Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Ketika Cantik Menjadi Luka

  • account_circle Yoseph Yapi Taum
  • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
  • visibility 153
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yoseph Yapi Taum

Kita terlalu lama percaya bahwa yang cantik adalah yang baik, yang hidup lebih nyata daripada yang mati, sejarah lebih benar daripada cerita, dan korban selalu berhadapan dengan penindas.

Kita menyukai dunia yang tertib. Ada yang di atas dan ada yang di bawah. Ada pusat dan pinggiran. Ada benar dan salah. Bahkan dalam membaca karya sastra, kita sering tergoda mencari satu pesan utama, seolah-olah sebuah novel adalah rumah dengan satu pintu dan satu kunci. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan mengganggu Kenyamanan itu.

Novel ini seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air yang tenang. Yang tampak mapan tiba-tiba beriak. Batas-batas yang selama ini kita percaya mulai kabur. Yang cantik ternyata menyimpan luka. Yang mati dapat kembali. Yang disebut sejarah ternyata membutuhkan cerita. Dan mereka yang tampak kalah ternyata dapat memiliki kuasa.

Di sinilah pembacaan dekonstruktif menjadi menarik: bukan mencari makna baru yang paling benar, melainkan bertanya, mengapa kita begitu yakin bahwa makna yang lama itu benar?

Ketika “Cantik” Tidak Cantik

Sejak awal, novel ini bermain-main dengan keyakinan kita tentang kecantikan.

Dewi Ayu memiliki tiga anak perempuan yang cantik. Tetapi kecantikan itu tidak membawa mereka menuju kehidupan yang indah. Sebaliknya, tubuh yang cantik justru menjadi sumber penderitaan, kekerasan, dan eksploitasi. Lalu lahirlah anak keempat.

Dewi Ayu, yang telah melihat bagaimana kecantikan mencelakakan anak-anaknya, justru berdoa agar anak terakhirnya dilahirkan buruk rupa. Doanya terkabul. Bayi itu berkulit hitam seperti arang, bertelinga seperti gagang kuali, dan berhidung seperti sumbat botol. Tetapi ia diberi nama: Si Cantik.

Di sinilah bahasa mulai berkhianat kepada dirinya sendiri. Yang buruk disebut cantik. Yang selama ini kita pisahkan tiba-tiba dipertemukan. Kata “cantik” tidak lagi memiliki rumah yang tetap. Ia berpindah, bergeser, dan menertawakan keyakinan kita sendiri tentang keindahan.

Judul Cantik Itu Luka karena itu bukan sekadar permainan kata. Ia adalah paradoks: kecantikan dan luka ternyata tidak berdiri sebagai dua hal yang terpisah. Kecantikan justru memperoleh maknanya melalui luka yang menyertainya.

Yang selama ini kita anggap pusat ternyata membutuhkan apa yang kita singkirkan dari pinggir. Itulah guncangan pertama.

Ketika yang Mati Tidak Benar-Benar Mati

Kita juga terbiasa menganggap kematian sebagai titik. Hidup berada di sini; kematian berada di sana. Yang hidup hadir, yang mati tidak hadir.

Tetapi Eka Kurniawan membongkar garis batas itu sejak halaman pertama. Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah dua puluh satu tahun kematian. Kematian ternyata tidak selesai. Di Halimunda, orang-orang yang telah mati terus hidup dalam ingatan, ketakutan, hasrat, dan sejarah mereka yang masih hidup. Hantu bukan sekadar makhluk dari dunia lain. Ia adalah jejak masa lalu yang menolak dikuburkan.

Dengan demikian, kematian tidak benar-benar berlawanan dengan kehidupan. Kehidupan justru membawa jejak kematian di dalam dirinya. Kita hidup bersama mereka yang telah tiada. Bukankah demikian pula dengan sejarah sebuah bangsa?

Ketika Sejarah Memerlukan Hantu

Selama ini kita diajarkan membedakan sejarah dan fantasi. Sejarah adalah fakta. Fantasi adalah khayalan. Sejarah berbicara dengan arsip; fantasi berbicara dengan imajinasi.

Namun, Cantik Itu Luka justru mencampurkan keduanya. Pembantaian 1965, perang, kolonialisme, dan berbagai kekerasan sejarah hadir berdampingan dengan hantu, absurditas, humor gelap, dan dunia yang seperti mimpi.

Di sini muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: apakah sejarah selalu lebih jujur hanya karena disebut sejarah?

Sebab sejarah pun ditulis. Ia disusun melalui bahasa. Ada yang dicatat dan ada yang dihapus. Ada suara yang diberi ruang dan ada suara yang dibungkam.

Maka, fantasi dalam novel ini bukan sekadar pelarian dari kenyataan. Ia justru dapat menjadi cara lain untuk melihat kenyataan yang tidak mampu atau tidak mau dikatakan oleh sejarah resmi.

Hantu-hantu Halimunda, dengan segala keganjilan dan humornya, membawa kembali sesuatu yang ingin dikuburkan.

Yang dianggap “tidak nyata” justru mengingatkan kita pada kenyataan.

Bukan Membalikkan Dunia, Melainkan Mengguncangkannya

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Dekonstruksi bukan sekadar membalikkan hierarki: jika sebelumnya laki-laki berkuasa, lalu perempuan harus dimenangkan; jika sejarah resmi dianggap benar, lalu fantasi harus dinyatakan lebih benar. Bukan itu persoalannya. Yang diguncang adalah keyakinan bahwa kita dapat memiliki pusat yang benar-benar stabil.

Dewi Ayu adalah contoh yang menarik. Ia berada dalam situasi eksploitasi seksual, tetapi pada saat yang sama menggunakan tubuh dan pekerjaannya untuk memperoleh kedaulatan ekonomi dan sosial. Ia korban, tetapi juga memiliki daya. Ia tertindas, tetapi sekaligus mampu menundukkan mereka yang menindasnya. Kontradiksi itu tidak perlu buru-buru diselesaikan. Justru di sanalah kekuatan sastra bekerja.

Sastra tidak selalu memberi kita jawaban. Kadang-kadang ia mencabut kursi tempat kita duduk dan membiarkan kita berdiri di hadapan pertanyaan.

Sastra yang Mengganggu Kepastian

Barangkali itulah yang paling penting dari Cantik Itu Luka. Novel ini tidak sekadar bercerita tentang Dewi Ayu, Halimunda, perang, cinta, tubuh, atau sejarah. Ia mengusik cara kita berpikir tentang semua itu.

Ia mengingatkan kita bahwa apa yang kita sebut “normal” sering kali hanyalah sesuatu yang telah terlalu lama kita percayai.

Yang cantik dapat melukai.  Yang buruk dapat memikat. Yang mati dapat kembali. Yang dianggap fantasi dapat menyimpan kebenaran. Yang menjadi korban dapat memiliki kuasa. Dan sejarah yang tampak kokoh dapat menyimpan suara-suara yang tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara.

Pada akhirnya, mungkin tugas sastra bukan membuat dunia menjadi lebih tertib. Sebaliknya, sastra yang kuat justru membuat kita sedikit gelisah.

Sebab setelah membaca sastra yang demikian, kita tidak lagi dapat memandang dunia dengan mata yang sama. Yang semula kita anggap pusat ternyata hanya salah satu kemungkinan. Dan mungkin, di situlah luka bermula—sekaligus di situlah pikiran mulai tumbuh.

 

  • Penulis: Yoseph Yapi Taum
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 560
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

expand_less