Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jam yang Berhenti di Kepuharjo: Rumah yang Menjadi Museum dan Ingatan yang Dirawat Bersama

  • account_circle Irenius Arya Pandya Cetta 
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Memori Kolektif Erupsi Merapi 2010 melalui Museum Warga dan Kesaksian Penyintas

Memori kolektif adalah ingatan bersama yang dimiliki sekelompok masyarakat tentang suatu peristiwa. Ia tidak lahir begitu saja dari peristiwanya. Ia dibentuk, dirawat, dan diwariskan melalui cerita keluarga, benda, tempat, dan tradisi. Karena itu pertanyaan yang penting bukan hanya “apa yang terjadi”, melainkan “bagaimana peristiwa itu diingat, oleh siapa, dan di mana ingatan itu disimpan”.

Salah satu peristiwa yang ingatannya sangat terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Di lereng selatan gunung itu, tepatnya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, sebuah jam dinding yang meleleh tergantung di bekas ruang tengah sebuah rumah. Jarumnya berhenti di waktu ketika awan panas menerjang. Esai ini menelusuri bagaimana erupsi 2010 diingat melalui museum-museum yang dibangun warga dari rumah mereka sendiri, serta kesaksian penyintas yang kehilangan keluarga dan kampung.

Erupsi Merapi 2010 sebagai Pengalaman Bersama

Peristiwa ini tidak datang tiba-tiba. Status Gunung Merapi dinaikkan dari normal menjadi waspada pada 20 September 2010, menjadi siaga pada 21 Oktober, lalu awas pada 25 Oktober. Erupsi terjadi pada 26 Oktober 2010 dan disebut-sebut sebagai letusan terbesar dalam kurun satu abad. Puncaknya datang pada 5 November 2010, ketika awan panas menjangkau hingga sekitar 15 kilometer ke arah Kali Gendol. Warga lereng menyebut awan panas itu wedhus gembel. Suhunya dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius ketika tiba di permukiman.

Dampaknya besar. Sejumlah kampung seperti Kinahrejo, Kaliadem, dan Kalitengah Lor terkubur, dan kajian tentang relokasi menyebut sembilan kampung nyaris rata dengan tanah atau rusak berat. Korban jiwa mencapai sekitar 350 orang. Di antara mereka adalah Mbah Maridjan, juru kunci Merapi, yang ditemukan bersama belasan orang lain di sekitar rumahnya, termasuk relawan dan wartawan yang berusaha membujuknya mengungsi.

Bagi warga, erupsi bukan sekadar peristiwa alam. Ia memutus kehidupan yang sudah berjalan lama: rumah, ladang, ternak, dan tetangga. Karena itu ingatan tentang erupsi 2010 tidak tersimpan di buku sejarah saja, tetapi menempel pada benda dan tempat yang mereka selamatkan.

Rumah yang Menjadi Museum 

Di Dusun Petung, Kepuharjo, berdiri Galeri Merapi “Omahku Memoriku”, sebuah rumah warga yang diubah menjadi museum mini. Rumah milik Sarsuwadji ini dahulu adalah krajan, rumah pemukim awal dengan bentuk limasan khas Jawa. Fungsinya jauh melampaui hunian. Rumah itu berdampingan dengan pendopo kelurahan dan menjadi tempat karawitan, kethoprak, wayang kulit, pemungutan suara, bahkan prosesi bersih sungai dan mata air yang disebut dandan kali. Ketika rumah ini hancur, yang hilang bukan hanya bangunan, melainkan pusat kehidupan sosial dusun.

Di ruang tengahnya kini tergantung jam dinding yang meleleh hingga tampak seperti lukisan surealis. Tulisan di dekatnya menandai saat erupsi pada 5 November 2010, dan menurut pemandu, jarumnya berhenti sedikit lewat tengah hari. Jam itu adalah bukti paling sederhana sekaligus paling kuat: waktu sebuah rumah berhenti, sementara dunia di luar terus berjalan.

Sekitar 300 meter ke arah utara terdapat Museum Sisa Hartaku yang dirintis Sriyanto, pemilik rumah. Koleksinya berupa peralatan makan, perkakas dapur, dan perabot yang rusak, terbakar, atau meleleh, serta kerangka sapi. Nama museum ini sendiri adalah pernyataan: yang dipajang adalah sisa harta milik seseorang, bukan artefak anonim. Di salah satu potongan dindingnya tertera pesan yang ditulis seolah-olah Merapi sendiri yang berbicara. Intinya, gunung itu tidak selalu mengalah dan tidak pula ingin dikalahkan, tetapi pasti menepati janjinya, dan ia meminta maaf kepada siapa pun yang terseret karena menghalangi jalannya. Cara warga menuliskan ingatan ini patut diperhatikan. Merapi tidak digambarkan sebagai musuh yang dikutuk, melainkan sebagai tokoh yang punya kehendak dan layak dihormati.

