Sudut Pandang: Di Balik Manisnya Gula, Ada Bayang-bayang Kekuasaan
- account_circle Irenius Arya Pandya Cetta
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Irenius Arya Pandya Cetta
Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Wajah Yogyakarta di Persimpangan Zaman
Ketika Yogyakarta Mulai Berubah
Yogyakarta hari ini dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan salah satu pusat sejarah Jawa. Di balik keraton, jalan-jalan yang ramai, serta kehidupan masyarakat yang terus bergerak, tersimpan sebuah masa ketika kota ini berubah besar-besaran, yaitu ketika tradisi keraton bertemu dengan arus modernisasi dan kepentingan kolonial Belanda. Pada penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Yogyakarta tidak lagi hanya berpusat pada keraton. Pabrik-pabrik mulai berdiri, perkebunan tebu berkembang, jalur kereta api mulai menghubungkan berbagai wilayah, dan sekolah-sekolah modern mulai dikenal. Di tengah perubahan itulah berdiri seorang raja yang memerintah selama puluhan tahun: Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Bernama kecil Gusti Raden Mas Murtejo, ia lahir pada 4 Februari 1839 sebagai putra Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Setelah sang ayah wafat, Murtejo naik takhta dan memerintah sejak 1877 hingga 1921, salah satu masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta. Namun, kisahnya bukan sekadar kisah seorang raja yang duduk di singgasana. Masa pemerintahannya adalah periode ketika Yogyakarta berada di antara dua dunia: dunia tradisional keraton dan dunia modern yang dibawa oleh perkembangan ekonomi kolonial. Di sanalah kisahnya menjadi menarik.
Sultan Sugih: Manisnya Gula dan Denyut Rel Kereta Api
Ada satu julukan yang sangat melekat pada Hamengku Buwono VII: Sultan Sugih, atau Sultan yang kaya. Julukan itu bukan tanpa alasan. Pada masa pemerintahannya, industri gula berkembang pesat di Yogyakarta, dan setidaknya terdapat 17 pabrik gula yang berdiri, baik milik Kesultanan, pihak swasta, maupun pihak Belanda. Tumbuhnya industri ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebijakan ekonomi kolonial setelah 1870, ketika tanah-tanah di Yogyakarta mulai bernilai ekonomi tinggi dan sistem sewa jangka panjang membuka jalan bagi perusahaan perkebunan. Bagi Kesultanan, perkembangan itu mendatangkan pemasukan besar. Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa dari pendirian pabrik gula, Sultan memperoleh pembayaran hingga sekitar ƒ200.000 untuk setiap pabrik dalam konteks perjanjian dan kebijakan pada masa itu. Uang mengalir ke lingkungan keraton, tetapi pabrik gula juga mengubah wajah Yogyakarta. Lahan pertanian mulai berhubungan dengan kepentingan industri, dan jaringan kereta api serta lori pengangkut tebu berkembang untuk mengangkut hasil perkebunan.
Kereta api membuat jarak terasa lebih pendek dan menghubungkan wilayah-wilayah yang sebelumnya terpisah perjalanan panjang. Suara gamelan dan hiruk-pikuk pasar tetap terdengar, tetapi di tempat lain suara mesin pabrik mulai menjadi bagian dari kehidupan baru. Di sinilah terlihat sebuah paradoks: modernisasi membawa perubahan bagi Yogyakarta, namun tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi kolonial. Dengan kata lain, kemajuan datang bersama kepentingan.
Dari Keraton Menuju Sekolah dan Panggung Tari
Jika pabrik gula menjadi simbol perubahan ekonomi, pendidikan dan seni menjadi simbol perubahan sosial. Pada masa Hamengku Buwono VII, pendidikan modern mulai mendapat tempat yang lebih besar dan lingkungan keraton terbuka terhadap pendidikan model Barat. Sultan mendorong anak-anaknya belajar lebih luas, dan beberapa putranya dikirim ke luar negeri, termasuk ke Belanda. Keputusan itu menunjukkan bahwa keraton mulai menyadari dunia telah berubah. Bagi sebuah kerajaan yang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial, pendidikan menjadi cara untuk memahami zaman yang bergerak, dan perlahan sekolah modern mempertemukan tradisi lokal dengan pengetahuan baru. Perubahan serupa terjadi dalam kesenian. Sultan mendukung kegiatan seni yang dirintis putra-putranya, Pangeran Tejokusumo dan Pangeran Suryodiningrat, yang kemudian mendirikan Kridha Beksa Wirama, sebuah sekolah tari gaya Yogyakarta yang terbuka bagi masyarakat umum. Tarian yang selama berabad-abad lekat dengan kehidupan istana kini memiliki ruang di tengah masyarakat, dan keraton perlahan membuka pintunya. Di sinilah tradisi menemukan bentuk baru, karena ia dapat bertahan justru ketika mampu hidup bersama perubahan. Meski begitu, kemajuan ini perlu dilihat dari dua sisi. Industri perkebunan kolonial berdiri di atas sistem penguasaan tanah dan kepentingan ekonomi yang tidak selalu menguntungkan masyarakat pribumi. Seorang Sultan dapat memperoleh keuntungan dari sistem kolonial sekaligus tetap harus berhadapan dengan kekuatan kolonial yang semakin besar. Keraton memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan itu tidak sepenuhnya bebas.
Lengser dari Takhta, Menepi dari Hiruk-Pikuk
Selama empat puluh empat tahun, Hamengku Buwono VII menyaksikan perubahan zaman dari dekat: kereta api menjadi bagian kehidupan, pabrik gula tumbuh, sekolah berkembang, dan kesenian keraton dikenal masyarakat luas, sementara kekuasaan kolonial Belanda semakin kuat.
Ia tidak hidup di masa yang tenang, melainkan di masa ketika perubahan datang bertubi-tubi. Pada 29 Januari 1921, ia mengambil keputusan yang tidak lazim bagi seorang Sultan: turun dari takhta ketika usianya telah lanjut. Ia digantikan putranya, Gusti Raden Mas Sujadi, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Keputusan itu dilatarbelakangi berbagai konteks, termasuk perubahan hubungan antara Kesultanan dan pemerintah kolonial serta persoalan masa depan sistem pemerintahan dan pertanahan. Bayangkan seorang raja yang puluhan tahun menjadi pusat kekuasaan, lalu tak lagi harus mengurus pemerintahan atau mengambil keputusan politik setiap hari. Yang tersisa hanyalah usia tua dan perjalanan panjang yang telah dilewati, dan ia memilih menepi.
Sejarahnya pun bukan sekadar cerita tentang seorang raja yang kaya raya, melainkan cerita tentang Yogyakarta yang sedang berubah, yang modernisasinya berlangsung dalam tekanan dan kepentingan pemerintah kolonial sehingga perlu dibaca secara kritis. Julukan Sultan Sugih mungkin menggambarkan kekayaannya, tetapi jika berhenti di sana, kita kehilangan bagian terpenting dari kisahnya. Hamengku Buwono VII sesungguhnya adalah gambaran tentang sebuah zaman, zaman ketika keraton harus berhadapan dengan pabrik.
- Penulis: Irenius Arya Pandya Cetta
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar