di permukaan Teluk, dan angin laut membawa bau asin yang […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 347
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 107
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

expand_less