Rumah di Atas Awan, Ingatan di Bawah Puing: Memori Kolektif Erupsi Merapi Melalui Desa Relokasi
- account_circle Yumila
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Yumila. Mahasiswa Universitas : Sanata Dharma
Pendahuluan: Antara Puing dan Rumah Baru
Kalau kita berjalan ke Hunian Tetap (Huntap) di lereng Merapi, ada rasa sepi yang sulit dijelaskan. Rumah-rumahnya tertata rapi, bangunannya kuat, dan jauh lebih aman dari ancaman bencana. Tetapi di balik tembok bercat baru itu, ada sesuatu yang tertinggal di atas sana: pekarangan, pohon-pohon rindang, dan kenangan tentang tempat tinggal lama yang kini terkubur material vulkanik.
Erupsi Merapi tahun 2010 tidak bisa dibaca hanya sebagai angka kerugian ekonomi atau jumlah korban jiwa. Bagi warga lereng Merapi, erupsi itu adalah garis pemisah antara hidup yang lama dan hidup yang baru. Banyak rumah, ternak, lahan, dan orang-orang yang mereka sayangi hilang dalam waktu singkat. Setelah itu, pemerintah menetapkan Kawasan Rawan Bencana (KRB) dan memindahkan warga ke desa relokasi.
Yang ikut pindah ke tempat baru bukan hanya bangunan dan badan manusia. Ikut pindah juga hubungan antarwarga, kebiasaan sehari-hari, dan ingatan bersama tentang desa lama. Di sinilah relokasi menjadi menarik untuk dikaji: di desa baru itu, kenangan masa lalu bertemu dengan kehidupan masa kini.
Tulisan ini membahas memori kolektif warga lereng Merapi melalui empat pertanyaan: apa dan siapa yang mengingat, bagaimana ingatan itu diwariskan, apa yang tidak terdengar dalam cerita resmi, dan mengapa semua ini penting untuk masa depan.
Mengingat Rumah yang Hilang: Apa dan Siapa yang Mengingat
Apa yang diingat
Banyak orang mengira warga hanya mengingat betapa menakutkannya erupsi, misalnya awan panas atau wedhus gembel dan suara gunung yang menggelegar. Padahal yang paling lekat di ingatan mereka justru hal-hal kecil dari kehidupan sehari-hari: letak dapur, bau tanah basah setelah hujan, kebiasaan memberi makan ternak setiap pagi, dan obrolan dengan tetangga di halaman desa.
Hal-hal kecil inilah yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah. Rumah bukan hanya bangunan, tetapi kumpulan kebiasaan, bau, suara, dan hubungan antarmanusia yang terbentuk bertahun-tahun.
Siapa yang mengingat
Yang mengingat adalah para penyintas. Ada generasi tua yang sudah berkali-kali melihat Merapi berubah. Ada orang dewasa yang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Ada pula anak-anak yang saat itu masih kecil dan mengalami erupsi dari gendongan atau pangkuan orang tuanya. Setiap kelompok mengingat dengan cara berbeda. Orang tua mengingat bagaimana hidup mereka tertata di sekitar gunung. Anak muda mungkin hanya ingat potongan peristiwa, lalu melengkapinya dari cerita orang tua.
Bagi generasi tua, Merapi bukan sekadar gunung berbahaya yang harus dijauhi. Merapi adalah sumber kehidupan: tanah subur, air, rumput untuk ternak, sekaligus bagian dari identitas dan budaya mereka. Karena itu, pindah dari lereng bukan hanya pindah alamat. Mereka harus meninggalkan tempat yang selama ini memberi makna pada hidup mereka.
Di tempat relokasi, muncul rasa asing. Rumah baru memang bisa dibangun dalam waktu singkat, tetapi rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tanah kelahiran tidak bisa langsung tumbuh. Rasa itu butuh waktu, kenangan, dan kebiasaan bersama yang terbentuk pelan-pelan, bukan hanya dari semen dan batako.
Menjaga Jejak Masa Lalu: Bagaimana Ingatan Diwariskan
Ingatan tentang desa lama tidak dibiarkan hilang begitu saja. Warga punya beberapa cara untuk merawatnya dan menyampaikannya kepada generasi berikutnya.
Benda-benda yang menjadi saksi
Cara yang paling terlihat adalah lewat museum dan tempat peringatan yang dibuat warga sendiri, seperti Museum Sisa Hartaku. Di sana tersimpan jam dinding yang meleleh dan berhenti pada waktu erupsi, rangka sepeda motor yang hangus, dan peralatan dapur yang rusak. Benda-benda ini seperti arsip yang bisa “berbicara” tanpa kata-kata. Pengunjung yang melihatnya bisa langsung membayangkan betapa cepat dan dahsyatnya peristiwa itu.
Cerita lisan di dalam rumah
Ingatan juga hidup lewat cerita yang diulang di ruang tamu rumah Huntap. Orang tua bercerita kepada anak dan cucu tentang desa lama: di mana rumah mereka dulu berdiri, siapa tetangganya, dan bagaimana malam erupsi itu berlangsung. Karena diceritakan berulang kali, kisah ini menjadi bagian dari keluarga.