Museum warga lain berdiri di bekas rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo. Petilasan ini menyimpan sisa gamelan, kerangka sepeda motor dan mobil, serta foto-foto penyelamatan warga, termasuk foto seorang ibu berdebu yang menyusui bayinya sambil dituntun petugas menuju pengungsian. Keluarga Mbah Maridjan kini menjaga tempat itu: menantunya membuka warung suvenir, adiknya berjualan jadah tempe, dan anak ketiganya menggantikan perannya sebagai juru kunci.

Memori Resmi dan Memori Warga

Ingatan tentang Merapi juga disimpan oleh lembaga resmi. Museum Gunung Merapi, sekitar tujuh kilometer di selatan, diresmikan pada 1 Oktober 2009 dan dibuka untuk umum pada 1 Juni 2010, hanya beberapa bulan sebelum letusan besar. Museum ini kini dikelola Pemerintah Kabupaten Sleman dan dikunjungi sekitar 15.000 hingga 16.000 orang setiap bulan. Isinya menjelaskan karakter Merapi, mitigasi bencana, ilmu kegunungapian, dan kondisi sosial budaya masyarakat lereng.

Perbedaan kedua jenis museum ini terletak pada suara yang berbicara. Museum resmi menjawab pertanyaan “bagaimana gunung ini bekerja”. Museum warga menjawab “apa artinya kehilangan rumah”. Menariknya, keduanya tidak bersaing. Pengelola Museum Merapi menyebut museum-museum itu saling melengkapi, dan museum warga tergabung dalam Badan Musyawarah Museum (Barahmus) Yogyakarta yang bekerja sama dalam pameran, pelatihan pemandu, hingga pelatihan permuseuman. Memori resmi dan memori warga di sini berjalan beriringan, tetapi tetap berbeda nadanya: yang satu menjelaskan, yang lain bersaksi.

Kesaksian Penyintas dan Kehilangan Tempat 

Kesaksian paling kuat datang dari mereka yang kehilangan keluarga. Marsono, kerabat Mbah Maridjan, selamat karena turun dari Kinahrejo menuju Balai Desa Umbulharjo bersama Asih ketika awan panas menerjang selepas magrib pada 26 Oktober 2010. Ia menyampaikan kehilangannya dengan singkat: “Saya kehilangan seorang anak, dan dua menantu.” Kalimat pendek itu memuat apa yang tidak mungkin dimuat statistik. Kini Marsono tinggal di hunian tetap di Dusun Gondang, Umbulharjo, jauh dari rumah lamanya.

Kisah Marsono mewakili pengalaman banyak warga: kehilangan orang yang dicintai sekaligus kehilangan tempat. Di Dusun Petung, 351 penduduk direlokasi dan sekitar 65 persen dusun rusak. Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 menetapkan dusun itu sebagai hutan rakyat bebas hunian dalam kawasan rawan bencana III. Artinya, tempat yang menyimpan ingatan warga secara hukum tidak lagi boleh dihuni, dan ingatan itu hanya bisa dikunjungi, tidak bisa lagi ditinggali.

Di Desa Kepuharjo, relokasi melibatkan 670 dari 935 keluarga. Hunian Tetap Pagerjurang dihuni 301 keluarga, dan sebagian warga lain tinggal di huntap Batur serta Bulaksusukan. Pada 2012, ratusan keluarga di beberapa desa, termasuk Kepuharjo, masih belum bersedia direlokasi. Beberapa tahun kemudian, Camat Cangkringan menyebut banyak warga huntap kembali beraktivitas di tempat asalnya, dengan sekitar 400 keluarga masih bermukim di kawasan rawan bencana III. Walhi DIY menilai bahwa relokasi terlalu menekankan perpindahan tempat tinggal, sementara kultur sosial warga lereng, menurut mereka, ikut luntur. Penilaian itu mengingatkan bahwa kehilangan tempat adalah juga kehilangan cara hidup dan cara mengingat.

Ingatan, Ekonomi, dan Suara yang Tak Terdengar

Museum warga tidak hanya menyimpan ingatan, tetapi juga menghidupi pemiliknya. Wisata kawasan lava tour Merapi, pemandu jip, warung suvenir, dan penjual makanan khas menjadi sumber penghasilan baru setelah ladang dan ternak hilang. Kajian dari UGM menggolongkannya sebagai dark tourism yang membantu pemulihan ekonomi warga. Dilemanya nyata: apakah ingatan tentang kehilangan boleh sekaligus menjadi mata pencaharian? Barangkali justru karena ingatan itu menghidupi, ia terus dirawat.

Namun tidak semua penyintas mendapat ruang yang sama untuk bersuara. Rumah yang menjadi museum adalah rumah yang kebetulan berada di jalur wisata dan pemiliknya mau membukanya. Dalam sumber-sumber yang dapat ditelusuri, yang paling terdengar adalah pemilik rumah, pemandu, dan keluarga tokoh terkenal. Warga hunian tetap yang tidak punya museum, serta perempuan dan anak-anak penyintas, jarang tampil sebagai pencerita. Karena itu memori kolektif selalu hasil seleksi: ada yang dipamerkan, ada yang tertinggal di balik pintu huntap.

Makna Merapi bagi Generasi Berikutnya 

Konsep kunci dalam kasus ini dapat dirumuskan sebagai rangkaian: peristiwa, tempat, kehilangan, memorialisasi, dan identitas. Erupsi menjadi peristiwa. Rumah dan dusun menjadi tempat. Kematian dan relokasi menjadi kehilangan. Museum dan cerita pemandu menjadi bentuk memorialisasi. Dan dari seluruh proses itu terbentuklah identitas sebagai warga lereng Merapi, orang yang hidup berdampingan dengan gunung yang menghidupi sekaligus mengancam.

Bagi generasi muda, museum-museum ini adalah ruang belajar yang tidak bisa digantikan buku. Anak-anak yang tidak mengalami 2010 dapat melihat sendiri jam yang meleleh, kerangka sapi, dan perabot yang berubah bentuk, lalu mendengar cerita dari pemandu yang sebagian adalah penyintas. Ingatan ini tidak dimaksudkan membuat warga hidup dalam ketakutan, melainkan menumbuhkan kesiapsiagaan dan rasa hormat terhadap gunung.

Kesimpulan

Erupsi Merapi 2010 diingat bukan hanya sebagai bencana alam, tetapi sebagai pengalaman sosial yang disimpan dalam rumah, benda, tulisan di dinding, dan kesaksian. Museum Omahku Memoriku, Sisa Hartaku, dan petilasan Mbah Maridjan menunjukkan bahwa penyintas adalah pengarsip yang aktif, bukan sekadar objek yang dikisahkan. Mereka memilih benda, menuliskan pesan, dan menentukan cerita apa yang diwariskan kepada pengunjung.

Di sisi lain, ingatan itu bersaing dengan kenyataan relokasi, kepentingan ekonomi, dan keterbatasan ruang bagi suara yang tidak punya museum. Karena itu tugas sejarawan bukan hanya mencatat apa yang terjadi di Merapi pada Oktober dan November 2010, tetapi juga bertanya siapa yang mengingat, bagaimana ingatan itu diwariskan, dan siapa yang belum terdengar. Jam yang berhenti di Kepuharjo mengingatkan bahwa sejarah bisa tinggal di dinding sebuah rumah, dijaga oleh orang-orang yang kehilangan hampir segalanya, dan diwariskan kepada siapa pun yang mau berhenti sejenak untuk melihat.

Oleh: Irenius Arya Pandya Cetta. Pendidikan Sejarah USD

  • Penulis: Irenius Arya Pandya Cetta 
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • Dari Benteng Kolonial Menjadi Museum: Benteng Vredeburg sebagai Ruang Memori Kolektif Bangsa

    Dari Benteng Kolonial Menjadi Museum: Benteng Vredeburg sebagai Ruang Memori Kolektif Bangsa

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Stefani Kurnia Handayani
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Memori kolektif suatu bangsa tidak hanya tersimpan dalam dokumen atau arsip sejarah, tetapi juga dapat ditemukan melalui bangunan dan tempat bersejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Bangunan bersejarah menjadi salah satu sarana untuk mengingat dan memahami berbagai peristiwa yang pernah terjadi. Melalui keberadaan bangunan tersebut, generasi sekarang dapat mempelajari kehidupan masyarakat pada masa lalu […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

  • Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka photo_camera 2

    Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
    • visibility 103
    • 3Komentar

    Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah. Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat […]

  • Kekuasaan dan Pertarungan Legitimasi dalam Cerpen Keroncong Pembunuhan Karya Seno Gumira Ajidarma melalui Perspektif Pierre Bourdieu

    Kekuasaan dan Pertarungan Legitimasi dalam Cerpen Keroncong Pembunuhan Karya Seno Gumira Ajidarma melalui Perspektif Pierre Bourdieu

    • calendar_month 35 menit yang lalu
    • account_circle Elisabet Laura Kurniasari
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Oleh : Elisabet Laura Kurniasari Kekuasaan dalam kehidupan sosial tidak selalu dipertahankan melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui pembentukan cara berpikir, penguasaan informasi, dan penentuan kebenaran yang dianggap sah. Individu sering kali menerima suatu ajaran tanpa mempertanyakan dasar keberadaannya karena telah terbiasa hidup dalam struktur sosial tertentu. Persoalan tersebut tergambar dalam cerpen Keroncong Pembunuhan karya […]

expand_less