Foto dan barang yang berhasil diselamatkan
Foto-foto lama yang selamat dari timbunan abu punya nilai besar bagi warga. Satu lembar foto bisa menjadi satu-satunya bukti bahwa sebuah rumah, halaman, atau wajah seseorang pernah ada. Foto itu membantu anak muda melihat sendiri seperti apa desa yang hilang.
Tradisi dan kebiasaan bersama
Warga juga tetap menjalankan tradisi dan acara kebersamaan, seperti kenduri, gotong royong, dan ritual yang berhubungan dengan gunung, walaupun kini dilakukan di tempat baru. Dengan begitu, hubungan antarwarga dan rasa menjadi satu komunitas tetap terjaga.
Apa artinya bagi generasi muda
Lewat semua cara ini, anak muda di desa relokasi belajar dari mana keluarga mereka berasal dan mengapa mereka tinggal di tempat sekarang. Mereka tidak sekadar menerima kenyataan bahwa mereka tinggal di Huntap, tetapi memahami sejarah di baliknya. Itu penting agar ingatan tidak berhenti pada generasi yang mengalami langsung.
Suara yang Sunyi: Apa yang Terlupakan dalam Cerita Resmi
Laporan pemerintah dan pemberitaan media biasanya menceritakan relokasi dari sisi teknis: berapa rumah yang dibangun, seberapa cepat penanganan berjalan, dan seberapa rapi tata ruang yang baru. Cerita seperti ini menekankan keselamatan dan keberhasilan pembangunan. Ukuran keberhasilannya mudah dihitung, yaitu jumlah bangunan dan jumlah orang yang terlindungi.
Sisi teknis ini penting dan tidak boleh diabaikan, karena keselamatan nyawa memang yang utama. Tetapi cerita itu belum lengkap. Ada hal-hal yang sulit dihitung dan akhirnya jarang terdengar.
Duka karena kehilangan tempat
Salah satunya adalah rasa sedih karena kehilangan tempat tinggal yang dicintai. Para peneliti menyebut perasaan ini solastalgia, yaitu kesedihan yang muncul ketika lingkungan tempat kita hidup berubah atau hilang, padahal kita masih hidup. Warga tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa nyaman dan akrab dengan tempat mereka tumbuh.
Pengetahuan lokal yang terancam hilang
Hal lain yang jarang disebut adalah kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam, misalnya perilaku hewan di hutan atau arah angin. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun dan lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan gunung. Dalam cara pandang mitigasi modern, yang mengandalkan alat dan data, pengetahuan seperti ini sering dianggap ketinggalan zaman.
Padahal, pengetahuan lokal dan teknologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa saling melengkapi. Ketika warga pindah jauh dari gunung, kesempatan untuk mengamati tanda-tanda alam itu berkurang, dan lama-lama pengetahuan tersebut bisa ikut terkikis.
Kehilangan akar
Banyak warga merasa sebagian identitas mereka ikut hilang saat pindah. Perasaan kehilangan “akar” ini sering tidak terucap karena kalah oleh pembicaraan tentang pembangunan dan keselamatan. Warga bisa merasa tidak pantas mengeluh, karena toh mereka sudah mendapat rumah baru yang aman. Akibatnya, perasaan itu dipendam sendiri dan tidak masuk dalam cerita resmi.
Penutup: Ingatan sebagai Pegangan untuk Masa Depan
Mengapa memori kolektif warga lereng Merapi penting untuk ditulis dan diingat? Bukan untuk terus meratapi kesedihan. Memori ini justru menjadi dasar bagi ketangguhan (resilience) dan rasa kebersamaan. Dengan mengingat apa yang pernah terjadi, warga tahu dari mana mereka berasal, apa yang pernah mereka lewati, dan bahwa mereka mampu bangkit.
Perbedaan sudut pandang antara pemerintah dan warga juga memberi pelajaran penting. Pemerintah menekankan keselamatan dan tata ruang. Warga menekankan ikatan batin dengan tanah kelahiran. Keduanya benar menurut sudut pandangnya masing-masing. Dari sini kita belajar bahwa bencana tidak pernah hanya satu sisi: ada sisi fisik, ada sisi sosial, dan ada sisi perasaan. Kebijakan relokasi yang baik sebaiknya mendengarkan ketiganya, termasuk suara warga yang mengalaminya langsung.
Desa relokasi memang mengubah peta permukiman di lereng Merapi. Tetapi selama cerita tentang rumah lama masih dituturkan dan ingatan tentang tanah kelahiran tetap dijaga, warga lereng Merapi tidak benar-benar kehilangan rumah mereka. Ingatan itu terus hidup dan menjadi pegangan agar kita bisa menyikapi alam dengan rasa hormat dan bijaksana di masa depan.
- Penulis: Yumila
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar